CERITA DEWASA

Kasir Apotek Shift Malam

Pukul setengah dua dini hari, papan salib hijau di atas ruko itu masih menyala terang, satu-satunya cahaya yang hidup di sepanjang jalan yang sudah mati. Hujan rintik-rintik membasahi aspal. Pintu kaca apotek berembun dari dalam, dan di baliknya terlihat sosok perempuan berkerudung krem sedang menunduk memainkan ponsel di meja kasir.

Reza mendorong pintu. Bel kecil di atasnya berdenting.

"Selamat malam," sapa perempuan itu sambil mendongak. Senyumnya ramah, matanya sedikit mengantuk tapi hangat.

"Malam, Mbak. Ada obat maag?"

"Antasida cair atau tablet, Mas?"

"Yang cair aja."

Perempuan itu bangkit dan mengambil sebotol obat dari rak. Name tag di dadanya bertuliskan Dinda. Umurnya kelihatannya akhir dua puluhan. Wajahnya manis, pipinya sedikit tembam, dan ada tahi lalat kecil di bawah bibirnya.

"Seratus dua puluh lima ribu," katanya. "Maagnya kambuh ya, Mas? Jam segini masih melek."

"Lembur, Mbak. Deadline numpuk."

Reza membayar. Dinda memasukkan obat ke kantong plastik sambil tersenyum.

"Jangan lupa makan, Mas. Obat maag tanpa makan ya percuma."

"Iya, Mbak. Makasih."

Reza keluar membawa obatnya. Di luar hujan makin deras. Ia berlari kecil ke motornya yang terparkir di depan ruko.

Itu pertemuan pertama Reza dengan Dinda. Umur Reza tiga puluh tahun, karyawan di sebuah perusahaan logistik yang jam kerjanya tidak kenal ampun. Lembur sampai tengah malam sudah jadi makanan sehari-hari. Dan apotek 24 jam di ujung jalan itu jadi tempat persinggahannya.

Seminggu kemudian Reza mampir lagi. Kali ini beli vitamin dan kopi sachet.

"Lembur lagi, Mas?" sapa Dinda. Ia ternyata hafal wajah Reza.

"Iya. Kayaknya aku lebih sering ketemu Mbak daripada ketemu kasurku sendiri."

Dinda tertawa. Tawanya renyah. "Sama. Aku juga lebih sering ketemu rak obat daripada ketemu bantal."

"Shift malam terus?"

"Iya. Udah dua tahun. Gajinya lumayan, jadi betah."

Sejak itu mereka jadi akrab. Reza mampir hampir tiap minggu, kadang cuma beli air mineral atau permen, sekadar alasan untuk ngobrol lima menit. Dinda selalu menyambutnya dengan senyum. Di jam-jam sepi itu, kehadiran pelanggan yang ramah terasa seperti hiburan.

Reza tahu Dinda berumur dua puluh delapan tahun, karyawan tetap apotek itu, belum menikah tapi sudah bertunangan. Tunangannya kerja di luar kota, jarang pulang. Dinda cerita itu sambil tertawa, tapi Reza menangkap ada getir di tawanya.

Suatu malam Jumat, hujan turun sangat deras. Petir menyambar-nyambar. Reza lembur sampai jam satu, perutnya perih lagi. Ia mampir ke apotek seperti biasa.

Kali ini apotek benar-benar sepi. Tidak ada pelanggan lain. Dinda duduk di meja kasir dengan wajah murung. Matanya sembap.

"Mbak Dinda kenapa?" tanya Reza sambil meletakkan sebotol air mineral di meja.

Dinda menatapnya, lalu menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Mas."

"Bohong. Matanya bengkak gitu."

Dinda terdiam. Lalu tiba-tiba air matanya jatuh. Ia buru-buru menghapusnya dengan tisu.

"Maaf," katanya. "Lagi sensitif."

Reza duduk di kursi tunggu dekat kasir. "Cerita aja kalau mau. Aku dengerin."

Dinda menatapnya lama, lalu menghela napas panjang.

"Tunanganku selingkuh, Mas."

Reza tertegun. "Serius?"

"Temenku ngirim foto. Dia jalan sama perempuan lain di mall. Mesra banget." Suaranya bergetar. "Padahal bulan depan kami mau fitting baju nikah."

"Ya ampun."

"Aku telepon dia, dia nggak ngaku. Malah marah-marah, bilang aku posesif." Dinda tertawa pahit. "Lucu ya. Yang selingkuh dia, yang disalahin aku."

