CERITA DEWASA

Penjaga Vila di Puncak

Mobil menanjak perlahan menembus kabut tebal yang menyelimuti jalan menuju Puncak. Hujan mulai turun, mula-mula rintik, lalu makin deras menghantam kaca depan. Lampu jauh tidak membantu banyak. Dunia di luar hanya putih dan gelap, bergantian.

Fikri menggenggam setir lebih erat. Ia sudah menyewa vila ini sebulan lalu, rencana akhir pekan bersama empat temannya. Semalam satu per satu membatalkan. Ada yang lembur, ada yang anaknya sakit, ada yang tiba-tiba diajak mertua. Tinggal ia sendirian. Ia sempat berpikir ikut membatalkan, tapi DP sudah dibayar dan ia butuh udara pegunungan setelah tiga minggu lembur tanpa libur.

Papan nama kayu muncul dari balik kabut. "Vila Melati Indah, 200 m". Ia belok kiri mengikuti jalan setapak berbatu. Vila itu muncul perlahan seperti dari mimpi. Bangunan dua lantai bergaya kayu, lampu teras menyala hangat, asap tipis mengepul dari cerobong dapur.

Fikri memarkir mobil di carport dan berlari kecil ke teras sambil menenteng tas. Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Perempuan berdiri di sana, tersenyum ramah, memegang handuk kecil.

"Selamat sore, Pak. Pasti Pak Fikri ya?" sapanya. "Saya Tari, penjaga vila. Masuk, Pak, hujannya gede."

Fikri masuk. Ruang tengah vila itu hangat dan wangi kayu pinus. Perapian kecil menyala di sudut, memancarkan cahaya oranye yang menari-nari di dinding.

Tari mengulurkan handuk. "Buat ngeringin rambut, Pak."

"Makasih, Mbak Tari. Panggil Fikri aja. Saya baru tiga puluh, dipanggil Pak berasa tua."

Tari tertawa. Tawanya renyah. "Ya udah, Mas Fikri."

Tari berumur tiga puluh satu, setahun lebih tua dari Fikri. Ia sudah tiga tahun menjaga vila ini bersama suaminya, tapi suaminya sedang pulang kampung ke Garut karena ibunya sakit. Jadi akhir pekan ini ia sendirian menjaga vila sebesar ini.

"Teman-temannya jadi berapa orang, Mas?" tanya Tari sambil membawakan teh hangat dari dapur.

"Sendirian, Mbak. Pada batal semua."

Tari tertegun. "Ya ampun. Vila segede ini sendirian?"

"Ya udah lah. Anggap aja liburan mewah." Fikri menyeruput tehnya. Manis dan hangat, pas untuk cuaca dingin. "Mbak Tari tinggal di sini juga?"

"Ada rumah kecil di belakang vila. Buat saya sama suami."

Mereka mengobrol sebentar di ruang tengah. Tari menjelaskan aturan vila. Dapur boleh dipakai, kayu bakar ada di gudang, kalau butuh apa-apa tinggal panggil. Nomor HP-nya sudah ditempel di kulkas.

"Saya permisi dulu ya, Mas. Mau siapin makan malam. Mas pesen makan apa?"

"Ada apa aja?"

"Di dapur ada mie instan, telur, sarden. Atau saya masakin nasi goreng?"

"Nasi goreng boleh. Pedes ya, Mbak."

"Siap."

Tari kembali ke dapur. Fikri naik ke lantai atas, ke kamar utama. Kamarnya luas, ranjang king size, jendela besar menghadap lembah. Tapi lembah tidak terlihat, hanya kabut putih dan hujan yang makin deras.

Ia mandi air hangat, berganti kaos dan celana pendek, lalu turun lagi. Nasi goreng sudah tersaji di meja makan, lengkap dengan kerupuk dan acar. Tari duduk di seberang, menemaninya makan sambil ngobrol.

"Suami Mbak udah berapa lama di Garut?" tanya Fikri.

"Dua minggu. Ibunya stroke ringan. Saya suruh dia di sana aja sampai ibunya pulih."

