CERITA DEWASA

Bidan Puskesmas

Darah menetes dari sela-sela kaos yang membebat tangan kananku. Setetes, dua tetes, jatuh ke lantai semen puskesmas yang sudah kusam. Aku menekan bebatannya lebih kencang, tapi darah tetap merembes.

Antrean pagi itu panjang sekali. Ibu-ibu bawa anak batuk pilek, bapak-bapak bawa surat rujukan, lansia-lansia bawa keluhan pegal. Aku duduk di kursi plastik paling ujung, menahan perih, mencoba tidak meringis.

Tiga puluh menit lalu aku masih di bengkel. Kunci inggris selip waktu aku mengencangkan baut roda truk. Tangan kananku menghantam bibir bak oli yang tajam. Robek. Dalam. Bosku, Pak Haji, langsung menyuruhku ke puskesmas.

"Jahit itu, Ton. Jangan dibiarin."

Jadi inilah aku. Toni, tiga puluh lima tahun, montir bengkel truk, duduk di antara ibu-ibu dan anak-anak dengan tangan berdarah.

"Nomor tiga puluh delapan!" panggil petugas loket.

Aku maju. Setelah administrasi, aku diarahkan ke ruang tindakan. Seorang perempuan muda keluar menyambutku. Seragam putihnya rapi, rambutnya disanggul, masker menutupi setengah wajahnya. Tapi matanya ramah.

"Silakan duduk, Pak. Saya lihat lukanya," katanya.

Aku duduk di brankar. Ia membuka bebatanku perlahan. Kain kaosnya sudah lengket dengan darah kering. Aku meringis waktu ia melepasnya.

"Maaf, maaf," katanya lembut. "Namanya siapa?"

"Toni. Umur tiga puluh lima. Montir."

Ia tersenyum di balik maskernya. "Saya Rini. Bidan di sini. Umur tiga puluh dua."

Bidan Rini membersihkan lukaku dengan cairan antiseptik. Perihnya luar biasa, tapi tangannya lembut. Ia bekerja dengan tenang dan teliti, tidak terburu-buru seperti petugas kesehatan yang sudah lelah dengan antrean.

"Robeknya cukup dalam," katanya. "Harus dijahit. Lima jahitan kayaknya."

Aku menelan ludah. "Sakit nggak?"

"Jangan panggil saya Bu. Panggil Rini aja." Ia menyiapkan alat jahit dan bius lokal. "Dibius dulu, jadi nggak sakit. Cuma kayak digigit semut."

Proses jahitnya cepat. Tangannya stabil. Sambil menjahit, ia mengajakku ngobrol supaya aku tidak tegang. Soal bengkel, soal truk, soal kenapa kunci inggris bisa selip.

"Kurang ngopi itu," candanya.

Aku tertawa, lalu langsung meringis karena tanganku ikut bergerak.

"Jangan gerak-gerak," tegurnya, tapi matanya ikut tertawa.

Setelah selesai, ia membebat tanganku dengan perban bersih dan memberiku obat antibiotik dan pereda nyeri.

"Kontrol tiga hari lagi ya. Buat ganti perban dan cek jahitannya. Terus kontrol kedua seminggu setelah itu, kontrol ketiga dua minggu. Nanti jahitan dibuka."

"Tiga kali kontrol?"

"Iya. Biar sembuh sempurna. Tangannya kan buat kerja."

Aku mengangguk. Dalam hati, aku tidak keberatan sama sekali harus kembali tiga kali.

Tiga hari kemudian aku datang untuk kontrol pertama. Puskesmas pagi itu tidak seramai kemarin. Bidan Rini menyambutku dengan senyum yang langsung kukenali dari matanya.

"Gimana tangannya? Masih nyut-nyutan?"

"Udah mendingan. Cuma gatel di sekitar jahitan."

"Wajar. Artinya sembuh."

