Tok. Tok. Tok. Kentongan kayu berdentang tiga kali memecah sunyi jam sebelas malam. Suara itu datang dari pos ronda di ujung gang, tempat lampu neon lima watt berkelip-kelip seperti mau padam. Malam itu seharusnya ada enam orang yang piket. Yang datang cuma dua.
Kala menatap daftar piket yang ditempel di dinding pos, kertasnya sudah menguning. Satu per satu nama dicoret dengan alasan: Pak Dedi sakit gigi, Pak Wahyu lembur, Mas Anto mudik. Tinggal namanya sendiri dan satu nama lain yang ditulis dengan huruf rapi: Sukma.
"Maaf, saya telat," suara perempuan menyusul dari kegelapan gang.
Sukma muncul dengan jaket tebal dan membawa termos. Usianya tiga puluh lima tahun, rambutnya diikat seadanya, wajahnya tanpa riasan tapi tetap terlihat cantik di bawah cahaya lampu pos. Ia adalah istri Pak Hendra, tetangga tiga rumah dari rumah Kala. Pak Hendra sedang tugas luar kota dua minggu, dan Sukma memutuskan ikut ronda menggantikan suaminya.
"Santai, Mbak. Saya juga baru datang," kata Kala, usianya tiga puluh dua tahun, karyawan pabrik yang shift paginya baru selesai jam sembilan malam.
Malam itu komplek terasa lebih sepi dari biasanya. Anjing-anjing tidak menggonggong. Hanya bunyi jangkrik dan sesekali motor lewat di jalan raya jauh di depan. Mereka duduk berhadapan di bangku bambu pos ronda, termos di tengah, dua gelas plastik mengepul.
"Ronda sendirian berdua begini, aneh ya," Sukma tertawa kecil. "Biasanya bapak-bapak ribut main kartu."
"Justru enak, Mbak. Sepi. Bisa dengerin malam."
Sukma menuang kopi ke gelas Kala. Tangannya sedikit gemetar, entah karena dingin atau gugup. Kala memperhatikan jemarinya yang lentik, kukunya bersih tanpa kuteks. Perempuan tiga puluh lima tahun yang sehari-hari sibuk mengurus rumah dan dua anaknya yang sedang dititipkan ke mertua selama suaminya pergi.
Mereka mulai patroli pertama jam setengah dua belas. Kala membawa kentongan dan senter, Sukma membawa termos cadangan. Gang demi gang mereka susuri, menyenteri pagar-pagar rumah, memastikan tidak ada yang mencurigakan. Langkah kaki mereka beriringan di atas paving yang dingin.
"Pak Hendra sering dinas luar kota ya, Mbak?" tanya Kala pelan saat mereka melewati gang ketiga.
"Sebulan bisa tiga kali. Kadang dua minggu, kadang sebulan." Sukma menatap lurus ke depan. "Anak-anak sudah biasa. Saya juga sudah biasa. Atau pura-pura biasa."
Ada nada getir di kalimat terakhir itu. Kala tidak menanggapi, hanya berjalan di sampingnya. Senter di tangannya menyapu semak-semak pinggir jalan.
Di tikungan gang kelima, mereka berhenti. Dari kejauhan terdengar suara kucing berkelahi. Sukma merapatkan jaketnya. Angin malam menusuk.
"Dingin?" Kala melepas sarung yang melingkar di lehernya dan menyerahkannya.
"Jangan, nanti kamu yang kedinginan."
"Saya biasa. Kulit saya tebal."
Sukma menerima sarung itu dengan senyum. Ia melilitkannya ke leher, dan sesaat wajahnya tenggelam dalam kain yang masih hangat oleh tubuh Kala. Ada sesuatu yang berubah di udara malam itu, tipis dan nyaris tak terasa, seperti embun yang turun perlahan.
Mereka kembali ke pos jam dua belas lewat. Kopi kedua diseduh. Sukma duduk lebih dekat sekarang, lutut mereka hampir bersentuhan di bangku bambu yang sempit.
"Kamu sudah nikah, Kal?" tanya Sukma tiba-tiba.
"Belum, Mbak. Masih jomblo akut."
"Kenapa belum? Umur tiga puluh dua, kerja bagus."
"Belum nemu yang cocok. Atau yang cocok belum mau sama saya."