"Terus Mbak sendirian di sini?"

"Udah biasa, Mas. Vila ini sepi kok. Paling rame kalau akhir pekan kayak gini." Ia tersenyum. "Tapi biasanya tamunya rame-rame. Ini pertama kali ada tamu sendirian."

"Makanya saya dikasihani sampai dibuatin nasi goreng?"

Mereka tertawa. Nasi gorengnya enak. Pedasnya pas, ada potongan bakso dan telur mata sapi di atasnya. Fikri yang seharian cuma makan roti di perjalanan, melahapnya sampai bersih.

Hujan di luar makin menjadi. Angin bertiup kencang, membuat jendela bergetar. Sesekali petir menyambar, cahayanya menyelinap lewat sela gorden.

"Badai nih kayaknya," gumam Tari sambil menatap jendela.

Baru saja ia berkata begitu, lampu padam. Gelap total. Hanya cahaya perapian yang tersisa, redup di sudut ruangan.

"Ya ampun, mati lampu," kata Tari. "Bentar ya, Mas, saya ambil lilin."

Ia menghilang ke dapur dan kembali dengan beberapa lilin dan korek. Lilin-lilin dinyalakan dan ditaruh di meja. Cahaya kuning temaram membuat ruangan terasa lebih intim, lebih hangat.

"Gensetnya rusak, Mas. Udah dua hari. Tukang servisnya janji besok datang." Tari duduk kembali. "Maaf ya."

"Nggak apa-apa. Malah romantis." Fikri langsung menyesal mengatakannya. "Eh, maksud saya, suasananya."

Tari tertawa, tapi pipinya memerah tertangkap cahaya lilin. "Mas Fikri bisa aja."

Mereka duduk berhadapan di meja makan yang diterangi lilin. Di luar badai mengamuk. Di dalam, hanya mereka berdua dan suara perapian.

"Mas Fikri kerja apa?" tanya Tari.

"Karyawan bank. Bagian kredit. Tiga minggu terakhir lembur terus kejar target."

"Capek ya."

"Banget. Makanya butuh kabur." Fikri menatap api lilin. "Mbak Tari nggak bosen jaga vila terus?"

"Kadang. Tapi ya ini kerjaan. Lumayan, bisa nabung." Ia memainkan sendok di tangannya. "Suami saya dulu juga kerja di Jakarta, jadi kuli bangunan. Terus kecelakaan, kakinya patah. Sekarang nggak bisa kerja berat. Makanya kami terima kerjaan jaga vila ini."

Fikri mengangguk, ikut prihatin. "Yang penting berdua."

"Iya." Tari tersenyum tipis. "Cuma ya gitu. Berdua tapi sering pisah. Dia di Garut, saya di sini."

Obrolan mengalir. Soal Jakarta yang macet, soal harga cabai, soal sinetron yang Tari tonton tiap malam. Fikri tidak sadar sudah hampir dua jam mereka ngobrol. Lilin pertama sudah setengah habis.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari luar. Bukan petir. Lebih berat, lebih panjang. Seperti tanah bergeser.

"Apa itu?" tanya Fikri.

Tari berdiri dan mengintip jendela. Wajahnya berubah. "Ya ampun."

Fikri ikut mengintip. Di bawah sana, jalan setapak menuju jalan raya tertutup tanah longsor. Pohon tumbang melintang. Jalan putus total.

"Longsor," bisik Tari. "Jalan turun ketutup."

Fikri menelan ludah. "Terus saya gimana turun besok?"

"Nggak bisa, Mas. Harus nunggu dibersihin. Biasanya dinas terkait baru datang kalau hujan reda." Tari menatapnya cemas. "Maaf ya, Mas. Ini di luar kuasa saya."

"Nggak apa-apa. Bukan salah Mbak." Fikri berusaha santai, tapi di dalam hati ia panik. Ia terjebak di vila di tengah badai, listrik padam, jalan putus, hanya berdua dengan penjaga vila yang baru dikenalnya tiga jam lalu.

