CERITA DEWASA

Lampu Mati Sekomplek

Kriing. Suara TV mati. Lampu ruang tamu ikut padam dalam sekejap. Kipas angin berhenti dengan bunyi pelan yang menyedihkan. Yudha menatap layar TV yang kini hitam legam, lalu menoleh ke jendela. Di luar gelap gulita. Seluruh komplek ikut padam rupanya. Dari kejauhan terdengar suara tetangga berteriak bertanya satu sama lain, ada yang menyalakan senter ponsel.

Yudha bangkit dari sofa. Jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam lewat dua puluh menit. Ia melangkah ke teras dan menatap jalanan komplek. Gelap total. Hanya cahaya bulan sabit yang menggantung pucat di langit. Beberapa tetangga keluar rumah, suara mereka ramai bersahutan menebak-nebak penyebabnya.

Ia masuk lagi dan menyalakan senter ponsel, lalu mencari lilin di laci dapur. Untung ada tiga batang lilin dan korek api. Ia menyalakan satu dan meletakkannya di meja ruang tamu. Cahaya lilin bergoyang lembut, menciptakan bayangan aneh di dinding.

Baru saja ia duduk lagi, terdengar ketukan di pintu. Tok, tok, tok. Agak tergesa.

Yudha membuka pintu. Di depan berdiri Ajeng, tetangga sebelah rumahnya, dengan wajah panik. Ia mengenakan daster rumahan dan rambutnya diikat asal-asalan. Tangannya menggenggam ponsel yang lampunya menyala.

"Mas Yudha, di rumah Mas mati lampu juga?" tanyanya cepat.

"Iya, Mbak. Sekomplek kayaknya. Kenapa?"

"Di rumah saya gelap banget, Mas. Saya sendirian. Suami saya lagi dinas ke luar kota seminggu. Saya takut. Boleh saya di sini dulu sampai listrik nyala?"

Yudha mengangguk. "Boleh banget. Masuk, Mbak."

Ajeng melangkah masuk dan duduk di sofa. Yudha mengenalnya sudah dua tahun, sejak ia pindah ke komplek ini. Ajeng berusia tiga puluh enam tahun, lima tahun lebih tua dari Yudha yang kini tiga puluh empat dan bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan distribusi. Suaminya, Pak Bambang, bekerja sebagai pegawai bank yang sering dinas ke luar kota. Mereka belum dikaruniai anak, jadi rumah sebelah sering sepi.

"Minum dulu, Mbak." Yudha menyodorkan gelas air putih.

"Makasih, Mas." Ajeng meminumnya. Napasnya masih agak cepat. "Tadi saya lagi di kamar, tiba-tiba gelap. Saya sampai teriak sendiri."

Yudha tertawa kecil. "Wajar. Saya juga kaget tadi."

Mereka duduk dalam cahaya lilin. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara jangkrik dari luar dan obrolan tetangga yang sayup-sayup. Ajeng melirik sekeliling ruang tamu Yudha.

"Rumah Mas rapi ya. Sendirian tapi bersih."

"Ah, biasa aja, Mbak. Saya kan jarang di rumah, pulang kerja langsung tidur."

Ajeng tersenyum. "Mas Yudha belum nikah ya?"

"Belum. Belum ketemu yang cocok."

"Sayang. Padahal Mas orangnya baik."

Yudha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pujian itu membuatnya salah tingkah. Ia mengalihkan pembicaraan. "Mbak, sekring rumah Mbak udah dicek? Siapa tahu cuma sekring Mbak yang jeglek."

"Belum. Saya nggak berani buka-buka panel listrik sendirian. Takut kesetrum."

"Ya udah, saya cek sekarang. Senter saya bawa."

Mereka berjalan ke rumah sebelah. Yudha membuka panel sekring dengan senter ponsel. Semua sakelar dalam posisi normal. Ia menekan tombol test, tidak ada yang aneh.

"Normal semua, Mbak. Berarti memang dari PLN atau gardunya."

Ajeng menghela napas. "Ya udah deh. Kita balik ke rumah Mas aja ya? Di sini gelap banget."

Mereka kembali ke rumah Yudha. Di luar, beberapa tetangga masih berkumpul di jalan membicarakan pemadaman. Ada yang bilang gardu di ujung komplek meledak. Ada yang bilang kabel putus. Belum ada kepastian.

Yudha menyalakan dua lilin lagi dan meletakkannya di teras. Udara malam cukup sejuk. Mereka duduk di kursi teras, menikmati angin malam.

"Enak juga ya, ngobrol di teras kayak gini," kata Ajeng. "Udah lama saya nggak begini."

"Suami Mbak sering dinas ya?"

"Iya. Sebulan bisa dua tiga kali keluar kota. Kadang seminggu, kadang lebih." Ajeng menatap api lilin. "Awalnya saya biasa aja. Lama-lama sepi juga, Mas."

Yudha mengangguk pelan. Ia tidak tahu harus berkata apa.