Reza tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya duduk diam, mendengarkan.

"Maaf ya, Mas. Malah curhat ke pelanggan."

"Nggak apa-apa. Aku juga sering curhat ke Mbak soal kerjaan."

Dinda tersenyum tipis. "Iya juga ya."

Hujan di luar makin deras. Jam menunjukkan pukul dua. Tidak ada tanda-tanda pelanggan akan datang.

"Mas Reza nggak pulang?" tanya Dinda.

"Di luar hujan gede. Nunggu reda sekalian nemenin Mbak. Kasian sendirian."

Dinda menatapnya. Ada sesuatu di tatapannya yang berubah. Bukan lagi tatapan kasir ke pelanggan. Tapi tatapan perempuan yang lelah dan akhirnya menemukan bahu untuk bersandar.

"Mas baik banget," bisiknya.

Mereka mengobrol sampai hampir jam tiga. Soal tunangan Dinda yang brengsek, soal kerjaan Reza yang tidak ada habisnya, soal mimpi-mimpi kecil yang belum kesampaian. Dinda cerita ia dulu pengen jadi apoteker, tapi tidak punya biaya kuliah farmasi. Jadi ia jadi kasir saja, sambil kursus singkat.

"Kamu pinter, Din," kata Reza. Pertama kalinya ia memanggil tanpa embel-embel Mbak, dan Dinda tidak protes.

"Pinter apa. Pinter jaga toko."

"Pinter bikin orang betah."

Dinda menatapnya. Lama. Hujan di luar mulai reda, tinggal rintik-rintik. Lampu neon apotek berdengung pelan.

"Mas," kata Dinda pelan. "Boleh aku jujur?"

"Boleh."

"Aku capek jadi perempuan yang selalu nunggu. Nunggu tunangan pulang, nunggu dia berubah, nunggu dia jujur." Matanya berkaca-kaca lagi. "Malam ini aku nggak mau nunggu apa-apa. Aku mau... aku mau ngerasain dipilih. Sekali aja."

Dada Reza sesak. Ia berdiri dan menghampiri meja kasir. Dinda juga berdiri. Mereka berhadapan, hanya dipisahkan meja sempit.

Dinda mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Reza. Sentuhannya lembut dan dingin.

"Aku tahu ini gila," bisiknya. "Kita baru kenal tiga bulan. Kamu pelangganku. Tapi aku... aku nggak mau mikir malam ini."

Reza menggenggam tangannya. "Aku juga nggak mau mikir."

Ia membungkuk dan mencium Dinda. Pelan dulu, memberi ruang untuk mundur. Dinda tidak mundur. Malah tangannya yang satu lagi meraih tengkuk Reza dan menariknya lebih dekat.

Ciuman itu makin dalam. Bibir Dinda manis, ada rasa mint dari permen yang tadi ia makan. Tubuhnya yang mungil merapat ke tubuh Reza. Reza bisa merasakan jantungnya berdegup kencang.

Tangan Reza turun ke pinggang Dinda. Seragam apotek yang ia kenakan, kemeja putih dan celana hitam, tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya yang indah.

"Din," bisik Reza di sela ciuman. "Di sini?"

Dinda menggeleng sambil tersenyum tipis. "Jangan di depan. Ada CCTV."

Ia menuntun Reza ke ruang belakang. Gudang kecil berisi stok obat, dengan satu sofa tua untuk istirahat karyawan. Pintu ditutupnya dan dikunci dari dalam.

Di ruangan sempit yang berbau kardus dan disinfektan itu, mereka saling menatap dengan napas memburu.

"Yakin?" tanya Reza.

Dinda mengangguk. "Jangan tanya lagi."

Reza mendekat dan menciumnya lagi, kali ini lebih berani. Tangannya membuka kancing kemeja seragam Dinda satu per satu. Di baliknya, bra berwarna biru muda. Dadanya yang selama ini tersembunyi di balik seragam longgar ternyata penuh dan ranum.

"Cantik," bisik Reza.

Dinda tersipu, tapi tidak menutupi dirinya. Malah ia mulai membuka kancing kemeja Reza juga. Tangannya sedikit gemetar, tapi gerakannya mantap.

Mereka saling menanggalkan pakaian di gudang apotek yang sempit itu. Kemeja, celana, semuanya tergeletak di lantai berdebu. Tersisa pakaian dalam saja, lalu tidak ada lagi.

