Ting. Ting. Bunyi lonceng kecil dari gerobak bakso itu terdengar dari ujung gang, disusul aroma kuah kaldu yang mengepul di udara sore. Nanda sudah hafal betul bunyi itu. Jam lima lewat sepuluh, seperti biasa, gerobak biru itu berhenti di tikungan dekat kosnya, dan antrean ibu-ibu serta anak-anak mulai terbentuk. Tapi Nanda tidak ikut antre di kerumunan. Ia menunggu dari teras kos, menunggu antrean sepi, karena ia punya ritual sendiri: datang terakhir, duduk di bangku plastik, dan mengobrol dengan si penjual bakso.
Perempuan itu bernama Rere. Umurnya dua puluh sembilan tahun, tiga tahun lebih muda dari Nanda yang sudah tiga puluh dan bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan distributor. Rere cantik dengan cara yang sederhana: rambut diikat kuncir kuda, kaus oblong dan celemek, tangan cekatan meracik bakso. Senyumnya lebar setiap kali melihat Nanda datang, seolah Nanda adalah pelanggan paling istimewa, padahal Nanda tahu ia tersenyum begitu pada semua orang.
"Sore, Mas Nanda. Yang biasa?" sapa Rere sambil mengelap bangku plastik dengan kain lap.
"Yang biasa, Mbak. Kuahnya yang banyak," jawab Nanda sambil duduk.
Ritual ini sudah berjalan hampir setahun, sejak Nanda pindah ke kos di gang ini. Setiap sore pulang kerja, semangkuk bakso Rere adalah penutup hari yang paling ia tunggu. Bukan cuma baksinya yang enak, kuahnya gurih dan baksonya kenyal, tapi juga obrolan ringan dengan Rere yang selalu berhasil membuat penat kerja seharian menguap.
Sore itu langit mendung. Angin bertiup agak kencang, dan Rere tampak gelisah melirik tabung gas di bawah gerobaknya.
"Kenapa, Mbak? Kok kayak orang bingung," tanya Nanda.
"Gasnya tinggal dikit, Mas. Tadi pagi lupa beli cadangan. Kalau habis di tengah jalan, mateng aku," kata Rere sambil tertawa kecil, tapi matanya jelas panik.
Nanda melirik jam di ponselnya. Pangkalan gas tidak jauh, sekitar lima menit jalan kaki. "Ya udah, aku beliin. Tabungnya yang tiga kilo kan?"
Rere terkejut. "Eh, jangan, Mas. Nanti baksonya..."
"Antrean juga udah sepi. Sepuluh menit doang," potong Nanda sambil berdiri. "Tunggu ya."
Rere menatapnya dengan mata berkaca-kaca, antara terharu dan tidak enak. "Ya ampun, makasih banyak, Mas Nanda. Nanti aku ganti uangnya."
"Udah, gampang."
Nanda berjalan cepat ke pangkalan gas. Di jalan ia berpikir, aneh juga, kenapa ia begitu semangat membantu. Mungkin karena selama setahun ini Rere tidak pernah sekalipun memasang tarif lebih untuknya, malah selalu menambah bakso atau kerupuk pangsit gratis. Atau mungkin karena ada sesuatu yang lain, sesuatu yang selama ini ia pendam diam-diam setiap kali menatap senyum perempuan itu.
Ketika kembali dengan tabung gas baru di pundak, Rere menyambutnya dengan tepuk tangan kecil. Api kompor kembali menyala biru, kuah kembali mendidih, dan Rere langsung meracik semangkuk bakso spesial untuk Nanda: bakso urat double, tambahan tetelan, kerupuk pangsit menumpuk.
"Ini, Mas. Bonus pahlawan gas," katanya sambil meletakkan mangkuk di depan Nanda.
Nanda tertawa. "Pahlawan gas apaan."
Mereka makan bersama. Maksudnya, Nanda makan baksinya, Rere duduk di depannya menyeruput es teh sambil sesekali melayani pembeli yang datang satu dua orang. Langit semakin gelap, gerimis mulai turun, dan pembeli pun habis. Tinggallah mereka berdua di bawah tenda gerobak yang sempit, ditemani bunyi hujan menetes di terpal.
"Mas Nanda baik banget sih," kata Rere tiba-tiba, menatapnya lurus. "Jarang ada pelanggan yang mau repot-repot kayak gitu."
"Ah, biasa aja, Mbak."
