Tawa itu pecah untuk ketiga kalinya sore itu, disusul tepuk tangan dan suara sendok beradu dengan gelas. Ruang tamu rumahku penuh sore itu. Sepuluh ibu-ibu arisan, termasuk istriku Rani, duduk melingkar di karpet. Di tengah lingkaran ada toples kue kering, teko teh manis, dan arisan uang yang baru saja dikocok.
Aku, Danu, duduk di teras depan sambil main HP. Sebagai satu-satunya laki-laki di rumah, tugasku cuma satu. Jangan ganggu.
"Mas Danu, masuk dong, foto bareng!" teriak salah satu ibu.
"Nggak usah, Bu. Saya tukang foto aja."
Aku memotret mereka. Sepuluh perempuan tertawa ke arah kamera. Di antara mereka, istriku Rani yang paling ceria. Dan di sebelah Rani, sahabatnya sejak SMA, Vera, yang tersenyum paling manis.
Vera. Tiga puluh empat tahun, janda tiga tahun. Suaminya meninggal karena serangan jantung. Sejak itu ia tinggal sendiri di apartemennya. Ia cantik dengan cara yang matang. Rambutnya panjang dan hitam, badannya ramping, dan ia selalu wangi parfum mahal.
Jam lima sore, satu per satu tamu pulang. Ada yang dijemput suami, ada yang bawa mobil sendiri. Salam-salaman, cium pipi kiri kanan, janji ketemu bulan depan di rumah Bu Lilis.
Tinggallah kami bertiga. Aku, Rani, dan Vera yang membantu melipat taplak meja.
"Vera nginep aja malam ini," kata Rani tiba-tiba. "Besok aku dinas ke Surabaya, tiga hari. Kasian Danu sendirian."
Aku menoleh. "Lho, kok dadakan?"
"Undangan rapatnya baru masuk kemarin. Aku lupa cerita." Rani menatap Vera. "Ya kan, Ver? Temenin suamiku."
Vera tertawa. "Emang suamimu anak kecil perlu ditemenin?"
"Tapi beneran, nginep aja. Apartemenmu kan lagi direnovasi dapurnya."
Itu benar. Dapur apartemen Vera sedang dibongkar, tukangnya janji selesai seminggu. Vera sudah dua malam tidur di hotel, katanya tidak betah.
"Ya udah," kata Vera. "Tapi aku nggak bawa baju ganti."
"Pakai bajuku aja. Badan kita sama."
Malam itu Rani sibuk packing. Koper dibuka di kamar, baju dilipat, dokumen dimasukkan map. Vera membantunya memilih baju.
"Yang ini aja buat hari pertama. Formal tapi nggak kaku," kata Vera sambil mengangkat blazer navy.
Aku duduk di tepi ranjang, menonton mereka berdua. Dua perempuan dewasa yang sudah bersahabat belasan tahun. Cara mereka bercanda, cara mereka saling mengerti tanpa banyak bicara, itu pemandangan yang menyenangkan.
Jam sembilan malam, Rani sudah rapi. Pesawatnya jam enam pagi, travel menjemput jam setengah empat.
"Tidur duluan ya," kata Rani sambil mencium pipiku. "Vera, kamu tidur di kamar tamu."
"Oke."
Rani masuk kamar dan langsung terlelap. Vera dan aku masih di ruang tamu. TV menyala, menayangkan film komedi yang tidak terlalu kami perhatikan.
"Mau nonton sampai habis?" tanya Vera.
"Boleh. Besok aku nggak ke kantor, kerja dari rumah."
Vera mengambil selimut dari sofa dan membagi dua. Kami duduk berdampingan, masing-masing dengan segelas teh hangat yang dibuat Rani tadi.
Filmnya lucu, tapi entah kenapa aku lebih memperhatikan Vera. Cara ia tertawa dengan tangan menutup mulut. Cara ia menyibakkan rambut yang jatuh ke wajahnya. Parfumnya yang lembut tercium setiap ia bergerak.
"Danu," katanya tiba-tiba saat film masuk jeda iklan. "Aku boleh jujur?"
"Boleh."
"Aku iri sama kalian."
"Iri kenapa?"
"Lihat Rani tadi. Punya suami yang motoin arisan, yang disuruh-suruh nurut aja." Ia tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum. "Aku udah tiga tahun sendirian. Tiga tahun nggak ada yang nanya udah makan belum."
