Kardus ketiga terasa paling berat. Tangga kos itu sempit, catnya mengelupas, dan setiap anak tangga berderit seperti protes. Aku berhenti di bordes, napas memburu, keringat membasahi kaosku.
"Mas, bawa sini aja. Kamarnya di atas, nomor tujuh."
Suara perempuan dari atas tangga. Aku mendongak. Seorang perempuan berdiri di ujung tangga, tangan di pinggang, tersenyum. Rambutnya disanggul asal, dasternya sederhana tapi rapi. Cantik, dengan cara yang matang dan percaya diri.
Aku mengangkat kardus itu lagi dan menaiki sisa tangga. Sampai di atas, ia mengulurkan tangan.
"Selamat datang. Aku Hesti, yang punya kos ini."
"Farhan, Bu."
"Bu? Aku tiga puluh lima, Mas. Panggil Mbak aja."
Aku tertawa canggung. "Siap, Mbak Hesti."
Begitulah perkenalan pertamaku dengan ibu kos baruku. Aku dua puluh sembilan tahun, baru sebulan diterima kerja di sebuah perusahaan logistik di kota ini. Sebelumnya aku tinggal di kampung, dan ini pertama kalinya aku merantau. Kos adalah pilihan paling masuk akal untuk bujangan sepertiku.
Kos Mbak Hesti tidak besar. Dua lantai, empat belas kamar, semuanya terisi kecuali kamarku. Bangunannya tua tapi terawat. Halaman depan ada pohon mangga yang rindang. Di teras lantai atas ada jemuran dan beberapa pot tanaman.
Mbak Hesti tinggal di kamar nomor satu, lantai bawah, dekat pintu masuk. Ia mengurus semuanya sendiri. Tagihan listrik, air, kebersihan lorong, sampai komplain anak kos yang ribut. Suaminya menceraikannya empat tahun lalu, katanya, dan sejak itu ia menghidupi dirinya dari kos ini.
"Anak kos di sini rata-rata karyawan," katanya waktu mengantarku ke kamar nomor tujuh. "Ada yang shift malam, ada yang pulang larut. Yang penting jangan bawa cewek nginep. Itu aturan nomor satu."
"Siap, Mbak."
"Nomor dua, bayar kos tanggal satu. Telat tiga hari aku kunci kamar."
Aku menelan ludah. "Siap."
Ia tertawa. "Santai. Aku galak cuma di omongan."
Kamar nomor tujuh kecil tapi bersih. Kasur, lemari, meja belajar, kipas angin. Jendelanya menghadap ke gang. Cukup untukku.
Minggu-minggu pertama berjalan normal. Aku berangkat kerja jam tujuh pagi, pulang jam enam sore. Makan di warteg dekat kos. Tidur jam sepuluh. Hidup perantau yang sederhana.
Tapi lama-lama aku menyadari sesuatu. Mbak Hesti memperhatikanku. Bukan dalam artian mengawasi, tapi peduli. Kalau aku pulang lembur, ia bertanya sudah makan atau belum. Kalau jemuranku kehujanan, ia mengangkatkannya. Pernah suatu malam aku demam, ia membawakanku bubur dan obat.
"Makan, biar cepet sembuh," katanya sambil menaruh nampan di mejaku.
"Mbak, ngerepotin."
"Anak kosku ya tanggung jawabku."
Aku mulai membalas kebaikannya dengan cara kecil. Kalau galon air di dispenser lorong habis, aku yang mengangkat gantinya. Kalau lampu teras mati, aku yang mengganti bohlamnya. Kalau jemuran Mbak Hesti terlalu berat, aku yang membantu mengangkatnya.
"Wah, Mas Farhan bisa diandalkan ya," goda salah satu anak kos, Dodi, waktu melihatku mengangkat galon.
"Daripada nganggur," kataku.
Mbak Hesti sering memasak lebih dan mengajakku makan. "Aku masak kebanyakan. Daripada basi, temenin makan."
Masakannya enak. Sayur lodeh, ayam goreng, sambal terasi. Rasa rumahan yang sudah lama tidak kurasakan sejak merantau. Kami makan berdua di dapur umumnya, sambil ngobrol soal kerjaan, soal kampung halamanku, soal hidupnya.
"Kangen kampung?" tanyanya suatu malam.
"Kangen. Tapi ya mau gimana, cari makan."
"Dulu aku juga merantau. Ikut suami ke Kalimantan. Pulang-pulang malah janda." Ia tertawa, tapi ada getir di sana. "Untung kos ini peninggalan bapakku. Kalau enggak, enggak tahu aku jadi apa."
"Hebat, Mbak. Ngurus kos sendirian."
