CERITA DEWASA

Istri Teman Sekantorku

Namaku Bimo, tiga puluh dua tahun, kerja di perusahaan logistik sebagai staf operasional. Teman sekantorku, Andi, sudah seperti saudara sendiri. Kami masuk kerja di tahun yang sama, lembur bareng, bahkan pernah sekamar waktu dinas ke Semarang.

Sabtu siang itu aku mampir ke rumahnya. Bukan ada acara khusus — aku cuma mau mengembalikan dongkrak mobil yang kupinjam minggu lalu, sekalian katanya mau nonton bareng pertandingan bola jam tiga sore.

Rumah Andi tipe 90 di perumahan pinggir kota. Asri, ada taman kecil di depan. Yang membukakan pintu adalah Wulan, istrinya.

"Eh, Mas Bimo! Masuk, Mas," sapanya ceria.

Wulan tiga puluh tahun, dulu teller bank, sekarang resign dan jualan online dari rumah. Perawakannya semampai, kulitnya kuning langsat, rambutnya panjang digerai. Hari itu ia memakai kaos santai dan celana pendek selutut — pakaian rumahan yang biasa, tapi entah kenapa terlihat menarik di tubuhnya.

"Andinya mana, Mbak?" tanyaku sambil melepas sepatu.

"Ada di dalam, Mas. Lagi siap-siap," jawabnya sambil tersenyum.

Andi muncul dari kamar dengan kaos oblong. "Bim! Pas banget. Dongkraknya mana?"

"Itu, di jok belakang mobil. Nanti aku ambilin."

Kami duduk di ruang tamu. Wulan membawakan teh manis dan pisang goreng. Obrolan mengalir santai — soal kerjaan, soal manajer baru yang cerewet, soal rencana gathering kantor bulan depan.

Baru sekitar lima belas menit, ponsel Andi berdering kencang. Ia mengangkat, dan raut mukanya langsung berubah tegang.

"Halo, Pak? Iya... hah? Sekarang?" Ia berdiri. "Ya udah, saya ke sana sekarang. Tiga puluh menit sampai."

Ia menutup telepon dengan wajah kesal. "Sialan. Server gudang Cikarang down. Gue harus ke sana sekarang, Bim."

"Lho, kan hari Sabtu," kataku.

"Namanya juga operasional, Bim. Nggak kenal hari libur," keluhnya sambil bergegas ganti baju. "Maaf ya, batal nonton bolanya."

"Santai aja."

Andi menoleh ke istrinya. "Mah, temenin Mas Bimo ya. Gue nggak tahu pulang jam berapa. Paling cepat tiga jam."

"Iya, hati-hati di jalan," kata Wulan sambil mengantarnya sampai pagar.

Dan begitu saja, aku tertinggal berdua dengan istri teman sekantorku di rumah yang sepi.

Awalnya canggung. Aku duduk di sofa, Wulan duduk di kursi seberang sambil memainkan ponselnya. TV menyala tanpa suara, menayangkan berita siang.

"Mas Bimo mau nonton bola di sini aja?" tawar Wulan. "Andi bilang tadi mau nonton bareng. Lumayan ada temennya, biasanya saya nonton sendirian nggak ngerti bola."

"Boleh juga, Mbak. Masih setengah jam lagi mulainya."

Ia mengambil remote dan mengganti channel ke olahraga. Kami menonton pratinjau pertandingan sambil sesekali berkomentar.

"Andi tuh ya, Mas," kata Wulan tiba-tiba, "kerja terus. Sabtu Minggu juga masih dipanggil. Kadang saya mikir, dia nikah sama saya atau sama kantornya."

Aku tertawa kecil. "Namanya juga cari duit, Mbak."

"Iya sih. Tapi ya... sepi juga di rumah sendirian terus," katanya pelan. Ia menatap layar TV, tapi pandangannya kosong.

Aku tidak menjawab. Ada nada yang aneh dalam suaranya — bukan sekadar keluhan biasa.

"Mas Bimo sendiri gimana? Belum nikah kan?"

"Belum, Mbak. Belum nemu yang cocok."

"Hati-hati, Mas. Nanti keburu tua," godanya sambil tersenyum. Senyumnya manis.