Dadaku sesak. Aku tahu Vera kesepian, tapi mendengarnya langsung seperti ini rasanya beda.
"Kamu masih muda, Ver. Nanti juga ketemu lagi."
"Muda?" Ia tertawa kecil. "Tiga puluh empat, Danu. Temen-temenku udah pada anak dua."
"Tiga puluh empat itu masih muda."
Ia menatapku lama. "Kamu manis."
Hening. Iklan di TV selesai, film lanjut lagi, tapi tidak ada yang memperhatikan.
"Rani beruntung," bisik Vera. "Punya kamu."
"Rani juga yang bikin aku begini."
"Justru itu. Kalian saling bikin. Aku..." Ia menghela napas. "Aku dulu juga gitu sama almarhum. Saling bikin. Terus dia pergi, dan aku nggak tahu harus jadi apa."
Tangannya yang memegang gelas teh terlihat gemetar sedikit. Aku mengulurkan tangan dan menggenggamnya. Refleks, tanpa pikir.
Ia tidak menarik tangannya. Malah menggenggam balik, erat.
Kami duduk diam. Hanya suara film yang tidak kami tonton.
"Danu," bisiknya. "Jangan lepas."
Aku tidak melepas.
Perlahan ia bergeser, lebih dekat. Bahunya menyentuh bahuku. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya lewat kaos yang kukenakan.
"Vera," kataku pelan. "Ini..."
"Aku tahu." Ia menoleh. Wajah kami hanya sejengkal. "Aku tahu kamu suami sahabatku. Aku tahu ini salah. Tapi aku capek jadi perempuan kuat terus."
Matanya berkaca-kaca. Bukan menangis, tapi menahan.
Aku seharusnya mundur. Aku seharusnya ingat Rani yang tidur di kamar sebelah, yang tiga hari lagi pulang. Aku seharusnya jadi suami yang baik.
Tapi tanganku malah naik dan menyentuh pipinya. Menghapus air mata yang belum jatuh.
Ia memejamkan mata dan menyandarkan pipinya ke tanganku.
Lalu aku menciumnya. Pelan. Memberi kesempatan untuk mundur.
Ia tidak mundur. Bibirnya yang lembut menyambutku. Tangannya naik ke tengkukku, menarikku lebih dekat.
Ciuman itu makin dalam. Ada rasa teh manis di bibirnya. Lidahnya menyambut lidahku dengan berani. Tangannya yang satu meremas kaosku.
Kami berciuman di sofa ruang tamu, di rumahku sendiri, sementara istriku tidur di kamar. Rasa bersalah itu ada, menusuk, tapi tenggelam oleh sesuatu yang lebih besar. Kesepian Vera yang menular ke dadaku. Kehangatan yang sudah lama tidak kurasakan dari perempuan lain selain Rani.
Tanganku turun ke pinggangnya. Daster yang ia pinjam dari Rani tipis, tidak menghalangi apa-apa. Tubuhnya ramping tapi berisi di tempat yang tepat.
"Ke kamar tamu," bisiknya di sela ciuman.
Aku mengangguk. Kami berdiri dengan tangan masih bertaut dan berjalan ke kamar tamu di ujung lorong. Pintu ditutup pelan. Dikunci.
Kamar tamu itu sederhana. Ranjang single yang cukup untuk dua orang kalau berhimpit. Lampu tidur kuning temaram.
Kami berdiri berhadapan. Napas kami memburu.
"Yakin?" tanyaku. Kesempatan terakhir.
Ia mengangguk. "Jangan tanya lagi. Aku udah mikir tiga tahun."
Ia melepas dasternya sendiri. Di bawahnya ia memakai tank top dan celana pendek. Tubuhnya indah. Ramping, kulit mulus, dada yang penuh dan kencang.
Aku melepas kaosku. Ia menatapku, lalu tersenyum malu.
"Kamu masih bagus," bisiknya.
"Kamu juga."
Aku membaringkannya di ranjang. Ranjang single itu sempit, memaksa kami berhimpitan. Justru itu yang kami mau.
Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya. Ia mendesah dan melengkungkan punggungnya. Tangannya menyusup ke rambutku.
Tank topnya kulepas. Dadanya yang ranum menyambutku. Aku menciuminya dengan lembut, dan ia menjambak rambutku.
"Jangan pelan-pelan," bisiknya. "Aku udah nunggu lama."
