Namaku Agus, tiga puluh empat tahun, karyawan bagian gudang di sebuah perusahaan logistik. Hidupku biasa saja sampai seminggu lalu, waktu badanku panas tinggi dan dokter memvonis DBD. Trombositku anjlok, dan aku harus dirawat inap. Empat hari, kata dokter. Empat hari yang ternyata mengubah banyak hal.
Aku ditempatkan di bangsal lantai dua, kamar berisi dua ranjang. Ranjang sebelah kosong, jadi aku sendirian. Sepi. Yang menemani cuma bunyi infus menetes dan sesekali langkah suster di lorong.
Suster jaga malam di bangsalku bernama Dewi. Umurnya tiga puluh tahun, belum menikah. Rambutnya panjang, selalu dikuncir rapi di balik topi suster. Wajahnya manis, matanya teduh, senyumnya menenangkan. Kalau ia masuk kamar untuk cek infus atau tensi, suasana kamar yang pengap mendadak jadi hangat.
"Malam, Pak Agus," sapanya malam pertama. "Saya cek tensinya ya."
"Pak? Aku kan masih muda, Sus," godaku.
Ia tertawa. "Ya udah, Mas Agus."
Sejak itu ia memanggilku Mas Agus. Dan aku memanggilnya Suster Dewi, atau kadang cuma Dewi kalau ia tidak keberatan.
Malam-malam di rumah sakit itu panjang. Aku tidak bisa tidur. Badanku lemas, tapi pikiranku melayang ke mana-mana. Untungnya Dewi rajin keliling. Setiap dua jam ia mampir, cek infus, cek tensi, kadang cuma nanya aku butuh apa.
"Masih melek, Mas?" tanyanya jam dua dini hari, waktu ia masuk dengan nampan obat.
"Nggak bisa tidur, Sus."
"Biasa. Pasien DBD memang gitu. Badannya capek, otaknya nggak mau diem." Ia duduk di kursi sebelah ranjangku. "Mau ngobrol? Saya masih lama kelilingnya."
Kami ngobrol. Soal kerjaanku, soal keluargaku di kampung, soal kenapa aku belum nikah di umur tiga puluh empat. Ia tertawa waktu aku bilang aku terlalu sibuk kerja sampai lupa cari jodoh.
"Sama," katanya. "Saya juga. Shift malam terus, kapan ketemu orang?"
"Emang nggak ada yang deketin?"
"Ada sih. Tapi denger saya suster shift malam, pada mundur. Katanya nggak ada waktu buat pacaran." Ia tersenyum, tapi ada getir di sana. "Padahal ya... saya juga manusia. Pengen juga diperhatiin."
Aku menatapnya. Dalam cahaya lampu kamar yang redup, ia terlihat cantik sekaligus lelah. Lelah yang bukan cuma soal fisik.
Hari kedua dan ketiga berlalu. Kondisiku membaik. Trombosit naik, demam turun. Dokter bilang kalau besok bagus, lusa aku boleh pulang.
Tapi aku tidak mau pulang. Bukan karena betah di rumah sakit, tentu saja. Tapi karena Dewi.
Setiap malam aku menunggunya datang. Menunggu suaranya yang lembut, tawanya yang renyah, caranya menepuk bahuku waktu pamit. Aku mulai pura-pura masih lemas waktu dokter visite pagi, biar rawat inapku tidak dipercepat. Dokternya sampai heran kenapa trombositku bagus tapi badanku masih lunglai.
"Mas Agus, kok kayaknya males sembuh?" goda Dewi suatu malam.
Aku nyengir. "Rumah sakitnya enak. Susternya ramah."
Ia mencubit lenganku pelan. "Gombal."
"Tapi bener."
Malam ketiga ia datang membawa dua bungkus nasi goreng dari kantin. "Saya belum makan. Temenin ya?"
Kami makan nasi goreng di kamar rawat inap jam dua dini hari, seperti dua orang yang lagi piknik tengah malam. Ia cerita soal adiknya yang kuliah keperawatan juga, soal ibunya yang tiap telepon selalu nanya kapan ia nikah.
"Ibu saya sampai mau ngenalin sama anak temennya," katanya sambil tertawa. "Umur empat puluh, duda, punya bengkel."
"Terus?"
"Ya nggak mau lah. Masa dijodohin." Ia menatapku sambil mengunyah. "Saya pengennya ketemu sendiri. Yang klik. Yang bikin nyaman."