Ia membuka perbanku dan memeriksa jahitan. Bersih, tidak ada tanda infeksi. Ia mengganti perban dengan yang baru, tangannya tetap lembut seperti kemarin.

"Mas Toni udah lama jadi montir?" tanyanya sambil bekerja.

"Dari umur dua puluh. Lima belas tahun."

"Lama juga. Nggak bosen?"

"Bosen sih kadang. Tapi ya ini yang aku bisa." Aku menatapnya. "Rini udah lama jadi bidan?"

"Delapan tahun. Dari lulus langsung di sini."

"Betah?"

Ia mengangguk, tapi ada jeda kecil sebelum anggukannya. "Betah. Suka nolong orang."

Kontrol pertama selesai dalam lima belas menit. Terlalu cepat, menurutku. Aku berharap bisa ngobrol lebih lama.

Seminggu kemudian, kontrol kedua. Kali ini puskesmas sepi. Aku datang jam sepuluh pagi, dan ruang tindakan kosong selain kami berdua.

"Wah, sepi," kataku.

"Hari Kamis memang sepi. Orang-orang males berobat hari Kamis." Rini tertawa.

Ia memeriksa jahitanku. "Bagus. Kering sempurna. Minggu depan jahitannya bisa dibuka."

Sambil mengganti perban, kami ngobrol lebih santai. Ia cerita soal adiknya yang kuliah di Jogja, soal ibunya yang jualan gorengan di depan rumah, soal kucingnya yang baru melahirkan empat anak.

"Kucingku namanya Moli," katanya bangga.

"Nama yang bagus untuk kucing."

Aku cerita soal bengkel, soal Pak Haji yang pelit tapi baik, soal rencanaku nabung buat buka bengkel sendiri suatu hari nanti.

"Bagus itu. Punya usaha sendiri," katanya. "Aku dukung."

Ada kehangatan dalam obrolan itu yang membuatku betah. Rini itu cantik, tapi bukan cantik yang menyilaukan. Cantik yang menenangkan. Suaranya lembut, tawanya renyah, dan ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh waktu orang bicara.

"Wajahku kenapa diliatin terus?" godanya tiba-tiba.

Aku tersentak. "Hah? Nggak. Aku... perbannya bagus."

Ia tertawa. "Alasan."

Pipiku panas. Untung maskerku menutupi sebagian wajah.

Kontrol kedua selesai. Tapi sebelum aku pergi, Rini berkata, "Kontrol ketiga datangnya agak sorean ya. Jam tiga. Soalnya pagi aku ada penyuluhan di posyandu."

"Siap."

Seminggu berlalu lambat sekali. Tanganku sudah hampir sembuh total. Jahitannya tidak perih lagi. Tapi aku menunggu-nunggu jam tiga sore hari kontrol ketiga itu dengan perasaan yang tidak biasa.

Aku datang tepat jam tiga. Puskesmas sore itu sepi sekali. Hampir tidak ada pasien. Lampu lorong sudah dinyalakan sebagian.

Ruang tindakan kosong. Rini sedang merapikan alat-alat.

"Mas Toni," sapanya ceria. "Pas banget. Terakhir nih."

"Terakhir kontrol, maksudnya," kataku.

"Iya. Terakhir kontrol." Ia menatapku. "Sayang ya."

Jantungku berdegup. "Sayang kenapa?"

"Nggak ada yang bisa aku obrolin lagi waktu sepi gini."

Kami tertawa, tapi ada sesuatu yang menggantung di udara. Sesuatu yang belum terucap.

Rini membuka perbanku untuk terakhir kalinya. Jahitannya sudah kering sempurna. Ia mengambil gunting kecil dan pinset.

"Siap? Dibuka jahitannya. Cepet kok."

Satu per satu jahitan dibuka. Rasanya seperti dicubit kecil. Tidak sakit, cuma aneh.

"Nah, selesai," katanya sambil membuang benang-benang bekas ke tempat sampah medis. "Tangannya sembuh total. Udah bisa kerja normal lagi."