Tari mengambil HP-nya. "Saya telepon Pak RT ya, biar didata."

Sambil Tari menelepon, Fikri menatap badai di luar jendela. Hujan seperti tirai. Angin menderu. Ia terjebak. Tapi anehnya, ada bagian dari dirinya yang tidak terlalu keberatan.

"Sudah, Mas. Pak RT bilang besok pagi dicek kalau hujan reda." Tari duduk kembali. "Mas nggak usah khawatir. Makanan cukup buat dua tiga hari."

Mereka kembali ngobrol. Tapi suasananya berubah. Ada kesadaran baru bahwa mereka terjebak bersama, dan tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu.

"Mbak dingin nggak?" tanya Fikri. "Deket perapian aja."

Mereka pindah duduk di sofa dekat perapian. Api menari-nari, menghangatkan. Tari duduk cukup dekat sampai Fikri bisa mencium wangi sampo dari rambutnya.

"Mas Fikri punya pacar?" tanya Tari tiba-tiba.

"Baru putus dua bulan lalu."

"Kenapa?"

"Dia mau nikah. Saya belum siap. Masih pengen bebas." Fikri tersenyum kecut. "Egois ya."

"Nggak juga. Tiap orang punya waktunya sendiri." Tari menatap api. "Saya nikah umur dua puluh empat. Kadang mikir, andai dulu nunggu lebih lama."

"Nyesel?"

"Bukan nyesel. Cuma... penasaran. Gimana rasanya bebas lebih lama." Ia menoleh padanya. "Mas nggak kesepian sendirian terus?"

"Kadang. Tapi udah biasa."

"Bohong." Tari tersenyum. "Matanya bilang kesepian."

Fikri tertawa. "Mbak bisa baca mata?"

"Bisa. Tiga tahun jaga vila, saya ketemu ratusan tamu. Saya hafal mata kesepian."

Mereka saling menatap. Cahaya perapian menari di wajah Tari. Fikri baru sadar betapa cantiknya perempuan ini. Kulitnya bersih, matanya besar, bibirnya penuh. Daster batik yang ia kenakan sederhana, tapi di tubuhnya terlihat memikat.

"Tari," kata Fikri pelan, pertama kalinya tanpa embel-embel Mbak.

"Ya?"

Fikri tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mendekat dan menciumnya. Pelan, ragu.

Tari tidak mundur. Ia memejamkan mata dan membalas. Bibirnya hangat, manis, ada rasa teh yang tadi diminumnya.

Ciuman itu makin dalam. Tangan Tari naik ke tengkuk Fikri. Tangan Fikri melingkar di pinggangnya yang ramping. Badai di luar tidak terdengar lagi. Yang ada hanya detak jantung dan desah napas.

"Mas," bisik Tari di sela ciuman. "Ini salah."

"Aku tahu."

"Suamiku..."

"Aku tahu."

Tapi tidak ada yang berhenti. Kadang yang salah terasa begitu benar sampai logika menyerah.

Tari berdiri dan menarik tangan Fikri. "Ke kamar saya. Di belakang. Jangan di sini."

Mereka berlari kecil menembus hujan ke rumah kecil di belakang vila. Basah kuyup dalam hitungan detik. Tari membuka pintu dengan kunci yang gemetar.

Di dalam rumah kecil itu hangat. Tari menyalakan lilin. Mereka berdiri berhadapan, basah, napas memburu, air menetes dari rambut dan baju.

Tari melepas dasternya yang basah. Di bawahnya ia memakai kaos tipis dan celana pendek. Kaos itu menempel di tubuhnya, mencetak segalanya dengan jelas.

Fikri menatapnya, tidak berkedip. "Kamu cantik banget, Tari."

"Jangan diliatin," bisiknya malu, tapi ia tidak menutupi dirinya.

Fikri mendekat dan memeluknya. Tubuhnya dingin karena hujan, tapi cepat menghangat dalam pelukan. Ia menciumi lehernya, turun ke bahunya. Tari mendesah dan menyandarkan kepalanya.

