Jam dua dini hari, dan aku masih terjaga menatap langit-langit kamar hotel.
Namaku Dimas, tiga puluh dua tahun, konsultan IT. Aku di Jakarta untuk proyek migrasi server sebuah bank — pekerjaan yang membayar mahal tapi menggerogoti tidurku. Besok — eh, hari ini — presentasi jam sembilan pagi, dan otaku malah memutar ulang slide demi slide seperti kaset rusak.
AC kamar terlalu dingin. Kasur terlalu asing. Gorden tidak bisa menutup sempurna sehingga seberkas cahaya oranye dari lampu jalan menyelinap masuk dan menggarisi dinding.
Aku menyerah. Bangkit, mengenakan kaos dan celana training, lalu turun ke lobi. Barangkali udara segar — atau sekadar pemandangan selain empat dinding — bisa membuatku mengantuk.
Lift terbuka ke lobi yang lengang. Lampu utama sudah diredupkan, hanya menyisakan cahaya hangat di area resepsionis dan beberapa lampu baca di sudut lounge. Musik instrumental mengalun pelan dari speaker tersembunyi. Bau khas lobi hotel — campuran pembersih lantai dan bunga plastik — menyambutku.
Di balik meja resepsionis, seorang perempuan muda berseragam duduk menatap layar komputer dengan dagu ditopang tangan. Rambutnya yang panjang diikat seadanya, beberapa helai terlepas. Saat mendengar langkahku, ia menegakkan badan dan memasang senyum profesional.
"Selamat malam, Pak. Ada yang bisa dibantu?"
"Susah tidur," kataku jujur sambil mendekat ke meja. "Kafetaria masih buka?"
Ia melirik jam. "Sudah tutup, Pak. Tapi saya bisa buatkan kopi dari pantry. Gratis, untuk tamu yang susah tidur." Ia tersenyum — senyum yang kali ini tidak terlalu profesional, lebih seperti senyum sesama manusia yang sama-sama terjaga di jam segini.
"Boleh. Kopi hitam, nggak pakai gula."
"Sinta," katanya sambil menyodorkan tangan. "Dua puluh tujuh tahun, resepsionis shift malam. Spesialis menemani tamu yang susah tidur."
Aku menjabat tangannya. "Dimas. Spesialis susah tidur."
Ia tertawa kecil, lalu menghilang ke balik pintu pantry. Tak lama kemudian kembali dengan dua cangkir mengepul.
"Dua?" tanyaku.
"Temenin Bapak nggak apa-apa? Lobi sepi banget jam segini. Saya sampai hafal pola retak di marmer itu." Ia menunjuk lantai.
"Silakan. Malah saya yang berterima kasih."
Kami duduk di sofa lounge yang menghadap jendela besar. Di luar, Jakarta tidak pernah benar-benar tidur — lampu-lampu gedung berkelip, sesekali taksi melintas.
"Udah berapa lama shift malam?" tanyaku sambil menyeruput kopi. Pahit dan panas — pas.
"Dua tahun," jawab Sinta. "Awalnya cuma sementara, tapi lama-lama betah. Sepi, nggak ada drama kayak shift pagi. Gajinya juga lumayan lebih gede."
"Nggak kesepian?"
Ia menatapku sekilas, lalu tersenyum tipis. "Pertanyaan yang bagus, Pak Dimas. Jawabannya: kadang. Terutama jam-jam kayak gini, antara jam dua sampai jam empat. Rasanya kayak jadi penjaga dunia yang lagi tidur."
"Penjaga dunia," ulangku. "Keren juga."
"Kedengarannya keren. Rasanya sih... sepi." Ia menyeruput kopinya. "Bapak sendiri? Kerja apa sampai susah tidur jam segini?"
"Konsultan IT. Besok presentasi ke direksi. Otakku nggak mau berhenti mikirin worst case scenario."
"Worst case-nya apa?"
"Server down pas demo live. Seratus orang nonton aku keringatan."
Sinta tertawa. "Kalau itu kejadian, pura-pura saja itu bagian dari demo. 'Inilah simulasi bencana, Bapak-Bapak.'"
Aku ikut tertawa — pertama kalinya malam ini. Ketegangan di bahuku mulai mencair.
Obrolan mengalir. Sinta ternyata lucu dan cerdas — ia cerita soal tamu-tamu aneh yang pernah ia tangani: bule yang komplain karena AC "terlalu dingin untuk ukuran kutub", pasangan yang check-in dengan nama samaran yang jelas-jelas palsu, sampai seorang kakek yang setiap malam minta diantar ke minimarket jam tiga pagi.
"Terus tamu yang paling berkesan?" tanyaku.
Ia menatapku agak lama. "Mungkin yang lagi duduk di depan saya sekarang."
Jantungku berdegup sekali — keras dan jelas.
"Sinta..."
