Bunyi klakson kapal feri meraung panjang, tertelan angin laut yang berembus kencang dari arah dermaga. Aku berdiri di depan papan pengumuman ruang tunggu pelabuhan, membaca tulisan yang sama untuk ketiga kalinya seolah berharap isinya berubah. Kapal KMP Bahari Nusantara tujuan seberang, jadwal semula pukul sembilan malam, ditunda hingga pukul satu dini hari karena gelombang tinggi. Empat jam. Aku menghela napas dan merosotkan ransel dari bahu.
Ruang tunggu lantai dua itu lengang. Hanya segelintir penumpang yang bertahan, sebagian besar memilih pulang atau mencari penginapan. Aku tidak punya pilihan. Urusan bisnis menuntutku tiba di seberang pagi hari, dan kapal ini satu-satunya yang berangkat malam ini. Aku memilih kursi plastik di dekat jendela kaca besar, tempat lampu-lampu dermaga berpendar kuning di atas air yang bergelombang.
Dari kantong jaket aku mengeluarkan ponsel. Sinyal timbul tenggelam. Aku mengirim pesan singkat ke rekan bisnisku, memberitahu keterlambatan, lalu mematikan layar. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggu.
Warung kopi kecil di sudut ruangan masih buka. Aku membeli segelas kopi tubruk panas dan sebungkus rokok, lalu kembali ke kursiku. Asap rokokku mengepul tipis, terbawa hembusan pendingin ruangan yang terlalu dingin. Di luar jendela, sebuah kapal barang bergerak lambat, lampunya berkelip seperti kunang-kunang raksasa.
Baru tiga tegukan kopi kuhabiskan ketika pintu kaca ruang tunggu terbuka. Seorang perempuan masuk sambil menyeret koper kecil. Ia mengenakan jaket denim dan syal tipis, rambutnya yang panjang diikat asal. Wajahnya tampak lelah, tapi ada sesuatu yang membuatku sulit mengalihkan pandangan. Ia menatap papan pengumuman, bahunya turun begitu membaca tulisan penundaan, lalu ia mengedarkan pandangan mencari tempat duduk.
Kursi di seberangku kosong. Ia berjalan ke arahku dan berhenti dengan ragu.
"Boleh duduk di sini?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Silakan. Kursi kosong semua, kok."
Ia tersenyum tipis dan duduk, meletakkan kopernya di samping. Aroma parfumnya yang lembut bercampur dengan bau kopi di tanganku. Kami diam beberapa saat, dua orang asing yang dipaksa berbagi malam oleh laut yang sedang murka.
"Kapalnya delay empat jam," katanya akhirnya, lebih seperti gumaman pada diri sendiri.
"Iya. Ombak lagi tinggi," jawabku. "Kamu juga ke seberang?"
Ia mengangguk. "Pulang kampung. Sudah lama tidak pulang."
Aku memperkenalkan diri. "Saka. Tiga puluh empat tahun, wiraswasta. Lagi ada urusan bisnis di seberang."
"Puspa," katanya. "Tiga puluh tiga. Baru saja resmi jadi janda, jadi aku pulang ke rumah ibu."
Ia mengatakannya dengan datar, tanpa drama, tapi aku menangkap getar kecil di suaranya. Aku tidak bertanya lebih jauh. Sebaliknya aku mengangkat gelas kopiku.
"Mau kopi? Warung di sudut masih buka."
Ia tertawa kecil, tawa pertama yang kudengar darinya malam itu. "Boleh. Yang panas."
Aku bangkit dan membelikannya kopi tubruk. Ketika kembali, ia sudah melepas syalnya dan melipatnya di pangkuan. Kami menyeruput kopi masing-masing, dan keheningan di antara kami terasa lebih nyaman dari sebelumnya.
"Cerai karena apa, kalau boleh tahu?" tanyaku pelan setelah beberapa lama. "Maaf kalau terlalu pribadi."
Puspa menatap keluar jendela, ke arah kapal barang yang kini hampir hilang di kegelapan. "Dia selingkuh. Dengan rekan kerjanya. Aku bertahan dua tahun, berharap dia berubah, tapi akhirnya aku yang menyerah." Ia menoleh padaku. "Kamu? Sudah menikah?"
"Belum. Terlalu sibuk kerja sampai lupa cari pendamping," jawabku sambil tersenyum miring. "Ibu di kampung sudah putus asa menanyakannya."
Puspa tertawa lagi, kali ini lebih lepas. "Ibu-ibu memang begitu. Ibuku juga. Makanya aku pulang, biar beliau berhenti menelepon tiap malam menanyakan kabarku."
Percakapan mengalir. Ia bercerita tentang pekerjaannya sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan logistik, tentang kos sempit yang baru ia tinggalkan, tentang rencana membuka usaha kecil di kampung. Aku bercerita tentang bisnis kuliner yang kurintis, tentang jatuh bangunnya, tentang mimpiku punya cabang di seberang. Waktu seolah melunak. Sesekali pengumuman berbahasa Inggris terdengar dari pengeras suara, mengabarkan keterlambatan kapal lain.