"Beneran. Aku jualan udah empat tahun, yang kayak Mas cuma satu." Rere mengaduk es tehnya, pandangannya menerawang. "Pacarku aja dulu nggak pernah kayak gitu."
Nanda mengangkat alis. Selama setahun mengobrol, Rere tidak pernah sekalipun membahas pacar. "Pacar? Mbak punya pacar?"
"Dulu. Namanya Dimas. Kita pacaran lima tahun, dari aku umur dua puluh empat." Rere tersenyum pahit. "Dua tahun lalu dia merantau ke Kalimantan, katanya mau cari modal buat nikah. Awalnya masih telepon tiap minggu. Lama-lama sebulan sekali. Terus nggak ada kabar sama sekali. Terakhir aku dengar dari temannya, dia udah nikah sama orang sana."
Nanda terdiam. Ia tidak menyangka obrolan sore yang ringan akan berbelok ke arah sepersonal ini. "Sakit ya, Mbak."
"Banget, Mas. Lima tahun itu bukan waktu sebentar." Rere mengusap matanya yang mulai basah, lalu tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri. "Eh, kok aku malah curhat. Maaf ya, Mas."
"Nggak apa-apa. Justru aku senang Mbak percaya cerita ke aku."
Hujan semakin deras. Air menetes dari ujung terpal tepat di samping bangku mereka. Rere bergeser mendekat agar tidak kecipratan, bahunya hampir menempel bahu Nanda. Jantung Nanda berdegup lebih kencang. Selama setahun ia mengagumi perempuan ini dari jarak aman seorang pelanggan. Sore ini, jarak itu runtuh oleh hujan dan sebuah tabung gas.
"Mbak Rere," kata Nanda pelan. "Boleh aku jujur?"
"Boleh."
"Aku tuh tiap sore nungguin jam lima bukan cuma karena baksinya enak."
Rere menoleh. Mata mereka bertemu. Hujan di terpal menjadi satu-satunya bunyi di dunia.
"Aku tahu," bisik Rere. "Aku juga tiap sore nungguin Mas datang."
Pengakuan itu membuat sesuatu meledak di dada Nanda. Ia tidak tahu siapa yang bergerak lebih dulu, tapi tiba-tiba wajah mereka begitu dekat, dan bibir Rere menempel di bibirnya, hangat dan sedikit asin oleh sisa kuah bakso. Ciuman itu awalnya ragu, lalu berubah menjadi lapar, seolah setahun penantian tumpah dalam satu sore hujan.
Tangan Nanda merangkul pinggang Rere, menariknya lebih dekat. Rere tidak menolak, malah melingkarkan tangannya di leher Nanda. Gerobak bakso bergoyang sedikit saat tubuh mereka bersandar padanya, dan lonceng kecil di atas gerobak berbunyi pelan, ting, seolah merestui.
"Mbak..." Nanda berbisik di sela ciuman. "Yakin?"
Rere mengangguk, napasnya memburu. "Aku udah lama nunggu momen ini, Mas. Aku yang mau."
Mereka pindah ke bagian belakang gerobak yang tertutup terpal, tempat Rere biasa menyimpan stok dan beristirahat. Sempit dan remang, tapi cukup untuk dua orang yang sudah tidak sabar. Nanda membaringkan Rere di atas tikar lipat, dan untuk pertama kalinya ia melihat perempuan itu tanpa celemek, tanpa kesibukan meracik, hanya sebagai perempuan yang menginginkannya sama besar.
Malam itu hujan menjadi saksi bisu. Nanda memperlakukan Rere dengan lembut, selembut ia memperlakukan mangkuk bakso panas setiap sore: hati-hati, penuh perhatian, tidak ingin merusak apa pun. Rere membalas dengan keberanian yang mengejutkan, seolah dua tahun kesepian dan pengkhianatan akhirnya menemukan pelampiasan yang tepat.
Setelah semuanya reda, mereka berbaring berdampingan, mendengarkan hujan yang mulai mereda. Rere menyandarkan kepalanya di dada Nanda, menggambar lingkaran-lingkaran kecil dengan jarinya.
"Mas Nanda," bisiknya. "Kita ini apa sekarang?"
Nanda mencium keningnya. "Terserah Mbak maunya apa. Yang jelas, mulai besok aku nggak cuma beli bakso. Aku juga mau jemput Mbak pulang tiap malam."
Rere tertawa kecil, lalu menatapnya serius. "Aku mau yang serius, Mas. Aku udah capek disakitin."
