CERITA DEWASA

Sekretaris Baru di Kantorku

Sial! Kopi panas tumpah ke tumpukan dokumen!

Senin pagi jam delapan, ruangan lantai delapan itu langsung riuh. Seorang perempuan muda berdiri terpaku di depan meja manajer, tangan gemetar memegangi gelas kertas yang sudah kosong setengah. Cairan coklat mengalir dari tepi meja ke lantai keramik, merembes ke sudut-sudut map merah yang paling atas.

"Ya ampun, ya ampun, maaf, maaf!" suaranya nyaris melengking. Ia meraih tisu dari kotak di meja dan mengelap dengan panik. Makin dilap, makin menyebar.

"Pelan-pelan," kata pria yang berdiri di seberang meja. Ia mengambil alih. Mengangkat map-map itu satu per satu, memisahkan yang basah dan yang selamat, meletakkan dokumen yang berantakan ke meja sebelah yang kering.

Perempuan itu menatapnya dengan wajah pucat. Rambut panjangnya yang tadi pagi ditata rapi sekarang berantakan. Blus putihnya terkena cipratan kopi di lengan.

"Saya... saya nggak sengaja, Pak. Tanganku kesenggol pintu."

"Nggak apa-apa. Duduk dulu." Pria itu menarik kursi untuknya. "Namanya siapa?"

"Intan, Pak. Intan Maharani. Sekretaris baru Bapak mulai hari ini."

Bayu mengangguk. Ia ingat memo dari HRD. Sekretaris barunya mulai hari ini. Ia tidak menyangka perkenalannya akan sekaacau ini.

"Tenang, Intan. Ini cuma kopi. Dokumennya masih bisa diselamatkan." Bayu memeriksa map merah yang paling basah. "Kebetulan yang ini cuma fotokopian. Aslinya di server."

Intan menghela napas lega, lalu tertawa kecil yang terdengar dipaksa. "Hari pertama yang luar biasa."

"Ya. Nggak akan lupa."

Ia berusia dua puluh tujuh tahun. Bukan anak kemarin sore. Di CV-nya tertulis pengalaman empat tahun sebagai sekretaris eksekutif di perusahaan logistik. Cerdas, rapi, referensinya bagus. Cuma hari ini sarafnya kalah sama gugup.

Setelah insiden kopi, Bayu mengantar Intan ke pantry untuk membersihkan blusnya. Sepanjang jalan ia bercerita, berusaha mencairkan suasana.

"Pak Bayu udah lama jadi manajer di sini?"

Bayu tersenyum. Ia tiga puluh lima tahun, sepuluh tahun kerja di perusahaan ini, empat tahun jadi manajer operasional. Umur dan jabatannya terpampang di papan nama mejanya, tidak perlu disembunyikan.

"Sepuluh tahun. Kamu pengalaman empat tahun, katanya?"

"Iya, Pak. Di tempat lama aku pegang tiga direksi sekaligus."

"Nah, berarti kamu lebih jago dari aku waktu umur segitu."

Intan tertawa, kali ini lebih lepas. Wajahnya yang tadi pucat mulai kembali cerah. Bayu memperhatikan. Ia cantik dengan cara yang profesional. Makeup tipis, rambut disanggul rapi, blazer hitam yang pas di badan. Tapi ada sesuatu yang hangat di caranya bicara, tidak kaku seperti kebanyakan sekretaris eksekutif.

Hari itu berjalan dengan kikuk tapi menyenangkan. Intan cepat belajar. Jam sepuluh ia sudah hafal sistem filing. Jam dua belas ia sudah bisa menyusun jadwal meeting minggu depan tanpa salah. Jam tiga sore ia bahkan mengoreksi kesalahan Bayu di draft email ke vendor.

"Pak, ini angkanya kelebihan satu nol," katanya sambil menunjuk layar.

Bayu melongo. "Astaga. Untung kamu lihat."

"Untung kopinya tumpah pagi-pagi. Kalau enggak, aku nggak bakal berani negur Bapak."

Mereka tertawa. Insiden kopi pagi itu berubah jadi lelucon internal mereka. Setiap kali Intan gugup, Bayu akan bilang, "Awas kopinya," dan Intan akan tertawa sambil melotot.

Jam enam sore kantor mulai sepi. Bayu sedang membereskan meja ketika Intan mengetuk pintu ruangannya.

"Pak, dokumen yang kena kopi tadi... aku mau ketik ulang yang bersih. Aslinya kan di server, tapi versi print yang rapi nggak ada. Besok pagi Bapak butuh buat rapat, kan?"

Bayu menatapnya. "Kamu mau lembur? Hari pertama?"

"Gara-gara aku kan. Tanggung jawab."