Ia tidak langsung melepas sarung tangannya. Ia duduk di kursi sebelah brankar, menatap tanganku yang sudah bersih dari perban.

"Ada bekasnya," katanya pelan. "Tapi samar."

"Bekas luka itu tanda pernah berjuang," kataku sok bijak.

Ia tertawa. Lalu tiba-tiba tawanya berhenti, dan wajahnya berubah serius.

"Mas Toni," katanya. "Boleh aku cerita sesuatu?"

"Boleh."

Ia melepas maskernya. Untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya utuh. Cantik. Bibirnya tipis, hidungnya mancung, ada tahi lalat kecil di pipi kanan.

"Tahun lalu aku batal nikah," katanya pelan. "Kurang dua bulan. Tunanganku selingkuh sama teman sekantornya."

Aku tidak tahu harus menjawab apa. "Maaf. Aku nggak tahu."

"Nggak apa-apa. Udah setahun. Harusnya udah sembuh." Ia menatap tanganku. "Tapi kadang aku ngerasa kayak luka ini. Di luar udah kering, tapi di dalam masih nyut-nyutan."

Dadaku sesak mendengarnya.

"Sejak itu aku susah percaya orang," lanjutnya. "Tiap ada yang deketin, aku mundur duluan. Takut disakitin lagi."

"Rini..."

"Tapi tiga minggu ini..." Ia menatapku. Matanya berkaca-kaca. "Tiga minggu ini tiap Mas Toni kontrol, aku nungguin. Aku cek jadwal, aku harap Mas datangnya pas aku yang jaga. Aku tahu itu nggak profesional. Tapi aku nggak bisa bohong sama diriku sendiri."

Ruang tindakan itu sunyi. Di luar, suara azan magrib mulai terdengar sayup dari masjid seberang jalan.

"Aku juga," kataku akhirnya. Suaraku serak. "Seminggu terakhir aku ngitung hari. Bukan karena tanganku. Karena pengen ketemu kamu."

Ia menatapku lama. Lalu perlahan, ia mengulurkan tangannya dan menggenggam tanganku yang sudah sembuh. Tangannya hangat.

"Kita orang dewasa," bisiknya. "Nggak usah pura-pura."

Aku mengangguk. Aku berbalik menghadapnya. Jarak kami tinggal sejengkal. Aku bisa mencium wangi sabun antiseptik bercampur parfum lembut dari tubuhnya.

Aku mendekat dan menciumnya. Pelan. Bibirnya lembut dan sedikit gemetar. Ia tidak mundur. Malah tangannya naik ke tengkukku, menarikku lebih dekat.

Ciuman itu makin dalam. Ada rasa rindu yang lama dipendam di sana. Napasnya memburu. Tanganku yang sudah sembuh melingkar di pinggangnya yang ramping.

Rini berdiri dan mengunci pintu ruang tindakan. Klik. Lalu ia mematikan lampu utama, menyisakan lampu kecil di sudut ruangan.

Kami berdiri berhadapan dalam temaram. Ia melepas sanggulnya. Rambut panjangnya tergerai sampai pinggang. Cantik sekali.

"Yakin?" tanyaku, memberinya kesempatan terakhir.

Ia mengangguk. "Aku yang mulai duluan ceritanya. Jangan suruh aku mundur sekarang."

Aku menciumnya lagi, lebih berani. Tanganku membuka kancing seragam putihnya satu per satu. Di baliknya ia memakai kaos dalam berwarna krem. Dadanya yang selama ini tersembunyi di balik seragam yang kaku ternyata indah. Penuh dan ranum.

"Mas," desahnya waktu tanganku menyentuh dadanya lewat kaos itu.

Seragamnya melorot ke lantai. Kaos dalamnya kuangkat. Ia memakai bra putih sederhana. Aku membukanya dengan jari yang sedikit gemetar. Dadanya menyambutku, putingnya sudah mengeras.