Tubuh Dinda indah. Kulitnya putih bersih, mungkin karena jarang kena matahari akibat shift malam terus. Dadanya penuh, pinggangnya ramping, kakinya jenjang.

Reza membaringkannya di sofa tua itu. Sofa berderit pelan. Dinda menatapnya dari bawah, rambutnya yang tadi rapi sekarang tergerai berantakan. Cantik sekali.

Reza menciumi lehernya, turun ke dadanya. Dinda mendesah dan melengkungkan punggungnya. Tangannya menjambak rambut Reza.

"Mas," desahnya.

Tangan Reza turun, menyusuri perutnya yang rata, menemukan tempat yang sudah basah dan siap. Dinda mengangkat pinggulnya, tidak sabar.

Reza naik ke atasnya. Dinda membuka kakinya lebar untuknya. Waktu Reza masuk, mereka berdua mendesah bersamaan. Hangat, sempit, sempurna.

Mereka bergerak pelan dulu. Ritmis, mengikuti desah napas. Tangan Dinda mengelus punggung Reza. Kakinya melingkar di pinggangnya.

"Jangan pelan-pelan, Mas," bisik Dinda.

Reza mempercepat gerakannya. Sofa tua itu berderit makin keras. Napas mereka memburu. Keringat mulai membasahi tubuh mereka. Bau disinfektan bercampur bau tubuh, aneh tapi memabukkan.

Dinda mendesah makin keras. Ia harus menggigit bibirnya sendiri untuk meredam suara. Tangannya mencakar punggung Reza.

"Aku mau, Mas. Aku mau," katanya terputus-putus.

Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahu Reza. Gelombang itu menjalar ke tubuh Reza, dan beberapa detik kemudian Reza meledak bersamanya dengan erangan panjang.

Mereka terbaring diam di sofa sempit itu, berkeringat dan terengah-engah. Kepala Dinda di dada Reza. Tangan Reza mengelus rambutnya.

"Maaf," bisik Dinda tiba-tiba.

"Buat apa?"

"Aku... aku masih tunangan orang."

"Tunangan yang selingkuh," kata Reza pelan. "Kamu nggak salah, Din."

Dinda mengangguk pelan. "Aku nggak nyesel. Cuma takut."

"Takut apa?"

"Takut ini cuma pelarian. Takut besok aku nyesel."

Reza mengecup keningnya. "Kalau besok kamu nyesel, aku terima. Tapi malam ini, aku seneng bisa bikin kamu nggak nangis."

Dinda menatapnya dengan mata berkaca-kaca, lalu tersenyum. Senyum yang tulus, bukan senyum kasir.

Mereka berpakaian kembali. Dinda merapikan seragamnya, Reza merapikan kemejanya. Jam menunjukkan pukul setengah empat. Shift Dinda selesai jam lima.

Sebelum Reza pulang, Dinda menyelipkan sesuatu ke kantong jaketnya. Sebotol vitamin.

"Buat jaga stamina lembur," katanya sambil mengedip.

Reza tertawa. "Makasih, Sus... eh, Mbak kasir."

"Dinda aja."

Sejak malam itu, Reza jadi pelanggan yang lebih dari pelanggan. Ia masih mampir beli obat atau sekadar beli air mineral. Tapi sekarang, kalau apotek sepi dan hujan turun, pintu gudang belakang kadang terkunci dari dalam cukup lama.

Dinda akhirnya memutuskan tunangannya dua minggu kemudian. Ia bilang ke Reza, malam itu memberinya keberanian. Keberanian untuk tidak lagi menunggu orang yang tidak menghargainya.

Reza tidak tahu hubungan mereka akan dibawa ke mana. Tidak ada yang dibicarakan soal status, soal masa depan. Yang ada hanya malam-malam sepi di apotek 24 jam, papan salib hijau yang menyala, dan dua orang dewasa yang saling menemukan di jam-jam paling sunyi.

Dan setiap kali Reza lewat depan apotek itu, bahkan siang hari saat Dinda tidak shift, ia tersenyum sendiri.

Karena ia tahu, di balik pintu kaca berembun itu, ada seseorang yang selalu menunggunya. Bukan sebagai pelanggan. Tapi sebagai sesuatu yang lebih.

Sesuatu yang tidak perlu nama, tidak perlu janji, cukup dua pasang mata yang saling mengerti setiap kali bel kecil di atas pintu itu berdenting tengah malam.

bagikan