CERITA DEWASA

Istri Bos yang Kesepian

Namaku Rian, tiga puluh satu tahun, staf administrasi di sebuah perusahaan logistik di kawasan Sunter. Bosku, Pak Surya, lima puluh tahun, direktur utama yang super sibuk. Ia lebih sering di pesawat daripada di kantornya sendiri. Jakarta, Singapura, Surabaya, Makassar, kadang dalam seminggu semuanya dikunjungi.

Aku sudah tiga tahun kerja di bawahnya. Tugas-tugasku macam-macam, dari menyiapkan laporan sampai mengantar dokumen penting. Pak Surya orangnya baik, tapi pelit waktu. Kalau butuh tanda tangannya, kadang aku harus mengejarnya ke bandara.

Istrinya, Bu Lydia, tiga puluh tujuh tahun, kukenal sekilas. Pernah dua kali aku mengantar dokumen ke rumahnya di kawasan Pondok Indah. Ia cantik, elegan, selalu wangi. Kulitnya putih, rambutnya panjang dicat coklat, badannya langsing terawat. Tipikal sosialita yang hidupnya nyaman. Tapi ada yang aneh dari matanya. Sepi. Seperti lukisan mahal yang tergantung di dinding kosong.

Suatu Sabtu pagi, HPku berdering. Pak Surya.

"Rian, kamu bisa ke rumah saya sekarang? Ada dokumen tender yang harus saya tanda tangani. Saya berangkat ke Balikpapan jam dua siang."

"Siap, Pak. Saya bawa dokumennya."

Aku mengambil map dokumen dari kantor yang sepi, lalu meluncur ke Pondok Indah. Perjalanan empat puluh menit. Sampai di sana jam sepuluh pagi.

Satpam komplek membukakan gerbang. Rumah Pak Surya besar, dua lantai, halamannya luas dengan kolam ikan koi. Aku memarkir motorku di samping garasi, lalu menekan bel.

Pintu dibuka oleh Bu Lydia sendiri. Ia memakai daster sutra berwarna marun, rambutnya diikat asal, wajahnya tanpa makeup tapi tetap cantik.

"Rian? Ada apa?" tanyanya.

"Pagi, Bu. Pak Surya minta saya antar dokumen tender. Katanya mau ditandatangani sebelum berangkat ke Balikpapan."

Bu Lydia mengernyit. "Surya? Dia udah berangkat dari jam delapan tadi. Katanya penerbangannya dimajuin."

Jantungku mencelos. "Lho, tapi beliau baru telepon saya jam sembilan..."

"Dia memang gitu. Suka lupa." Bu Lydia menghela napas. "Ya udah, masuk dulu. Dokumennya taruh di meja kerja dia aja. Nanti saya telepon dia."

Aku masuk. Ruang tamunya luas dan dingin, ber-AC penuh. Sofa kulit, lukisan abstrak, vas bunga segar. Wangi melati dari pengharum ruangan.

"Minum apa?" tanya Bu Lydia dari dapur.

"Air putih aja, Bu."

Ia kembali membawa dua gelas. Satu untukku, satu untuk dirinya. Teh hangat, ternyata. Ia duduk di sofa seberangku, menyilangkan kaki. Daster sutranya tersingkap sedikit di paha. Aku buru-buru mengalihkan pandangan.

"Rian udah lama kerja sama Surya?" tanyanya.

"Tiga tahun, Bu."

"Enak kerja sama dia?"

Aku tertawa kecil. "Sibuk, Bu. Tapi gajinya lumayan."

"Dia memang gitu. Kerja, kerja, kerja." Bu Lydia menatap jendela. "Kadang aku lupa rasanya punya suami."

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Itu kalimat yang terlalu jujur untuk diucapkan ke staf suaminya.

"Maaf," katanya cepat. "Aku ngelantur."

"Nggak apa-apa, Bu."

Ia menelepon Pak Surya. Dari ekspresinya, aku tahu hasilnya tidak bagus.

"Nggak diangkat," katanya sambil menaruh HP. "Pasti udah boarding. Dokumennya nggak bisa ditandatangani hari ini."

"Waduh. Tendernya deadline Senin, Bu."

"Ya udah, Senin aja kamu kejar dia di kantor. Atau aku suruh dia tanda tangan digital." Ia bangkit. "Kamu mau langsung pulang?"

Aku mengangguk, tapi ia menahanku.

"Tunggu. Temenin aku sarapan dulu. Aku masak kebanyakan." Ia tersenyum. "Anggap aja lembur Sabtu."