Sekitar pukul sebelas, Puspa menguap. "Lapar," katanya. "Tadi sore cuma makan roti."
"Aku juga," kataku. "Yuk cari makan. Di luar pagar pelabuhan biasanya ada warung tenda buka sampai malam."
Kami turun ke lantai dasar dan berjalan keluar gedung terminal. Angin laut langsung menerpa wajah, dingin dan asin. Di seberang jalan, deretan warung tenda berjejer dengan lampu neon. Kami memilih warung mie godok. Uap panas mengepul dari mangkuk-mangkuk kami, dan untuk pertama kalinya malam itu aku merasa benar-benar hangat.
"Kamu baik ya," kata Puspa tiba-tiba sambil mengaduk mienya.
Aku menaikkan alis. "Kenapa bilang begitu?"
"Orang asing biasanya tidak sudi diganggu. Kamu malah membelikan kopi dan mengajak makan." Ia menatapku. "Terima kasih, Saka."
"Sama-sama. Lagipula menunggu empat jam sendirian itu siksaan. Kamu menyelamatkanku dari kebosanan."
Kami makan sambil sesekali tertawa. Seorang pengamen tua lewat membawakan lagu keroncong dengan gitar bututnya. Puspa memberinya uang dan meminta satu lagu tentang rindu kampung halaman. Suara serak pengamen itu melayang di antara deru ombak dan bunyi tali kapal.
Selesai makan, kami berjalan di sepanjang trotoar pelabuhan. Lampu-lampu kapal nelayan berkelip di kejauhan. Puspa memeluk tubuhnya sendiri, kedinginan. Tanpa berpikir panjang aku melepas jaketku dan menyampirkannya ke bahunya.
"Puspa," kataku, "dingin begini bisa masuk angin."
Ia menatapku, dan dalam cahaya lampu jalan yang temaram aku melihat matanya berkaca-kaca. Bukan karena sedih, sepertinya, tapi karena terharu. "Sudah lama tidak ada yang memperhatikanku begini," bisiknya.
Kami berhenti di dekat pagar pembatas dermaga. Di bawah kami, air laut menghantam tiang beton dengan bunyi berdebum. Puspa bersandar di pagar, jaketku kebesaran di tubuhnya. Aku berdiri di sampingnya, cukup dekat hingga bahu kami bersentuhan.
"Saka," katanya pelan, "aku tidak menyesal bercerai. Aku hanya takut. Takut memulai lagi dari nol di umur tiga puluh tiga."
"Takut itu wajar," kataku. "Tapi kamu berani naik kapal malam ini sendirian. Itu sudah lebih berani dari kebanyakan orang."
Ia tersenyum dan menyandarkan kepalanya sejenak di bahuku. Jantungku berdebar lebih kencang dari seharusnya. Aku tidak bergerak, membiarkan momen itu bertahan selama ia mau.
Sekitar tengah malam kami kembali ke ruang tunggu. Suasananya makin sepi. Beberapa penumpang tertidur dengan kepala terkulai, seorang bapak mendengkur pelan di sudut. Petugas kebersihan mendorong pelan troli sampahnya, lalu menghilang ke balik pintu. Lampu ruangan diredupkan separuhnya.
Kami duduk kembali di kursi semula. Puspa masih mengenakan jaketku. Ia melipat kakinya ke atas kursi dan bersandar ke bahuku tanpa ragu, seolah itu hal paling alami di dunia. Aku melingkarkan lenganku di bahunya, dan ia tidak menolak. Kami duduk begitu cukup lama, mendengarkan dengung pendingin ruangan dan sesekali bunyi kapal dari luar.
"Aku tidak mau tidur," bisiknya. "Kalau aku tidur, malam ini berakhir. Dan aku belum siap malam ini berakhir."
Aku menoleh. Wajahnya begitu dekat. Matanya menatapku dengan campuran ragu dan berani yang membuat dadaku sesak. "Puspa," kataku pelan, "aku tidak mau kamu melakukan sesuatu yang nanti kamu sesali."
Ia tersenyum. "Justru aku takut menyesal kalau tidak melakukannya." Ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Aku sudah lama merasa tidak diinginkan. Malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa ada yang benar-benar melihatku. Jangan ambil itu dariku."
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku menangkup wajahnya dengan lembut dan menciumnya. Ciuman pertama itu pelan dan hati-hati, seperti bertanya. Lalu ia membalas, dan keraguan di antara kami runtuh sekaligus. Tangannya mencengkeram kaosku, tubuhnya merapat.
Ruang tunggu itu luas dan remang. Di ujung ruangan, deretan kursi kosong terbentang tanpa penghuni, terhalang sebagian oleh pilar beton besar. Aku menuntunnya ke sana, ke sudut paling jauh dari pintu dan kamera pengawas, tempat bayangan menelan segalanya. Kami duduk berdampingan di kursi plastik yang dingin, dan ia kembali dalam pelukanku.
