CERITA DEWASA

Taman Kota Jam 11 Malam

Lampu taman menyala redup di antara pepohonan. Angin malam menggerakkan daun-daun, dan langkah kaki Harsa beradu dengan jalan setapak yang sepi.

Jam sebelas malam. Taman kota ini selalu sepi di jam segitu, dan itulah yang dia cari.

Harsa sudah tiga bulan menjalani rutinitas ini. Pulang kerja jam sembilan, makan seadanya di kos, lalu ganti kaus dan sepatu lari. Bukan karena dia atletis. Dia cuma butuh tempat untuk membuang penat. Kantornya menyedot energi, dan lari malam di taman sepi adalah satu-satunya cara dia tetap waras.

Taman itu tidak besar. Ada jalan setapak melingkar, beberapa bangku besi, sebuah gazebo di tengah, dan lampu-lampu taman yang setengahnya sudah mati. Di siang hari tempat ini ramai oleh anak-anak dan penjual mainan. Di malam hari, tempat ini milik segelintir orang: Harsa, kadang satpam keliling, dan perempuan itu.

Perempuan itu pertama kali dia lihat sekitar sebulan lalu. Rambutnya diikat, memakai jaket olahraga dan celana training. Dia tidak lari seperti Harsa. Dia berjalan santai, kadang berhenti di bangku untuk duduk menatap langit.

Malam itu, seperti biasa, Harsa mulai dengan pemanasan di dekat pintu masuk taman. Dari kejauhan dia melihat perempuan itu sudah ada di bangku dekat gazebo, duduk dengan botol air di tangan.

Mereka belum pernah bicara. Hanya saling mengangguk kalau papasan. Itu sudah cukup sebagai sopan santun antar sesama penghuni taman malam.

Harsa mulai berlari. Putaran pertama dia lewati perempuan itu tanpa menoleh. Putaran kedua, perempuan itu sudah berjalan di jalur setapak, berlawanan arah dengan larinya. Mereka papasan. Anggukan kecil. Seperti biasa.

Putaran ketiga, langkah Harsa melambat. Bukan karena lelah. Dia melihat perempuan itu berhenti di tengah jalan setapak, memegangi lututnya, wajahnya meringis.

Harsa berhenti. Nalurinya menyuruhnya mendekat.

"Mbak, kenapa? Kram?"

Perempuan itu menoleh. Wajahnya cantik, dengan keringat tipis di dahi. Umurnya mungkin awal tiga puluhan.

"Kaki saya kaku," katanya. "Duduk kelamaan tadi."

Harsa jongkok di depannya. "Coba diluruskan pelan-pelan. Saya bantu."

Dia memegang pergelangan kaki perempuan itu dengan hati-hati, membantu meluruskannya perlahan. Perempuan itu menggigit bibir menahan rasa, lalu menghela napas lega.

"Enakan?" tanya Harsa.

"Enakan. Makasih banyak."

"Sama-sama. Saya Harsa."

"Saskia."

Itu pertama kalinya mereka bicara lebih dari anggukan.

Malam-malam berikutnya, sapaan mereka bertambah panjang. Dari sekadar "malam" menjadi obrolan singkat saat papasan. Seminggu setelah insiden kaki kram itu, Harsa memberanikan diri duduk di bangku sebelah Saskia setelah selesai lari.

"Boleh gabung?"

Saskia tersenyum. "Silakan. Taman ini kan milik umum."

Mereka mengobrol. Harsa tahu Saskia berumur tiga puluh dua tahun, bekerja sebagai desainer interior yang bisa kerja dari rumah. Harsa sendiri tiga puluh satu, karyawan bagian logistik di sebuah perusahaan distribusi.

"Kenapa jalan malam-malam sendirian?" tanya Harsa suatu malam.

Saskia menatap lampu taman yang berpendar. "Baru cerai tiga bulan lalu. Rumah sepi banget kalau malam. Di sini, minimal ada angin dan suara jangkrik."

Harsa mengangguk. Dia paham rasa itu. "Saya juga ke sini karena kosan pengap dan pikiran penuh."

"Jadi kita berdua pelarian," kata Saskia sambil tertawa kecil.

"Pelarian yang sehat. Olahraga."

Sejak malam itu, mereka seperti punya janji tak tertulis. Harsa lari, Saskia jalan, lalu mereka duduk di bangku dekat gazebo dan mengobrol sampai taman benar-benar sepi. Kadang sampai jam dua belas lewat.