Aku menurut. Ciumanku jadi lebih rakus. Tanganku menjelajah tubuhnya. Setiap sentuhan disambut desahan.
Celana pendeknya kulepas. Celanaku dilepasnya. Kami telanjang dalam temaram lampu tidur, dan untuk sesaat kami hanya saling menatap. Mengagumi. Menghafal.
Lalu aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya untukku. Waktu aku masuk, ia melenguh panjang dan memelukku erat. Hangat, sempit, basah. Sempurna.
Kami bergerak dengan ritme yang cepat tapi dalam. Ranjang single berderit. Tangannya mencakar punggungku. Kakinya melingkar di pinggangku, menarikku lebih dalam setiap kali.
"Jangan berhenti," desahnya. "Jangan pernah berhenti."
Aku mempercepat gerakanku. Keringat membasahi tubuh kami. Napas kami memburu, bercampur dalam udara kamar yang pengap.
Ia mencapai puncaknya lebih dulu. Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku, giginya menggigit kulitku.
Melihatnya seperti itu membuatku tak tahan. Beberapa detik kemudian aku menyusul, meledak di dalamnya dengan erangan panjang yang kutahan di bantal.
Kami terbaring diam dalam pelukan, berkeringat dan terengah-engah. Ranjang single itu terlalu sempit untuk dua orang, tapi kami tidak peduli.
"Maaf," bisik Vera tiba-tiba.
"Untuk apa?"
"Rani. Dia sahabatku."
"Kita berdua yang mau," kataku. "Tapi ya, aku juga ngerasa bersalah."
Ia mengangguk pelan. "Ini cuma sekali. Selama aku nginep, kita biasa aja. Janji?"
"Janji."
Tapi kami berdua tahu, janji seperti itu gampang diucapkan.
Pagi harinya aku bangun lebih dulu. Vera masih tidur di ranjang single itu, rambutnya berantakan menutupi sebagian wajahnya. Dalam cahaya pagi yang masuk dari celah gorden, ia terlihat damai. Untuk sesaat aku lupa semua rasa bersalah dan hanya ingin momen itu berhenti.
Aku membuatkan sarapan. Nasi goreng sederhana. Waktu Vera keluar kamar dengan daster Rani yang ia kenakan semalam, kami saling menatap canggung.
"Pagi," katanya pelan.
"Pagi. Sarapan."
Kami makan dalam diam. Tidak ada yang membahas semalam. Seolah dengan tidak mengatakannya, itu tidak pernah terjadi.
Tapi waktu ia menyerahkan piring kotornya, jarinya menyentuh jariku. Dan kami berdua tahu, itu terjadi. Dan kami berdua tahu, kami menginginkannya lagi.
Tiga hari itu adalah tiga hari terpanjang dalam hidupku. Siang hari kami biasa saja. Sarapan bareng, Vera bantu beres-beres, aku kerja dari rumah. Normal. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Tapi setiap malam, setelah lampu ruang tamu dimatikan, Vera mengetuk pintu kamarku pelan. Atau aku yang mengetuk pintu kamar tamu.
Tiga malam. Tiga kali kami mengingkari janji.
Hari ketiga sore, Rani pulang. Ia membawa oleh-oleh. Kami menyambutnya di pintu seperti pasangan dan sahabat yang normal.
"Gimana Surabaya?" tanya Vera ceria.
"Capek. Tapi rapatnya lancar." Rani menatap kami berdua. "Kalian baik-baik aja?"
"Baik," kataku cepat. Terlalu cepat.
Rani menyipitkan mata, lalu tertawa. "Kalian aneh deh."
Vera pulang malam itu juga. Dapurnya sudah selesai direnovasi. Sebelum pulang ia memeluk Rani lama, lalu memelukku. Pelukan yang sedikit lebih lama dari seharusnya.
"Makasih udah ditemenin," bisiknya di telingaku.
Aku tidak menjawab.
Sejak itu Vera jarang main. Katanya sibuk. Mungkin benar. Mungkin juga ia menjaga jarak.
Tapi setiap kali arisan, ia datang. Dan setiap kali mata kami bertemu di antara tawa ibu-ibu, ada kilat kecil yang hanya kami berdua yang tahu artinya.
Rani tidak tahu. Dan aku berdoa ia tidak akan pernah tahu.
Karena beberapa rahasia memang harus dibawa sampai mati.