"Mas tahu nggak," lanjut Ajeng, suaranya lebih pelan, "kadang saya iri lihat tetangga lain. Suaminya pulang tiap sore, makan malam bareng. Saya? Makan malam sendirian depan TV."

"Mbak nggak kerja?"

"Kerja, saya guru les privat... bukan, maksud saya saya buka les privat di rumah untuk anak-anak... " Ajeng berhenti sejenak, lalu menggeleng. "Ah sudahlah, intinya saya sering di rumah sendirian. Lesnya juga nggak tiap hari."

Yudha memperhatikan wajah Ajeng dalam cahaya lilin. Ada kesedihan yang tulus di sana. Perempuan tiga puluh enam tahun itu terlihat lelah, bukan lelah fisik, tapi lelah batin.

"Mbak kuat juga ya," kata Yudha pelan.

"Terpaksa kuat, Mas." Ajeng tersenyum tipis. "Kalau nggak kuat, mau gimana lagi?"

Hening lagi. Angin malam berembus, membuat api lilin bergoyang. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak tetangga bermain petak umpet dalam gelap, tawa mereka riang.

"Mas Yudha," kata Ajeng tiba-tiba, "boleh saya jujur?"

"Boleh."

"Saya itu sebenarnya kesepian banget. Suami saya baik, tapi dia nggak pernah ada. Saya kayak janda padahal bersuami." Matanya berkaca-kaca. "Malam ini aja, kalau Mas nggak ada, saya nggak tahu harus ngapain. Mungkin saya nangis sendirian di kamar."

Yudha merasakan dadanya sesak. Ia menggeser kursinya lebih dekat dan menepuk bahu Ajeng pelan.

"Sabar, Mbak. Semua ada masanya."

Ajeng menoleh. Wajah mereka kini berdekatan. Dalam cahaya lilin, Yudha melihat jelas matanya yang basah, bibirnya yang bergetar. Ada sesuatu yang berubah di udara malam itu. Bukan lagi sekadar obrolan tetangga.

Ajeng tidak menjauh. Ia justru menatap Yudha lekat-lekat.

"Mas," bisiknya, "boleh saya peluk Mas sebentar? Saya cuma butuh dipeluk."

Yudha mengangguk. Ajeng bersandar ke dadanya. Yudha melingkarkan tangannya di punggung perempuan itu. Tubuh Ajeng hangat dan sedikit bergetar. Mereka diam begitu beberapa saat, hanya ditemani suara jangkrik dan api lilin.

Lalu Ajeng mengangkat wajahnya. "Mas nggak keberatan kan?"

"Keberatan apa?"

"Kalau saya... butuh lebih dari sekadar pelukan malam ini."

Yudha menatapnya. Ia mengerti maksudnya. Jantungnya berdegup kencang. Sebagai pria dewasa, ia tahu ini garis yang berbahaya. Tapi ia juga melihat ketulusan di mata Ajeng. Bukan nafsu sesaat, tapi kerinduan yang sudah lama dipendam.

"Mbak yakin?" tanya Yudha hati-hati.

Ajeng mengangguk pelan. "Saya yakin. Saya sudah lama nggak disentuh, Mas. Saya butuh merasa jadi perempuan lagi. Kalau Mas nggak mau, nggak apa-apa. Saya ngerti."

Yudha tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengusap pipi Ajeng dengan lembut, lalu mencium keningnya. Ajeng memejamkan mata. Lalu Yudha mencium bibirnya, pelan dan hati-hati, memberi kesempatan untuk mundur kapan saja.

Tapi Ajeng tidak mundur. Ia justru membalas ciuman itu dengan penuh kerinduan. Tangannya mencengkeram kaus Yudha. Ciuman mereka semakin dalam. Lilin di meja bergoyang tertiup angin, bayangan mereka menari di dinding teras.

"Masuk ke dalam yuk," bisik Ajeng.

Yudha menuntunnya masuk ke ruang tamu, lalu ke kamarnya. Ia menyalakan satu lilin di nakas. Cahaya temaram membuat suasana semakin intim.

Mereka berdiri berhadapan di sisi tempat tidur. Yudha membuka ikat rambut Ajeng perlahan, membiarkan rambut panjangnya tergerai. Ajeng tersenyum malu-malu, seperti gadis yang baru pertama kali disentuh, padahal ia perempuan dewasa tiga puluh enam tahun yang sudah bersuami.

"Mas pelan-pelan ya," pintanya.

"Iya."

Yudha menciumi lehernya. Ajeng mendesah pelan. Tangannya meraba punggung Yudha, lalu menyelip ke balik kausnya. Mereka saling membantu melepaskan pakaian, satu per satu, tanpa tergesa. Setiap sentuhan dilakukan dengan penuh perhatian, seolah keduanya ingin menghafal momen ini.