Suatu malam, Harsa datang dengan wajah kusut. Target gudang tidak tercapai dan atasannya memakinya di depan tim. Dia lari lebih kencang dari biasanya, seolah ingin menginjak-injak rasa kesalnya.

Saskia yang sudah duduk di bangku memperhatikannya. "Kamu kenapa? Larinya kayak dikejar setan."

Harsa berhenti di depannya, terengah-engah. "Hari yang buruk."

"Duduk. Cerita."

Dan Harsa bercerita. Tentang atasannya, tentang tekanan, tentang rasa ingin resign yang muncul tiap Senin pagi. Saskia mendengarkan tanpa memotong, sesekali mengangguk.

"Waktu aku mutusin cerai, semua orang bilang aku bodoh," kata Saskia setelah Harsa selesai. "Katanya, umur segini, siapa yang mau. Tapi aku mikir, lebih baik sendirian daripada bertahan di tempat yang bikin aku kecil."

Harsa menatapnya. "Kamu berani banget."

"Bukan berani. Terpaksa. Tapi ternyata setelah lewat, rasanya lega. Kayak habis lari jauh terus berhenti. Capek, tapi lega."

Percakapan malam itu terasa berbeda. Lebih dalam, lebih jujur. Harsa merasa Saskia melihatnya bukan sebagai teman ngobrol iseng, tapi sebagai seseorang yang dipercaya.

Malam lain, giliran Harsa yang mendengarkan. Saskia bercerita tentang masa kecilnya, tentang ayahnya yang keras, tentang kenapa dia selalu memilih jalan yang aman sampai akhirnya sadar jalan aman itu yang justru menyakitinya.

"Aku iri sama kamu," kata Saskia. "Kamu masih bisa lari tiap malam buat nenangin diri. Aku cuma bisa jalan mondar-mandir."

"Lari itu cuma alasan," kata Harsa. "Yang bikin tenang itu duduk di sini sama kamu."

Saskia terdiam, lalu tersenyum tipis. Pipinya merona dalam cahaya lampu taman.

Malam-malam berlalu dan Harsa sadar ada yang berubah dalam dirinya. Dia mulai memperhatikan hal-hal kecil: cara Saskia mengikat rambutnya, caranya tertawa dengan tangan menutup mulut, caranya menatap langit saat sedang berpikir. Dia mulai datang ke taman lebih awal, berharap Saskia sudah ada.

Pernah suatu malam Saskia tidak datang. Harsa lari lima putaran dengan gelisah, matanya terus melirik ke pintu masuk taman. Tidak ada. Dia pulang dengan perasaan hampa yang aneh.

Besoknya Saskia datang seperti biasa. "Kemarin lembur revisi desain," katanya ringan.

"Oh," kata Harsa, berusaha terdengar biasa saja. Tapi di dalam hatinya dia lega luar biasa.

Saskia memperhatikannya, lalu tersenyum penuh arti. "Kamu nungguin aku ya?"

Harsa tidak bisa berbohong. "Iya."

Saskia tertawa, tapi matanya berbinar. "Aku juga. Kemarin di depan laptop, kepikiran terus. Pengen cepat selesai biar bisa ke sini."

Itu pertama kalinya mereka saling mengakui, meski dengan bahasa yang masih malu-malu.

Saskia bercerita tentang pernikahannya yang kandas. Suaminya selingkuh dengan rekan kerjanya. Saskia bertahan dua tahun sebelum akhirnya menyerah.

"Aku kira aku gagal," kata Saskia suatu malam, suaranya pelan. "Tujuh tahun nikah, berakhir begitu saja."

"Yang gagal itu dia, bukan kamu," kata Harsa. "Kamu yang berani pergi, itu bukan kegagalan."

Saskia menoleh padanya. Mata mereka bertemu dalam temaram lampu taman. Ada sesuatu di tatapan itu yang membuat dada Harsa berdebar.

"Makasih, Harsa. Kamu orang pertama yang bilang begitu tanpa menghakimi."

Harsa tidak menjawab. Dia hanya tersenyum.

Malam-malam berlalu. Kedekatan mereka tumbuh tanpa dipaksa. Harsa mulai menantikan jam sebelas malam bukan lagi untuk lari, tapi untuk bertemu Saskia. Larinya pun jadi setengah hati. Seringkali dia hanya lari dua putaran lalu duduk mengobrol.

Suatu malam Jumat, hujan turun deras sejak sore. Harsa ragu mau ke taman. Tapi jam sebelas kurang, dia tetap berangkat dengan jas hujan. Taman pasti kosong, pikirnya. Tapi dia ingin memastikan.