Obrolan berlanjut. Wulan ternyata asyik diajak ngobrol. Ia cerita soal bisnis online-nya yang lagi naik daun — jualan skincare. Katanya omzetnya bulan lalu tembus dua digit juta, cukup untuk jajan dan nabung sendiri tanpa minta Andi. Ia cerita soal ibunya di Solo yang sakit-sakitan dan rencananya pulang kampung akhir bulan. Ia cerita soal mimpinya buka salon kecil-kecilan kalau tabungannya sudah cukup.

Di tengah obrolan, hujan turun. Awalnya rintik, lalu deras. Langit yang tadinya cerah mendung total dalam hitungan menit.

"Wah, deres banget," kata Wulan sambil berdiri dan menutup jendela ruang tamu yang terbuka. "Mas nggak bawa payung kan? Ya udah, nunggu reda aja di sini."

"Iya, Mbak."

Ia ke dapur membuatkan kopi. Aku memperhatikannya dari sofa — cara berjalannya, cara ia mengikat rambutnya yang mulai berantakan ke atas dengan karet gelang. Lehernya yang jenjang terekspos. Ada keringat tipis di pelipisnya karena udara yang pengap sebelum hujan.

Aku menggelengkan kepala, mengusir pikiran yang mulai tidak karuan. Ini istri Andi. Teman sekantorku. Saudaraku sendiri.

Tapi mataku bandel. Celana pendeknya memperlihatkan paha yang mulus dan kencang. Kaosnya yang tipis mencetak jelas lekuk tubuhnya setiap kali ia membungkuk mengambil sesuatu.

"Mas suka kopinya yang manis atau pahit?" teriaknya dari dapur.

"Manis aja, Mbak. Kayak yang bikin," jawabku spontan.

Terdengar tawanya dari dapur. "Mas Bimo bisa aja."

Wulan kembali dengan dua cangkir kopi. Ia duduk — kali ini bukan di kursi seberang, tapi di ujung sofa yang sama denganku. Dekat. Cukup dekat sampai aku bisa mencium aroma sampo dari rambutnya.

"Mas," katanya pelan sambil menatap cangkir kopinya, "boleh saya tanya sesuatu yang agak pribadi?"

"Boleh, Mbak."

"Menurut Mas, saya ini istri yang baik nggak?"

Pertanyaan itu membuatku kaget. "Lho, kok nanya gitu?"

"Andi tuh nggak pernah bilang apa-apa. Pulang malam, makan, tidur. Bangun pagi, berangkat lagi. Kadang saya ngerasa kayak... kayak pembantu yang dibayar dengan nafkah," katanya dengan suara bergetar. "Saya tahu dia kerja keras buat keluarga. Tapi saya juga manusia, Mas. Saya butuh... diperhatikan."

Tangannya gemetar sedikit saat mengangkat cangkir. Aku melihat ada air mata menggenang di sudut matanya — tapi ia buru-buru mengusapnya sambil tertawa kecil yang dipaksakan.

"Maaf ya, Mas, curhat nggak jelas."

"Nggak apa-apa, Mbak. Saya ngerti."

Aku mengulurkan tangan dan menepuk bahunya pelan, bermaksud menenangkan. Tapi ia malah menoleh, dan tangan kirinya menangkup tanganku yang ada di bahunya.

Kami terdiam. Hujan menderas di luar. TV masih menyala tanpa suara. Dan di sofa itu, jarak antara kami menyusut sampai tidak ada lagi.

"Mbak Wulan..." bisikku.

Ia tidak menjawab. Ia meletakkan cangkir kopinya ke meja, lalu berbalik menghadapku sepenuhnya. Matanya menatap mataku — dan di sana tidak ada keraguan, hanya keberanian yang lahir dari kesepian yang terlalu lama dipendam.

Aku tahu ini salah. Andi adalah sahabatku. Tapi ketika bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut, semua logika itu runtuh berkeping-keping.

Ciuman itu awalnya pelan, hampir seperti pertanyaan. Tapi kemudian menjadi tuntutan. Tangannya melingkar di leherku, menarikku lebih dekat. Tubuhnya yang ramping dan hangat menempel padaku.

Aku membalas ciumannya dengan berani. Tanganku menyusuri punggungnya, merasakan kaos tipisnya dan kulit hangat di bawahnya. Ia mendesah pelan di sela bibir kami — desahan yang membuat darahku berdesir.

Kami bergeser, ia setengah berbaring di sofa dengan aku di atasnya. Kaosnya tersingkap saat tanganku merayap naik. Kulit perutnya halus dan hangat.

