"Woi, Aji! Gila, udah berapa tahun kita nggak ketemu!"
Pelukan Dedi itu keras sampai tulang punggungku berderit. Lobi restoran itu ramai, tapi tawa kami berdua mengalahkan semuanya. Delapan tahun. Delapan tahun sejak kami sama-sama resign dari kantor konsultan tempat kami pertama kali bertemu.
"Delapan tahun, Bro," kataku sambil menepuk bahunya. "Kamu makin gendut."
"Kamu makin tua." Ia tertawa, lalu menoleh ke perempuan cantik di sebelahnya. "Kenalin, ini istriku. Nina."
Nina tersenyum dan mengulurkan tangan. Cantik. Itu kesan pertamaku. Kulitnya putih bersih, rambutnya panjang tergerai, badannya ramping dengan lekuk yang pas. Umurnya mungkin awal tiga puluhan. Ia mengenakan dress hitam sederhana yang justru membuatnya terlihat elegan.
"Hai, Aji. Dedi sering cerita soal kamu," katanya. Suaranya lembut.
"Yang baik-baik kan?" tanyaku sambil menjabat tangannya. Tangannya halus dan hangat.
"Tergantung definisi baik menurut kamu."
Kami tertawa. Pelayan mengantar kami ke meja yang sudah dipesan Dedi, di sudut yang agak privat.
Aku dan Dedi dulu satu tim di kantor konsultan. Kami sama-sama resign tahun 2018, ia pindah ke perusahaan multinasional, aku banting setir jadi wiraswasta, buka usaha kuliner yang sekarang lumayan jalan. Kami sempat intens kontak dua tahun pertama, lalu perlahan renggang seperti biasa. Sampai minggu lalu Dedi menelepon, mengajak makan malam. Katanya kangen.
"Jadi gimana usaha kulinermu?" tanya Dedi setelah kami memesan.
"Lumayan. Udah tiga cabang. Kamu? Masih di perusahaan yang sama?"
"Masih. Udah jadi senior manager sekarang. Gaji oke, tapi... ya gitu. Meeting melulu."
Nina mendengarkan sambil tersenyum. Sesekali ia menimpali, dan aku sadar ia cerdas. Obrolannya nyambung, tidak cuma angguk-angguk.
"Kamu kerja apa, Nina?" tanyaku.
"Aku di bank. Bagian kredit korporat."
"Wah, cocok sama Dedi. Sama-sama korporat."
"Iya. Ketemunya juga di acara kantor." Nina melirik suaminya dengan sayang. "Dia yang ngejar-ngejar aku tiga bulan."
"Heh, jangan buka kartu dong," protes Dedi.
Makan malam berjalan hangat. Kami nostalgia soal kantor lama, soal bos yang galak, soal lembur sampai subuh. Nina tertawa mendengar cerita Dedi yang dulu pernah ketiduran di toilet kantor.
"Serius?" tanya Nina tidak percaya.
"Serius," kataku. "Security yang bangunin. Dia sampai dikira gelandangan."
Dedi menutupi wajahnya. "Udah, udah. Malu."
Di tengah tawa itu, ponsel Dedi berdering. Ia melihat layarnya, dan senyumnya langsung hilang.
"Sebentar ya." Ia mengangkat telepon dan berjalan menjauh dari meja.
Aku dan Nina saling pandang. Suasana mendadak canggung, hanya berdua.
"Maaf ya," kata Nina. "Dia memang gitu. Kerjaan nomor satu."
"Nggak apa-apa. Udah biasa kayaknya."
"Iya. Udah biasa." Ada nada getir di suaranya.
Dedi kembali lima menit kemudian. Wajahnya tegang.
"Guys, maaf banget. Ada masalah di kantor. Server down, dan aku yang pegang aksesnya. Aku harus ke kantor sekarang."
"Ya ampun, padahal baru mulai seru," kataku.
"Aku tahu. Maaf banget, Ji." Dedi menoleh ke istrinya. "Sayang, kamu... ikut aku? Atau pulang sendiri?"
Nina melirikku, lalu tersenyum. "Aku di sini aja. Ngobrol sama Aji. Udah lama nggak ketemu teman lamamu, kasihan kalau ditinggal."
"Yakin?"
"Yakin. Hati-hati di jalan."
Dedi memelukku sekilas. "Nanti kita atur lagi. Yang beneran."
"Siap."
Dedi pergi dengan tergesa. Tinggalah aku dan Nina, berdua di meja restoran yang tadinya untuk bertiga.
"Maaf ya, jadi awkward," kata Nina.
"Nggak awkward kok. Malah enak, bisa ngobrol santai."
Pelayan datang membersihkan piring Dedi. Kami memesan dessert dan kopi.
"Jadi," kataku. "Gimana rasanya jadi istri workaholic?"
