Pesawatku mendarat di Surabaya jam sepuluh malam, dua jam lebih lambat dari jadwal semula.
Hujan mengguyur landasan saat kami turun, dan antrian taksi di luar terminal mengular panjang. Butuh hampir satu jam lagi sampai aku tiba di lobi hotel — basah kuyup di bagian bahu, koper terseret, dasi sudah lama kulonggarkan.
Namaku Arman, tiga puluh empat tahun, manajer penjualan sebuah perusahaan alat berat. Perjalanan dinas ke Surabaya ini sudah yang ketiga kalinya bulan ini, dan badanku rasanya tinggal separuh.
"Selamat malam, Pak. Ada yang bisa dibantu?" sapa resepsionis dengan senyum yang terlalu segar untuk jam segini.
"Saya ada reservasi atas nama Arman," kataku sambil menyerahkan KTP.
Gadis resepsionis itu mengetik cepat, lalu menyerahkan sebuah key card. "Kamar 812, Pak, lantai delapan. Lift di sebelah kanan."
Aku mengangguk lemas, mengambil key card, dan menyeret koper menuju lift. Koridor lantai delapan sepi dan berkarpet tebal yang meredam langkahku. Lampu-lampunya temaram kekuningan. Nomor 812 ada di ujung lorong, dekat tangga darurat.
Kutempelkan kartu ke sensor. Lampu hijau menyala. Klik.
Aku mendorong pintu sambil menghela napas lega — akhirnya, kasur.
Tapi langkahku terhenti di ambang pintu.
Lampu kamar menyala terang. Koper terbuka di atas meja. Dan di tengah ruangan, seorang perempuan — hanya berbalut handuk — sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Hair dryer itu mati. Kami saling menatap.
"Astaga — maaf! Maaf banget, Mbak!" Aku mundur setengah langkah, tangan refleks menutup pintu kembali tapi tidak jadi karena koperku mengganjal.
Perempuan itu menarik handuknya lebih rapat, tapi bukannya berteriak, ia malah tertawa. Tawa yang lepas dan tidak dibuat-buat.
"Mas masuk kamar orang kayak maling profesional ya," katanya. "Tenang saja, saya nggak akan teriak."
Wajahku pasti merah padam. "Sumpah, Mbak, saya dikasih kunci kamar 812 sama resepsionis. Saya juga kaget."
"812?" Ia melirik nomor di balik pintu kamarnya. "Oh. Ini 812 memang. Berarti resepsionisnya yang salah kasih kunci."
"Atau salah kamar," kataku. "Saya turun lagi deh. Sekali lagi maaf ya, Mbak."
"Nggak apa-apa, Mas. Malah lucu. Hati-hati di bawah," katanya sambil tersenyum. Senyum yang — bahkan dalam keadaan kacau seperti ini — membuatku salah tingkah.
Aku menutup pintu pelan dan berdiri di koridor dengan perasaan campur aduk antara malu dan... sesuatu yang lain. Perempuan itu — akhir dua puluhan, rambut sebahu yang masih basah, kulit bersih — wajahnya terus terbayang.
Di lobi, aku meletakkan key card di meja resepsionis. "Mbak, kamar 812 sudah ada orangnya."
Resepsionis itu memeriksa layar, lalu wajahnya berubah. "Ya ampun, maaf sekali, Pak! Seharusnya Bapak di kamar 818. Saya salah lihat angka. Sekali lagi mohon maaf."
Ia memberiku key card baru, lalu menyodorkan sebuah voucher. "Sebagai permintaan maaf, ini voucher complimentary drink di bar kami, Pak. Berlaku sampai jam satu malam."
Aku menerima voucher itu. Jam sudah hampir setengah dua belas. Perutku kosong, kepalaku pening, dan tidur rasanya mustahil dalam keadaan sekacau ini.
"Bar-nya di mana?"
"Lantai dasar, Pak, sebelah kiri lobi."
Kamar 818 ternyata hanya selisih beberapa pintu dari 812 — aku bahkan melewati pintu 812 lagi saat menuju kamarku. Ada dorongan aneh untuk berhenti sejenak di depannya, tapi aku terus berjalan.
Kamar 818 rapi dan dingin. Aku melempar koper ke sudut, mencuci muka, berganti kaos oblong dan celana pendek, lalu turun ke bar dengan voucher di tangan.
Bar hotel itu kecil dan remang. Musik jazz pelan dari speaker. Hanya ada tiga pengunjung: dua pria paruh baya di sudut yang sibuk dengan laptop, dan — jantungku berdegup — perempuan dari kamar 812, duduk sendirian di dekat jendela dengan segelas wine.
Ia sudah berganti pakaian: blus longgar warna krem dan celana panjang hitam. Rambutnya yang tadi basah kini kering dan tergerai.
Ia menoleh dan melihatku. Senyumnya mengembang.
"Mas kamar salah!" sapanya sambil mengangkat gelasnya.