Bayu mengangguk. "Ya udah. Aku temenin. Kebetulan aku juga ada laporan yang belum selesai."

Mereka bekerja dalam diam yang nyaman. Lampu lorong dimatikan. Hanya ruangan mereka yang terang. Intan mengetik dengan cepat, sesekali bertanya soal istilah teknis. Bayu menjawab sambil mengerjakan laporannya sendiri.

Jam delapan, dokumen selesai. Empat puluh halaman, rapi, bersih dari noda kopi.

"Selesai!" seru Intan sambil mengangkat kedua tangannya. "Bebas dari dosa kopi."

Bayu tertawa. "Mau makan? Aku traktir, sebagai permintaan maaf karena bikin sekretaris baruku lembur di hari pertama."

"Mestinya aku yang traktir. Aku yang numpahin kopi."

"Ya udah, patungan. Pesen aja."

Mereka memesan nasi goreng dan sate lewat aplikasi. Sambil menunggu, mereka ngobrol. Bukan soal kerjaan. Soal hidup.

"Kamu asli mana?" tanya Bayu.

"Bandung. Merantau ke sini empat tahun lalu."

"Sendirian?"

Intan mengangguk. "Ngekos di daerah Tebet. Dulu sama pacar, sekarang sendirian."

"Dulu sama pacar?"

"Putus tiga bulan lalu." Intan tersenyum tipis. "Dia nikah sama orang lain."

Bayu terdiam. "Maaf. Nggak bermaksud ngorek."

"Nggak apa-apa. Udah lewat." Intan memainkan sedotan di gelasnya. "Lucu ya. Empat tahun pacaran, kalah sama perkenalan tiga bulan."

"Kamu yang mutusin?"

"Dia." Intan menatap jendela yang gelap. "Katanya aku terlalu sibuk kerja. Terlalu ambisius. Perempuan kok ambisius."

"Itu pujian, bukan hinaan."

Intan menoleh dan tersenyum. "Kamu orang pertama yang bilang gitu."

Makanan datang. Mereka makan di meja kerja, beralaskan kertas. Nasi gorengnya pedas, satenya empuk. Untuk sesaat mereka lupa soal dokumen dan kopi tumpah.

"Kamu sendiri, Pak? Udah nikah?"

Bayu menggeleng. "Belum. Pernah tunangan, batal dua tahun lalu."

"Kenapa?"

"Dia mau pindah ke luar negeri. Aku nggak mau."

"Terus?"

"Terus ya udah. Masing-masing jalan." Bayu menyeruput es tehnya. "Kadang aku mikir, mungkin aku terlalu nyaman sendirian."

"Atau belum ketemu yang bikin nggak nyaman sendirian."

Bayu tertawa. "Bisa jadi."

Obrolan itu mengalir. Soal film favorit, soal warung makan enak di Tebet, soal atasan-atasan nyebelin di tempat kerja lama. Intan ternyata lucu. Kering, cerdas, tidak jaim.

Jam sepuluh malam, mereka selesai makan. Intan membereskan bungkus makanan. Bayu mencuci gelas di pantry kecil.

Waktu Bayu kembali, Intan sedang berdiri di depan jendela, menatap lampu-lampu kota.

"Bagus ya," katanya pelan.

"Apa?"

"Pemandangan dari sini. Di tempat lamaku, jendelanya ngadep tembok."

Bayu berdiri di sebelahnya. Dekat. Terlalu dekat untuk atasan dan bawahan, tapi tidak ada yang peduli jam sepuluh malam di kantor yang sepi.

"Intan," kata Bayu pelan.

"Hm?"

"Makasih. Untuk hari ini. Meski diawali kopi tumpah, ini hari pertama kerja yang paling seru yang pernah aku alami."

Intan menoleh. Wajah mereka hanya sejengkal. Bayu bisa melihat pantulan lampu kota di matanya.

"Pak Bayu," bisiknya. "Kita nggak boleh."

"Aku tahu."

"Tapi aku nggak mau pulang."

Bayu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendekat dan menciumnya. Pelan. Memberi ruang untuk mundur.

Intan tidak mundur. Ia membalas. Bibirnya lembut, ada rasa sambal nasi goreng yang pedas manis. Tangannya naik ke tengkuk Bayu, menariknya lebih dekat.

Ciuman itu makin dalam. Napas mereka memburu. Tangan Bayu turun ke pinggang Intan, merasakan lekuk tubuhnya di balik blazer.

Blazer itu dilepas Intan sendiri, dilempar ke kursi. Blus putihnya yang tadi pagi kena noda kopi, sekarang dibuka kancingnya satu per satu oleh Bayu. Di bawahnya, bra hitam berenda.

"Intan, kamu yakin?" tanya Bayu di sela ciuman. "Aku atasanmu."