Aku tidak enak menolak. Lagipula perutku memang lapar.

Kami sarapan di meja makan yang panjang. Nasi goreng, telur dadar, kerupuk. Masakan pembantunya, kata Bu Lydia. Pembantunya sendiri lagi pulang kampung, jadi rumah sebesar itu cuma dihuni Bu Lydia seorang.

"Sepi ya, Bu, rumah segede ini sendirian," kataku.

"Sepi banget." Ia memainkan sendoknya. "Anakku kuliah di Australia. Suamiku di pesawat terus. Aku di sini, sendirian, ngurusin kolam ikan."

"Kok nggak ikut Pak Surya aja kalau dinas?"

"Pernah. Bosen. Dia meeting terus, aku sendirian di hotel." Ia menatapku. "Rian, kamu udah nikah?"

"Belum, Bu."

"Pacar?"

"Baru putus."

"Kenapa?"

"Dia bilang aku terlalu sibuk kerja." Aku tertawa pahit. "Ironis ya. Bosku juga sibuk kerja."

Bu Lydia tertawa. Tawa yang renyah dan tulus, pertama kalinya kulihat pagi itu.

"Kamu lucu," katanya.

Setelah sarapan, aku menawarkan diri mencuci piring. Ia tertawa dan menolak, tapi aku tetap membantu membawakan piring kotor ke dapur. Di dapur yang luas dan mengkilap itu, kami berdiri berdampingan di depan wastafel. Bahunya menyentuh bahuku sekilas. Kami berdua diam, tapi ada sesuatu yang bergetar di udara.

Setelah sarapan, aku pamit. Tapi Bu Lydia memintaku melihat kolam ikannya. Katanya ada satu ikan koi yang sakit, dan ia tidak tahu harus bagaimana.

Kami berdiri di tepi kolam. Ikan-ikan koi berenang malas. Satu ikan berwarna oranye terlihat lesu di pojok.

"Aku nggak ngerti ikan, Bu," kataku jujur.

"Ya udah, temenin aja." Ia duduk di bangku batu tepi kolam. Aku duduk di sebelahnya.

Hening. Hanya suara gemericik air.

"Rian," katanya pelan. "Kamu tahu nggak, terakhir kali Surya ngajak aku ngobrol beneran itu kapan?"

Aku menggeleng.

"Tiga bulan lalu. Itu pun cuma lima menit, soal tagihan kartu kredit." Matanya berkaca-kaca. "Tiga puluh tahun nikah, dan aku ngerasa kayak pembantu yang digaji mahal. Ngurus rumah, ngurus anak, nungguin suami yang nggak pulang-pulang."

Tangannya gemetar memegang gelas teh. Aku, tanpa berpikir, menggenggam tangannya.

"Bu..."

Ia menatapku. Air matanya jatuh satu, lalu ia cepat-cepat menghapusnya.

"Maaf. Aku nggak seharusnya curhat ke kamu."

"Nggak apa-apa, Bu. Saya dengerin."

Kami duduk diam cukup lama. Tanganku masih menggenggam tangannya. Ia tidak melepaskannya.

"Lydia," kataku pelan, pertama kalinya memanggil namanya. "Panggil saya Rian aja kalau lagi nggak di kantor."

Ia tersenyum tipis. "Rian."

Entah siapa yang mulai. Mungkin aku yang mendekat, mungkin ia yang menoleh. Yang jelas, tiba-tiba bibir kami bertemu.

Ciuman itu pelan dan ragu. Bibirnya lembut, ada rasa teh hangat. Aku seharusnya berhenti. Ini istri bosku. Ini gila.

Tapi ia tidak berhenti. Malah tangannya meraih tengkukku dan menarikku lebih dalam.

Ciuman itu berubah jadi lapar. Lidahnya menyambut lidahku. Tangannya yang halus menjelajah rambutku. Daster sutranya licin di tanganku waktu aku melingkarkan tanganku di pinggangnya.

Kami berciuman di tepi kolam ikan, di halaman rumah sebesar istana, di Sabtu pagi yang seharusnya biasa saja.

"Ke dalam," bisiknya.

Ia menuntunku masuk, naik ke lantai dua, ke kamar tamu. Bukan kamar tidurnya dengan Pak Surya. Aku bersyukur untuk itu, sedikit.

Kamar tamu itu rapi dan wangi. Ranjang king size dengan sprei putih. Jendela besar menghadap taman.

Kami berdiri berhadapan. Napas kami memburu.