Ketika akhirnya mereka berbaring bersama, Ajeng menatap Yudha dengan mata berkaca-kaca lagi, tapi kali ini karena bahagia.

"Makasih, Mas," bisiknya. "Makasih udah mau nemenin saya."

"Jangan nangis," kata Yudha sambil mengusap air matanya. "Nikmati aja malam ini."

Dan malam itu, dalam gelapnya pemadaman listrik sekomplek, dua orang dewasa yang sama-sama kesepian menemukan kehangatan satu sama lain. Tidak ada paksaan, tidak ada tipu daya. Hanya dua hati yang saling membutuhkan, bertemu dalam keadaan yang tidak direncanakan siapa pun.

Ajeng menyerahkan dirinya dengan sukarela, dan Yudha menerimanya dengan penuh hormat. Gerakan mereka perlahan, penuh perasaan. Sesekali Ajeng menggigit bibir menahan desah, sesekali ia memeluk Yudha erat-erat seolah takut kehilangan.

Di luar, komplek masih gelap. Di dalam kamar itu, hanya ada cahaya satu lilin dan dua manusia yang untuk sesaat lupa pada sepi masing-masing.

Setelah semuanya selesai, mereka berbaring berdampingan, berkeringat dan terengah. Ajeng meletakkan kepalanya di dada Yudha, mendengarkan detak jantungnya.

"Mas," katanya pelan, "ini salah ya?"

Yudha mengelus rambutnya. "Saya nggak bisa jawab itu, Mbak. Yang saya tahu, malam ini Mbak butuh saya, dan saya ada di sini."

Ajeng diam lama. "Suami saya nggak akan tahu. Dan saya nggak akan minta lebih. Saya cuma... butuh malam ini."

"Saya ngerti."

Tiba-tiba, dari luar terdengar sorak-sorai tetangga. Lampu teras menyala. Kipas angin berdengung lagi. Listrik sudah kembali menyala.

Mereka berdua tertawa kecil. Momen magis itu pecah oleh cahaya lampu yang tiba-tiba terang benderang.

"Listriknya nyala," kata Ajeng sambil bangkit dan mulai berpakaian.

"Iya."

Ajeng sudah rapi kembali dengan dasternya. Ia berdiri di pintu kamar, menatap Yudha yang masih berbaring.

"Makasih ya, Mas. Untuk semuanya. Saya nggak akan lupa malam ini."

"Sama-sama, Mbak. Kalau butuh apa-apa, ketuk aja pintu saya."

Ajeng tersenyum, lalu berjalan ke pintu depan. Sebelum keluar, ia berbalik dan mengedipkan mata.

"Jangan bilang siapa-siapa ya."

Yudha mengangguk. "Rahasia kita."

Pintu tertutup. Yudha mematikan lilin di nakas dan berbaring lagi menatap langit-langit kamar yang kini terang oleh lampu. Ia memikirkan apa yang baru saja terjadi. Sebagai pria dewasa tiga puluh empat tahun, ia tahu ini bukan hal yang bisa dibanggakan. Tapi ia juga tahu, ia tidak memaksa siapa pun. Ajeng datang dengan kehendaknya sendiri, pergi pun dengan kehendaknya sendiri.

Di rumah sebelah, lampu kamar Ajeng menyala. Yudha bisa melihat bayangannya bergerak di balik gorden. Perempuan itu mungkin sedang tersenyum sekarang, atau mungkin menangis lagi. Yudha tidak tahu.

Yang ia tahu, malam pemadaman listrik itu telah memberinya pengalaman yang tidak akan ia lupakan. Bukan sekadar soal fisik, tapi soal menjadi tempat bersandar bagi seseorang yang kesepian. Kadang, kehadiran sederhana jauh lebih berarti daripada seribu kata.

Yudha mematikan lampu kamar dan mencoba tidur. Di luar, komplek sudah kembali normal. TV tetangga menyala lagi, suara sinetron terdengar sayup-sayup. Tapi di hati Yudha, malam itu akan selalu gelap dan hangat, diterangi satu batang lilin dan ketulusan seorang perempuan bernama Ajeng.

Seminggu kemudian, suami Ajeng pulang dari dinas. Yudha melihat mobilnya terparkir di depan rumah sebelah. Ajeng keluar menyambut dengan senyum lebar, memeluk suaminya erat. Yudha memperhatikan dari terasnya sambil menyeruput kopi.

Ajeng sempat melirik ke arahnya dan tersenyum tipis. Senyum yang hanya mereka berdua yang mengerti artinya. Yudha membalas dengan anggukan kecil.

Rahasia malam pemadaman itu tetap tersimpan rapi di antara mereka. Tidak ada yang berubah di permukaan. Tetangga tetap tetangga. Tapi setiap kali listrik padam, Yudha selalu teringat pada malam itu, malam ketika gelap gulita justru menerangi hatinya yang selama ini juga sepi.

Dan mungkin, pikir Yudha, Ajeng pun merasakan hal yang sama.

bagikan