Pintu lift terbuka tepat jam tiga pagi, dan aku berhadapan dengan perempuan berseragam pramugari yang sedang menahan kantuk.
Ia berdiri di dalam lift, satu tangan memegang koper kabin, tangan satunya lagi menekan angka lantai. Rambutnya disanggul rapi, tapi ada beberapa helai yang terlepas. Wajahnya cantik dengan cara yang lelah, seperti baru terbang berjam-jam.
"Naik, Mas?" tanyanya sambil menggeser sedikit, meski lift itu kosong melompong.
"Ya, Mbak. Lantai 19."
Ia menekan tombol 19, lalu bersandar ke dinding lift sambil memejamkan mata. "Aku juga 19. Baru seminggu yang lalu pindah. Unit 1904."
Aku melirik kopernya. Ada tag maskapai penerbangan yang kukenal. "Pramugari?"
Ia membuka satu mata. "Ketahuan ya. Baru pulang dari Medan. Delay tiga jam." Ia mengulurkan tangan. "Vania."
"Rizky." Aku menjabat tangannya. Lembut dan dingin.
Lift bergerak naik dengan suara mendengung. Aku baru dua minggu tinggal di apartemen ini, dan ini pertama kalinya aku ketemu tetangga. Wajar saja. Aku programmer, jam kerjaku aneh. Sering lembur sampai lewat tengah malam, pulang jam dua atau jam tiga pagi.
"Kerja apa, Mas?" tanya Vania, matanya masih setengah terpejam.
"Programmer. Lembur mulu."
"Kita senasib. Jadwal kacau." Ia tertawa kecil. "Enaknya jadi pramugari itu bisa jalan-jalan gratis. Nggak enaknya, badan nggak pernah tahu jam berapa sekarang."
Pintu lift terbuka di lantai 19. Kami berjalan beriringan ke arah unit masing-masing. Unitku 1902, unitnya 1904. Bersebelahan, cuma dipisahkan satu dinding.
"Mampir ngopi kapan-kapan," kata Vania sambil membuka pintunya. "Kalau jamnya nyambung."
"Siap."
Sejak malam itu, aku jadi sering papasan dengannya. Bukan cuma di lift, tapi juga di parkiran, di minimarket lantai dasar, di lorong. Vania itu orangnya ramah. Selalu menyapa duluan, selalu tersenyum. Kadang ia bercerita soal penumpangnya yang aneh-aneh. Pernah ada bapak-bapak yang minta nomor HP-nya sambil pura-pura tanya soal bagasi.
"Aku kasih nomor call center maskapai," katanya sambil tertawa. "Biar kapok."
Umurnya dua puluh delapan, empat tahun lebih muda dariku. Ia cerita waktu kami antre kopi di kafe lantai dasar suatu sore. Aku tiga puluh dua, kerja di perusahaan software, sudah lima tahun ngekos dan ngontrak sebelum akhirnya nekat ambil apartemen ini.
"Kok nekat ambil apartemen?" tanya Vania.
"Cicilannya hampir sama kayak ngontrak. Ya udah, sekalian."
"Pinter." Ia menyeruput latte-nya. "Aku juga gitu. Apartemen ini deket bandara, sejam juga nyampe."
Kami jadi lumayan akrab. Kadang ia menitipkan kunci cadangannya padaku kalau ia terbang berhari-hari, takut ada paket datang. Kadang aku menitipkan tanaman hias di balkonku padanya kalau aku lembur terus dan lupa nyiram.
Suatu malam di bulan September, aku pulang jam setengah dua. Capek luar biasa. Proyek lagi dikejar deadline, aku sudah tiga hari tidur cuma empat jam.
Aku masuk lift di lobi, menekan lantai 19. Di lantai 5, pintu terbuka dan Vania masuk. Ia masih berseragam lengkap, koper di tangan. Wajahnya pucat.
"Baru pulang?" tanyaku.
"Baru landing. Dari Surabaya." Ia bersandar ke dinding. "Capek banget. Turbulensi parah tadi."
Lift bergerak naik. Lantai 8. Lantai 9. Lalu tiba-tiba berhenti. Lampu berkedip sekali, lalu mati total. Lift gelap gulita.
"What the..." gumamku.
Lampu darurat menyala, redup dan kekuningan. Lift tidak bergerak.
Vania menekan tombol buka pintu berkali-kali. Tidak ada reaksi. Ia menekan tombol darurat. Terdengar bunyi bip, lalu suara operator yang jauh.
"Halo? Lift gedung A macet di antara lantai 9 dan 10. Ada dua orang di dalam," kata Vania dengan suara yang surprisingly tenang. Pramugari memang terlatih menghadapi keadaan darurat.