Kaosnya dilepas. Dadanya yang penuh dan kencang menyambut. Fikri menciuminya dengan rakus. Tari menjambak rambutnya, melengkungkan punggungnya.

Celana pendeknya dilepas. Celana Fikri dilepas Tari. Mereka telanjang di kamar kecil yang diterangi lilin, di tengah badai Puncak, di dunia yang seakan milik mereka berdua.

Fikri membaringkannya di ranjang. Ranjang itu sempit, tapi cukup untuk mereka berdua. Tari menatapnya dari bawah, rambutnya yang basah tergerai di bantal.

"Aku udah lama nggak..." bisiknya. "Suamiku di Garut dua minggu. Sebelum itu juga... jarang."

Fikri mencium keningnya. "Aku di sini."

Ia naik ke atasnya. Tari membuka kakinya untuknya. Waktu ia masuk, Tari melenguh panjang dan memeluknya erat. Hangat, sempit, basah. Sempurna.

Mereka bergerak pelan dulu. Saling merasakan. Setiap gerakan disambut desahan. Tangan Tari mengelus punggungnya. Kakinya melingkar di pinggangnya.

Di luar, hujan masih turun. Petir sesekali menyambar. Tapi di dalam kamar kecil itu, hanya ada mereka berdua dan kehangatan yang mereka ciptakan sendiri.

Pelan-pelan ritme bertambah cepat. Tari mulai mengerang. Pinggulnya bergerak liar. Kukunya mencakar punggung Fikri.

"Jangan berhenti," pintanya. "Jangan berhenti."

Fikri tidak berhenti. Ia terus bergerak sampai tubuh Tari menegang dan bergetar hebat. Tari menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahu Fikri. Beberapa detik kemudian Fikri menyusul, meledak dengan erangan panjang.

Mereka terbaring diam, berkeringat dan terengah-engah, dalam pelukan satu sama lain. Lilin di sudut kamar berkelip, hampir habis.

"Maaf," bisik Tari.

"Jangan," kata Fikri. "Kita berdua yang mau."

Tari mengangguk pelan. "Aku nggak nyesel. Cuma takut."

"Rahasia kita."

Malam itu Fikri tidak kembali ke vila. Ia tidur di rumah kecil itu, dalam pelukan Tari, ditemani suara hujan yang mulai mereda.

Pagi harinya hujan berhenti. Kabut tipis masih menyelimuti lembah, tapi langit mulai cerah. Dari jendela kamar Tari, Fikri bisa melihat jalan longsor di bawah sana. Masih tertutup, tapi sudah ada orang-orang berkumpul. Pak RT dan warga mulai membersihkan.

"Sore ini kayaknya udah bisa lewat," kata Tari sambil menyeduh kopi di dapur kecilnya.

Fikri memeluknya dari belakang. "Makasih, Tari. Untuk semuanya."

"Untuk apa?"

"Untuk bikin akhir pekan yang berantakan ini jadi berkesan."

Tari berbalik dan menciumnya sekilas. "Jangan bilang siapa-siapa ya."

"Rahasia."

Siang itu Fikri check out. Jalan sudah bisa dilewati satu mobil. Ia berjabat tangan dengan Pak RT, berterima kasih pada warga, lalu masuk mobil.

Tari berdiri di teras vila, melambaikan tangan. Senyumnya hangat seperti pertama kali mereka bertemu.

Mobil Fikri menuruni jalan pegunungan. Kabut sudah menipis. Matahari mulai muncul dari balik awan.

Di kaca spion, vila itu mengecil, lalu hilang di tikungan.

Fikri tersenyum sendiri. Teman-temannya batal ikut, jalan longsor, listrik padam. Akhir pekan yang seharusnya gagal total.

Tapi justru jadi akhir pekan yang tidak akan pernah ia lupakan.

Dan setiap kali hujan turun di Jakarta, ia akan teringat badai di Puncak. Perapian yang menari. Lilin yang temaram. Dan perempuan bernama Tari yang membuatnya lupa pada dunia, meski hanya semalam.

bagikan