CERITA DEWASA

Terjebak Lift Berdua

Brak.

Lift tersentak begitu keras hingga aku terhuyung dan bahuku menghantam dinding logam. Lampu di langit-langit berkedip dua kali, lalu padam total. Yang tersisa hanya cahaya merah redup dari lampu darurat di sudut atas. Lift berhenti. Tidak bergerak sama sekali.

Aku menatap angka di panel. Tidak ada angka. Panelnya mati.

"Sial," gumamku.

Perempuan di sebelahku tertawa kecil, tapi tawanya terdengar gugup. "Ini... berhenti ya?"

"Kayaknya iya."

Aku menekan tombol buka pintu berkali-kali. Tidak ada respons. Aku menekan tombol darurat yang berwarna kuning. Terdengar bunyi bip lemah, lalu suara statis dari speaker kecil di panel.

"Halo? Ini lift gedung... lift barang? Lift penumpang lantai... aku bahkan tidak tahu kita di lantai berapa," kataku ke speaker.

Suara seorang pria menjawab, terdengar jauh dan terputus. "...terima... teknisi... tiga puluh menit... tetap tenang..."

Aku menoleh ke perempuan itu. "Katanya teknisi tiga puluh menit lagi datang."

Dia mengangguk pelan. Dalam cahaya merah darurat, wajahnya terlihat pucat tapi tetap cantik. Rambut panjangnya diikat asal. Blazernya sudah dilepas dan disampirkan di lengan.

Namanya Kinanti. Aku tahu itu karena kami pernah satu rapat lintas divisi dua bulan lalu. Dia dari divisi pemasaran. Umurnya dua puluh sembilan, dia pernah menyebutnya sambil bercanda soal kue ulang tahun yang dibawakan timnya. Aku sendiri Rangga, tiga puluh satu tahun, staf operasional. Sabtu sore ini aku lembur menyelesaikan laporan yang harus dikirim Senin pagi.

"Kamu juga lembur?" tanyaku, mencoba mencairkan suasana.

"Deadline proposal," jawabnya. "Kamu?"

"Laporan operasional. Bos minta Senin pagi sudah di mejanya."

Dia tersenyum tipis, lalu bersandar ke dinding lift. "Sialnya, aku janji makan malam sama teman jam tujuh. Sekarang malah terjebak di kotak besi."

Aku melirik jam tangan. Setengah enam sore. "Masih ada waktu. Teknisi katanya tiga puluh menit."

"Tiga puluh menit di sini berasa tiga jam," katanya.

Kami terdiam sejenak. Lift itu sempit. Mungkin dua kali dua meter. Udara mulai terasa pengap karena AC mati. Aku bisa mendengar napasnya, dan mungkin dia juga bisa mendengar napasku.

"Kamu takut ruang sempit?" tanyaku.

"Enggak. Cuma... bosen. Dan panas." Dia mengipasi wajahnya dengan tangan.

Aku melepaskan dasiku dan membuka kancing teratas kemeja. "Iya, makin panas."

Dia tertawa lagi, kali ini lebih lepas. "Kita kayak di sauna gratis."

"Sauna yang enggak bisa keluar."

Obrolan mengalir. Awalnya soal kerjaan, soal bos yang perfeksionis, soal lembur Sabtu yang merusak akhir pekan. Lalu perlahan menjadi lebih personal. Kinanti bercerita bahwa dia baru putus tiga minggu lalu. Pacarnya, yang sudah dua tahun bersamanya, ternyata diam-diam dekat dengan rekan kerjanya sendiri.

"Aku yang mutusin," katanya. "Buat apa bertahan sama orang yang enggak jujur."

"Kamu kuat," kataku. "Banyak orang memilih pura-pura enggak tahu."

"Aku enggak mau jadi orang yang pura-pura." Dia menatapku. Dalam cahaya merah itu, matanya terlihat berkilat. "Kamu? Masih sendiri?"

Aku mengangguk. "Sudah setahun. Sibuk kerja, enggak sempat mikirin itu."

"Atau enggak mau mikirin itu," godanya.

Aku tertawa. "Mungkin."

Keheningan turun lagi, tapi kali ini berbeda. Bukan keheningan canggung, melainkan keheningan yang... penuh. Aku menyadari betapa dekatnya kami berdiri. Bahunya hampir menyentuh lenganku. Aroma parfumnya samar tercium di udara pengap itu, wangi jeruk yang segar.

"Kamu wangi," kataku tanpa berpikir. Lalu aku langsung menyesal. "Maaf, maksudku..."