"Kayak gimana?"
Ia tidak menjawab. Hanya tersenyum dan menatapku lama. Senyum yang membuat dadaku hangat.
Malam itu aku tidak bisa tidur sampai subuh. Bukan karena DBD. Tapi karena senyum itu terus terngiang.
Ia menatapku, lalu buru-buru menoleh. Pipi memerah. Aku tahu ia juga merasakan sesuatu. Sesuatu yang tumbuh pelan di antara cek infus dan cek tensi, di antara obrolan jam dua dini hari.
Malam keempat, malam terakhirku. Besok pagi aku pulang. Hujan turun deras sejak sore. Lorong rumah sakit sepi. Pasien lain tidur. Hanya bunyi hujan dan sesekali petir jauh.
Dewi masuk jam satu dini hari. Ia tidak membawa nampan obat. Ia hanya duduk di kursi sebelah ranjangku, seperti biasa, tapi malam ini ia terlihat lebih lelah dari biasanya.
"Capek, Sus?" tanyaku.
"Banget, Mas." Ia menyandarkan kepalanya ke dinding. "Tadi ada pasien baru masuk, anak kecil DBD juga. Nangis terus. Ibunya panik."
"Kamu hebat. Sabar banget."
Ia tersenyum tipis. "Kadang saya mikir, saya ngurusin orang terus, tapi siapa yang ngurusin saya?"
Aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya. Ia tidak menariknya. Tangannya dingin.
"Dewi," kataku pelan. "Besok aku pulang."
"Iya." Suaranya kecil. "Trombositmu udah normal."
"Aku nggak mau pulang."
Ia menoleh. Matanya berkaca-kaca. "Jangan ngomong gitu, Mas."
"Kenapa?"
"Karena aku juga nggak mau kamu pulang."
Keheningan. Hanya bunyi hujan di luar jendela. Jantungku berdegup kencang.
Aku bangkit dari ranjang. Infusku sudah dilepas sore tadi, jadi aku bebas bergerak. Aku duduk di kursi di sebelahnya, berhadapan. Lutut kami bersentuhan.
"Dewi," bisikku. "Aku tahu ini gila. Kamu suster, aku pasien. Tapi empat malam ini... aku nggak pernah ngerasa senyaman ini sama orang."
Ia menatapku lama. Lalu, pelan-pelan, ia mengangguk.
"Aku juga," bisiknya.
Aku mendekat dan menciumnya. Pelan, ragu, memberi kesempatan untuk mundur. Ia tidak mundur. Bibirnya yang lembut menyambutku. Tangannya naik ke tengkukku.
Ciuman itu makin dalam. Ada rasa lelah dan rindu di sana. Rindu yang sudah lama dipendam oleh perempuan yang selalu memberi tapi jarang menerima.
Tanganku melingkar di pinggangnya. Seragam susternya yang kaku tidak mengurangi kehangatan tubuhnya. Aku bisa merasakan dadanya yang penuh menekan dadaku.
"Mas," desahnya di sela ciuman. "Jangan di sini. Ada kamera di lorong."
Ia berdiri, masih menggenggam tanganku, dan menuntunku keluar kamar. Lorong sepi. Ia membawaku ke ujung lorong, ke sebuah ruangan kecil bertuliskan "Ruang Istirahat Perawat". Ia membuka pintunya dengan kunci yang ia pegang.
Di dalam ada sofa panjang, meja kecil, dispenser, dan loker-loker. Lampu dimatikannya, hanya menyisakan cahaya redup dari lampu lorong yang masuk lewat ventilasi.
Pintu dikuncinya. Klik.
Kami berdiri berhadapan dalam temaram. Napasnya memburu. Aku bisa mencium wangi antiseptik yang bercampur parfum lembut dari tubuhnya. Aroma yang aneh tapi memabukkan.
"Yakin?" tanyaku.
Ia mengangguk, lalu mulai membuka kancing seragamnya sendiri. Satu per satu. Aku menatapnya, tidak berkedip. Seragam putih itu melorot, menyisakan ia dalam balutan kaos dalam putih dan rok seragam.
Tubuhnya indah. Tidak terlalu tinggi, proporsional, kulitnya bersih. Dadanya penuh dan kencang di balik kaos dalamnya.