"Eh, jangan salah paham dulu," katanya cepat, tapi senyumnya tidak hilang. "Maksud saya, Bapak tamu pertama minggu ini yang ngajak ngobrol beneran, bukan cuma komplain atau minta handuk tambahan."
"Tetap saja," kataku, "itu pujian terbaik yang pernah saya terima jam dua pagi."
Ia tertawa lagi, dan kali ini tawanya lebih lepas. Di cahaya lampu lobi yang temaram, aku baru menyadari betapa cantiknya ia — bukan cantik yang mencolok, tapi cantik yang tenang. Mata yang cerdas, lesung pipit di pipi kiri saat tersenyum.
"Bapak tahu nggak," katanya pelan, "saya tuh kadang iri sama tamu-tamu. Mereka datang dan pergi, punya cerita. Saya cuma di sini, nontonin."
"Semua orang punya cerita, Sinta. Termasuk penjaga dunia."
Ia menatapku. Ada sesuatu di tatapannya yang berubah — dari ramah menjadi... berani.
"Pak Dimas," katanya, "jam tiga saya break tiga puluh menit. Mau lihat sesuatu?"
"Lihat apa?"
"Rooftop. Tamu boleh ke sana, tapi jam segini nggak ada yang naik. Pemandangannya bagus. Dan..." ia berdiri, "saya butuh udara segar."
Aku menghabiskan kopiku dan berdiri mengikutinya. Ia mengambil kunci dari laci meja, lalu menuntunku ke lift karyawan di ujung lobi.
Di dalam lift yang sempit, bahu kami bersentuhan. Tidak ada yang menghindar.
Rooftop hotel itu ternyata sebuah taman kecil — beberapa kursi lounge, tanaman dalam pot, dan pagar pembatas yang tidak terlalu tinggi. Lampu-lampu kota terbentang di bawah kami seperti permadani bertabur kunang-kunang. Angin malam berhembus sejuk, membawa bau hujan yang tertinggal dan asap kendaraan yang samar.
"Wow," kataku.
"Kan?" Sinta bersandar di pagar, rambutnya yang terlepas berkibar pelan. "Ini tempat favorit saya. Kalau penat, saya naik ke sini lima menit. Rasanya kayak keluar dari dunia sebentar."
Kami duduk di dua kursi lounge yang bersebelahan. Hening sejenak — hening yang nyaman, bukan canggung.
"Sinta," kataku akhirnya, "boleh aku tanya sesuatu yang agak pribadi?"
"Boleh."
"Kamu... bahagia?"
Ia terdiam cukup lama. "Pertanyaan susah jam tiga pagi, Pak Dimas."
"Panggil aku Dimas saja."
"Dimas." Ia mengulang namaku pelan, seolah mengetes rasanya di lidah. "Jawabannya: aku baik-baik saja. Punya kerjaan, punya kos sendiri, bisa kirim uang ke ibu di kampung. Tapi bahagia?" Ia menggeleng pelan. "Mungkin aku lupa rasanya."
"Aku tahu rasa itu," kataku. "Kerja, pulang, tidur, ulang. Kadang aku lupa kapan terakhir kali aku benar-benar... merasa hidup."
Ia menoleh padaku. Dalam cahaya kota yang temaram, matanya berkilau.
"Terus sekarang? Merasa hidup?"
"Baru mulai," kataku jujur.
Senyumnya mengembang — pelan, lalu lebar. Ia menggeser kursinya lebih dekat, sampai lutut kami bersentuhan.
"Dimas," bisiknya, "aku mau jujur. Aku nggak ngajak semua tamu ke sini."
"Aku harap begitu."
"Dan aku nggak mau malam ini cuma jadi cerita 'tamu yang susah tidur'."
Jantungku berdegup kencang. Aku menatapnya, mencari keraguan di wajahnya. Tidak ada. Yang ada hanya keberanian yang tenang — keberanian perempuan dewasa yang tahu apa yang ia inginkan.
"Boleh?" tanyaku pelan, tanganku terangkat setengah — memberi ia kesempatan untuk mundur.
Ia menjawab dengan meraih tanganku dan menempelkannya di pipinya. Hangat.
"Boleh."
Aku mendekat dan menciumnya. Bibirnya lembut dan sedikit dingin karena angin malam, tapi segera menghangat. Ciuman itu dimulai dengan hati-hati — dua orang asing yang saling membaca — lalu menjadi lebih dalam saat kami sama-sama yakin.
Tanganku membelai pipinya, turun ke lehernya, ke bahunya. Seragam resepsionisnya — blazer dan kemeja putih — ternyata tidak terlalu sulit untuk... dilonggarkan. Ia tertawa kecil di sela ciuman saat aku kesulitan dengan kancing blazernya.
"Biar aku saja," bisiknya, lalu melepaskan blazernya sendiri dan meletakkannya rapi di kursi sebelah. Rapi — bahkan di momen seperti ini ia tetap rapi. Aku tersenyum.