"Justru itu yang bikin deg-degan," bisik Intan sambil tersenyum nakal. "Jangan berhenti."

Bayu tidak berhenti. Ia menciumi leher Intan, turun ke bahunya. Intan mendesah dan menyandarkan kepalanya ke bahu Bayu.

Mereka pindah ke sofa di sudut ruangan. Sofa untuk tamu yang jarang dipakai. Intan duduk di pangkuan Bayu, menghadapnya. Posisi itu membuat mereka sejajar, mata bertemu mata.

"Kamu cantik," kata Bayu.

"Kamu juga nggak jelek," balas Intan sambil tertawa kecil.

Ia melepas blusnya sendiri, lalu branya. Dadanya yang selama seharian tersembunyi di balik pakaian kerja yang rapi, kini terpampang. Penuh, kencang, indah. Bayu menatapnya dengan kagum.

"Jangan diliatin terus," kata Intan malu-malu, tapi ia tidak menutupi dirinya.

Bayu menciumi dadanya dengan lembut. Intan melengkungkan punggungnya, tangannya menjambak rambut Bayu.

Rok span Intan dinaikkan. Celana bahan Bayu dibuka. Mereka setengah telanjang di sofa ruang manajer, di lantai delapan gedung perkantoran yang sepi.

Intan mengambil alih. Ia yang selama ini rapi dan terkendali, ternyata liar kalau sudah lepas. Ia menciumi Bayu dengan rakus, tangannya menjelajah ke mana-mana.

"Di sini?" tanya Bayu terengah.

"Di sini," jawab Intan mantap.

Bayu membaringkannya di sofa. Sofa itu sempit, tapi mereka tidak peduli. Intan membuka kakinya untuk Bayu. Waktu Bayu masuk, mereka berdua mendesah bersamaan.

Hangat. Sempit. Sempurna.

Mereka bergerak dengan ritme yang cepat dan putus asa. Tidak ada kelembutan basa-basi. Hanya dua orang dewasa yang lelah menahan diri dan akhirnya menyerah pada satu malam yang gila.

Sofa berderit. Napas mereka memburu. Keringat membasahi tubuh mereka.

"Jangan berhenti," desah Intan. "Aku mau."

Bayu mempercepat gerakannya. Intan mengimbangi dengan pinggulnya. Kukunya mencakar punggung Bayu.

Tubuh Intan menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahu Bayu. Bayu menyusul beberapa detik kemudian dengan erangan panjang.

Mereka terbaring diam di sofa yang sempit, berkeringat dan terengah-engah. Kepala Intan di dada Bayu. Tangan Bayu mengelus rambutnya yang sudah berantakan total.

"Ini gila," bisik Intan.

"Gila yang enak."

"Besok kita pura-pura nggak terjadi apa-apa?"

Bayu tertawa kecil. "Bisa?"

"Nggak." Intan mengangkat wajahnya. "Aku nggak mau pura-pura."

"Terus?"

"Kita jalanin aja. Pelan-pelan. Lihat ke mana perginya."

Bayu mengangguk. Ia mencium kening Intan. "Deal."

Mereka berpakaian kembali. Merapikan sofa, memastikan tidak ada jejak. Dokumen empat puluh halaman yang sudah diketik ulang ditaruh rapi di meja Bayu untuk rapat besok pagi.

Jam setengah dua belas malam mereka keluar kantor bersama. Parkiran sepi. Lampu kota berkelip.

"Besok jangan tumpahin kopi lagi," kata Bayu sambil membukakan pintu mobil untuk Intan.

"Besok aku bawa kopi buat Bapak. Sebagai permintaan maaf." Intan tersenyum. "Atau sebagai suap biar nilaiku bagus."

"Nilai apa?"

"Nilaimu sebagai atasan." Intan mengedipkan mata. "Sejauh ini sih, memuaskan."

Bayu tertawa. Intan masuk mobilnya dan pergi. Bayu berdiri di parkiran yang sepi, tersenyum sendiri.

Besok paginya Intan datang dengan dua gelas kopi. Satu untuk Bayu, satu untuk dirinya. Tidak ada yang tumpah.

"Selamat pagi, Pak," katanya formal, tapi matanya berkilat nakal.

"Selamat pagi, Intan," jawab Bayu, berusaha menahan senyum.

Tidak ada yang tahu apa yang terjadi malam sebelumnya di ruangan lantai delapan. Tidak ada yang perlu tahu.

Tapi setiap kali Intan mengantar kopi ke ruangan Bayu, dan setiap kali jari mereka bersentuhan saat serah terima gelas, ada rahasia kecil yang hanya mereka berdua yang mengerti.

Rahasia yang dimulai dari kopi tumpah di Senin pagi yang kacau.

bagikan