Namaku Dimas, tiga puluh tiga tahun, kerja dari rumah sebagai desainer lepas. Sehari-hari aku jarang keluar, paling cuma beli makan atau ngopi di teras sambil lihat jalanan komplek yang sepi.
Tetanggaku, Pak Bambang, punya sopir pribadi bernama Pak Yanto. Umurnya sudah hampir lima puluh, orangnya ramah dan rajin. Setiap pagi ia memanaskan mobil di depan rumah Pak Bambang, dan setiap sore ia mencucinya sampai mengkilap.
Aku kenal Pak Yanto karena sering ngobrol dengannya kalau aku lagi di teras. Obrolan ringan soal mobil, soal jalanan Jakarta yang makin macet, soal anaknya yang sudah kerja di Bekasi.
Istrinya, Bu Lastri, kukenal belakangan. Umurnya tiga puluh empat, setahun lebih tua dariku. Pertama kali aku melihatnya waktu ia mengantar rantang makan siang untuk Pak Yanto. Ia turun dari ojek, menenteng rantang anyaman, dan tersenyum padaku yang sedang duduk di teras.
"Siang, Mas," sapanya.
"Siang, Bu. Ngantar makan buat Pak Yanto ya?"
"Iya. Kasihan kalau beli terus, mahal."
Sejak itu ia lumayan sering datang. Kadang seminggu dua kali, kadang lebih. Pak Yanto memang jarang pulang siang, jadi Bu Lastri yang mengantar bekal. Lama-lama kami jadi akrab. Kalau ia datang dan Pak Yanto sedang keluar mengantar Pak Bambang, ia menunggu di pos satpam atau kadang mampir duduk di terasku sambil ngobrol.
Bu Lastri itu cantik dengan cara yang sederhana. Kulitnya kuning langsat, rambutnya panjang dan selalu dikuncir. Kalau tertawa, matanya menyipit dan ada lesung pipi di pipi kirinya. Badannya berisi, khas ibu rumah tangga yang rajin masak dan rajin makan masakannya sendiri.
Aku tidak pernah berpikir macam-macam soal dia. Ia istri orang, istri Pak Yanto yang baik padaku. Tapi aku juga laki-laki normal, dan mataku kadang berhenti lebih lama dari seharusnya waktu ia membungkuk menaruh rantang atau waktu dasternya tertiup angin.
Suatu hari di bulan puasa, Pak Yanto cerita kalau ia harus mengantar Pak Bambang ke Surabaya selama empat hari. Urusan bisnis, katanya, dan tidak bisa ditunda.
"Wah, lama juga ya, Pak," kataku.
"Iya, Mas. Maklum, namanya juga kerja ikut orang."
"Bu Lastri ikut?"
"Enggak. Anak-anak lagi di rumah ibunya di kampung. Dia sendirian di rumah."
Aku mengangguk-angguk saja waktu itu. Tidak kepikiran apa-apa.
Dua hari setelah Pak Yanto berangkat, sore harinya Bu Lastri datang ke komplek. Bukan mengantar rantang, tapi mengambil jaket Pak Yanto yang tertinggal di rumah Pak Bambang. Pembantu Pak Bambang menyerahkannya lewat pagar, dan Bu Lastri berdiri di pinggir jalan sambil memasukkan jaket itu ke tas kresek.
Aku yang sedang menyiram tanaman di halaman depan menyapanya.
"Bu Lastri, mampir dulu. Ngopi."
Ia menoleh dan tersenyum. "Boleh, Mas. Haus juga."
Ia duduk di kursi teras. Aku membuatkan kopi susu kesukaannya. Dulu ia pernah bilang tidak suka kopi pahit, jadi aku selalu ingat.
"Pak Yanto kabarnya gimana, Bu?"
"Baik. Tadi pagi telepon, katanya masih di Surabaya. Besok baru pulang."
"Sendirian di rumah pasti sepi ya."
"Banget, Mas. Anak-anak di kampung, suami luar kota. Televisi nyala terus biar rame, tapi ya gitu."
Kami ngobrol cukup lama sore itu. Soal harga sembako, soal sinetron yang ia tonton, soal rencananya mau buka warung kecil di depan rumah. Aku mendengarkan saja, sesekali menimpali. Ada sesuatu yang menyenangkan dari caranya bercerita, hangat dan apa adanya.
