Air mulai merembes lewat bawah pintu depan tepat jam sembilan malam. Wisnu sedang duduk di ruang tengah sambil menatap layar ponselnya yang baterainya tinggal tiga puluh persen, dan hujan di luar sudah tidak terdengar seperti hujan lagi, melainkan seperti seseorang menuangkan ember demi ember ke atas genteng.
Ia berdiri, berjalan ke pintu, dan mengintip ke gang. Air sudah setinggi mata kaki, mengalir deras dari ujung gang yang lebih tinggi ke arah rumahnya yang posisinya memang sedikit lebih rendah. Beberapa tetangga sudah keluar membawa ember dan karung pasir, berteriak-teriak memanggil nama anak mereka yang masih bermain di ujung gang.
Wisnu masuk kembali, mengangkat kabel colokan listrik yang masih tergeletak di lantai, lalu menumpuk beberapa perabot kecil di atas meja. Ia tinggal sendirian di rumah dua lantai peninggalan orang tuanya, dan setiap musim hujan tiba, lantai satu memang selalu jadi korban pertama. Tahun lalu air sempat naik sampai lutut orang dewasa, dan semua barang di bawah harus diungsikan ke lantai dua.
Jam sepuluh, air sudah sebetis. Lampu sempat berkedip dua kali sebelum akhirnya padam total. Wisnu menyalakan senter ponsel, mengambil lilin dan korek dari laci dapur, dan menaiki tangga ke lantai dua. Dari jendela kamar depan, ia bisa melihat gang yang kini berubah menjadi sungai kecil. Sampah melayang, sebuah sandal jepit hanyut, dan di ujung gang terdengar suara genset tetangga yang masih menyala.
Lalu ia melihatnya.
Di rumah seberang gang, tiga rumah dari tempatnya, seorang perempuan berdiri di teras dengan air sudah mencapai pahanya. Ia memegang sebuah tas ransel di atas kepalanya dan tampak panik menatap ke sekeliling. Itu Mitha, tetangga yang pindah ke gang itu sekitar delapan bulan lalu. Perempuan berusia dua puluh sembilan tahun itu tinggal sendirian, bekerja sebagai desainer grafis lepas, dan Wisnu yang berusia tiga puluh dua tahun hanya mengenalnya sebatas sapa di gang dan obrolan singkat saat mereka berpapasan membeli gorengan.
Rumah Mitha lebih rendah dari rumah Wisnu. Kalau di rumah Wisnu air sebetis, di rumah Mitha pasti sudah selutut orang dewasa, dan sepertinya air masih terus naik.
Wisnu berteriak dari jendela, memanggil namanya sekuat tenaga menembus suara hujan. Mitha menoleh, dan Wisnu melambaikan tangan sambil menunjuk ke rumahnya. Mitha tampak ragu sejenak, lalu mengangguk. Ia mulai berjalan menerobos air menuju rumah Wisnu, tas ransel tetap diangkat tinggi di atas kepalanya.
Wisnu turun ke lantai satu dengan senter, membuka pintu depan. Air dingin langsung menerpa kakinya. Mitha tiba dengan napas terengah, celana jeansnya basah kuyup sampai ke pinggang, kaosnya menempel di badan. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar, entah karena dingin atau takut.
"Masuk, masuk," kata Wisnu sambil menarik tangannya. "Lantai dua aman. Air di sini masih naik."
Mitha masuk sambil menggigil. "Makasih, Mas. Rumahku sudah masuk ke kamar. Kasurku basah semua."
"Untung kamu keluar. Naik ke atas, ganti baju dulu. Aku ambilkan handuk."
Di lantai dua, Wisnu menyalakan dua batang lilin dan meletakkannya di meja kecil ruang tengah. Cahaya lilin bergoyang tertiup angin dari jendela yang sedikit terbuka. Dari bawah terdengar bunyi air yang terus bergerak, sesekali ada bunyi berdebuk seperti perabot yang bergeser terbawa arus.
Mitha keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit rambutnya, memakai kaos oblong dan celana pendek pinjaman dari Wisnu yang kebesaran di badannya. Ia duduk di sofa, memeluk lututnya.
"Kamu tinggal sendirian di sini?" tanyanya, menatap sekeliling.
"Iya. Orang tuaku sudah pindah ke kampung dua tahun lalu. Rumah ini jadi punyaku."
"Enak ya, rumah dua lantai. Kalau rumahku satu lantai, sekali banjir ya sudah, tamat."
Wisnu tertawa kecil. "Tahun lalu aku juga panik kayak kamu. Sekarang sudah hafal polanya. Air naik sampai jam dua belas, surutnya baru subuh."
Mitha menghela napas panjang. "Semoga barang-barangku nggak rusak parah. Laptopku aku bawa, untung."