Sukma tertawa, kali ini lebih lepas. "Kamu lucu ya. Pantas betah sendiri."
Obrolan mengalir. Kala bercerita soal pabrik, soal mesin-mesin yang rewel, soal temannya yang kawin lari. Sukma bercerita soal anak-anaknya, soal mertuanya yang cerewet, soal kucingnya yang manja. Lalu perlahan, tanpa disadari, cerita Sukma berbelok ke arah yang lebih dalam.
"Dulu waktu baru nikah, Hendra romantis," katanya lirih, menatap gelas kopinya. "Tiap pulang kerja bawa bunga. Bunga murah dari pinggir jalan, tapi saya senang bukan main. Sekarang? Pulang cuma tanya anak-anak sudah makan belum, terus tidur. Kadang saya ngomong, dia jawab sambil main HP."
Kala diam. Ia tahu ini bukan waktunya memberi nasihat. Ini waktunya mendengarkan.
"Dua minggu dia pergi, tidak ada satu pun telepon yang lebih dari dua menit. Katanya sibuk. Saya ngerti dia kerja. Tapi kadang saya mikir, saya ini istrinya atau cuma pengasuh anak-anaknya?"
Suaranya bergetar di ujung kalimat. Sukma cepat-cepat mengusap matanya, tertawa canggung. "Maaf ya, curhat sama anak muda."
"Enggak apa-apa, Mbak. Saya pendengar yang baik. Itu satu-satunya kelebihan saya."
Sukma menatapnya lama. Di bawah cahaya neon yang redup, matanya berkaca-kaca tapi ada kehangatan di sana. "Kamu baik, Kal. Beda sama bapak-bapak ronda yang lain. Mereka kalau saya curhat pasti langsung ceramah."
Jam satu dini hari, patroli kedua. Kali ini lebih singkat, hanya gang-gang utama. Di tengah patroli, hujan rintik mulai turun. Mereka berteduh di bawah kanopi sebuah ruko kosong, berdiri berdampingan, bahu hampir menempel.
"Kalau hujan begini, pos pasti bocor," gumam Sukma.
"Nanti kita benerin. Ada terpal di pos."
"Serius?"
"Serius. Saya kan serba bisa. Kecuali masak."
Sukma tertawa dan tanpa sadar menyandarkan kepalanya sebentar ke bahu Kala. Hanya sedetik, lalu ia menegakkan badan lagi, wajahnya memerah. "Maaf. Refleks."
"Enggak apa-apa."
Tapi keduanya tahu, itu bukan sekadar refleks. Ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka malam itu, dipupuk oleh kesepian yang sama-sama mereka rasakan, meski bentuknya berbeda. Kesepian Sukma adalah kesepian perempuan bersuami yang merasa tak terlihat. Kesepian Kala adalah kesepian lelaki lajang yang lelah pulang ke kosan kosong.
Hujan reda jam setengah dua. Mereka kembali ke pos dan benar saja, sebagian atap bocor. Kala memanjat dengan cekatan, membentangkan terpal, mengikatnya dengan tali. Sukma memegangi senter dari bawah, menyorot ke atas.
"Hati-hati, Kal!"
"Beres!"
Saat Kala turun, kakinya terpeleset di anak tangga bambu yang licin. Sukma reflek menangkap lengannya, dan Kala jatuh terduduk tepat di sampingnya. Wajah mereka hanya sejengkal. Napas Sukma terengah, entah karena kaget atau karena hal lain.
"Makasih," bisik Kala.
"Sama-sama."
Tidak ada yang bergerak menjauh. Di luar, hujan rintik kembali turun, menabuh atap terpal dengan ritme pelan. Di dalam pos yang remang, hanya ada mereka berdua dan keheningan yang tiba-tiba terasa penuh.
Sukma yang pertama memejamkan mata. Kala yang pertama menyentuh pipinya, lembut, seolah takut perempuan itu pecah. Ketika bibir mereka bertemu, tidak ada keterkejutan. Seolah malam ini memang disiapkan untuk itu, seolah semua obrolan, semua tawa, semua curhat, adalah jalan menuju titik ini.
Ciuman itu awalnya ragu, lalu semakin berani. Tangan Kala menyusup ke balik jaket Sukma, merasakan hangat tubuhnya yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dari kejauhan. Sukma mendesah pelan, tangannya mencengkeram kaus Kala.
