Kabut turun seperti tirai putih di atas hamparan kebun teh. Pucuk-pucuk hijau muncul dan hilang di balik gulungan tipis, seolah barisan tanaman itu bernapas. Tirta memotret dengan napas ditahan, menunggu momen ketika sinar matahari pagi merobek lapisan kabut tepat di atas punggungan bukit. Klik. Satu frame yang sempurna.
Dia menginap di sebuah homestay kecil di tepi kebun teh, datang kemarin sore dari Jakarta. Usianya tiga puluh lima tahun, fotografer lepas yang sudah dua minggu tidak menyentuh kamera karena suntuk dengan pekerjaan. Perjalanan ini diniatkan sebagai pelarian: sendirian, tanpa rencana, tanpa klien yang memerintah.
Di belakangnya terdengar bunyi klik kamera juga. Tirta menoleh.
Seorang perempuan berdiri sekitar sepuluh meter darinya, mengarahkan kamera mirrorless ke arah yang sama. Rambutnya diikat ke belakang, jaket windbreaker krem, dan wajahnya serius menatap layar. Tirta tersenyum kecil. Sesama pemburu momen pagi.
Perempuan itu menurunkan kameranya dan balas tersenyum. "Kabutnya bagus banget pagi ini," katanya.
"Iya. Kayak settingan Tuhan," jawab Tirta. "Sendirian juga?"
Perempuan itu mengangguk. "Sendirian. Namaku Dyah."
"Tirta," sahutnya sambil mengulurkan tangan. Dyah menjabat dengan hangat. Tangannya dingin, mungkin karena udara pagi yang menusuk.
Mereka berjalan beriringan di antara barisan pohon teh. Dyah rupanya juga traveler solo, usianya tiga puluh tahun, pekerja kantoran yang baru saja mengundurkan diri dari pekerjaannya setelah tujuh tahun. "Burnout," katanya singkat sambil memotret setangkai pucuk teh yang berembun. "Aku butuh udara yang nggak bau AC."
"Aku juga lagi kabur," kata Tirta jujur. "Bedanya aku kabur dari deadline. Kamu kabur dari kehidupan."
Dyah tertawa. Suaranya lepas dan hangat di tengah dinginnya pagi.
Mereka berjalan makin jauh masuk ke kebun teh. Kabut menebal di beberapa titik sampai jarak pandang tinggal beberapa meter. Aroma tanah basah dan daun teh yang segar memenuhi udara. Sesekali terdengar kicau burung dari kejauhan. Tirta memotret Dyah dari belakang saat perempuan itu berdiri di antara barisan teh, siluetnya menyatu dengan kabut.
"Hei, jangan motret aku tanpa izin!" protes Dyah sambil tertawa, menyadari.
"Udah keambil satu frame," kata Tirta. "Bagus banget, sumpah."
Dyah mendekat dan melihat layar kamera Tirta. Di foto itu, ia tampak kecil di tengah hamparan hijau yang diselimuti kabut, seperti tokoh di negeri dongeng. "Wah, bagus ya. Kirim ke aku dong nanti."
"Boleh. Nanti aku kirim lewat WhatsApp."
Mereka bertukar nomor dengan mudah, tanpa kecanggungan. Ada sesuatu yang membuat percakapan mengalir: mungkin karena sama-sama orang asing di tempat asing, sama-sama sedang lari dari sesuatu.
Langit mulai gelap di arah timur. Butiran air turun satu-satu, lalu makin rapat. Hujan.
"Itu ada saung!" seru Dyah menunjuk sebuah bangunan kayu kecil di tepi jalan setapak.
Mereka berlari kecil menerobos hujan yang mulai deras. Saung itu sederhana: atap seng, bangku bambu, dan lantai kayu yang sudah lapuk di beberapa bagian. Cukup untuk berteduh berdua. Mereka duduk berdampingan, mengatur napas, tertawa karena basah kuyup.
"Untung ada saung," kata Dyah sambil memeras ujung jaketnya. "Kalau nggak, kita jadi ayam sayur."
Tirta tertawa. Dari dalam tasnya ia mengeluarkan kain microfiber dan mengelap kameranya. Dyah melakukan hal yang sama dengan kameranya. Hujan mengguyur atap seng dengan bunyi yang ritmis, menenggelamkan semua suara lain. Kabut di luar makin tebal, menutup pandangan sampai hanya beberapa meter.
"Mau teh?" tanya Dyah tiba-tiba, mengeluarkan termos kecil dari tasnya. "Aku bawa dari homestay. Teh asli sini, kata ibu pemiliknya."