"Warungnya mau jualan apa?" tanyaku.
"Ya gorengan, kopi, mie instan. Yang gampang-gampang aja. Lumayan buat tambah-tambah, Mas. Gaji Pak Yanto kan pas-pasan buat berempat."
"Bagus itu. Nanti aku jadi pelanggan pertama."
Ia tertawa. "Bener ya, jangan cuma ngomong."
"Bener. Tiap sore aku beli gorengan deh."
Obrolan soal warung itu membuatnya bersemangat. Matanya berbinar waktu cerita soal gerobak bekas yang mau dibelinya dari tetangga sebelah, soal resep sambal kacang ibunya yang katanya enak banget. Aku suka melihatnya seperti itu, hidup dan penuh rencana, beda jauh dari tatapan kosong yang kadang kulihat waktu ia menunggu Pak Yanto di pos satpam.
Langit mulai gelap dan angin bertiup kencang. Tanda hujan mau turun.
"Bu, kayaknya mau hujan. Pulang sekarang aja, keburu deres."
"Iya, Mas. Makasih kopinya."
Ia berdiri dan berjalan ke pagar. Baru beberapa langkah, rintik hujan mulai turun. Lalu dalam hitungan detik hujan turun deras sekali, seperti ditumpahkan dari langit.
"Ya ampun!" serunya sambil berlari balik ke terasku.
Kami berdua tertawa. Bajunya basah di bagian bahu dan lengan. Rambutnya yang dikuncir meneteskan air.
"Masuk dulu, Bu. Tunggu reda."
Ia masuk ke ruang tamuku. Aku mengambilkan handuk kecil.
"Nih, buat ngeringin."
"Makasih, Mas."
Ia duduk di sofa sambil mengeringkan rambut dan lengannya. Kaos yang ia kenakan, kaos rumahan biasa berwarna krem, basah dan menempel di beberapa bagian. Aku berusaha menjaga pandanganku tetap di wajahnya, tapi aku laki-laki dan ia perempuan cantik yang basah kuyup di ruang tamuku.
Hujan di luar makin deras. Petir sesekali menyambar.
"Deress banget," gumamnya sambil menatap jendela.
"Iya. Kayaknya lama ini."
Ia mengangguk, lalu menoleh padaku. "Mas Dimas nggak bosen sendirian terus?"
"Ya bosen sih kadang. Tapi udah biasa."
"Enak ya laki-laki. Sendirian juga santai. Kalau perempuan sendirian di rumah, rasanya nggak aman."
"Bu Lastri takut?"
"Bukan takut maling, Mas. Takut sepi." Ia tertawa kecil, tapi matanya tidak ikut tertawa. "Aneh ya, umur segini masih takut sepi."
Aku tidak menjawab. Ada jeda yang aneh, berat, di antara kami. Suara hujan mengisi ruangan.
"Pak Yanto sering luar kota ya?" tanyaku akhirnya.
"Sering. Namanya juga sopir pribadi. Kadang seminggu dua kali nginep di luar." Ia memainkan ujung handuk di tangannya. "Awalnya biasa aja. Lama-lama... ya gitu."
"Gitu gimana?"
Ia menatapku. Lama. "Mas Dimas nggak usah pura-pura nggak ngerti."
Jantungku berdegup kencang. Aku mengerti maksudnya, tapi aku tidak berani mengatakannya duluan.
"Bu..."
"Jangan panggil Bu terus. Panggil Lastri aja."
"Lastri..."
Ia bergeser duduk, lebih dekat denganku. Aku bisa mencium aroma sampo dari rambutnya yang basah, bercampur aroma hujan.
"Aku tahu ini salah, Mas," bisiknya. "Tapi aku capek pura-pura kuat terus."
Aku menatapnya. Di matanya ada ragu, ada takut, tapi ada juga sesuatu yang sudah bulat. Sesuatu yang sudah lama ditahan dan akhirnya menyerah.
Tanganku terangkat sendiri, menyentuh pipinya. Ia memejamkan mata dan menyandarkan pipinya ke telapak tanganku.
Hujan masih deras di luar. Dunia seakan menyusut tinggal ruangan ini saja.
Aku mendekat dan menciumnya. Pelan dulu, memberi kesempatan untuk mundur. Ia tidak mundur. Malah tangannya meraih tengkukku dan menarikku lebih dekat.
