Mentega mendesis saat Salsa menuangkannya ke wajan datar yang sudah panas. Aroma manis langsung mengepul, bercampur bau gosong tipis dari adonan yang mulai mengembang. Sabtu malam di sudut jalan itu selalu ramai. Anak-anak muda nongkrong sambil menunggu pesanan, pengemudi ojek online menepi sebentar, dan asap gerobak martabak manis mengepul ke udara malam.
Aldi sudah berdiri di antrean. Setiap Sabtu malam, ritualnya sama. Pulang kerja yang kadang lembur, mandi, lalu jalan kaki sepuluh menit ke gerobak martabak di ujung gang. Ia sudah hafal urutan pesanan pelanggan lain, sudah hafal bunyi sendok Salsa mengaduk adonan, bahkan sudah hafal senyum perempuan itu yang selalu sama hangatnya setiap minggu.
"Mas Aldi, seperti biasa ya?" Salsa menyapanya tanpa menoleh. Tangannya sibuk meratakan adonan dengan sendok kayu. Rambutnya yang panjang diikat ke belakang, beberapa helai jatuh menempel di pipi yang berkeringat. Di bawah lampu gerobak yang kuning, wajahnya tampak bersinar.
"Iya, Mbak. Setengah keju setengah cokelat, mesesnya yang banyak," jawab Aldi sambil tersenyum.
Salsa tertawa kecil. "Mesesnya yang banyak itu nggak pernah berubah. Udah tiga tahun lho, Mas."
Aldi mengangguk. Ia memang sudah tiga tahun jadi pelanggan gerobak ini. Awalnya ia hanya iseng mampir karena lapar sepulang lembur. Tapi martabak buatan Salsa memang beda. Adonannya lembut, manisnya pas, dan yang paling penting, perempuan yang membuatnya selalu ramah pada semua orang.
Malam itu antrean cukup panjang. Aldi menunggu sambil memainkan ponsel. Sesekali ia melirik Salsa yang bekerja cepat dan cekatan. Usianya dua puluh delapan tahun, katanya pernah cerita. Ia membuka gerobak ini sejak lima tahun lalu, setelah berhenti kerja sebagai kasir di sebuah minimarket. Katanya ia lebih suka punya usaha sendiri, meski capeknya luar biasa.
Tiba-tiba angin berembus kencang. Daun-daun kering beterbangan. Langit yang tadi cerah mulai tertutup awan gelap.
"Waduh, mau hujan nih," gumam seorang pembeli.
Benar saja. Belum sampai lima menit, rintik pertama jatuh. Lalu semakin deras. Para pembeli berhamburan mencari tempat berteduh. Gerobak Salsa punya tenda terpal, tapi hujan deras disertai angin membuat air tetap masuk dari samping.
"Mas Aldi, masuk ke sini aja!" Salsa melambaikan tangan, menyuruh Aldi berteduh di bawah tenda gerobak.
Aldi berlari kecil dan masuk ke area gerobak. Di sana sudah ada dua pembeli lain yang berteduh. Salsa dengan cekatan menurunkan tirai plastik di sisi gerobak untuk menahan tempias. Tangannya bergerak cepat, dan Aldi tanpa sadar membantu memegangi ujung tirai yang tertiup angin.
"Makasih ya, Mas," kata Salsa sambil tersenyum. Keringat bercampur titik hujan di wajahnya.
Dua pembeli lain akhirnya pergi menerobos hujan setelah pesanan mereka selesai. Tinggallah Aldi dan Salsa di bawah tenda gerobak yang sempit. Hujan di luar semakin deras. Bunyi air menghantam terpal terdengar keras, dan sesekali petir menyambar di kejauhan.
"Sepi nih kayaknya malam ini," kata Salsa sambil mengelap wajan. "Kalau hujan begini, biasanya nggak ada yang keluar."
"Rugi dong, Mbak?" tanya Aldi.
Salsa mengangkat bahu. "Namanya juga jualan. Ada hari rame, ada hari sepi. Adonan yang udah dibuat ya dimakan sendiri aja nanti." Ia tertawa, tapi Aldi bisa melihat ada lelah di matanya.
Aldi duduk di kursi plastik kecil di sudut gerobak. "Aku temenin deh sampai hujan reda. Daripada Mbak sendirian di sini."
Salsa menatapnya, lalu tersenyum lembut. "Beneran? Nggak ngerepotin?"
"Nggak lah. Aku juga nggak buru-buru."
Salsa kemudian membuatkan satu martabak kecil untuk mereka berdua. Ia memotongnya jadi beberapa bagian dan menaruhnya di piring plastik. "Nih, makan bareng. Anggap aja lembur ditemenin martabak gratis."
Mereka makan sambil mendengarkan hujan. Suasana di bawah tenda terasa hangat, kontras dengan dinginnya udara malam di luar. Lampu gerobak yang kuning membuat semuanya terasa akrab.
"Mas Aldi kerja di mana sih? Tiga tahun jadi pelanggan, aku belum pernah nanya," kata Salsa sambil mengunyah.
