CERITA DEWASA

Mantan Pacar Istriku

Namaku Bimo, tiga puluh lima tahun, karyawan di sebuah perusahaan logistik. Istriku Sinta, tiga puluh tiga tahun, bekerja sebagai admin di sebuah klinik. Kami menikah lima tahun, hidup rukun, meski belum dikaruniai anak.

Sinta punya mantan pacar bernama Doni. Umurnya tiga puluh enam, setahun lebih tua dariku. Mereka pacaran waktu kuliah, putus baik-baik karena beda kota setelah lulus. Sinta tidak pernah menutupi soal Doni. Ia cerita semuanya di awal pernikahan kami, dan aku menghargai kejujurannya.

"Aku nggak cemburu," kataku waktu itu. "Itu masa lalu."

Dan aku memang tidak cemburu. Sampai Doni muncul lagi.

Suatu Selasa sore, Sinta meneleponku di kantor. Suaranya heboh.

"Mas, Doni ada di Jakarta. Urusan bisnis, seminggu di sini. Dia ngajak kita makan malam besok."

Aku terdiam sesaat. "Mantanmu itu?"

"Iya. Dia udah tunangan sekarang. Namanya Laras. Katanya mau kenalin ke kita."

Aku menghela napas lega. Kalau Doni datang dengan tunangannya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. "Ya udah. Jam berapa?"

"Jam tujuh, di restoran Jepang daerah Senopati."

Rabu malam kami datang tepat waktu. Doni sudah menunggu di lobi restoran. Ia tinggi, rapi, dengan senyum pede khas orang sales. Di sebelahnya berdiri seorang perempuan cantik. Tinggi semampai, rambut panjang lurus, dress hitam sederhana yang elegan.

"Bimo, Sinta," sapa Doni sambil menjabat tanganku erat. "Kenalin, ini Laras, tunanganku."

Laras tersenyum dan menjabat tanganku. "Halo, Mas Bimo. Sinta sering cerita soal kamu."

"Yang baik-baik aja kan?" candaku.

"Katanya kamu suami siaga," katanya sambil tertawa. Tawanya renyah.

Kami masuk dan duduk. Obrolan mengalir. Doni cerita soal bisnisnya, distributor sparepart mesin, yang sekarang ekspansi ke Jakarta. Laras kerja sebagai desainer interior, freelance. Sinta dan Doni bernostalgia soal masa kuliah, dan aku tidak merasa tersisih. Justru suasananya hangat.

Laras ternyata asyik diajak ngobrol. Cerdas, lucu, tidak jaim. Beberapa kali mataku tanpa sadar berhenti padanya lebih lama dari seharusnya. Ia memang cantik. Cantik yang dewasa, bukan cantik manja.

Di tengah makan malam, ponsel Sinta berdering. Ia melihat layar, lalu wajahnya berubah.

"Halo, Bu? Iya. Hah? Ya ampun." Ia menutup telepon dan menatap kami dengan panik. "Maaf, aku harus pergi. Ibuku jatuh di kamar mandi. Tetangga yang bawa ke klinik."

"Ya ampun, serius?" tanyaku.

"Kata tetangga sih sadar, tapi harus diobservasi. Aku harus ke sana sekarang."

"Aku ikut," kataku sambil berdiri.

"Nggak usah. Kamu temenin Doni sama Laras. Nanti aku kabarin." Ia mencium pipiku sekilas, pamit pada Doni dan Laras, lalu pergi tergesa-gesa.

Tinggalah kami bertiga. Suasana jadi sedikit canggung.

"Semoga ibunya nggak apa-apa," kata Doni.

"Amin," sahutku dan Laras bersamaan.

Kami melanjutkan makan, tapi obrolan tidak selancar tadi. Doni beberapa kali mengecek ponselnya, sepertinya ada urusan bisnis yang mendesak.

"Maaf ya," katanya akhirnya. "Ada masalah di gudang Surabaya. Aku harus telepon orang dulu. Lima menit." Ia berdiri dan keluar ke area smoking.