Ciuman itu berubah jadi lapar dalam hitungan detik. Bibirnya manis, ada sisa rasa kopi susu. Lidahnya menyambut lidahku tanpa ragu. Tangannya yang satu meremas kaosku, yang lain menyusup ke rambutku.
Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Tubuhnya hangat dan berisi, pas dalam pelukanku. Kaosnya yang masih lembap tidak menghalangi apa-apa. Aku bisa merasakan dadanya yang penuh menekan dadaku.
"Mas," desahnya di sela ciuman. "Ke kamar."
Aku menuntunnya ke kamarku. Sepanjang jalan ciuman kami tidak lepas. Di depan pintu kamar ia berhenti sebentar, menatapku dengan napas memburu.
"Yakin?" tanyaku, memberinya kesempatan terakhir untuk berhenti.
Ia mengangguk. "Jangan tanya lagi."
Di dalam kamar, semuanya terjadi dengan cepat tapi tidak terburu-buru. Aneh memang, tapi itulah rasanya. Nafsu yang sudah lama dipendam membuat setiap gerakan terasa mendesak, tapi kami berdua ingin menikmatinya perlahan.
Aku melepas kaosnya. Ia tidak memakai bra. Dadanya yang penuh dan ranum menyambut mataku, putingnya sudah mengeras karena udara dingin dan gairah.
"Cantik," bisikku.
Ia tersipu, tapi tidak menutupi dirinya. Malah ia menarik kaosku ke atas, melepaskannya, lalu tangannya menjelajah dadaku, perutku, turun ke bawah.
Celananya kulepas. Celana dalamku dilepasnya. Kami berdiri telanjang berhadapan dalam cahaya lampu kamar yang temaram, dan untuk sesaat kami hanya saling menatap. Mengagumi. Menghafal.
Lalu aku membaringkannya di ranjang. Sprei putih berantakan di bawah tubuhnya yang kuning langsat. Rambutnya tergerai di bantal. Ia terlihat begitu cantik sampai dadaku sesak.
Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya. Ia mendesah keras waktu mulutku menemukan putingnya. Tangannya menjambak rambutku, menahanku di sana.
"Jangan berhenti," bisiknya.
Tanganku turun, menyusuri perutnya yang sedikit buncit, menemukan tempat yang sudah basah dan siap. Ia mengangkat pinggulnya, mengundang.
Aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya lebar-lebar untukku. Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, sempit, sempurna.
Kami bergerak dengan ritme yang lambat dulu. Saling merasakan. Setiap tusukan disambut erangan kecil darinya. Kukunya mencakar punggungku. Kakinya melingkar di pinggangku, menarikku lebih dalam.
"Lebih kencang, Mas," pintanya.
Aku mempercepat gerakanku. Ranjang berderit. Napas kami memburu. Keringat bercampur. Di luar hujan masih turun, tapi kami tidak peduli lagi pada dunia.
Ia mencapai puncaknya lebih dulu. Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku, giginya menggigit kulitku pelan.
Melihat dan merasakannya seperti itu membuatku tak tahan. Beberapa detik kemudian aku menyusul, meledak di dalamnya dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam cukup lama. Hanya napas yang masih memburu. Tangannya mengelus dadaku pelan.
"Maaf," bisiknya tiba-tiba.
"Untuk apa?"
"Untuk ini. Aku istri orang."
Aku mengecup keningnya. "Kita berdua yang mau."
Ia mengangguk pelan. "Aku nggak nyesel. Cuma... takut."
"Rahasia kita."
Hujan mulai reda. Ia bangun, memakai pakaiannya kembali. Aku mengantarnya sampai pagar. Sebelum pulang ia mencium pipiku sekilas, lalu berjalan cepat ke arah rumahnya di ujung gang.
Malam itu aku tidak bisa tidur. Bayangan tubuhnya terus terngiang.
Pak Yanto pulang dua hari kemudian. Hidup berjalan normal. Ia tetap ramah, tetap ngobrol denganku di teras. Bu Lastri tetap mengantar rantang seperti biasa. Tidak ada yang berubah di permukaan.
Tapi setiap kali mata kami bertemu, ada kilat kecil yang hanya kami berdua yang tahu artinya.
Dan setiap kali Pak Yanto luar kota, ponselku bergetar. Pesan singkat darinya.
"Mas, ke rumah. Sepi."
Aku selalu datang.