Suara operator menjawab, terdengar samar. Teknisi sedang dihubungi. Perkiraan dua puluh menit.
Vania menghela napas dan duduk di lantai lift. "Ya udah. Nunggu."
Aku ikut duduk. Ruangan sempit itu tiba-tiba terasa sangat kecil. Hanya kami berdua, dalam cahaya kuning yang temaram, dikelilingi keheningan.
"Kamu nggak panik?" tanyaku.
"Udah biasa. Pesawat goyang lebih serem dari ini." Ia tersenyum. "Dulu pernah turbulensi sampai pramugari senior nangis. Aku malah ketawa. Disangka gila."
Aku tertawa. "Kamu aneh ya."
"Aneh tapi berguna."
Kami ngobrol. Soal kerjaan, soal hidup, soal kenapa dua orang dewasa memilih jadwal yang menghancurkan badan. Vania cerita ia dulu pengen jadi dokter, tapi takut darah. Jadi ia pilih jadi pramugari karena suka travelling.
"Terus sekarang travelling melulu, malah pengen di rumah terus," katanya.
"Manusia memang gitu. Yang nggak dipunya yang dipengen."
"Iya ya."
Ada jeda. Aku bisa mendengar napasnya. Wangi parfumnya samar-samar, bercampur bau seragam yang sudah dipakai seharian. Bukan bau tidak enak. Justru wangi yang aneh, wangi orang yang baru pulang kerja keras.
"Rizky," katanya pelan. "Kamu nggak bosen sendirian terus?"
Pertanyaan itu familiar. Aku pernah dengar versi yang mirip dari orang lain. Tapi dari mulut Vania, di dalam lift yang macet jam setengah dua pagi, pertanyaan itu terdengar berbeda.
"Bosen sih. Tapi udah biasa."
"Jawaban standar cowok." Ia menoleh padaku. Dalam cahaya redup, matanya berkilat. "Aku juga bosen. Pulang ke unit kosong. Masak buat sendirian. Nonton buat sendirian."
"Pacar nggak ada?"
"Putus setahun lalu. Dia nggak tahan LDR padahal aku cuma di awan, bukan di planet lain." Ia tertawa pahit.
Aku tidak menjawab. Tanganku yang ada di lantai lift bergeser, tidak sengaja menyentuh tangannya. Kami berdua diam. Tidak ada yang menarik tangannya.
Dua puluh menit terasa seperti dua jam dan seperti dua detik sekaligus. Teknisi akhirnya datang. Lift bergerak lagi. Pintu terbuka di lantai 19.
Kami keluar dengan kaki agak lemas. Vania menoleh padaku.
"Mampir," katanya. Bukan bertanya. Menyatakan.
Aku mengangguk.
Unit 1904 rapi dan wangi. Ada foto-foto Vania di berbagai negara di dinding. Paris, Tokyo, Sydney. Di meja ada miniatur pesawat.
"Duduk," katanya sambil melepas sepatunya. "Aku bikin teh."
Aku duduk di sofa. Ia masuk ke dapur kecil, masih berseragam. Sanggulnya sudah ia lepas, rambut panjangnya tergerai. Ia terlihat berbeda tanpa sanggul. Lebih lembut. Lebih manusiawi.
Ia kembali dengan dua cangkir teh hangat. Duduk di sebelahku, kakinya dilipat di sofa.
"Rizky," katanya sambil menatap cangkirnya. "Boleh jujur?"
"Boleh."
"Aku suka papasan sama kamu. Tiap pulang jam aneh terus ketemu kamu di lift, rasanya... nggak sendirian."
Dadaku sesak. Aku menaruh cangkirku di meja.
"Aku juga," kataku.
Ia menoleh. Kami saling menatap. Tidak ada lagi obrolan soal turbulensi atau jadwal kacau. Yang ada cuma dua orang dewasa yang kesepian dan akhirnya berani mengakuinya.
Aku mendekat dan menciumnya. Pelan. Ia tidak kaget. Bibirnya menyambutku dengan lembut. Ada rasa teh hangat dan lelah seharian.
Tangannya naik ke tengkukku. Ciuman itu makin dalam. Napasnya memburu. Seragam pramugarinya yang rapi mulai kusut di pelukanku.
"Vania," bisikku di sela ciuman.
"Jangan ngomong," bisiknya balik. "Udah terlalu banyak ngomong malam ini."
Ia berdiri dan menarik tanganku ke kamarnya. Kamar yang sederhana tapi nyaman. Sprei biru muda, bantal-bantal kecil, lampu tidur yang hangat.
Di sana, ia mulai melepas seragamnya sendiri. Blazer, rok span, satu per satu. Aku menatapnya, tidak berkedip. Di balik seragam yang sempurna itu, ada tubuh perempuan yang sempurna juga. Kulitnya mulus, dadanya penuh, pinggangnya ramping.