Dia tertawa. "Makasih. Kamu juga enggak bau, kok, buat ukuran orang yang lembur."

Kami tertawa bersama, dan tawanya membuat jarak di antara kami terasa menyusut. Aku tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu. Mungkin aku yang sedikit bergeser, atau mungkin dia. Yang jelas, tiba-tiba bahu kami bersentuhan, dan tidak ada yang menjauh.

Jantungku berdegup kencang. Ini gila. Kami terjebak di lift, menunggu teknisi, dan aku malah merasakan sesuatu yang seharusnya tidak kurasakan di situasi seperti ini. Tapi aku juga melihat caranya menatapku. Bukan tatapan biasa. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang membuat tenggorokanku kering.

"Kinanti," kataku pelan.

"Ya?"

"Aku... aku senang kita terjebak bareng. Bukan sendirian."

Dia tersenyum, senyum yang berbeda dari sebelumnya. Lebih lambat, lebih dalam. "Aku juga."

Tanganku bergerak, hampir tanpa kusadari, menyentuh tangannya yang bersandar di dinding. Dia tidak menarik tangannya. Jari-jarinya justru melingkari jariku, pelan.

Udara di lift itu semakin panas, atau mungkin itu hanya perasaanku. Lampu merah darurat membuat segalanya terlihat seperti mimpi. Aku menoleh padanya, dan dia sudah menatapku. Wajah kami hanya berjarak beberapa senti.

"Aku boleh?" bisikku.

Dia tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menjawab dengan mengangguk pelan, lalu memejamkan mata.

Aku menciumnya. Pelan dulu, ragu, seolah memberi kesempatan padanya untuk mundur. Tapi dia tidak mundur. Justru tangannya naik ke tengkukku, menarikku lebih dekat, dan ciuman itu menjadi lebih dalam. Bibirnya lembut dan hangat. Rasanya seperti... seperti sesuatu yang sudah lama kutunggu tanpa kusadari.

Tanganku melingkar di pinggangnya. Tubuhnya menempel padaku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, secepat detak jantungku sendiri. Dunia di luar lift itu seolah tidak ada. Tidak ada teknisi yang sedang dalam perjalanan. Tidak ada deadline Senin pagi. Hanya ada kami berdua, dalam kotak besi kecil dengan cahaya merah, saling menemukan di tengah ketidaknyamanan.

"Rangga," desahnya di antara ciuman, dan mendengar namaku dari bibirnya membuat sesuatu dalam diriku menyala.

Blazer yang disampirkan di lengannya jatuh ke lantai lift. Tangannya mulai membuka kancing kemejaku, satu per satu, dengan jari-jari yang sedikit gemetar tapi pasti. Aku membantunya melepaskan kemejaku, lalu tanganku bergerak ke resleting rok kerjanya.

"Yakin?" tanyaku, menatap matanya.

Dia mengangguk. "Sangat yakin. Aku sudah lama enggak merasa... diinginkan. Rasanya enak."

Kalimat itu menghantamku. Aku menciumnya lagi, lebih lembut kali ini, seolah ingin meyakinkannya bahwa dia memang diinginkan. Sangat diinginkan.

Pakaiannya terlepas satu per satu di lantai lift yang dingin. Dalam cahaya merah darurat, tubuhnya terlihat seperti patung yang hidup. Aku menatapnya dengan kagum, dan dia tersipu tapi tidak menutupi diri.

"Kamu cantik," kataku jujur.

"Jangan cuma dilihat," bisiknya.

Aku tertawa kecil, lalu mendekatinya. Tanganku menyusuri lengannya, bahunya, pinggangnya. Setiap sentuhan membuat napasnya tercekat. Dia membalas dengan menyentuh dadaku, perutku, dan aku merasakan lututku melemah.

Kami bercinta di sana, di lantai lift yang sempit, dengan hati-hati tapi penuh hasrat. Setiap gerakan kami pelan karena ruang yang terbatas, tapi justru itu membuatnya terasa lebih intim. Kami harus saling menopang, saling menyesuaikan. Tangannya mencengkeram bahuku. Bibirku menemukan lehernya. Desahannya tertahan, takut terdengar sampai keluar, dan itu justru membuatku semakin bergairah.

Aku tidak tahu berapa lama itu berlangsung. Waktu seolah berhenti, sama seperti lift itu. Yang ada hanya sentuhan, napas yang memburu, dan bisikan-bisikan kecil yang tidak akan pernah kuingat kata-katanya tapi akan selalu kuingat rasanya.