Kemeja putihnya menyusul. Di baliknya, bra sederhana berwarna krem. Tidak ada yang berlebihan, tidak ada yang dibuat-buat. Sama seperti dirinya: tenang dan nyata.
"Aku suka kamu apa adanya," kataku.
"Aku juga," jawabnya, lalu menarik kaosku ke atas.
Kulit bertemu kulit di bawah langit Jakarta yang berawan. Angin malam yang sejuk justru membuat kehangatan tubuh kami terasa lebih nyata.
Kami berbaring di kursi lounge yang lebar — cukup untuk berdua kalau merapat, dan kami memang merapat. Tanganku menjelajahi punggungnya yang halus, ia membalas dengan menciumi leherku, membuatku menggeliat.
"Sinta," desahku.
"Ssst," katanya, menirukan nada bercandaku tadi? Tidak — ia serius, matanya menatapku dalam. "Jangan mikirin presentasi. Jangan mikirin apa-apa. Cuma kita."
Ia benar. Untuk pertama kalinya malam itu, otakku berhenti memutar slide presentasi. Yang ada hanya dia — aroma parfumnya yang lembut, desahan napasnya di telingaku, cara jari-jarinya mencengkeram bahuku saat aku menyentuh titik-titik yang membuatnya melengkungkan punggung.
Kami bercinta di sana, di rooftop yang sepi, dengan kota yang tidur di bawah kami. Pelan dan intens. Tidak ada ketergesaan — kami punya tiga puluh menit, dan kami menggunakannya dengan bijak.
Setiap gerakannya percaya diri. Ini bukan perempuan yang malu-malu atau ragu — ini perempuan dewasa yang tahu tubuhnya dan tidak takut memintaku melakukan apa yang ia mau.
"Di sini," bisiknya, menuntun tanganku. "Ya... begitu."
Aku menurut. Ia mendesah panjang, kepalanya terkulai ke belakang, rambutnya tergerai di sandaran kursi.
Saat ia mencapai puncaknya, ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan — takut suaranya terdengar sampai ke bawah — dan tubuhnya bergetar dalam pelukanku. Melihatnya seperti itu membuatku menyusul tak lama kemudian, dan kami terbaring diam, napas tersengal, menatap langit yang mulai sedikit memucat di ufuk timur.
"Jam berapa?" tanya Sinta pelan.
Aku melirik ponsel. "Setengah empat kurang."
Ia menghela napas. "Break-ku selesai jam tiga lewat."
"Kita telat."
"Telat lima belas menit untuk pertama kalinya dalam dua tahun." Ia tersenyum. "Worth it."
Kami berpakaian cepat — saling membantu merapikan, tertawa kecil saat aku memasang kancing kemejanya miring dan ia membetulkannya.
Di lift turun, ia bersandar di bahuku. "Dimas, ini nggak akan jadi masalah kan? Maksudku... aku kan karyawan di sini."
"Ini antara kita berdua," kataku. "Tidak ada yang perlu tahu."
Ia mengangguk, lalu mengecup pipiku cepat sebelum pintu lift terbuka.
Kembali di lobi, ia langsung ke balik meja resepsionis dengan wajah profesional — seolah lima belas menit terakhir tidak pernah terjadi. Hanya senyum tipis di sudut bibirnya yang mengkhianatinya saat aku lewat menuju lift.
"Selamat tidur, Pak Dimas," katanya formal.
"Selamat bertugas, Mbak Sinta," balasku sama formalnya.
Di kamar, aku akhirnya tidur — nyenyak, tanpa mimpi buruk soal server down.
Aku terbangun jam tujuh karena alarm. Presentasi jam sembilan berjalan lancar — tidak ada server yang down, tidak ada keringat dingin. Mungkin karena aku akhirnya tidur. Mungkin karena sesuatu yang lain.
Check-out jam dua belas. Sinta sudah tidak ada — shift-nya selesai jam tujuh pagi, digantikan resepsionis shift pagi yang tidak kukenal.
Tapi di meja resepsionis, diselipkan di bawah key card yang kukembalikan, ada selembar sticky note kecil.
"Tamu paling berkesan minggu ini. — S."
Di bawahnya, sebuah nomor telepon.
Aku menyimpan sticky note itu di dompet, di slot paling depan — tempat khusus untuk hal-hal yang tidak boleh hilang.
Di taksi menuju bandara, aku mengiriminya pesan: "Presentasinya lancar. Server tidak down. Kamu peramal yang buruk tapi penjaga dunia yang baik."
Balasannya masuk beberapa menit kemudian: "Selamat. Lain kali kalau susah tidur, jangan ke lobi. Langsung telepon aku saja."
Aku tersenyum menatap layar ponsel, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak sabar menunggu perjalanan dinas berikutnya ke Jakarta.