Deru molen beton menggetarkan tanah. Debu beterbangan di udara sore yang panas, menempel di kulit yang berkeringat. Dari arah kantin di ujung proyek, aroma kopi robusta tercium, bercampur bau nasi dan tumisan. Itulah jam empat sore di proyek perumahan Griya Asri, tempatku menghabiskan sebelas bulan terakhir.
Namaku Samsul. Tiga puluh dua tahun, insinyur sipil, pengawas lapangan proyek ini. Setiap hari aku berkutat dengan gambar kerja, adukan semen, dan tukang-tukang yang kadang perlu diteriaki baru jalan. Pekerjaan keras, tapi aku menikmatinya.
Di proyek ini ada satu hal yang membuat siang hari jadi menyenangkan. Kantin proyek. Bukan kantin mewah, cuma bedeng kayu dengan meja panjang dan bangku-bangku plastik. Tapi masakannya enak, porsinya banyak, dan yang mengelolanya adalah Bu Nur.
Bu Nur, tiga puluh lima tahun, istri Pak Darman, mandor utama proyek ini. Badannya semampai, kulitnya kuning langsat, wajahnya manis dengan senyum yang tidak pernah hilang. Rambutnya selalu disanggul rapi, pakaiannya daster batik yang bersih meski ia bekerja di tengah debu proyek.
"Mas Samsul, makannya tambah?" tawarnya setiap siang, sambil menyendokkan sayur lodeh ke piringku tanpa menunggu jawaban.
"Bu Nur tahu aja aku laper," kataku.
"Kerja di lapangan gini kalau nggak makan banyak, ambruk."
Pak Darman, suaminya, jarang terlihat di kantin. Ia mandor yang sibuk, mondar-mandir antara tiga titik proyek yang berbeda. Pagi di blok A, siang di blok C, sore entah di mana. Bu Nur sering sendirian mengelola kantin dibantu satu asisten.
Suatu siang truk material datang terlambat dan tukang-tukang ribut soal jadwal. Aku turun tangan menengahi, suara sampai serak. Siang itu aku makan paling akhir, nasi sudah dingin. Bu Nur diam-diam memanaskan laukku di wajan dan menyeduhkan teh manis panas.
"Mas Samsul jangan sampai sakit," katanya sambil menaruh teh di depanku. "Proyek ini butuh Mas."
"Butuh teh manisnya Bu Nur juga," kataku sambil tersenyum.
Ia tertawa, tapi ada yang aneh di tawanya. Seperti ada yang ingin dikatakan tapi ditahan.
Sore itu aku melihatnya duduk sendirian di depan kantin yang sudah tutup, menatap alat berat yang terparkir. Punggungnya terlihat kecil di tengah proyek yang luas. Aku ingin menghampiri, tapi ponselku berdering. Gambar revisi dari konsultan. Momen itu lewat.
Aku sering lembur. Sebagai pengawas, aku harus memastikan gambar kerja besok pagi siap. Jadi hampir tiap malam aku duduk di bedeng kantor, menggambar dan menghitung di bawah lampu neon yang redup.
Dan hampir tiap malam, Bu Nur datang membawakan kopi.
"Mas Samsul belum pulang?" tanyanya suatu malam, menaruh cangkir kopi panas di mejaku.
"Gambar blok D belum beres, Bu. Besok pagi tukang udah nunggu."
Ia duduk di kursi seberangku. "Saya temenin. Lagian di kantin juga sepi, udah tutup."
Sejak malam itu jadi kebiasaan. Aku menggambar, ia duduk menemaniku. Kadang ia menyulam, kadang cuma main HP. Tapi kehadirannya membuat bedeng yang pengap jadi lebih hangat.
Kami mengobrol. Awalnya soal proyek, soal tukang yang malas, soal material yang telat. Lama-lama soal yang lebih personal.
"Pak Darman pulang jam berapa biasanya?" tanyaku suatu malam.
Ia tertawa kecil. "Pulang? Kadang jam sepuluh, kadang jam sebelas. Sampai rumah langsung tidur. Pagi jam lima udah berangkat lagi."
"Capek ya jadi istri mandor."
"Capeknya sih enggak, Mas. Saya udah biasa dari dulu. Cuma..." Ia berhenti, menatap cangkir kopinya. "Kadang saya ngerasa kayak janda padahal suami masih ada."