Setelahnya, kami berbaring di lantai lift, berkeringat dan terengah, saling menatap sambil tersenyum seperti dua orang bodoh yang baru saja melakukan hal paling nekat dalam hidup mereka.

"Gila," kata Kinanti sambil tertawa pelan. "Kita baru aja... di lift."

"Di lift yang mogok," tambahku.

"Di lift yang mogok, Sabtu sore, jam setengah enam."

Kami tertawa bersama, lalu bergegas merapikan pakaian saat terdengar suara dari speaker.

"Halo? Teknisi sudah di lokasi. Kami akan buka pintu manual dalam lima menit. Tetap tenang."

Kami berpandangan, lalu buru-buru memakai kembali pakaian yang berserakan. Tanganku gemetar saat mengancingkan kemeja. Kinanti merapikan rambutnya dengan jari, lalu memungut blazernya. Kami berdiri dengan jarak yang wajar, seolah tidak terjadi apa-apa, tepat saat terdengar bunyi gesekan logam dari atas.

Pintu lift terbuka dengan paksa. Cahaya lorong yang terang menyilaukan mataku setelah sekian lama dalam cahaya merah. Dua orang teknisi berseragam menatap kami.

"Kalian enggak apa-apa?" tanya salah satunya.

"Enggak apa-apa," jawabku cepat. "Cuma kepanasan."

Kinanti mengangguk, wajahnya berusaha serius tapi sudut bibirnya menahan senyum.

Kami keluar dari lift. Kaki kami menginjak lantai lorong yang kokoh, dan rasanya seperti kembali ke dunia nyata. Teknisi menutup kembali pintu lift dan mulai bekerja.

Kami berjalan menuju lobi dalam diam. Di depan pintu keluar gedung, Kinanti berhenti dan menatapku.

"Jadi," katanya, "makan malam jam tujuhku batal karena aku terjebak di lift."

"Oh ya?"

"Temanku pasti ngerti kalau aku bilang aku terjebak." Dia tersenyum nakal. "Tapi aku jadi kepikiran... kamu mau nemenin aku makan malam? Sebagai permintaan maaf karena liftnya milih aku sebagai teman terjebak, bukan kamu sendirian."

Aku tertawa. "Dengan senang hati."

Kami makan malam di restoran kecil dekat kantor. Obrolan mengalir semudah tadi di lift, tapi sekarang tanpa kepengapan dan tanpa cahaya merah. Dia bercerita lebih banyak soal mantannya, soal ibunya yang selalu menanyakan kapan menikah, soal mimpinya membuka usaha sendiri suatu hari nanti. Aku bercerita soal adikku, soal hobi motorku yang sudah lama tidak kusentuh, soal betapa aku sebenarnya benci lembur Sabtu.

Setelah makan malam, kami berjalan kaki ke parkiran. Mobil kami terparkir bersebelahan, kebetulan yang lucu.

"Rangga," katanya sebelum masuk mobil. "Aku enggak nyesel. Kamu?"

Aku menggeleng. "Enggak sedikit pun."

"Bagus." Dia mencium pipiku, cepat tapi hangat. "Sampai ketemu Senin. Jangan pura-pura enggak kenal di pantry."

"Aku enggak akan berani," kataku sambil tertawa.

Senin pagi, aku datang lebih awal seperti biasa. Saat aku sedang membuat kopi di pantry, Kinanti masuk. Dia tersenyum padaku, senyum biasa, senyum rekan kerja. Tapi saat tidak ada orang lain, dia berbisik pelan saat lewat di sampingku.

"Terima kasih untuk Sabtu kemarin."

Aku tersenyum dan berbisik balik, "Kapan-kapan terjebak lagi?"

Dia tertawa kecil dan mencubit lenganku pelan sebelum pergi dengan cangkir kopinya.

Sejak hari itu, kami jadi dekat. Makan siang bersama kadang-kadang. Chatting soal kerjaan yang perlahan berubah jadi chatting soal hal-hal lain. Tidak ada yang tahu soal lift itu, dan kami sepakat untuk menyimpannya sebagai rahasia kecil kami berdua.

Kadang, saat aku naik lift sendirian dan lift itu berhenti di antara lantai walau hanya sedetik, jantungku berdegup sedikit lebih kencang. Bukan karena takut. Tapi karena ingat.

Ingat sore itu, cahaya merah, dan perempuan bernama Kinanti yang mengubah lift mogok menjadi sore yang tidak akan pernah kulupakan.

bagikan