"Terpaksa hebat." Ia menatapku. "Kamu juga hebat. Umur dua puluh sembilan berani merantau sendirian."
Kami makin akrab. Kadang malam-malam aku duduk di teras lantai atas sambil main HP, dan ia ikut duduk sambil menyiram tanaman. Obrolan kami mengalir. Soal film, soal harga cabai, soal anak kos yang bandel.
Suatu Jumat malam, hujan turun deras sejak sore. Aku pulang kerja basah kuyup. Baru saja aku ganti baju dan rebahan, tiba-tiba lampu mati. Sekos gelap gulita.
"Mati lampu!" terdengar teriakan dari beberapa kamar.
Aku keluar kamar dengan HP sebagai senter. Di lorong sudah ada beberapa anak kos berkumpul, bingung. Mbak Hesti muncul dari bawah dengan dua lilin besar.
"Udah biasa kalau hujan gede," katanya tenang. "Trafo dekat sini sering anjlok."
Ia membagikan lilin ke tiap kamar. Giliranku, ia mampir ke kamarku.
"Mas Farhan, mau ke teras? Anginnya enak."
Aku mengangguk. Kami naik ke teras lantai atas dengan satu lilin. Hujan masih turun, tapi sudah reda. Udara dingin dan segar. Dari teras terlihat lampu-lampu kota yang sebagian mati, sebagian menyala.
Kami duduk di kursi plastik, berdampingan. Lilin di antara kami bergoyang tertiup angin.
"Enak ya," gumam Mbak Hesti.
"Iya. Adem."
"Kalau mati lampu gini aku malah seneng. Jadi inget zaman kecil di kampung. Belum ada listrik, tiap malam pakai lampu tempel."
Aku tersenyum. Dalam cahaya lilin, wajahnya terlihat lembut. Tidak segalak biasanya. Rambutnya yang disanggul mulai terurai, beberapa helai jatuh ke pipinya.
"Mbak cantik kalau rambutnya digerai," kataku spontan.
Ia menoleh, terkejut. Lalu tertawa. "Mas Farhan bisa aja."
"Serius."
Ia tidak menjawab. Hanya menatapku. Cahaya lilin menari di matanya. Ada sesuatu di tatapan itu yang membuat jantungku berdegup lebih kencang.
"Mbak," kataku pelan.
"Hm?"
"Sejak cerai, Mbak nggak pernah... sendiri terus?"
Ia menghela napas panjang. "Pernah ada yang deketin. Tapi ya gitu, kebanyakan maunya yang aneh-aneh. Aku capek."
"Aneh-aneh gimana?"
"Ya tahu sendiri." Ia memainkan ujung dasternya. "Aku janda, Mas. Di mata sebagian laki-laki, janda itu gampang."
Aku menggeleng. "Nggak semua."
"Kamu?" Ia menatapku lurus. "Kamu nganggep aku gimana?"
Pertanyaan itu menusuk. Aku menatapnya balik. Perempuan tiga puluh lima tahun yang cantik, mandiri, baik hati. Yang membawakanku bubur waktu aku demam. Yang tertawa renyah waktu aku cerita soal kerjaan.
"Aku nganggep Mbak perempuan hebat," kataku jujur. "Dan... cantik."
Ia tersenyum tipis. "Hati-hati ngomong gitu ke janda, Mas."
"Kenapa?"
"Karena janda juga manusia. Bisa baper."
Kami tertawa kecil. Tapi tawa itu pelan-pelan meredup, berganti keheningan yang berat. Hanya suara hujan rintik dan lilin yang berderak.
Tangannya ada di armrest kursi, dekat tanganku. Jari kami bersentuhan. Tidak ada yang menjauh.
"Mbak," bisikku.
"Hm?"
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya. Ia menatap tangan kami, lalu menatapku.
"Mas Farhan," katanya pelan. "Kamu tahu ini nggak bener, kan? Aku ibu kosmu."
"Aku tahu."
"Tapi?"
"Tapi aku nggak mau pura-pura."
Ia diam lama. Lalu, perlahan, ia menggenggam tanganku balik. Erat.
Lilin hampir habis. Hujan sudah berhenti total. Di bawah sana anak-anak kos sudah kembali ke kamar masing-masing, mengira listrik akan segera menyala.
"Masuk," bisik Mbak Hesti tiba-tiba.
"Ke mana?"
"Kamarku."
Jantungku berdegup kencang. Aku mengangguk. Ia mengambil lilin yang tersisa dan menuntunku turun ke lantai bawah, ke kamar nomor satu.
Kamarnya lebih besar dari kamarku. Rapi, wangi melati. Ada foto-foto lama di dinding. Ia menutup pintu dan menguncinya. Klik.