Aku tertawa dan menghampirinya. "Boleh gabung? Saya Arman."
"Nadia," katanya. "Dua puluh sembilan tahun, arsitek. Lagi ada proyek di sini seminggu."
Kami berjabat tangan. Tangannya hangat.
Bartender datang, aku memesan bir dengan voucherku.
"Jadi gimana ceritanya bisa salah kamar?" tanya Nadia, matanya berbinar geli.
"Resepsionisnya salah baca. Saya harusnya di 818."
"Sayang ya," katanya sambil menyeruput wine-nya. "Padahal masuknya sudah dramatis."
Aku tersedak birku. Ia tertawa lagi — tawa yang sama seperti di kamar tadi, lepas dan menular.
Obrolan mengalir dengan mudah. Ternyata Nadia juga baru tiba hari ini, penerbangannya juga delay, dan ia juga tidak bisa tidur. Kami sama-sama mengeluhkan hujan Surabaya, sama-sama benci perjalanan dinas, sama-sama suka kopi tubruk.
Satu gelas wine menjadi dua. Birku menjadi dua.
"Kamu tahu nggak," kata Nadia di satu titik, suaranya sedikit lebih pelan, "waktu kamu buka pintu tadi, saya sebenarnya nggak kaget-kaget amat."
"Oh ya?"
"Saya dengar kartu ditempel, dan saya pikir itu room service yang saya pesan. Makanya saya nggak kunci rantai." Ia menatapku. "Tapi ternyata yang datang jauh lebih menarik dari room service."
Jantungku berdegup lebih kencang. Ruangan bar yang remang tiba-tiba terasa lebih hangat.
"Nadia..."
"Ssst." Ia meletakkan jarinya di bibirnya sendiri sambil tersenyum. "Saya sudah dewasa, Mas Arman. Dan saya tahu apa yang saya mau."
Ia melirik jam di dinding. Jam satu kurang sepuluh.
"Bar-nya mau tutup," katanya. "Kamar saya di lantai delapan. Kamar Mas juga di lantai delapan." Ia berdiri, merapikan blusnya. "Kebetulan yang indah, bukan?"
Aku berdiri mengikutinya. Lututku sedikit gemetar — bukan karena takut, tapi karena antisipasi.
Di lift yang kosong, kami berdiri bersebelahan. Tangannya menyentuh tanganku — ringan, seolah tidak sengaja. Tapi kemudian jari-jarinya mengait jariku, dan tidak dilepas sampai lift berhenti.
Koridor lantai delapan sepi seperti tadi. Kami berjalan pelan menuju kamar 812.
Di depan pintu, ia menempelkan kartunya. Lampu hijau. Ia mendorong pintu, lalu menoleh padaku.
"Masuk?" tanyanya.
Aku masuk.
Pintu tertutup di belakangku dengan bunyi klik yang pelan tapi terasa final.
Nadia meletakkan tasnya di meja, lalu berbalik menghadapku. Dalam cahaya lampu kamar yang hangat, ia terlihat berbeda dari di bar — lebih lembut, lebih nyata.
"Jadi," katanya, "tamu tak diundang yang akhirnya diundang."
"Sejarah pertemuan paling aneh yang pernah kualami," kataku.
Ia mendekat, langkahnya pelan. "Aku suka yang aneh-aneh."
Jarak kami tinggal sejengkal. Aku bisa mencium parfumnya — sesuatu yang segar bercampur manis, mungkin vanila. Tangannya naik ke dadaku, meraba kaos oblongku.
"Kamu yakin?" tanyaku, menatap matanya. Aku ingin memastikan — tidak ada keraguan, tidak ada keterpaksaan.
Ia mengangguk, lalu menjawab dengan menciumku.
Ciuman itu berbeda dari yang kubayangkan. Tidak terburu-buru, tidak agresif. Bibirnya lembut dan sabar, seolah kami punya waktu semalam suntuk — dan memang begitu.
Tanganku menemukan pinggangnya, menariknya merapat. Tubuhnya pas dalam pelukanku, seolah memang dirancang untuk itu. Blus kremnya yang longgar ternyata tipis; aku bisa merasakan hangat kulitnya di bawahnya.
Kami bergerak mundur perlahan sampai punggungnya menyentuh dinding di samping jendela. Gorden tertutup rapat, tapi cahaya kota Surabaya merembes dari celahnya, menggarisi siluet kami dengan garis-garis oranye.
Tanganku menyusup ke bawah blusnya. Kulit perutnya halus dan sedikit berkeringat. Ia mendesah pelan di mulutku — desahan yang membuat darahku berdesir ke seluruh tubuh.
"Nadia," bisikku.
"Ssst," katanya lagi, tapi kali ini sambil tersenyum di sela ciuman. "Nikmati saja."