"Mbak yakin?" bisik Kala di sela ciuman, memberi kesempatan terakhir untuk mundur.
Sukma menatapnya, mata berkaca tapi tegas. "Jangan panggil saya Mbak malam ini."
Itu adalah jawaban yang cukup. Kala mengangkat tubuh Sukma yang ringan, mendudukkannya di atas meja bambu pos ronda. Termos dan gelas disingkirkan ke sudut. Jaket Sukma terlepas, lalu kaus longgarnya menyusul. Di bawah cahaya neon yang temaram, tubuh perempuan tiga puluh lima tahun itu terlihat apa adanya, indah dalam kejujurannya.
Kala menciumi lehernya, turun ke bahu, ke setiap jengkal kulit yang bisa ia jangkau. Sukma melengkungkan punggung, jemarinya meremas rambut Kala. Desahannya tertahan, takut terdengar sampai ke rumah-rumah yang tidur.
"Pelan-pelan," bisiknya. "Tetangga bisa dengar."
"Kita pelan-pelan."
Dan mereka memang pelan-pelan. Setiap sentuhan disengaja, setiap gerakan penuh perhatian. Kala memperlakukan Sukma seolah ia adalah hal paling berharga malam itu, dan Sukma membalas dengan keberanian yang mengejutkan dirinya sendiri. Bertahun-tahun ia merasa tak diinginkan, dan malam ini ada lelaki yang menatapnya seolah ia adalah satu-satunya perempuan di dunia.
Ketika akhirnya mereka menyatu, Sukma menggigit bibirnya menahan suara. Kala mencium keningnya, membisikkan kata-kata lembut yang tak pernah ia ucapkan pada siapa pun. Gerakan mereka mengikuti irama hujan di atap terpal, lambat lalu semakin dalam, sampai keduanya mencapai puncak dalam desahan yang nyaris tak bersuara.
Setelahnya mereka berbaring berdampingan di atas tikar pos ronda, berbagi satu sarung sebagai selimut. Sukma menelungkupkan kepala di dada Kala, mendengar detak jantungnya yang masih berpacu.
"Ini salah ya?" bisik Sukma.
Kala mengelus rambutnya. "Malam ini, jangan mikir salah benar dulu. Besok pagi boleh nyesel. Tapi malam ini, kamu berhak bahagia."
Sukma diam lama. Lalu ia mengangguk pelan. "Kamu benar. Malam ini saja."
Mereka tertidur sebentar, terbangun oleh kentongan warga yang lewat jam empat pagi. Buru-buru mereka merapikan pakaian, menyusun kembali termos dan gelas seolah tak terjadi apa-apa. Tapi ada senyum tipis di wajah Sukma yang tak bisa disembunyikan, dan ada tatapan lembut di mata Kala yang tak pernah ada sebelumnya.
Pagi harinya, saat warga lain berdatangan menggantikan piket, Sukma pamit dengan normal. Tapi sebelum pergi, ia menyelipkan selembar kertas ke saku jaket Kala. Di atasnya tertulis nomor telepon dan satu kalimat: Terima kasih sudah mendengarkan.
Seminggu kemudian, Pak Hendra pulang dari luar kota. Sukma menyambutnya dengan senyum, memasak kesukaannya, menjadi istri yang baik seperti biasa. Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang berubah. Ia tidak lagi menunggu telepon dua menit itu dengan harap-harap cemas. Ia tidak lagi merasa tak terlihat. Karena ia tahu, ada satu malam di mana ia benar-benar dilihat, didengar, dan diinginkan.
Dan Kala? Ia masih lajang, masih pulang ke kosan kosong tiap malam. Tapi setiap kali giliran ronda tiba, ia datang lebih awal, membawa kopi lebih banyak, dan duduk di pos ronda itu dengan senyum yang hanya ia sendiri yang mengerti artinya.
Kadang kebahagiaan datang dalam bentuk yang tak terduga. Kadang ia datang jam dua dini hari, di pos ronda yang bocor, di tengah hujan rintik, bersama perempuan yang hanya butuh didengarkan. Dan Kala belajar malam itu, bahwa mendengarkan adalah bentuk cinta yang paling sederhana, dan kadang yang paling dalam.