Mereka duduk dalam keheningan beberapa saat, hanya ditemani suara hujan yang mulai mereda dan cahaya lilin yang menari di dinding. Wisnu memperhatikan wajah Mitha dari samping. Di bawah cahaya temaram itu, ia terlihat lebih lembut dari biasanya. Biasanya Mitha selalu tampak sibuk dan terburu-buru, rambut diikat asal, wajah tanpa riasan tebal. Malam itu, dengan rambut basah tergerai dan wajah polos, ada sesuatu yang membuat Wisnu sulit mengalihkan pandangan.
"Kamu lapar?" tanya Wisnu tiba-tiba, memecah keheningan. "Aku punya mie instan. Kompor gas masih bisa dipakai."
Mitha tersenyum, senyum pertama malam itu. "Boleh. Aku belum makan dari sore."
Wisnu turun ke dapur lantai satu dengan senter di mulut, air sudah selutut. Ia memasak dua bungkus mie dengan gerakan cepat, lalu naik kembali dengan dua mangkuk mengepul. Mereka makan di lantai, duduk bersila menghadap jendela, menatap gang yang gelap dan berkilau tertimpa cahaya lilin dari rumah-rumah yang masih menyala dengan genset.
"Mas Wisnu kerja di mana?" tanya Mitha di sela suapan.
"Karyawan swasta, bagian logistik. Kamu desainer ya? Pernah lihat kamu bawa tablet gambar."
"Iya, freelance. Kerja dari rumah, makanya aku pilih tinggal di sini, murah."
"Orang tuamu di mana?"
"Di kampung, di Jawa Tengah. Sudah dua tahun nggak pulang." Suara Mitha melembut. "Dulu tiap banjir kayak gini, bapak selalu siaga di pintu. Sekarang aku sendirian, rasanya aneh."
Wisnu menatapnya. "Kamu kuat kok. Tadi kamu berani nerobos air."
Mitha tertawa kecil, lalu tawanya meredup. "Takut sebenarnya. Tapi mau gimana lagi."
Ada jeda. Hujan di luar tinggal rintik-rintik. Wisnu menuangkan teh hangat dari termos ke dua gelas plastik. Tangan mereka bersentuhan sekilas saat Mitha menerima gelasnya, dan keduanya sama-sama tidak langsung menarik tangan.
Wisnu merasakan sesuatu bergeser di dadanya. Bukan sekadar kasihan pada tetangga yang kebanjiran. Ada kehangatan lain yang menjalar, pelan tapi pasti, seperti air yang tadi merembes lewat bawah pintu, diam-diam, tak terbendung.
Mitha menatapnya. Mata mereka bertemu dalam cahaya lilin yang bergoyang. Tidak ada yang bicara selama beberapa detik yang terasa lama.
"Mas," kata Mitha pelan, "makasih ya. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu harus ke mana malam ini."
Wisnu menggeser duduknya lebih dekat. "Sudah kewajibanku sebagai tetangga."
"Bukan cuma itu," bisik Mitha. "Kamu bikin aku nggak merasa sendirian."
Wisnu mengulurkan tangan, menyentuh pipi Mitha dengan punggung jarinya. Kulitnya dingin, tapi di bawahnya ada kehangatan yang membuat jantung Wisnu berdetak lebih cepat. Mitha tidak menghindar. Ia justru memejamkan mata, seolah menikmati sentuhan itu.
Ketika Wisnu mencondongkan wajahnya, Mitha menyambutnya. Bibir mereka bertemu, awalnya ragu, lalu semakin berani. Tangan Wisnu merambat ke tengkuk Mitha, menariknya lebih dekat. Mitha membalas dengan kedua tangan melingkar di leher Wisnu, tubuhnya menempel.
Ciuman itu berlangsung lama, diselingi napas yang memburu. Lilin di meja bergoyang lebih kencang, bayangan mereka menari di dinding seperti dua sosok yang tak terpisahkan.
Mitha menarik diri sejenak, menatap mata Wisnu dengan napas tersengal. "Aku nggak mau sendirian malam ini, Mas."
"Aku juga nggak mau kamu sendirian," jawab Wisnu jujur.
Mitha berdiri, mengulurkan tangannya. Wisnu menggenggamnya, dan mereka berjalan menuju kamar Wisnu di ujung lorong. Di dalam kamar yang hanya diterangi satu batang lilin di nakas, semuanya terasa seperti mimpi yang terlalu nyata untuk diabaikan.
Wisnu membuka handuk yang melilit rambut Mitha, membiarkan rambut basahnya tergerai di bahu. Ia mencium lehernya pelan, merasakan denyut nadi yang berpacu di bawah kulitnya. Mitha mendesah, tangannya meremas kaos Wisnu.