Aku menatapnya. Ada lelah di matanya yang tidak pernah kulihat siang hari.
"Maaf, curhat," katanya cepat.
"Nggak apa-apa, Bu."
"Bu Nur aja. Panggil Nur."
Aku mengangguk. "Nur."
Malam-malam berikutnya obrolan kami makin dalam. Ia cerita, dulu waktu baru nikah, Pak Darman romantis. Sering membawakan bunga, sering mengajak jalan. Tapi sejak jadi mandor dan megang banyak proyek, semuanya berubah. Yang ada cuma kerja, kerja, kerja.
"Saya ngerti dia cari nafkah," katanya. "Tapi kadang saya pengen ditanya, kamu capek nggak? Kamu seneng nggak? Sekadar ditanya gitu aja."
Suatu malam ia datang dengan mata sembap. Aku tidak bertanya kenapa. Aku hanya menyeduhkan teh untuknya, bukan kopi, dan duduk diam menemaninya. Setelah lama diam ia bercerita, tadi siang ia dan Darman bertengkar lewat telepon. Soal sepele, soal uang belanja yang telat ditransfer. Tapi yang menyakitkan bukan uangnya. Melainkan nada suara Darman yang seperti bicara dengan bawahan, bukan dengan istri.
"Saya cuma minta didengerin, Mas," katanya dengan suara bergetar. "Bukan dimarahin."
Malam itu aku hanya menggenggam tangannya lama. Tidak ada kata-kata yang cukup. Tapi genggaman itu sepertinya cukup, karena ia tersenyum untuk pertama kalinya malam itu.
Dadaku sesak mendengarnya. Aku tahu rasanya diabaikan. Mantan pacarku dulu juga begitu, terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sampai lupa aku ada.
Suatu malam hujan turun deras. Proyek sepi total, tukang-tukang sudah pulang. Hanya aku dan Nur di bedeng kantor. Lampu neon berkedip-kedip karena tegangan turun.
"Kayaknya bakal mati lampu," kata Nur sambil menatap lampu.
Benar saja, lima menit kemudian gelap total. Hanya suara hujan yang menghantam atap seng bedeng.
"Tunggu, saya ambil lilin di kantin," kata Nur.
"Jangan, gelap. Biar saya yang ambil senter di laci."
Aku meraba laci meja dan menemukan senter kecil. Cahayanya temaram menerangi ruangan. Dalam cahaya itu, Nur terlihat berbeda. Lebih lembut. Lebih... perempuan.
Kami duduk berhadapan dalam temaram. Hujan di luar makin deras. Dunia seakan menyusut tinggal bedeng kecil ini.
"Mas Samsul," kata Nur pelan. "Boleh saya jujur?"
"Boleh."
"Saya seneng tiap malam nemenin Mas di sini. Ini waktu paling enak dalam sehari saya."
Aku menatapnya. Jantungku berdegup kencang.
"Nur..."
"Jangan ngomong dulu. Dengerin." Ia menggenggam tanganku yang ada di meja. Tangannya hangat, sedikit kasar karena kerja, tapi lembut. "Saya tahu ini salah. Mas tahu saya istri orang. Tapi saya udah lama nggak ngerasa diperhatiin kayak gini. Mas nanya saya capek atau enggak. Mas dengerin cerita saya. Suami saya sendiri nggak pernah."
Aku tidak menarik tanganku. Malah menggenggam balik.
"Aku juga seneng ditemenin, Nur," kataku pelan.
Ia berdiri, masih menggenggam tanganku, dan menarikku berdiri. Kami berhadapan dalam cahaya senter yang temaram. Aku bisa mencium aroma kopinya, bercampur wangi bedak dan keringat yang samar.
"Aku capek jadi istri yang sabar terus," bisiknya.
Aku mendekat dan menciumnya. Pelan dulu, memberi ruang untuk mundur.
Ia tidak mundur. Bibirnya yang manis menyambutku. Tangannya melingkar di leherku. Ciuman itu makin dalam, makin lapar. Ada rasa kopi di bibirnya.
Tanganku turun ke pinggangnya. Daster batiknya tipis. Aku bisa merasakan tubuhnya yang hangat dan berisi. Ia mendesah di mulutku.