Kami berdiri berhadapan dalam cahaya lilin yang temaram. Ia menatapku, aku menatapnya. Tidak ada lagi ibu kos dan anak kos. Yang ada hanya perempuan dan laki-laki.
"Aku udah lama nggak gini," bisiknya.
"Aku juga... maksudnya, aku nggak berpengalaman banget."
Ia tertawa kecil. "Jujur amat."
"Kan Mbak suka yang jujur."
Ia mendekat dan menciumku. Pelan dulu, seperti mengetes. Bibirnya hangat dan lembut. Tangannya naik ke tengkukku.
Aku membalas. Ciuman itu makin dalam. Ada rasa teh manis di bibirnya. Tubuhnya yang selama ini tertutup daster longgar ternyata berisi dan hangat. Tanganku melingkar di pinggangnya, menariknya merapat.
Daster itu tipis. Aku bisa merasakan setiap lekuknya. Dadanya yang penuh menekan dadaku. Napasnya memburu di leherku.
"Mas," desahnya.
Ia menuntunku ke ranjangnya. Sprei bermotif bunga, bantal dua. Ia duduk di tepi ranjang dan menarikku ikut duduk. Lalu ia mulai membuka kancing dasternya, satu per satu, tanpa melepaskan tatapannya dariku.
Aku menahan napas. Di balik daster itu, ia hanya memakai bra dan celana dalam berwarna marun. Tubuh perempuan tiga puluh lima tahun yang terawat. Kulitnya mulus, dadanya penuh, pinggulnya berisi.
"Masih berani?" godanya.
Aku tidak menjawab. Aku malah mendekat dan menciumnya lagi, lebih lapar. Tanganku membuka pengait branya. Ia mendesah lega.
Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya. Ia melengkungkan punggungnya, tangannya menjambak rambutku. Putingnya sudah mengeras sebelum aku menyentuhnya.
Kami berbaring di ranjang. Pakaianku ditanggalkannya dengan cepat, tidak sabar. Dasternya sudah terlepas entah kapan. Kami telanjang berhadapan dalam temaram lilin, dan untuk sesaat kami hanya saling menatap.
"Kamu bagus," bisiknya sambil menatap tubuhku.
"Mbak juga. Cantik banget."
Aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya untukku. Waktu aku masuk, ia melenguh panjang dan memelukku erat. Hangat, basah, sempurna.
Kami bergerak perlahan. Sangat perlahan. Seperti tidak mau malam ini berakhir. Setiap gerakan disambut desahan kecil darinya. Tangannya mengelus punggungku, kukunya sesekali menancap pelan.
Lilin makin pendek. Bayangan kami menari di dinding.
"Jangan pelan-pelan terus," bisiknya. "Aku kuat."
Aku mempercepat gerakanku. Ranjang berderit pelan. Napas kami memburu. Keringat mulai membasahi tubuh kami.
Ia mengerang makin keras. Pinggulnya bergerak liar mengimbangi setiap tusukanku. Tangannya mencengkeram sepraiku.
"Aku mau..." katanya terputus-putus.
"Ya, Mbak. Lepasin."
Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku. Aku menyusul beberapa detik kemudian, meledak di dalamnya dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam cukup lama. Lilin padam sendiri. Kamar jadi gelap total, hanya cahaya remang dari jendela.
Listrik menyala kembali. Lampu kamar menyala terang, membuat kami berdua menyipitkan mata.
Mbak Hesti tertawa kecil. "Pas banget."
Aku tertawa juga. Kami berbaring berdampingan, telanjang di bawah lampu yang terang benderang, dan anehnya tidak ada rasa malu. Hanya ada kelegaan.
"Nyesel?" tanyanya tiba-tiba.
Aku menoleh. "Enggak. Mbak?"
"Enggak juga." Ia mengecup pipiku. "Tapi ini rahasia. Anak kos nggak boleh tahu ibu kosnya begini."
"Rahasia."
Sejak malam itu, ada ritual baru di kos itu. Setiap kali hujan deras dan lampu mati, aku tahu ke mana harus pergi. Dan setiap kali Mbak Hesti memasak lebih, aku tahu itu bukan cuma karena kebanyakan.
Anak-anak kos tidak pernah tahu. Yang mereka tahu, Mbak Hesti tetap galak soal bayar kos tanggal satu, tetap melarang bawa cewek nginep, tetap tegas.
Mereka tidak tahu, aturan nomor satu itu sekarang ada pengecualiannya. Satu orang. Yang kamarnya nomor tujuh.
Dan setiap malam, waktu aku naik tangga sempit itu menuju kamarku, aku selalu ingat hari pertama. Kardus berat, tangga berderit, dan perempuan yang menyambutku di atas dengan senyum.
Siapa sangka, sambutan itu adalah awal dari semuanya.