Satu per satu pakaian mereka terlepas, jatuh ke lantai tanpa suara. Dalam temaram lilin, tubuh Mitha tampak seperti pahatan yang hidup, setiap lekuknya memantulkan cahaya keemasan yang lembut. Wisnu menatapnya dengan kagum yang tidak disembunyikannya, dan Mitha tersenyum malu sebelum menarik Wisnu ke atas tempat tidur.
Mereka bercinta dengan pelan, tanpa terburu-buru, seolah malam itu milik mereka sepenuhnya dan air di bawah tidak ada urusannya dengan apa yang terjadi di lantai dua. Setiap sentuhan terasa disengaja, setiap desahan terdengar jelas di kamar yang sunyi. Mitha berbisik memanggil namanya berkali-kali, dan Wisnu menjawab dengan ciuman-ciuman di bahu dan lehernya.
Di luar, hujan benar-benar berhenti. Hanya tersisa bunyi tetesan air dari genteng dan sesekali bunyi katak dari gang yang tergenang. Di dalam kamar, dua orang yang tadinya hanya saling sapa di gang kini saling memiliki dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Setelahnya, mereka berbaring berdampingan, tubuh masih menempel, selimut menutupi pinggang ke bawah. Mitha meletakkan kepalanya di dada Wisnu, mendengarkan detak jantungnya yang perlahan melambat.
"Ini gila ya," bisik Mitha sambil tertawa kecil. "Kita bahkan belum pernah ngobrol lebih dari lima menit sebelumnya."
"Menurutku ini namanya banjir membawa berkah," kata Wisnu, dan Mitha mencubit lengannya pelan sambil tertawa.
"Jangan ngomong gitu, norak."
Mereka tertawa bersama, lalu hening kembali. Mitha mengangkat wajahnya, menatap Wisnu dengan serius. "Mas, aku boleh jujur? Aku sudah lama memperhatikan kamu. Tiap kamu lewat depan rumahku pagi-pagi, aku selalu ngintip dari jendela."
Wisnu terkejut. "Serius? Aku juga. Aku selalu cari alasan buat lewat depan rumahmu padahal jalanku bisa lewat gang sebelah."
Mitha tertawa terbahak, lalu membekap mulutnya sendiri. "Ya ampun, kita sama-sama norak."
"Norak tapi jujur."
Mitha mencium pipi Wisnu, lalu kembali menyandarkan kepalanya. "Orang tuaku pasti senang kalau tahu aku nggak sendirian lagi."
"Maksudnya?"
"Maksudnya, setelah malam ini, aku nggak mau kita cuma jadi tetangga yang saling sapa."
Wisnu mengangguk, mengusap rambut Mitha yang sudah mulai kering. "Aku juga nggak mau."
Mereka tertidur dalam pelukan, lilin di nakas padam dengan sendirinya, meninggalkan kamar dalam gelap yang hangat. Di bawah, air mulai surut perlahan, meninggalkan lumpur dan kekacauan yang harus dibersihkan esok pagi. Tapi malam itu, di lantai dua sebuah rumah di gang yang kebanjiran, dua orang menemukan sesuatu yang tidak mereka cari tapi ternyata mereka butuhkan.
Pagi harinya, Wisnu terbangun oleh cahaya matahari yang menerobos jendela dan bunyi orang-orang di gang yang mulai membersihkan rumah. Air sudah surut total, hanya menyisakan garis lumpur di dinding-dinding lantai satu.
Mitha masih tidur di sampingnya, wajahnya damai. Wisnu menatapnya sejenak sebelum turun untuk memeriksa keadaan. Lantai satu berantakan, lumpur di mana-mana, tapi tidak ada barang berharga yang rusak karena semuanya sudah ia angkat semalam.
Ketika ia naik kembali, Mitha sudah bangun, duduk di tepi tempat tidur sambil merapikan rambutnya.
"Rumahku pasti berantakan banget," katanya. "Kasurku basah, karpetku pasti sudah jadi bubur."
"Nanti aku bantu beresin," kata Wisnu. "Kita bersihin bareng."
Mitha menatapnya, matanya berkaca-kaca. "Kamu serius?"
"Serius. Mulai hari ini, banjir atau nggak, kamu nggak sendirian lagi."
Mitha berdiri, memeluk Wisnu erat. "Makasih, Mas."
Mereka turun bersama, bergandengan tangan melewati tangga yang masih basah. Di depan pintu, beberapa tetangga melambai sambil tersenyum-senyum melihat mereka keluar berdua dari rumah yang sama. Wisnu hanya tertawa, dan Mitha menyembunyikan wajahnya di bahu Wisnu.
Gang itu masih becek dan berbau lumpur, tapi pagi itu terasa berbeda. Bagi Wisnu, banjir semalam bukan lagi sekadar bencana rutin tahunan. Banjir semalam adalah malam ketika air membawa seseorang ke pintunya, dan ia tidak akan pernah melupakan suara hujan yang menjadi saksi bisu awal dari semuanya.