"Wah, pas banget," kata Tirta.
Dyah menuang teh hangat ke dua tutup termos yang dijadikan cangkir darurat. Uapnya mengepul di udara dingin. Mereka menyeruput perlahan. Tehnya wangi, sedikit sepat, menghangatkan dari dalam.
"Jadi, kenapa resign?" tanya Tirta setelah hening sejenak.
Dyah menatap hujan di luar saung. "Tujuh tahun kerja, lembur terus, bos yang nggak pernah puas. Gaji naik tapi hidupku habis. Terus bulan lalu aku pingsan di kantor. Dokter bilang kecapekan. Waktu itu aku mikir, buat apa semua ini kalau badanku sendiri protes."
"Berani juga resign tanpa kerjaan cadangan."
"Aku nabung cukup buat setahun. Lagipula, aku mau cari tahu aku maunya apa. Selama ini aku cuma jalanin apa yang disuruh orang lain: sekolah, kuliah, kerja, naik jabatan. Sekarang aku mau jalanin maunya aku sendiri."
Tirta mengangguk pelan. "Aku ngerti. Aku juga pernah di titik itu. Bedanya aku nggak resign, aku malah jadi freelance biar bebas. Ternyata bebas juga ada capeknya sendiri."
"Maksudnya?"
"Bebas itu artinya nggak ada yang ngatur, tapi juga nggak ada yang jamin. Kadang kangen punya gaji tetap." Tirta tersenyum miris. "Tapi aku nggak nyesel. Aku bisa motret apa yang aku mau, bukan apa yang klien mau."
Dyah menatapnya lama. "Kamu motret apa yang kamu mau sekarang?"
"Kabut," jawab Tirta. "Dan kamu."
Dyah tersipu, lalu tertawa kecil untuk menutupi. "Gombal."
"Fotografer jujur," koreksi Tirta.
Hujan tidak kunjung reda. Malah makin deras. Air menetes dari pinggir atap seng, membentuk tirai air di depan saung. Udara makin dingin. Dyah merapatkan jaketnya dan menggosok lengannya.
"Dingin?" tanya Tirta.
"Dikit."
Tirta menggeser duduknya lebih dekat dan membuka sisi jaketnya. "Sini, anget bareng."
Dyah ragu sejenak, lalu bersandar ke sisi Tirta, membiarkan jaket pria itu menutupi bahunya juga. Hangat tubuh mereka bertemu. Jantung Tirta berdebar lebih kencang dari biasanya. Bukan karena dingin.
Mereka diam cukup lama. Hanya bunyi hujan dan napas mereka yang terdengar. Dyah menengadah, wajahnya begitu dekat. Matanya jernih, ada sesuatu yang rapuh sekaligus berani di sana.
"Tirta," bisiknya.
"Hm?"
"Aku nggak nyesel ketemu kamu pagi ini."
Tirta menatap bibirnya, lalu kembali ke matanya, meminta izin tanpa kata. Dyah mengangguk nyaris tak terlihat. Dan Tirta menciumnya.
Ciuman itu lembut di awal, hati-hati, seperti dua orang yang sama-sama takut merusak momen. Tapi kemudian Dyah membalas dengan berani, tangannya mencengkeram kerah jaket Tirta. Rasa teh masih menempel di bibir mereka, hangat dan sedikit sepat.
Tangan Tirta menyentuh pipi Dyah, lalu turun ke lehernya. Kulit perempuan itu dingin di permukaan tapi hangat di dalam. Dyah mendesah pelan saat bibir Tirta berpindah ke rahang dan lehernya.
"Kamu yakin?" bisik Tirta, menahan diri di ambang.
Dyah menatapnya dengan mata yang berkaca, bukan karena sedih. "Aku udah lama nggak ngerasa hidup. Pagi ini aku ngerasa hidup. Jangan berhenti."
Itu cukup. Tirta kembali menciumnya, kali ini lebih dalam. Tangannya menyusup ke balik jaket Dyah, merasakan lekuk tubuhnya yang bergetar, entah karena dingin atau karena gairah. Dyah membalas dengan jemarinya yang menelusuri punggung Tirta, menariknya lebih dekat.
Saung kecil itu menjadi dunia mereka sendiri. Di luar, hujan dan kabut menutup segalanya dari pandangan. Di dalam, dua orang asing yang sama-sama tersesat menemukan satu sama lain.