Aku mendekat dan memeluknya. Ia menyandarkan kepalanya di dadaku. Kami berdiri begitu cukup lama, hanya berpelukan, mendengarkan hujan dan detak jantung masing-masing.
Lalu aku menciumnya lagi. Kali ini lebih berani. Tanganku menyusup ke balik kaos dalamnya, merasakan kulit punggungnya yang halus. Ia mendesah dan melengkungkan tubuhnya ke arahku.
Kaos dalamnya kulepas. Ia memakai bra putih sederhana. Aku membuka pengaitnya dengan jari yang sedikit gemetar. Dadanya yang ranum menyambutku.
"Dewi, kamu cantik banget," bisikku.
"Jangan ngomong," bisiknya. "Peluk aku aja."
Aku membaringkannya di sofa panjang. Ia menatapku dari bawah, rambutnya yang terlepas dari kunciran tergerai di bantal sofa. Dalam cahaya redup, ia terlihat seperti bidadari yang kelelahan.
Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya. Ia mendesah panjang dan menjambak rambutku. Setiap ciuman disambut lenguhan kecil.
Rok seragamnya kulepas. Celanaku dilepasnya. Kami telanjang di ruang istirahat perawat yang sempit itu, dan dunia luar tidak ada lagi. Tidak ada rumah sakit, tidak ada pasien, tidak ada shift malam. Hanya kami berdua.
Aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya untukku, mengundangku masuk. Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, sempit, sempurna.
Kami bergerak pelan. Sangat pelan. Seperti tidak mau malam ini berakhir. Tangannya mengelus wajahku. Matanya menatapku dalam-dalam, berkaca-kaca.
"Aku nggak mau ini berakhir," bisiknya.
"Jangan dipikir," bisikku. "Nikmatin aja."
Ritme kami bertambah cepat. Sofa berderit pelan. Napas kami memburu. Keringat mulai membasahi tubuh kami. Di luar hujan masih turun deras, menutupi semua suara.
Ia mulai mengerang. Pinggulnya bergerak liar mengimbangi setiap gerakanku. Kukunya mencakar punggungku.
"Mas... aku mau..." katanya terputus-putus.
"Ya, sayang. Lepasin."
Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku. Gelombang itu menjalar ke tubuhku, dan beberapa detik kemudian aku meledak bersamanya dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam di sofa yang sempit itu, berkeringat dan terengah-engah, dalam pelukan satu sama lain. Tangannya menggambar pola acak di dadaku.
"Gila ya kita," bisiknya sambil tertawa kecil.
"Gila yang enak."
Ia mengangkat wajahnya menatapku. "Besok kamu pulang."
"Iya."
"Terus kita gimana?"
Aku mengecup keningnya. "Kita tukeran nomor. Kamu shift malam, aku bisa mampir. Atau... kamu libur kapan? Kita jalan."
Ia tersenyum. Senyum yang paling lepas yang pernah kulihat darinya. "Bener ya?"
"Bener."
Kami berpakaian kembali dengan cepat. Ia merapikan seragamnya, menguncir rambutnya lagi, memastikan tidak ada yang aneh. Aku kembali ke kamarku sebelum ada yang sadar.
Pagi harinya aku pulang. Dokter menandatangani surat pulang. Perawat shift pagi mengurus administrasinya. Dewi sudah pulang, shiftnya selesai jam tujuh.
Tapi di meja samping ranjangku ada catatan kecil.
"Mas Agus, makasih buat empat malamnya. Jangan lupa janji jalan-jalannya. - Dewi"
Di bawahnya ada nomor HP.
Aku tersenyum lebar sampai perawat shift pagi menatapku heran.
Seminggu kemudian kami jalan. Nonton, makan, ngobrol sampai mal tutup. Sebulan kemudian kami resmi pacaran. Tiga bulan kemudian aku melamarnya.
Sekarang, setiap kali aku demam sedikit, Dewi selalu bilang hal yang sama.
"Mau dirawat lagi, Mas? Biar ketemu susternya."
Aku selalu menjawab sama.
"Nggak usah dirawat. Susternya udah jadi istriku."
Dan ia selalu tertawa. Tawa yang dulu menemaniku di malam-malam panjang di bangsal lantai dua, yang sekarang menemaniku setiap malam di rumah kami.
Empat hari dirawat karena DBD. Siapa sangka, itu empat hari terbaik dalam hidupku.