Ia memakai lingerie hitam yang elegan. Pasti mahal. Pramugari memang tahu cara berpakaian.
"Kamu cantik banget," bisikku.
Ia tersenyum malu, lalu mulai membuka kemejaku. Tangannya cekatan, terlatih. Dalam sekejap aku tinggal kaos dalam. Lalu kaos dalamku pun dilepasnya.
Kami berbaring di ranjangnya. Kulit bertemu kulit. Hangat.
Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya. Ia mendesah dan melengkungkan punggungnya. Tangannya menjelajah punggungku, turun ke bawah.
Lingerie-nya kulepas perlahan. Ia membiarkanku, menatapku dengan mata setengah terpejam. Dadanya yang ranum menyambutku. Aku menciuminya dengan rakus, dan ia menjambak rambutku.
"Rizky," desahnya.
Kami berguling. Sekarang ia di atasku. Rambut panjangnya tergerai menutupi wajahku. Ia menciumiku dari leher turun ke dada. Setiap ciumannya membuat tubuhku bergetar.
Lalu ia naik ke atasku. Perlahan. Waktu kami menyatu, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, dalam, sempurna.
Ia bergerak di atasku dengan ritme yang pelan tapi pasti. Tangannya bertumpu di dadaku. Matanya menatap mataku, tidak berkedip. Ada sesuatu yang intens di tatapannya. Bukan cuma nafsu. Tapi juga lega. Seperti akhirnya menemukan tempat pulang.
Aku memegang pinggangnya, membantunya bergerak. Keringat mulai membasahi tubuh kami. Napas kami memburu, bercampur dalam udara kamar yang hangat.
"Jangan berhenti," bisiknya.
Aku tidak berhenti. Kami berganti posisi. Sekarang aku di atasnya. Ia membuka kakinya lebar, mengundangku lebih dalam. Aku menghujamnya dengan ritme yang makin cepat.
Ranjang berderit. Ia mengerang, kukunya mencakar punggungku. Pinggulnya bergerak liar mengimbangi setiap gerakanku.
Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku. Aku menyusul beberapa detik kemudian, meledak dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam, berkeringat dan terengah-engah. Kepalanya di dadaku. Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang, pelan-pelan melambat.
"Gila," bisiknya akhirnya.
"Gila yang enak."
Ia tertawa kecil. "Lift macet berkah juga ya."
"Berkat teknisi yang lama."
Kami tertawa bersama. Tidak ada canggung, tidak ada sesal. Hanya dua orang dewasa yang baru saja berbagi sesuatu yang jujur.
Malam itu aku tidur di unit 1904. Pagi harinya aku bangun karena bau kopi. Vania sudah mandi, sudah rapi, sedang membuat sarapan. Nasi goreng dan telur mata sapi.
"Makan," katanya. "Sebelum aku terbang jam sepuluh."
Kami sarapan berdua di meja kecilnya. Seperti pasangan. Seperti ini sudah terjadi bertahun-tahun.
"Rizky," katanya sambil mengaduk kopinya. "Ini... kita gimana?"
Aku menatapnya. "Kamu mau gimana?"
"Aku nggak mau pacaran. Jadwal kita nggak memungkinkan." Ia menghela napas. "Tapi aku juga nggak mau ini cuma sekali."
"Ya udah. Kita jalanin aja. Nggak usah dikasih nama."
Ia tersenyum. "Deal."
Ia berangkat terbang tiga hari. Aku kembali lembur. Hidup berjalan normal. Tapi sekarang ada yang beda. Tiap pulang jam aneh, aku tidak lagi merasa sendirian. Karena di unit sebelah, ada perempuan yang jadwalnya sama kacau denganku.
Dan setiap kali jadwal kami nyambung, pintu unit 1904 terbuka untukku. Kadang cuma ngopi. Kadang nonton film. Kadang lebih dari itu.
Para tetangga tidak tahu. Satpam tidak tahu. Yang mereka tahu, unit 1902 dan 1904 dihuni dua orang yang jadwalnya aneh dan jarang terlihat.
Mereka tidak tahu, di antara dua unit itu, ada lorong rahasia yang cuma kami berdua yang tahu jalannya.
Suatu malam, tiga minggu setelah lift macet, aku pulang jam tiga pagi lagi. Pintu lift terbuka. Vania berdiri di dalam, berseragam, tersenyum mengantuk.
"Naik, Mas?" tanyanya, persis seperti malam pertama.
Aku masuk. Pintu lift tertutup. Kali ini, aku tidak menunggu lift macet untuk menggenggam tangannya.