Ia mulai membuka kancing blusnya sendiri, satu per satu, tanpa memutus kontak mata denganku. Setiap kancing yang terbuka adalah undangan yang tidak perlu diucapkan. Di baliknya, bra hitam sederhana — praktis, bukan yang seksi-seksian, tapi justru itu yang membuatnya terasa nyata dan menggairahkan.
Aku membantunya melepaskan blus itu dari bahunya. Ia membiarkannya jatuh ke lantai. Lalu tangannya menarik kaosku ke atas, dan aku mengangkat tangan agar ia bisa menanggalkannya.
Kami berdiri di sana, setengah telanjang, saling menatap seperti dua orang yang baru pertama kali melihat sesuatu yang indah.
"Kamu cantik," kataku jujur.
"Kamu juga nggak jelek-jelek amat," godanya, lalu tertawa kecil.
Tawa itu memecah ketegangan terakhir. Aku mengangkatnya — ia melingkarkan kakinya di pinggangku — dan membawanya ke ranjang.
Ranjang hotel yang besar dan dingin itu menjadi hangat dalam hitungan detik.
Kami bercinta dengan ritme yang anehnya langsung klop, seolah tubuh kami sudah lama saling kenal. Kadang lambat dan dalam, kadang cepat dan memburu. Ia tidak malu menyuarakan apa yang ia mau — tangannya menuntunku, bisikannya mengarahkanku — dan aku menurut dengan senang hati.
"Aku suka ini," desahnya di telingaku. "Aku suka kamu nggak sok tahu."
"Aku murid yang baik," balasku, membuatnya tertawa di tengah desahan.
Keringat membasahi kami berdua. Seprai yang tadinya rapi kini kusut. Di luar, hujan masih turun, mengetuk-ngetuk jendela dengan ritme yang seolah mengiringi kami.
Saat ia mencapai puncaknya, ia mencengkeram bahuku dan menyebut namaku — "Arman" — dengan suara yang bergetar. Tak lama kemudian aku menyusulnya, dan kami terbaring diam, napas tersengal, tubuh masih bertautan.
Hening. Hanya hujan dan detak jantung yang perlahan melambat.
"Gila," kata Nadia akhirnya, menatap langit-langit. "Ini berawal dari kamu salah kamar."
"Salah kamar terbaik dalam hidupku," kataku.
Ia menoleh, tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di dadaku. Rambutnya yang wangi menyentuh daguku. Tangannya menggambar pola-pola acak di perutku.
"Kamu besok ada acara jam berapa?" tanyanya.
"Meeting jam sembilan. Kamu?"
"Survei lapangan jam delapan." Ia menghela napas. "Artinya kita cuma punya beberapa jam."
"Kalau begitu jangan disia-siakan," kataku sambil membalikkan tubuhnya hingga ia berada di atasku.
Ia tertawa — tawa yang sudah kukenal itu — lalu menciumku lagi.
Ronde kedua lebih santai, lebih banyak tawa dan bisikan. Kami bercanda soal resepsionis yang salah kasih kunci, soal betapa beruntungnya sebuah kesalahan kecil bisa berujung seperti ini.
"Kamu harus kasih tips ke resepsionis itu," kata Nadia di sela ciuman. "Dia mak comblang terbaik."
Menjelang subuh, hujan sudah reda. Kami tertidur dalam pelukan, seprai kusut melilit kaki kami.
Aku terbangun jam tujuh oleh alarm ponselnya. Nadia sudah bangun, duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambut dengan handuk — pemandangan yang persis seperti pertama kali aku melihatnya, hanya saja sekarang ia tersenyum padaku tanpa keterkejutan.
"Pagi, Mas kamar salah," sapanya.
"Pagi," kataku sambil bangun dan mencium keningnya.
Kami mandi bergantian — sebenarnya mandi bareng akan lebih menyenangkan, tapi waktu mepet dan kami berdua tertawa menyadari betapa tidak realistisnya itu di jam tujuh pagi sebelum meeting.
Di depan pintu, ia menyerahkan selembar kertas kecil. Nomor teleponnya, ditulis dengan pulpen hotel.
"Kalau ke Surabaya lagi," katanya, "jangan salah kamar lagi. Langsung ketok saja."
"Siap," kataku sambil menyimpan kertas itu di dompet, di slot paling depan.
Aku kembali ke kamarku — kamar 818 yang seharusnya — mandi cepat, berganti kemeja, dan berangkat meeting dengan senyum yang tidak bisa kuhilangkan sepanjang hari.
Malamnya, sebelum tidur, aku mengiriminya pesan: "Terima kasih untuk malam paling berkesan. Resepsionisnya memang mak comblang terbaik."
Balasannya masuk semenit kemudian: "Sama-sama. Lain kali bawa koper yang lebih kecil, biar nggak mengganjal pintu."
Aku tertawa sendirian di kamar hotel yang sepi, dan untuk pertama kalinya dalam sekian banyak perjalanan dinas, aku tidak sabar menunggu perjalanan berikutnya.