Tinggalah aku berdua dengan Laras.

"Mas Bimo kerja di logistik ya?" tanya Laras memecah keheningan.

"Iya. Bagian operasional."

"Capek ya? Jamnya panjang."

"Lumayan. Tapi udah biasa." Aku menyesap ocha. "Laras desainer interior? Pasti seru."

"Seru kalau kliennya enak. Kalau rewel, ya ampun." Ia tertawa. "Tapi aku suka. Bikin ruang jadi hidup itu satisfying."

Kami ngobrol soal kerjaan. Lalu soal Jakarta, soal macet, soal tempat makan enak. Lima menit berlalu, Doni belum kembali. Sepuluh menit. Lima belas menit.

"Aku cek Doni ya," kata Laras sambil berdiri.

Ia kembali dua menit kemudian, wajahnya datar. "Katanya masih lama. Ada masalah serius di gudang. Dia minta maaf, tapi harus beresin dulu."

"Oalah."

"Dia juga bilang, kita lanjut aja. Nanti dia nyusul." Laras duduk kembali. "Maaf ya, Mas. Doni kalau udah urusan kerja gitu."

"Nggak apa-apa. Santai aja."

Kami memesan dessert. Obrolan makin mengalir. Tanpa Doni dan Sinta, ternyata kami berdua malah lebih nyambung. Selera humor kami mirip. Kami sama-sama suka film lama. Kami sama-sama benci macet tapi cinta Jakarta.

"Kamu sama Doni udah lama?" tanyaku.

"Dua tahun. Tunangan tiga bulan lalu." Ia memainkan sendoknya. "Rencananya nikah akhir tahun."

"Bagus. Doni orang baik."

"Iya. Dia baik." Laras menatap dessertnya. "Cuma..."

"Cuma apa?"

Ia mengangkat wajahnya menatapku. "Jangan bilang siapa-siapa ya."

"Aman."

"Hubungan kami... hambar." Ia tertawa kecil, pahit. "Dua tahun pacaran, rasanya kayak temenan. Nggak ada deg-degan. Nggak ada kangen. Tunangan pun rasanya kayak... ya udah, waktunya aja."

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

"Aku sayang sama dia," lanjut Laras. "Tapi sayang kayak ke kakak. Bukan kayak ke calon suami. Ngerti nggak?"

Aku mengangguk pelan. "Terus kenapa mau nikah?"

"Umur. Orang tua. Ekspektasi." Ia menghela napas. "Kamu sama Sinta gimana? Masih deg-degan?"

Aku tersenyum. "Kadang. Nggak selalu. Tapi ya, masih."

"Enak ya." Matanya menerawang. "Aku kangen ngerasain itu. Deg-degan. Penasaran. Pengen."

Ada jeda. Pelayan datang membersihkan meja. Doni belum juga kembali.

"Mas Bimo," kata Laras pelan. "Boleh aku jujur?"

"Boleh."

"Sejak tadi duduk di sini, aku deg-degan."

Jantungku berdegup kencang. Aku menatapnya. Ia menatapku balik. Di matanya tidak ada main-main.

"Laras..."

"Aku tahu kamu suami Sinta. Aku tahu aku tunangan Doni. Aku tahu ini gila." Suaranya bergetar. "Tapi aku capek pura-pura nggak ngerasa apa-apa. Capek."

Tangannya yang ada di meja terulur sedikit. Aku menatap tangan itu, lalu menatap wajahnya.

Aku seharusnya menarik diri. Aku seharusnya bilang ini salah. Aku seharusnya ingat Sinta yang sekarang mungkin sedang panik di klinik menjaga ibunya.

Tapi aku malah menggenggam tangannya.

Hangat. Lembut. Gemetar sedikit.

"Kita pergi dari sini," bisikku.

"Ke mana?"

"Ada bar kecil di bawah. Sepi. Kita ngobrol di sana sambil nunggu Doni."