Aku membaringkannya di brankar yang lebar. Ia menatapku dari bawah, rambutnya tergerai, pipinya memerah. Dalam cahaya redup, ia terlihat seperti bidadari yang nyasar ke puskesmas.

Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya. Ia mendesah panjang dan menjambak rambutku. Tangannya yang biasa memegang alat medis itu sekarang mencengkeram bahuku.

Rok seragamnya kulepas. Celanaku dibuka olehnya. Kami telanjang di ruang tindakan yang sepi, hanya ditemani bau antiseptik dan detak jantung yang berpacu.

Tubuhnya indah. Kulitnya putih bersih, perutnya rata, kakinya jenjang. Tiga puluh dua tahun yang dirawat dengan baik.

Aku menciumi seluruh tubuhnya dengan hormat, seperti berterima kasih. Karena tangannya yang sudah menyembuhkan lukaku, sekarang ia menyerahkan dirinya padaku.

Waktu aku masuk, ia melenguh dan memelukku erat. Hangat, lembut, dalam. Kami berdua terdiam sesaat, saling merasakan, saling mengucap syukur tanpa kata.

Lalu kami bergerak. Pelan dulu, ritmis, penuh perasaan. Bukan nafsu yang terburu-buru, tapi kerinduan yang akhirnya menemukan rumahnya. Setiap gerakan disambut desahan kecil darinya. Tangannya mengelus wajahku, menatapku dalam-dalam.

"Aku takut," bisiknya di tengah desahannya. "Takut ini cuma sesaat."

"Nggak," kataku sambil mencium keningnya. "Aku nggak ke mana-mana."

Pelan-pelan ritme kami bertambah cepat. Ia mulai mengerang, pinggulnya bergerak mengimbangi. Brankar berderit pelan. Keringat membasahi tubuh kami.

"Mas... aku mau..." katanya terputus-putus.

"Ya. Lepasin aja."

Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di dadaku. Aku menyusul beberapa detik kemudian, meledak di dalamnya dengan desahan panjang.

Kami terbaring diam cukup lama di brankar yang sempit. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya yang basah oleh keringat.

"Gila," bisiknya sambil tertawa kecil. "Di ruang tindakan. Aku bisa dipecat."

"Nggak akan ada yang tahu."

"Iya. Rahasia kita."

Kami berpakaian kembali dengan cepat. Ia menyanggul rambutnya lagi, memakai maskernya lagi. Dalam sekejap ia kembali jadi Bidan Rini yang profesional. Tapi matanya menyimpan senyum yang hanya aku yang mengerti.

Sebelum aku pulang, ia menulis sesuatu di secarik kertas resep dan menyelipkannya ke sakuku.

"Nomor HPku. Telepon ya. Bukan buat kontrol. Buat yang lain."

Aku pulang malam itu dengan tangan yang sembuh total dan hati yang penuh.

Seminggu kemudian aku meneleponnya. Kami makan malam di warung tenda dekat puskesmas. Lalu nonton bioskop. Lalu jalan-jalan.

Tiga bulan kemudian, aku melamarnya. Sederhana saja, di rumah ibunya, dengan cincin yang kubeli dari tabungan bengkel.

Ibunya menangis bahagia. Adiknya yang di Jogja menelepon sambil teriak-teriak.

Sekarang, setiap pagi aku berangkat ke bengkel dengan bekal buatan Rini. Dan setiap ada luka kecil di tanganku, aku tidak perlu ke puskesmas lagi.

Ada bidan pribadi di rumah.

Kadang luka memang membawa berkah. Lukaku membawaku ke ruang tindakan sore itu. Dan ruang tindakan sore itu membawaku ke perempuan yang sekarang tidur di sebelahku setiap malam.

Bekas jahitan di tanganku masih ada. Samar, tapi ada.

Aku tidak pernah ingin menghilangkannya. Itu tanda perjuanganku. Perjuangan yang berujung pada hal terbaik dalam hidupku.

bagikan