Pakaian basah mereka terasa mengganggu. Satu per satu, dengan gerakan yang tidak terburu-buru, mereka melepaskannya. Tirta menatap tubuh Dyah yang telanjang di tengah dinginnya udara pegunungan, kulitnya merinding, dan ia merasa dadanya sesak oleh sesuatu yang bukan sekadar nafsu.
"Cantik," bisiknya tulus.
Dyah tersenyum malu, lalu menarik Tirta mendekat. "Hangatin aku."
Tirta memeluknya erat, kulit bertemu kulit, dan hawa dingin seketika kalah oleh panas tubuh mereka. Ia menciumi bahu Dyah, tulang selangkanya, turun perlahan. Setiap sentuhan dibalas dengan desahan dan cengkeraman jemari di rambutnya.
Saat mereka akhirnya menyatu, Dyah menggigit bibirnya menahan erangan. Gerakan mereka pelan di awal, mengikuti irama hujan di atap seng, lalu makin cepat saat gairah mengambil alih. Bangku bambu berderit pelan di bawah mereka. Dyah membisikkan namanya berulang-ulang, dan Tirta merasa seperti sedang memotret momen yang tidak akan pernah bisa diulang: rapuh, nyata, dan sepenuhnya milik mereka.
Puncaknya datang seperti ombak, perlahan membangun lalu pecah bersamaan. Mereka terdiam dalam pelukan, napas tersengal, tubuh masih menyatu. Hujan mulai mereda di luar, menyisakan bunyi tetesan air dari atap.
Lama mereka begitu, tidak ingin bergerak. Akhirnya Dyah tertawa kecil. "Gila ya. Kita baru kenal dua jam."
"Dua jam yang padat," kata Tirta sambil tersenyum.
Mereka berpakaian kembali dengan gerakan malas. Pakaian mereka masih lembap, tapi tidak ada yang peduli. Dyah menyandarkan kepalanya di bahu Tirta sambil menatap kabut yang perlahan menipis di luar saung.
"Kamu nyesel?" tanya Dyah pelan.
"Nggak," jawab Tirta jujur. "Kamu?"
Dyah menggeleng. "Aku ngerasa... bebas. Kayak aku yang nentuin jalan ceritaku sendiri, buat pertama kalinya."
Hujan berhenti sepenuhnya. Sinar matahari menembus sisa kabut, membuat tetesan air di pucuk teh berkilauan seperti berlian. Tirta mengangkat kameranya dan memotret pemandangan itu, lalu memotret Dyah yang tersenyum ke arahnya.
"Buat kenang-kenangan," katanya.
Mereka berjalan kembali ke homestay beriringan, sesekali tangan mereka bersentuhan dan tidak ada yang menarik diri. Di persimpangan jalan setapak, Dyah berhenti.
"Homestay-ku ke kiri," katanya.
"Aku ke kanan."
Mereka saling menatap. Ada yang belum selesai di antara mereka, dan keduanya tahu.
"Mau sarapan bareng?" tanya Tirta. "Di homestay-ku ada warung. Nasi gorengnya katanya enak."
Dyah tersenyum lebar. "Boleh. Aku laper banget."
Mereka berjalan ke arah homestay Tirta, berdampingan. Kabut sudah hampir hilang, menyisakan hamparan kebun teh yang hijau segar di bawah matahari pagi. Tirta memotret sekali lagi: jalan setapak yang membelah kebun teh, dengan bayangan mereka berdua yang memanjang di atasnya.
Malam itu, setelah makan malam bersama di warung homestay dan mengobrol sampai larut, Dyah tidak kembali ke homestay-nya. Mereka menghabiskan malam di kamar Tirta, dan keesokan paginya mereka kembali ke kebun teh bersama, kali ini dengan tujuan yang lebih jelas: bukan sekadar kabur, tapi menemukan sesuatu.
Tiga hari kemudian, saat Tirta harus kembali ke Jakarta dan Dyah melanjutkan perjalanannya ke selatan, mereka berjanji untuk bertemu lagi. Bukan janji manis turis yang terlupakan seminggu kemudian, tapi rencana konkret: bulan depan, di kota yang sama, dengan kamera masing-masing.
Di kereta pulang, Tirta membuka hasil fotonya. Ada ratusan frame kabut, teh, dan cahaya. Tapi frame favoritnya adalah satu foto sederhana: Dyah di antara barisan teh yang berkabut, tersenyum ke kamera, hidup sepenuhnya.
Di bawah foto itu ia menulis keterangan: pagi ketika kabut mempertemukan dua orang yang sedang tersesat, dan mereka memutuskan untuk tidak buru-buru pulang.