Kali ini ciuman kami lebih dalam, lebih berani. Tanganku menyusuri lengannya, merasakan kulitnya yang menghangat di balik jaketku. Ia melepaskan ikatan rambutnya, dan rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian wajahku. Aroma sampo dan parfumnya memenuhi inderaku.
"Yakin?" bisikku di sela ciuman, menatap matanya dalam-dalam.
Ia mengangguk tanpa ragu. "Yakin."
Aku membantunya merebahkan diri di deretan kursi kosong, dan ia menarikku mengikutinya. Jaketku menjadi alas seadanya. Di bawah cahaya redup dan jauh dari pandangan siapa pun, kami saling melepaskan pakaian dengan gerakan tergesa namun tetap lembut, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh dan indah.
Kulitnya terasa hangat di tengah dinginnya ruangan berpendingin. Aku mencium lehernya, bahunya, setiap jengkal yang bisa kujangkau, dan ia membalas dengan desahan tertahan. Tangannya menjelajah punggungku, kukunya menekan pelan. Kami bergerak dalam ritme yang kami temukan sendiri, pelan lalu semakin cepat, dibuai bunyi ombak yang samar terdengar dari luar jendela.
Tidak ada kata yang terucap selain bisikan nama masing-masing. Dunia menyempit menjadi hanya kami berdua, dua orang asing yang dipertemukan oleh keterlambatan sebuah kapal. Setiap sentuhan terasa seperti pengakuan, setiap desahan seperti pelepasan. Ia memelukku erat ketika tubuhnya menegang, dan aku menahannya, membiarkan gelombang itu membawanya pergi.
Setelahnya kami berbaring diam dalam pelukan, napas kami perlahan kembali normal. Ia menelusurkan jarinya di dadaku, menggambar pola tak beraturan. Aku mencium keningnya yang basah oleh keringat.
"Terima kasih," bisiknya. "Aku merasa hidup lagi."
"Jangan berterima kasih," kataku. "Malam ini milik kita berdua."
Kami merapikan pakaian dalam diam yang nyaman, lalu kembali ke kursi semula seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi ada yang berubah. Cara ia bersandar padaku kini lebih erat, cara tangannya menggenggam tanganku lebih mantap. Kami bukan lagi dua orang asing.
Sekitar pukul satu dini hari, pengeras suara akhirnya mengumumkan kabar yang ditunggu. Kapal KMP Bahari Nusantara akan segera sandar dan penumpang diminta bersiap. Ruang tunggu yang tadinya lengang perlahan hidup. Orang-orang menggeliat bangun, mengangkat tas, antre di pintu keluar.
Kami berjalan beriringan menuju dermaga. Angin subuh bertiup lebih kencang, tapi aku tidak lagi merasa dingin. Kapal besar itu muncul dari kegelapan, lampunya terang benderang, bunyi mesinnya menggetarkan udara. Para penumpang mulai menaiki tangga kapal satu per satu.
Di depan pintu masuk kapal, Puspa berhenti dan menatapku. "Saka," katanya, "aku tidak tahu apa arti malam ini. Mungkin cuma kebetulan. Tapi aku tidak akan melupakannya."
"Aku juga tidak," kataku. Aku mengeluarkan ponselku. "Boleh aku minta nomormu? Bukan untuk apa-apa. Aku cuma ingin tahu kabarmu sampai di kampung dengan selamat."
Ia tersenyum dan mendiktekan nomornya. Aku menyimpannya dengan nama Puspa Pelabuhan. Ia tertawa melihatnya.
"Kenapa pelabuhan?" tanyanya.
"Supaya aku selalu ingat di mana aku menemukanmu."
Ia memelukku erat, lama, lalu melepaskan diri dan menaiki tangga kapal. Di atas dek, ia melambaikan tangan. Aku membalas lambaian itu sampai kapal bergerak menjauh dan sosoknya tak lagi terlihat.
Aku naik ke kapal beberapa menit kemudian dan mencari tempat duduk di dek atas. Langit timur mulai memucat. Dari kejauhan, kembang api kecil para nelayan menyambut pagi. Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk.
"Aku di dek bawah. Selamat sampai tujuan, Saka. Jaga dirimu."
Aku tersenyum dan membalas, lalu menatap cakrawala yang perlahan berubah warna dari hitam menjadi jingga. Ombak masih tinggi, kapal bergoyang pelan, tapi aku merasa tenang. Malam di pelabuhan itu memberiku sesuatu yang tidak kuduga. Bukan sekadar penantian yang terisi, tapi pengingat bahwa di tengah keterlambatan dan ketidakpastian, hidup masih bisa memberimu kejutan yang indah. Dan kadang, kejutan itu datang dalam wujud seorang perempuan berjaket denim yang duduk di seberangmu, menunggu kapal yang sama, menuju babak baru yang sama-sama belum kalian ketahui ujungnya.