Ternyata Saskia ada di sana, berteduh di gazebo.

"Kamu gila, hujan-hujan ke sini," kata Saskia sambil tertawa.

"Kamu juga di sini," balas Harsa, melepas jas hujannya yang basah.

Mereka duduk di gazebo, mendengarkan hujan menghantam atap seng. Taman gelap, hanya lampu gazebo yang menyala kuning temaram. Tidak ada siapa-siapa. Satpam pun tidak kelihatan, mungkin berteduh di pos.

"Sepi banget ya malam ini," kata Saskia pelan.

"Iya."

Hening. Hanya suara hujan.

Saskia menatap Harsa. "Harsa, boleh aku jujur?"

"Boleh."

"Aku suka malam-malam begini. Suka ngobrol sama kamu. Sudah lama aku nggak merasa nyaman sedekat ini sama orang."

Harsa merasakan jantungnya berdetak kencang. "Aku juga, Saskia."

Tangan Saskia bergerak, menyentuh tangan Harsa yang bertumpu di bangku kayu gazebo. Sentuhan ringan, tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka berubah.

"Aku nggak mau buru-buru," bisik Saskia. "Tapi aku juga nggak mau pura-pura nggak ngerasain apa-apa."

Harsa membalik tangannya, menggenggam jemari Saskia. "Aku juga ngerasain."

Mereka saling menatap lama. Lalu Saskia mendekat, perlahan, memberi Harsa waktu untuk mundur kalau mau. Harsa tidak mundur.

Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lembut dan hati-hati. Tidak terburu-buru. Seperti dua orang yang sudah lama menahan diri dan akhirnya berani jujur.

Hujan masih turun. Gazebo itu menjadi dunia kecil mereka sendiri, tersembunyi dari jalan raya oleh pepohonan dan kegelapan.

Ciuman itu berlanjut, semakin dalam. Tangan Harsa menyentuh pipi Saskia, lalu turun ke lehernya. Saskia mendesah pelan, tubuhnya merapat.

"Harsa," bisiknya. "Kamu yakin?"

"Kalau kamu yakin."

"Aku yakin."

Pakaian mereka basah oleh sisa hujan dan keringat. Di bawah lampu gazebo yang temaram, mereka saling membuka satu per satu dengan gerakan perlahan, seolah takut merusak momen.

Saskia cantik dalam cahaya kuning itu. Harsa menatapnya dengan kagum yang tulus, bukan sekadar nafsu.

"Kamu cantik," bisiknya.

Saskia tersenyum malu, lalu menarik Harsa mendekat.

Mereka bercinta di bangku kayu gazebo itu, dengan suara hujan sebagai musik latar. Perlahan pada awalnya, saling menyesuaikan, saling membaca. Lalu semakin intens, semakin berani, sampai keduanya mencapai puncak dalam desahan yang tertahan.

Setelahnya mereka berbaring berdampingan di bangku sempit itu, berbagi jaket Harsa sebagai selimut darurat. Hujan mulai reda.

"Ini gila," kata Saskia sambil tertawa kecil. "Di taman, jam setengah dua belas malam."

"Gila yang menyenangkan," kata Harsa.

Saskia menoleh, menatapnya serius. "Harsa, aku nggak mau ini cuma pelampiasan sesaat."

"Bukan," kata Harsa mantap. "Aku serius. Aku suka kamu, Saskia. Bukan cuma malam ini."

Saskia tersenyum, matanya berkaca. "Aku juga suka kamu."

Mereka berbenah, memastikan tidak ada yang tertinggal. Hujan sudah berhenti total. Jalan setapak berkilau oleh genangan.

Saat berjalan keluar taman bersama, tangan mereka bergandengan. Tidak ada yang perlu disembunyikan. Taman sudah kosong.

"Besok jam sebelas lagi?" tanya Saskia di pintu taman.

"Jam sebelas," kata Harsa. "Tapi mungkin larinya dikurangi. Prioritasnya ngobrol."

Saskia tertawa, lalu mencium pipi Harsa sekilas sebelum berjalan ke arah parkir motornya.

Harsa pulang ke kos dengan senyum yang tidak hilang-hilang. Rutinitas malamnya yang dulu sekadar pelarian kini berubah menjadi sesuatu yang dia nantikan dengan sepenuh hati.

Dan taman kota jam sebelas malam itu, dengan lampu-lampu redup dan gazebo tuanya, menjadi saksi awal dari sesuatu yang indah.

bagikan