Kami pindah ke sudut bedeng, ke dipan kayu tempat tukang biasa istirahat siang. Kasurnya tipis beralas tikar pandan. Nur membaringkan diri, lalu menarikku ke atasnya.
Dalam temaram senter, ia terlihat cantik sekali. Sanggulnya terlepas, rambut panjangnya tergerai di tikar. Daster batiknya tersingkap sampai paha.
Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya. Ia mendesah dan menjambak rambutku. Tangannya terampil membuka kancing kemejaku.
"Nur, kamu yakin?" tanyaku di sela ciuman.
Ia mengangguk. "Jangan tanya lagi. Aku udah mikir tiap malam."
Daster batiknya kulepas. Di bawahnya ia memakai tank top dan celana pendek. Tubuhnya indah. Tidak langsing seperti model, tapi berisi dan proporsional. Kulitnya mulus, dadanya penuh.
Aku menciumi seluruh tubuhnya. Setiap ciuman disambut desahan. Ia menggeliat di bawahku, tidak sabar.
Waktu aku akhirnya masuk, ia melenguh panjang dan memelukku erat. Hangat, dalam, sempurna. Kami bergerak pelan dulu, saling merasakan. Hujan di atap seng menjadi musik latar kami.
Pelan-pelan ritme kami bertambah cepat. Dipan kayu berderit. Napas kami memburu. Keringat bercampur meski malam dingin karena hujan.
"Jangan berhenti," bisiknya. "Jangan pernah berhenti."
Aku tidak berhenti. Aku terus bergerak sampai tubuhnya menegang dan bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku. Aku menyusul beberapa detik kemudian dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam cukup lama. Hanya suara hujan yang mulai reda. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya yang basah keringat.
"Maaf," bisiknya tiba-tiba.
"Buat apa?"
"Aku istri Darman."
"Kita berdua yang mau, Nur."
Ia mengangguk pelan. "Aku nggak nyesel. Cuma takut."
"Rahasia kita."
Hujan berhenti. Lampu menyala kembali dengan bunyi klik. Kami berpakaian cepat. Nur menyanggul rambutnya kembali, merapikan dasternya. Tidak ada yang berubah di permukaan.
Sebelum pulang, ia membuatkanku kopi satu cangkir lagi. Seperti biasa. Tapi kali ini, waktu menyerahkannya, jarinya menyentuh jariku sedikit lebih lama.
"Makasih udah nemenin," katanya sambil tersenyum.
Sejak malam itu, lembur jadi hal yang kutunggu-tunggu. Bukan karena gambar kerja, tapi karena kopi jam sembilan malam yang selalu datang dengan senyum.
Kadang Nur datang lebih awal, jam delapan, dengan alasan mengantar gorengan pisang sisa kantin. Kami makan berdua di bedeng sambil tertawa kecil, seperti dua anak sekolah yang menyembunyikan sesuatu. Kadang ia hanya duduk menatapku bekerja, dagunya bertopang tangan, dan aku bisa merasakan tatapannya tanpa menoleh.
Pernah suatu malam Pak Darman menelepon saat kami sedang berdua. Nur mematikan suara teleponnya dan meletakkannya terbalik di meja. "Biarin," bisiknya. "Sekali-sekali aku yang nggak bisa dihubungi."
Kami tertawa pelan, lalu berciuman dalam gelap bedeng yang hanya diterangi lampu neon redup. Jantungku berdegup kencang setiap kali ada suara langkah di luar, tapi langkah itu tidak pernah datang.
Pak Darman tidak pernah tahu. Tukang-tukang tidak pernah tahu. Proyek berjalan seperti biasa. Blok demi blok selesai dibangun.
Yang mereka tahu, kantin Bu Nur masakannya enak dan Mas Samsul pengawas yang rajin lembur.
Mereka tidak tahu, ada rahasia di bedeng kantor setiap malam. Rahasia antara deru molen yang sudah berhenti, debu yang sudah mengendap, dan aroma kopi yang tidak pernah hilang.
Dan setiap kali proyek ini selesai, aku tahu aku akan merindukannya. Bukan proyeknya. Tapi perempuan yang membuat setiap lembur terasa seperti pulang.