Ia mengangguk. Kami membayar bill, masing-masing membayar bagiannya, lalu turun ke bar di lantai dasar restoran. Bar itu remang-remang, sepi, hanya ada beberapa pengunjung di sudut.

Kami duduk di pojok, memesan dua gelas wine. Tangan kami masih bergenggaman di atas meja, tersembunyi dari pandangan.

"Mas," bisik Laras. "Aku takut."

"Takut apa?"

"Takut aku nggak mau berhenti."

Aku menatapnya dalam-dalam. Perempuan cantik ini, tunangan orang, duduk di depanku dengan mata berkaca-kaca, mengakui hal yang tidak seharusnya diakui.

"Aku juga takut," kataku jujur.

Ia tersenyum tipis. "Terus gimana?"

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku mengangkat tangannya dan mencium punggung tangannya. Pelan. Ia memejamkan mata.

Wine datang. Kami minum pelan-pelan. Obrolan kami makin personal. Ia cerita soal ketakutannya menikah dengan orang yang tidak ia cintai sepenuhnya. Aku cerita soal keinginanku punya anak yang belum kesampaian. Dua orang asing yang tiba-tiba saling membuka diri.

Gelas kedua. Pipinya memerah. Matanya berkilat.

"Doni belum telepon?" tanyaku.

Ia mengecek ponselnya, lalu menggeleng. "Nggak ada kabar. Paling masih ribet."

"Sinta juga belum kabarin."

Kami saling menatap. Keheningan yang berat, penuh arti.

"Laras," kataku pelan. "Kalau kita lanjut, nggak ada jalan balik."

"Aku tahu."

"Kamu yakin?"

Ia mengangguk. "Seumur hidup aku selalu main aman. Sekolah yang bener, kerja yang bener, pacaran yang bener, tunangan yang bener. Sekali ini aja, aku mau nggak bener."

Aku membayar bill. Kami keluar dari bar. Di parkiran yang sepi, ia menggenggam tanganku erat.

"Mobilku di sana," katanya sambil menunjuk sebuah mobil putih.

Kami masuk ke mobilnya. Ia tidak langsung menyalakan mesin. Kami duduk diam dalam gelap, hanya lampu parkiran yang temaram masuk lewat kaca.

Lalu ia menoleh dan menciumku.

Ciuman itu meledak. Tidak ada pemanasan, tidak ada ragu. Bibirnya lembut dengan rasa wine yang manis. Lidahnya berani. Tangannya mencengkeram kerah kemejaku, menarikku merapat.

Tanganku naik ke pipinya, lalu turun ke lehernya, ke bahunya. Dress hitamnya berpotongan rendah di dada. Aku bisa merasakan kulitnya yang halus dan hangat.

"Mas," desahnya di sela ciuman. "Jangan di sini. Ada CCTV."

Aku menoleh. Benar, ada kamera di tiang parkiran.

"Ke apartemenku," bisiknya. "Dekat. Lima menit."

Ia menyalakan mobil dengan tangan gemetar. Perjalanan lima menit itu terasa seperti selamanya. Di lampu merah, ia menggenggam tanganku erat. Tidak ada yang bicara. Tidak perlu.

Apartemennya di lantai dua belas. Rapi, minimalis, wangi lavender. Begitu pintu tertutup, kami langsung berpelukan.

Ciuman kami makin ganas. Ia mendorongku ke sofa. Aku menariknya ke pangkuanku. Dressnya tersingkap, memperlihatkan pahanya yang mulus.

Tanganku merayap naik, menyentuh kulit pahanya. Ia mendesah dan melengkungkan punggungnya. Bra hitam berenda terlihat dari belahan dressnya.

"Cantik banget," bisikku.

"Jangan ngomong. Cium aku aja."

Aku menurut. Kami berciuman sambil tanganku menjelajah tubuhnya. Setiap sentuhan disambut desahan. Ia tidak malu-malu. Ia tahu apa yang ia mau.

Dressnya kulepas lewat kepala. Tubuhnya indah. Tinggi, langsing, kulit mulus. Dadanya penuh dan kencang dalam balutan bra hitam.