"Aku juga maunya serius," kata Nanda mantap. "Setahun aku perhatiin Mbak, aku tahu Mbak perempuan yang kuat dan baik. Aku nggak mau cuma jadi pelanggan."
Air mata bahagia menetes di pipi Rere. Ia memeluk Nanda erat. Di luar, hujan berhenti total, dan dari kejauhan terdengar bunyi lonceng gerobak bakso lain yang masih berkeliling, ting, ting, seolah mengiringi awal yang baru.
Sejak sore itu, ritual Nanda berubah. Ia tetap datang jam lima lewat sepuluh, tetap memesan yang biasa dengan kuah yang banyak. Tapi kini ia tidak pulang setelah makan. Ia menunggu sampai gerobak tutup, membantu Rere membereskan, lalu mengantarnya pulang ke kontrakannya yang tidak jauh dari sana. Kadang mereka mampir makan malam dulu. Kadang mereka langsung pulang dan mengulang sore hujan itu dengan variasi yang selalu baru.
Tiga bulan kemudian, di sebuah sore yang cerah, Nanda datang tidak sendirian. Ia membawa kedua orang tuanya. Rere yang sedang meracik bakso terkejut sampai sendoknya jatuh ke kuah.
"Mas Nanda, ini...?"
"Kenalin, Mbak. Ini Bapak sama Ibuku," kata Nanda sambil tersenyum lebar. "Mereka penasaran sama calon menantunya yang jualan bakso terenak se-kecamatan."
Wajah Rere memerah seperti cabai rawit di mangkuk bakso. Ibunya Nanda langsung memeluk Rere erat. "Cantik banget kamu, Nak. Pantas anak Ibu tiap sore nggak pernah telat pulang, ternyata ada yang ditungguin."
Malam itu, di teras kontrakan Rere yang sederhana, Nanda melamar Rere dengan sebuah cincin perak yang ia beli dari tabungannya tiga bulan. Tidak mewah, tapi tulus. Rere menangis sejadi-jadinya, mengangguk di antara isak.
"Mas, kalau Dimas dengar, dia pasti nyesel," canda Rere setelah tenang.
"Biarin," kata Nanda sambil memakaikan cincin itu. "Dia kehilangan berlian, aku dapat berlian."
Pernikahan mereka digelar enam bulan kemudian, sederhana tapi meriah. Gerobak bakso biru itu tetap beroperasi, tapi kini ada tulisan baru di sisinya: Bakso Rere, dengan tambahan kecil di bawahnya, dikelola bersama suami tercinta. Nanda tetap bekerja sebagai karyawan, tapi setiap sore ia tetap datang jam lima lewat sepuluh, duduk di bangku plastik, dan memesan yang biasa dengan kuah yang banyak.
Bedanya, kini si penjual bakso adalah istrinya sendiri. Dan setiap kali Rere meletakkan mangkuk di depannya, ia selalu menyelipkan kecupan cepat di pipi Nanda, membuat para pelanggan lain bersorak menggoda.
Kadang, di malam minggu yang sepi pembeli, mereka menutup gerobak lebih awal dan berjalan-jalan berdua menyusuri gang, bergandengan tangan seperti pasangan muda yang baru jadian. Rere sering tertawa mengingat awal pertemuan mereka yang diawali tabung gas kosong. "Coba kalau gasnya nggak habis hari itu, Mas," katanya suatu malam. "Mungkin kita masih cuma penjual dan pelanggan sampai sekarang."
Nanda merangkul bahunya. "Berarti aku harus berterima kasih sama tabung gas itu."
Rere juga tidak lagi sendirian mengurus gerobak. Nanda membantunya bernegosiasi dengan pemasok daging agar dapat harga lebih murah, dan ia membuatkan pembukuan sederhana di ponsel agar Rere tahu persis untung ruginya tiap bulan. Usaha kecil itu tumbuh pelan tapi pasti, sama seperti cinta mereka: tidak meledak-ledak, tapi menghangatkan seperti kuah bakso di sore yang dingin.
Ting. Ting. Bunyi lonceng gerobak masih terdengar setiap sore di ujung gang. Bagi orang lain itu hanya tanda bakso lewat. Bagi Nanda dan Rere, itu adalah bunyi awal dari segalanya: dari tabung gas, hujan deras, dan cinta yang tumbuh di antara uap kuah bakso yang mengepul.