"Yakin?" tanyaku. Ini kesempatan terakhirnya untuk mundur. Kesempatan terakhirku juga.

Ia mengangguk. "Aku udah yakin dari tadi pagi, waktu kamu datang."

Aku mendekat dan menciumnya lagi. Kali ini tidak ada ragu. Tanganku membuka ikatan dasternya. Daster sutra itu melorot ke lantai dengan suara lembut.

Di bawahnya ia memakai lingerie hitam. Bra berenda, celana dalam berenda. Tubuh perempuan tiga puluh tujuh tahun yang terawat dengan baik. Langsing, kulit mulus, dada penuh dan kencang.

Aku menatapnya, tidak bisa berkata-kata.

"Jangan diliatin," bisiknya malu.

"Kamu cantik banget, Lydia."

Aku memeluknya. Kulitnya hangat dan halus. Wangi parfum mahalnya memenuhi hidungku. Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya. Ia mendesah dan menyandarkan kepalanya.

Tanganku membuka pengait branya. Dadanya yang ranum menyambutku. Aku menciuminya dengan perlahan, menikmati setiap detiknya. Ia menjambak rambutku pelan.

Celana dalam berendanya kulepas. Celanaku dilepasnya. Kami telanjang di kamar tamu yang mewah itu, dan untuk sesaat kami hanya saling menatap. Dua orang dewasa yang sama-sama kesepian dengan caranya masing-masing.

Aku membaringkannya di ranjang. Sprei putih berantakan di bawah tubuhnya yang putih mulus. Rambut coklatnya tergerai di bantal. Ia terlihat seperti dewi.

Aku menciumi seluruh tubuhnya. Leher, dada, perut, paha. Setiap ciuman disambut desahan. Tangannya tidak diam, menjelajah punggungku, lenganku.

Waktu aku akhirnya masuk, ia melenguh panjang dan memelukku erat. Hangat, lembut, dalam. Kami berdua terdiam sesaat, saling merasakan.

Lalu kami bergerak. Pelan dulu, ritmis, intim. Tidak terburu-buru. Seperti kami punya seluruh waktu di dunia. Tangannya mengelus wajahku. Matanya menatap mataku dalam-dalam.

"Aku kangen ini," bisiknya. "Kangen disentuh. Kangen diinginkan."

Aku mencium keningnya sambil terus bergerak. Dadaku sesak melihatnya seperti itu. Perempuan cantik, kaya, tapi begitu haus akan perhatian.

Pelan-pelan ritme kami bertambah cepat. Ia mulai mengerang. Pinggulnya bergerak mengimbangi setiap gerakanku. Kukunya mencakar punggungku pelan.

"Jangan berhenti," desahnya. "Tolong, jangan berhenti."

Aku tidak berhenti. Aku terus bergerak sampai tubuhnya menegang dan bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku. Aku menyusul beberapa detik kemudian, meledak dengan erangan panjang.

Kami terbaring diam cukup lama. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya.

"Maaf," bisiknya.

"Jangan minta maaf," kataku. "Kita berdua yang mau."

Ia mengangguk pelan. "Aku nggak nyesel. Cuma takut."

"Takut apa?"

"Kalau Surya tahu."

"Dia nggak akan tahu."

Kami berpakaian kembali. Ia merapikan dasternya, aku merapikan kemejaku. Tidak ada kecanggungan, hanya keheningan yang hangat.

Sebelum aku pulang, ia memelukku lama di depan pintu.

"Makasih, Rian. Untuk hari ini. Untuk dengerin aku."

"Sama-sama, Lydia."

Aku pulang dengan dokumen yang belum ditandatangani dan hati yang campur aduk. Senin pagi Pak Surya menandatangani dokumen itu di kantor seperti tidak terjadi apa-apa. Ia bahkan tidak ingat kalau ia meneleponku Sabtu pagi.

Hidup berjalan normal. Aku tetap stafnya yang rajin. Ia tetap bosku yang sibuk.

Tapi setiap kali Pak Surya dinas luar kota, yang hampir tiap minggu, HPku bergetar. Pesan dari nomor yang kusimpan dengan nama samaran.

"Rian, ke rumah. Dokumen perlu diantar."

Tidak pernah ada dokumen. Yang ada cuma Lydia, daster sutranya, dan kesepian yang untuk sesaat bisa kami obati bersama.

Aku tahu ini salah. Aku tahu ini bisa menghancurkan karierku kalau ketahuan.

Tapi setiap kali aku melihat matanya yang tidak lagi sepi, aku tahu aku akan datang lagi.

Selalu.

bagikan