Nina tertawa. "Capek. Tapi ya udah pilihan."
"Kalian nikah berapa tahun?"
"Enam tahun." Ia mengaduk kopinya. "Awalnya dia nggak segila ini. Makin naik jabatan, makin gila."
"Kamu nggak protes?"
"Pernah. Berantem malah. Lama-lama aku capek berantem." Ia menatapku. "Kamu sendiri? Nikah?"
"Belum. Masih betah sendiri."
"Enak ya. Bebas."
"Kadang. Kadang juga sepi."
Kami mengobrol terus. Soal kerjaan, soal usaha kulinerku, soal bank tempat ia kerja. Ternyata kami punya banyak kesamaan. Sama-sama suka film horor, sama-sama benci macet, sama-sama punya mimpi buka usaha sendiri suatu hari.
"Aku sebenarnya pengen resign dan buka butik," kata Nina. "Tapi Dedi nggak setuju. Katanya sayang gaji."
"Padahal gaji butik bisa lebih gede kalau jalan."
"Nah itu. Dia nggak pernah dengerin."
Semakin lama mengobrol, semakin aku sadar betapa menyenangkannya Nina. Cantik, cerdas, lucu. Dan ada sesuatu di caranya menatapku. Perhatian yang lebih dari sekadar sopan.
"Aji," katanya tiba-tiba. "Boleh aku jujur?"
"Boleh."
"Dedi sering cerita soal kamu. Dari dulu, waktu kami masih pacaran." Ia menatapku lurus. "Katanya kamu yang paling berani resign. Katanya kamu yang paling punya nyali."
"Itu Dedi lebay."
"Mungkin. Tapi aku jadi penasaran sama kamu." Ia tersenyum tipis. "Dan sekarang ketemu langsung... ternyata beneran menarik."
Jantungku berdegup. Ini istri teman lamaku. Aku tidak boleh salah langkah.
"Nina..."
"Aku tahu. Aku istri Dedi." Matanya berkaca-kaca. "Tapi boleh nggak, sekali ini aja, aku jujur sama perasaanku sendiri?"
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Dedi itu suami yang baik. Tanggung jawab, setia, nggak neko-neko." Suaranya bergetar. "Tapi aku ngerasa kayak... kayak aku nikah sama pekerjaannya, bukan sama dia. Pagi dia udah pergi, malem dia pulang tinggal tidur. Weekend juga sering lembur."
Aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya di atas meja. Ia tidak menariknya.
"Aku ngerti," kataku pelan.
"Kamu ngerti. Dedi nggak pernah ngerti." Setetes air mata jatuh di pipinya. Ia cepat-cepat menghapusnya sambil tertawa kecil. "Ih, malu. Masa nangis di restoran."
"Nggak apa-apa."
Kami duduk diam. Tanganku masih menggenggam tangannya. Restoran mulai sepi. Pelayan melirik jam.
"Mau pindah?" tanyaku. "Masih pengen ngobrol."
"Ke mana?"
"Ada kafe 24 jam dekat sini. Tenang."
Ia mengangguk.
Kafe itu sepi. Kami duduk di sudut, memesan teh hangat. Obrolan berlanjut, makin personal. Nina cerita soal kesepiannya, soal malam-malam ia tidur sendirian karena Dedi lembur, soal ia kadang nangis diam-diam di kamar mandi.
"Aku jahat ya?" tanyanya. "Punya suami baik tapi nggak bersyukur."
"Kamu nggak jahat. Kamu manusia."
Ia menatapku lama. Lalu, pelan-pelan, ia menggeser duduknya lebih dekat. Bahunya menyentuh bahuku.
"Aji," bisiknya. "Aku boleh minta sesuatu?"
"Apa?"
"Peluk aku. Sekali aja. Aku udah lama nggak dipeluk."
Dadaku sesak. Aku membuka lenganku, dan ia masuk ke pelukanku. Tubuhnya hangat dan gemetar pelan. Aku bisa mencium wangi parfumnya, floral yang lembut. Rambutnya halus menyentuh daguku.
Kami berpelukan cukup lama. Tidak ada yang bicara. Hanya napas yang saling terdengar.
Lalu ia mengangkat wajahnya. Wajah kami hanya beberapa senti berjarak. Matanya menatap bibirku, lalu kembali ke mataku. Pertanyaan yang tidak diucapkan.
Aku seharusnya mundur. Ini istri Dedi. Teman lamaku. Orang yang memelukku di lobi restoran dua jam lalu.
Tapi aku tidak mundur.
Aku menciumnya. Pelan dulu. Ia membalas dengan lembut, lalu makin dalam. Bibirnya manis, ada rasa lipstik vanilla. Tangannya mencengkeram kemejaku.
Kami berciuman di sudut kafe yang sepi itu, dan dunia seakan berhenti. Tidak ada Dedi, tidak ada kantor, tidak ada server down. Hanya kami berdua.