"Karyawan di perusahaan distributor, Mbak. Bagian gudang. Makanya kadang lembur kalau barang datang banyak."
"Capek ya?"
"Lumayan. Tapi ya disyukuri aja. Mbak sendiri nggak capek? Tiap malam begini."
Salsa tertawa. "Capek banget. Kadang pinggang rasanya mau copot. Tapi mau gimana lagi. Ini satu-satunya yang aku bisa."
Obrolan mengalir. Aldi bercerita soal pekerjaannya, soal kosnya yang sempit, soal ibunya di kampung yang selalu menelepon tiap minggu. Salsa bercerita soal gerobaknya, soal dulu ia pernah kerja jadi kasir dan betapa ia benci dimarahi pelanggan yang tidak sabaran.
Lalu, di tengah obrolan, Salsa tiba-tiba diam. Ia menatap hujan di luar tenda dengan pandangan kosong.
"Mbak kenapa?" tanya Aldi pelan.
Salsa menghela napas panjang. "Nggak apa-apa. Cuma keinget sesuatu aja."
"Kalau mau cerita, aku dengerin."
Salsa menoleh. Ada keraguan di matanya, tapi kemudian ia tersenyum tipis. "Mas Aldi ini orangnya enak diajak ngomong ya. Pantesan betah jadi pelanggan tiga tahun."
Ia kemudian bercerita. Dulu, sekitar dua tahun lalu, ia punya pacar. Namanya Dimas, karyawan bank. Mereka sudah pacaran hampir tiga tahun dan sempat membicarakan pernikahan. Salsa bahkan sudah menabung untuk modal nikah dari hasil jualan martabak.
"Tapi ternyata dia selingkuh," kata Salsa dengan suara pelan. "Sama teman sekantornya. Aku tahu dari temanku yang lihat mereka jalan bareng. Waktu aku tanya, dia malah bilang aku nggak selevel sama dia. Katanya aku cuma tukang martabak."
Aldi merasakan dadanya sesak mendengar itu. "Terus?"
"Ya udah, putus. Dia nikah sama selingkuhannya tahun lalu. Aku diundang, tapi nggak datang lah." Salsa tertawa pahit. "Sejak itu aku agak trauma. Rasanya kayak semua usahaku nggak ada harganya di mata orang."
"Mbak salah. Usaha Mbak berharga banget. Buktinya aku tiga tahun nggak pernah bosen beli di sini."
Salsa menatap Aldi lama. Matanya berkaca-kaca, tapi ia cepat-cepat menghapusnya dengan punggung tangan. "Makasih ya, Mas. Kamu orang pertama yang bilang gitu setelah sekian lama."
Hujan di luar mulai reda, tinggal rintik-rintik. Tapi tidak ada yang beranjak. Aldi merasa ada sesuatu yang berubah di udara di antara mereka. Sesuatu yang hangat dan mendebarkan.
Salsa menggeser kursinya sedikit lebih dekat. "Mas Aldi, boleh aku nanya sesuatu?"
"Boleh."
"Kenapa kamu betah tiap Sabtu ke sini? Kan banyak gerobak martabak lain."
Aldi tersenyum. "Awalnya karena martabaknya enak. Terus lama-lama karena yang jualnya juga enak diajak ngobrol."
Salsa tertawa, tapi pipinya memerah. "Gombal."
"Beneran. Tiap Sabtu itu jadi hari yang aku tunggu-tunggu. Pulang kerja capek, terus ke sini, lihat Mbak ketawa-ketawa sama pembeli, rasanya capeknya hilang."
Keheningan menyelimuti mereka. Hanya bunyi rintik hujan yang tersisa. Salsa menunduk, memainkan ujung celemeknya. Lalu ia mengangkat wajah dan menatap Aldi dengan berani.
"Mas, aku boleh jujur? Aku juga nungguin tiap Sabtu. Kalau Mas nggak datang, aku kepikiran. Takut Mas bosen atau pindah ke gerobak lain."
Jantung Aldi berdegup kencang. Ia tidak menyangka malam hujan ini akan berubah jadi seperti ini. Tiga tahun ia memendam rasa kagum pada perempuan di depannya, tapi ia selalu menahannya karena merasa hanya pelanggan biasa.
"Salsa," kata Aldi pelan, untuk pertama kalinya memanggil namanya tanpa embel-embel Mbak. "Aku juga ngerasain hal yang sama."
Salsa tersenyum. Senyum yang berbeda dari biasanya. Lebih lembut, lebih dalam. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Aldi yang ada di atas meja lipat kecil di antara mereka.
Hujan sudah berhenti total. Jalanan di luar masih basah dan sepi. Gerobak-gerobak lain sudah tutup. Hanya gerobak Salsa yang masih menyala, lampunya kuning temaram di tengah malam yang lengang.
"Aku tutup gerobaknya dulu ya," kata Salsa sambil berdiri. "Bantuin?"
Mereka berdua membereskan gerobak dengan cepat. Aldi membantu melipat tenda, Salsa mencuci wajan dan peralatan. Kerja sama mereka luwes, seperti sudah terbiasa. Sesekali tangan mereka bersentuhan dan keduanya tersenyum malu-malu.