"Ke kamar," bisiknya parau. "Di sini nggak enak, takut ada yang lihat dari jendela."

Ia bangkit dan menarik tanganku menuju kamar tidur utama. Kamar yang rapi dengan ranjang besar dan seprai biru muda. Foto pernikahannya dengan Andi tergantung di dinding — aku berusaha tidak melihatnya.

Begitu pintu kamar tertutup, ia berbalik dan memelukku erat. Kami bercumbu dengan ganas, seolah menebus waktu yang hilang. Pakaian kami terlepas satu per satu, berserakan di lantai kamar.

Tubuhnya indah — ramping dengan lekuk yang pas, kulit kuning langsat yang mulus. Ia tidak malu-malu; ia menatapku dengan berani saat aku menatapnya.

Aku membaringkannya di ranjang. Kami bercinta dengan perlahan tapi intens. Setiap sentuhan terasa seperti pengakuan. Aku menciumi lehernya, bahunya, turun perlahan sambil merasakan tubuhnya menegang dan melentur di bawahku. Tangannya menjelajah punggungku, sesekali mencengkeram saat gelombang kenikmatan datang.

Ia memelukku erat, kukunya menancap di punggungku, dan ia membisikkan hal-hal yang membuatku semakin membara.

"Jangan berhenti, Mas... aku kangen banget diginiin..."

Kata-katanya menghantamku. Perempuan ini — istri sahabatku — sudah begitu lama haus perhatian sampai hal seperti ini terasa seperti penyelamatan baginya.

Kami mencapai puncak hampir bersamaan. Ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan agar desahannya tidak terlalu keras, tubuhnya bergetar hebat di pelukanku.

Setelahnya kami berbaring diam, terengah-engah, menatap langit-langit kamar. Keringat membasahi tubuh kami berdua.

"Mas nyesel?" tanyanya pelan.

Aku menoleh. Ia menatapku dengan mata yang waspada — takut mendengar jawaban yang salah.

"Nggak," jawabku jujur. "Kamu?"

Ia menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. "Saya juga nggak. Malah... makasih, Mas."

Ponselku bergetar. Pesan dari Andi: "Servernya parah, kayaknya sampai malam. Lo pulang aja kalau hujan udah reda. Nanti gue kabarin."

Aku menunjukkan pesan itu pada Wulan. Ia membaca, lalu menghela napas lega.

"Kita masih punya waktu," bisiknya dengan senyum nakal yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

Ia bangkit dari ranjang tanpa memakai apa-apa, berjalan ke arah jendela dan mengintip keluar. Hujan masih deras. Lalu ia berbalik, bersandar di kusen jendela, dan menatapku.

Pemandangan itu — tubuhnya yang telanjang dalam cahaya redup kamar, rambutnya yang berantakan, senyumnya yang berani — membuatku bangkit dan menghampirinya.

Dan sore itu, di rumah teman sekantorku, di ranjangnya, kami mengulanginya sekali lagi — lebih lambat, lebih dalam, seolah tidak ingin sore itu berakhir.

Hujan reda sekitar jam lima. Aku berpamitan dengan canggung tapi hangat. Wulan mengantarku sampai pagar, sudah kembali rapi dengan daster rumahan — seolah tidak terjadi apa-apa. Rambutnya sudah disisir rapi, tidak ada lagi jejak kekacauan sore tadi. Hanya aku yang tahu apa yang tersembunyi di balik penampilan tenangnya itu.

"Hati-hati di jalan, Mas Bimo," katanya dengan senyum manis. "Main-main lagi ke sini ya."

"Pasti, Mbak," jawabku. Tanganku sempat menyentuh tangannya sekilas saat bersalaman — sentuhan singkat yang menyimpan seribu arti.

Di perjalanan pulang, ponselku bergetar lagi. Pesan dari Wulan:

"Jangan bilang Andi ya."

Aku membalas: "Rahasia kita."

Sejak hari itu, setiap kali Andi lembur atau dinas luar kota, ponselku selalu bergetar. Kadang hanya pesan singkat: "Andi berangkat tadi pagi." Kadang foto secangkir kopi di meja dapur — kode yang hanya kami berdua yang mengerti.

Dan aku selalu datang — bukan untuk Andi, tapi untuk Wulan.

bagikan