"Nina," bisikku di sela ciuman. "Kita nggak seharusnya..."
"Aku tahu." Ia menciumku lagi, lebih dalam. "Tapi aku nggak mau berhenti."
Tanganku yang tadinya ragu di pinggangnya, kini memeluknya erat. Tubuhnya ramping tapi berisi di tempat yang tepat. Dress hitamnya licin di tanganku.
"Ke tempatku?" bisikku. Apartemenku tidak jauh dari kafe itu.
Ia mengangguk tanpa ragu.
Perjalanan lima menit ke apartemenku terasa seperti selamanya. Di taksi kami duduk rapat, tangannya menggenggam tanganku erat. Tidak ada yang bicara. Tidak perlu.
Di apartemen, begitu pintu tertutup, ia langsung memelukku dan menciumku dengan ganas. Seolah semua yang ditahan selama enam tahun pernikahan meledak malam ini.
Kami berciuman sambil berjalan ke kamar. Pakaian berjatuhan di lantai. Kemejaku, dress hitamnya. Ia memakai lingerie merah marun. Aku tertegun.
"Kamu siapin ini?" tanyaku.
Ia tersenyum malu. "Aku selalu pakai yang bagus. Berharap Dedi notice. Dia nggak pernah notice."
Dadaku perih mendengarnya. Aku memeluknya erat.
"Malam ini aku notice," bisikku. "Semuanya."
Aku membaringkannya di ranjang. Dalam cahaya lampu kamar yang temaram, tubuhnya terlihat sempurna. Kulit putih mulus, lekuk indah, rambut panjang tergerai di bantal.
Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya. Ia mendesah dan melengkungkan punggungnya. Tangannya menyusup ke rambutku.
Lingerie itu kulepas perlahan. Ia membiarkanku, menatapku dengan mata berkilat. Tidak ada ragu lagi di sana. Hanya keinginan yang murni.
Kami bercinta malam itu dengan lambat dan dalam. Bukan nafsu yang meledak-ledak, tapi sesuatu yang lebih dalam. Kerinduan. Dua orang dewasa yang sama-sama kesepian, menemukan satu sama lain di malam yang tidak direncanakan.
Setiap sentuhan terasa bermakna. Setiap ciuman terasa jujur. Ia memelukku erat seolah takut aku hilang. Aku membisikkan namanya berulang-ulang.
Waktu ia mencapai puncaknya, ia menangis. Bukan tangis sedih. Tangis lega. Aku memeluknya sampai tubuhnya tenang kembali.
"Kamu kenapa?" tanyaku lembut.
"Nggak apa-apa. Aku cuma... udah lama nggak ngerasain ini. Diperhatiin. Disentuh dengan sayang."
Aku mengecup keningnya. "Kamu pantas diperhatiin."
Kami terbaring diam cukup lama. Jam dinding menunjukkan hampir jam dua pagi.
"Aku harus pulang," katanya akhirnya.
"Aku antar."
Di perjalanan pulang, kami tidak banyak bicara. Tangannya menggenggam tanganku. Di depan rumahnya, ia mencium pipiku lama.
"Makasih, Aji. Untuk malam ini."
"Nina..."
"Jangan ngomong apa-apa." Ia tersenyum, tapi matanya sedih. "Biarin malam ini jadi milik kita aja."
Ia masuk ke rumahnya. Aku menatap sampai lampu teras mati.
Seminggu kemudian Dedi meneleponku. Mengajak makan malam lagi, katanya mau nebus yang kemarin.
Aku mengiyakan. Tentu saja aku mengiyakan.
Malam itu kami makan bertiga lagi. Dedi bercerita soal server yang akhirnya beres jam empat pagi. Nina tertawa di bagian yang lucu. Aku tertawa juga.
Tidak ada yang berubah di permukaan. Kami bertiga seperti biasa. Teman lama dan istrinya.
Tapi setiap kali mata kami bertemu di atas meja, ada kilat yang hanya kami berdua yang mengerti.
Dan setiap kali Dedi pamit ke toilet atau mengangkat telepon, tangan Nina menyentuh tanganku di bawah meja. Sekilas. Cukup untuk membuat jantungku berdegup kencang.
Rahasia kami. Rahasia yang manis dan pahit di saat yang sama.
Aku tidak tahu sampai kapan ini bertahan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Dedi tahu.
Yang aku tahu, malam itu di lobi restoran, waktu Dedi memelukku dan tertawa, aku tidak pernah menyangka pelukan reuni itu akan membawaku ke sini.
Hidup memang penuh kejutan. Dan beberapa kejutan, sebaiknya tidak pernah terjadi.
Tapi kalau boleh jujur, aku tidak menyesal. Tidak sedikit pun.