Setelah gerobak rapi, Salsa mengajak Aldi ke kontrakannya yang tidak jauh dari situ. Sebuah rumah petak kecil dengan satu kamar. Sederhana tapi bersih dan rapi.
"Maaf berantakan," kata Salsa sambil menyalakan lampu.
"Nggak kok. Rapi malah."
Salsa membuatkan teh hangat untuk mereka berdua. Mereka duduk di sofa kecil di ruang tamu yang juga merangkap ruang makan. Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka.
"Mas Aldi," Salsa memulai, "aku mau bilang sesuatu. Aku udah lama nggak ngerasain deg-degan kayak gini. Sejak putus sama Dimas, aku nutup diri. Tapi sama kamu, rasanya beda. Aman."
Aldi mengangguk. "Aku juga. Tiga tahun aku ke gerobakmu bukan cuma karena martabak. Aku suka lihat kamu. Suka denger suara kamu. Cuma aku nggak berani bilang."
Salsa meletakkan cangkirnya dan bergeser mendekat. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti. Aldi bisa mencium aroma manis yang selalu menempel pada Salsa, aroma mentega dan gula yang sudah jadi ciri khasnya.
"Terus sekarang berani?" bisik Salsa.
Aldi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menangkup wajah Salsa dengan kedua tangannya dan menciumnya dengan lembut. Salsa membalas dengan penuh perasaan. Ciuman mereka awalnya ragu-ragu, lalu semakin dalam dan berani.
Tangan Salsa melingkar di leher Aldi. Tubuh mereka merapat. Aldi bisa merasakan jantung Salsa berdegup sama kencangnya dengan jantungnya sendiri.
Mereka pindah ke kamar dengan langkah pelan, masih berpelukan dan berciuman. Salsa menyalakan lampu tidur yang redup. Di bawah cahaya temaram itu, mereka saling menatap dengan penuh keyakinan.
Tidak ada paksaan. Tidak ada keraguan. Hanya dua orang dewasa yang sudah lama saling mengagumi dan akhirnya berani jujur pada perasaan masing-masing.
Malam itu, di kontrakan kecil yang sederhana, Aldi dan Salsa menyerahkan diri pada perasaan yang sudah tiga tahun dipendam. Setiap sentuhan terasa seperti penantian yang akhirnya terbayar. Setiap bisikan terasa seperti janji yang tidak perlu diucapkan.
Salsa yang selama ini terlihat tegar dan ceria di depan gerobaknya, malam itu menunjukkan sisi lembutnya. Ia bersandar sepenuhnya pada Aldi, mempercayakan dirinya tanpa sisa. Dan Aldi memperlakukannya dengan penuh kelembutan, seolah ia adalah sesuatu yang paling berharga.
Setelah semuanya reda, mereka berbaring berdampingan. Salsa meletakkan kepalanya di dada Aldi, mendengarkan detak jantungnya yang perlahan melambat.
"Mas," bisik Salsa, "kamu nggak nyesel?"
Aldi mengusap rambut Salsa dengan lembut. "Nyesel kenapa? Ini malam terbaik dalam hidupku."
"Tapi aku cuma tukang martabak."
Aldi mengangkat dagu Salsa agar menatapnya. "Dengerin aku. Kamu bukan cuma tukang martabak. Kamu perempuan paling pekerja keras yang pernah aku kenal. Kamu bangun usaha sendiri, kamu nggak nyerah waktu disakitin orang. Itu luar biasa. Dan aku bangga bisa ada di sini sama kamu."
Air mata menetes di pipi Salsa. Tapi kali ini bukan air mata sedih. Ia tersenyum sambil menghapusnya.
"Besok Sabtu lagi ya?" kata Salsa sambil terkekeh.
"Besok Sabtu, lusa, tiap hari kalau boleh," jawab Aldi sambil tertawa.
Mereka tertawa bersama. Di luar, malam semakin larut. Gerobak martabak sudah tertutup rapi, menunggu esok hari. Tapi di dalam kontrakan kecil itu, sesuatu yang baru saja dimulai.
Sejak malam itu, Sabtu malam Aldi tidak pernah sama lagi. Ia tetap datang ke gerobak Salsa, tetap memesan setengah keju setengah cokelat dengan meses yang banyak. Tapi kini, setelah gerobak tutup, ia tidak langsung pulang. Ia membantu Salsa membereskan, lalu mereka pulang bersama ke kontrakan kecil itu.
Para pelanggan tetap mulai menyadari perubahan pada Salsa. Ia terlihat lebih ceria, lebih bersinar. Ada yang menggoda, ada yang hanya tersenyum mengerti.
Dan Aldi, karyawan gudang berusia tiga puluh tahun yang dulu hidupnya monoton, kini punya alasan untuk tersenyum setiap hari. Bukan cuma karena martabak manisnya, tapi karena perempuan yang membuatnya kini jadi bagian dari hidupnya.
Cinta memang kadang datang dari tempat yang tidak terduga. Kadang dari gerobak martabak di sudut jalan, di malam hujan, di antara aroma mentega yang mendesis di wajan datar.