Aku membuka branya. Ia mendesah lega. Aku menciumi dadanya dengan rakus, dan ia menjambak rambutku.

Kemejaku dibukanya dengan cepat. Tangannya yang lincah membuka kancing satu per satu, lalu menyusup ke dalam, menyentuh dadaku, perutku.

Kami pindah ke kamar. Ranjangnya besar dengan sprei abu-abu. Ia membaringkanku, lalu naik ke atasku. Untuk sesaat ia hanya menatapku dari atas, rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya.

"Kamu yakin?" tanyaku terakhir kali.

Ia mengangguk, lalu menciumku dalam-dalam sambil melepaskan sisa pakaian kami berdua.

Waktu kami akhirnya menyatu, ia melenguh panjang. Hangat, dalam, sempurna. Ia bergerak di atasku dengan ritme yang perlahan dulu, menikmati setiap inci.

Aku memegang pinggulnya, membantunya bergerak. Dadanya bergoyang di depan wajahku. Aku menciuminya, dan ia mendesah makin keras.

"Mas," katanya terputus-putus. "Aku udah lama nggak ngerasain ini."

Aku membalikkan posisinya. Sekarang aku di atas. Ia membuka kakinya lebar untukku. Aku masuk lebih dalam, dan ia menjerit kecil.

Kami bergerak dengan liar. Ranjang berderit. Napas kami memburu. Keringat membasahi tubuh kami. Tidak ada lagi pikiran soal Doni, soal Sinta, soal benar dan salah. Yang ada cuma dua tubuh yang saling membutuhkan.

"Jangan berhenti," pintanya. "Jangan pernah berhenti."

Aku mempercepat gerakanku. Ia mengimbangi dengan pinggulnya. Kukunya mencakar punggungku. Kakinya melingkar erat di pinggangku.

Ia mencapai puncaknya dengan teriakan tertahan, tubuhnya bergetar hebat. Melihatnya seperti itu membuatku tak tahan. Beberapa detik kemudian aku menyusul, meledak di dalamnya dengan erangan panjang.

Kami terbaring diam, berkeringat dan terengah-engah. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus punggungnya yang mulus.

Ponselku bergetar. Sinta. Aku mengangkatnya dengan jantung berdegup.

"Halo, Sayang. Ibu gimana?"

"Udah stabil, Mas. Diobservasi semalam. Kamu masih sama Doni?"

Aku melirik Laras yang menatapku dengan mata lebar. "Doni masih urusan kerja. Aku... aku udah di jalan pulang."

"Oke. Hati-hati ya."

"Iya."

Aku menutup telepon. Keheningan yang berat.

"Aku harus pulang," kataku.

Laras mengangguk pelan. "Iya."

Kami berpakaian dalam diam. Tidak ada kecanggungan, tapi ada kesedihan yang aneh. Seperti baru saja mengalami sesuatu yang indah dan tahu tidak akan terulang.

Di depan pintu, ia mencium pipiku.

"Makasih, Mas. Untuk malam ini. Untuk deg-degannya."

Aku mengangguk, tidak bisa berkata-kata.

Dalam perjalanan pulang, ponselku bergetar lagi. Doni. Pesan singkat.

"Bro, sorry banget tadi. Urusan gudang kacau. Laras udah pulang? Titip maaf ya."

Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku mengetik balasan.

"Santai. Laras udah pulang duluan. Lain kali kita ulang."

Aku menghapus riwayat chat dengan Laras. Tidak ada nomornya tersimpan. Tidak ada jejak.

Di rumah yang sepi, aku duduk di sofa ruang tamu sampai larut malam. Memikirkan Sinta yang sedang menjaga ibunya di klinik. Memikirkan Laras yang mungkin sekarang berbaring sendirian di apartemennya. Memikirkan Doni yang tidak tahu apa-apa.

Aku suami yang buruk. Aku tahu itu.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa hidup.

Dan perasaan itu, sialnya, sulit dilupakan.

bagikan