CERITA DEWASA

Sunset di Bukit

Langit terbakar oranye. Awan-awan tipis di ufuk barat seperti bara api yang merambat pelan, dan matahari bulat sempurna menggantung rendah di atas garis pegunungan. Angin sore mengusap wajahku yang basah oleh keringat. Aku baru saja tiba di puncak setelah empat puluh menit mendaki. Napasku masih memburu, lututku gemetar, tapi pemandangan di depan mataku membuat semua lelah itu terbayar lunas.

Bukit ini bukan tempat wisata terkenal. Tidak ada tiket masuk, tidak ada warung di puncak, hanya jalur tanah menanjak di antara kebun warga. Aku menemukannya tiga bulan lalu dari seorang teman kantor, dan sejak itu hampir tiap Sabtu sore aku ke sini. Ritual kecil untuk melarikan diri dari tumpukan laporan dan bunyi printer yang tidak pernah berhenti.

Aku duduk di atas batu besar yang sudah menjadi tempat favoritku, mengeluarkan botol air minum, lalu meneguknya dalam-dalam. Lalu mataku menangkap sesuatu. Sekitar sepuluh meter di sebelah kiriku, di balik rumpun ilalang, ada seseorang duduk di atas batu yang lebih kecil. Seorang perempuan. Rambutnya yang panjang tergerai ditiup angin, dan di pangkuannya terbuka sebuah buku sketsa.

Ia tampak begitu larut dalam gambarnya sampai tidak menyadari kehadiranku. Jemarinya bergerak lincah di atas kertas, sesekali berhenti untuk menatap langit, lalu kembali menggores. Ada ketenangan dalam caranya duduk di sana, seolah bukit ini miliknya seorang. Aku tidak ingin mengganggunya, jadi aku hanya duduk diam, menikmati sunset sambil sesekali mencuri pandang.

Lima belas menit berlalu. Matahari semakin turun, warnanya berubah dari oranye menjadi merah tembaga. Perempuan itu menutup buku sketsanya, menghela napas panjang, lalu menoleh. Matanya bertemu mataku. Ia tersenyum kecil, tidak terkejut, seolah sudah tahu aku ada di sana sejak tadi.

"Bagus ya," katanya, suaranya jernih terbawa angin.

Aku mengangguk. "Setiap Sabtu aku ke sini. Tapi ini pertama kalinya aku ketemu orang lain di puncak."

Ia tertawa pelan. "Berarti aku beruntung. Atau kamu yang beruntung."

Namanya Rania. Ia menghampiriku dan duduk di batu yang tidak jauh dariku, menjaga jarak yang sopan tapi cukup dekat untuk mengobrol. Usianya dua puluh tujuh tahun, desainer grafis lepas yang bekerja dari rumah. Ia bercerita bahwa seminggu terakhir ia dikejar tiga tenggat proyek sekaligus, tidur tidak pernah lebih dari empat jam, dan sore ini ia memutuskan kabur sejenak sebelum kepalanya meledak.

"Aku Elang," kataku. "Tiga puluh empat tahun, staf logistik di sebuah perusahaan distribusi. Alasan kaburku lebih sederhana. Bosku."

Rania tertawa lagi, kali ini lebih lepas. "Alasan klasik tapi selalu valid."

Kami mengobrol seperti dua orang yang sudah lama saling kenal, padahal baru sepuluh menit bertemu. Ia menunjukkan sketsanya. Gambar sunset yang baru saja ia buat, garis-garisnya kasar tapi hidup. Aku memuji dengan tulus, dan pipinya sedikit merona. Ada sesuatu dalam caranya bicara, campuran lelah dan lega, yang membuatku ingin terus mendengarkan.

Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya. Langit berubah ungu gelap di timur, sementara sisa cahaya jingga masih bertahan di barat seperti bara yang enggan padam. Angin mulai bertiup lebih kencang dan udara terasa lebih dingin.

"Kayaknya kita harus turun," kata Rania sambil melirik jam di pergelangan tangannya. "Langit di sebelah sana kelihatan gelap."

Aku menoleh ke arah yang ia tunjuk. Benar saja, dari arah utara awan hitam menggumpal tebal, bergerak pelan ke arah kami. Bau tanah basah mulai tercium, pertanda hujan sudah turun di kejauhan.

"Aku hafal jalurnya," kataku. "Kalau kita jalan sekarang, kita bisa sampai bawah sebelum hujan deras."

Kami bergegas membereskan barang. Rania memasukkan buku sketsa ke dalam tas ransel kecilnya, aku menghabiskan sisa air minumku. Lalu kami mulai menuruni jalur tanah yang tadi kunaiki. Jalurnya cukup jelas, tapi licin di beberapa titik karena dedaunan kering.

Di tengah perjalanan, Rania terpeleset di sebuah turunan. Refleksku lebih cepat dari pikiranku. Tanganku menangkap lengannya sebelum ia jatuh. Ia terhuyung dan menabrak bahuku, napasnya memburu, wajahnya pucat.

"Hati-hati," kataku, masih memegangi lengannya. "Jalur ini licin kalau sudah sore."

"Maaf," katanya sambil tertawa gugup. "Aku memang payah urusan jalan kaki."

"Tidak apa-apa. Pegangan saja." Aku mengulurkan tanganku, dan ia menerimanya tanpa ragu.

Kami melanjutkan turun sambil bergandengan tangan. Rasanya aneh sekaligus wajar. Tangan Rania kecil dan hangat, genggamannya erat setiap kali jalur menurun. Kami mengobrol untuk mengusir tegang, ia bercerita tentang kliennya yang cerewet, aku bercerita tentang gudangku yang berantakan. Tawa kami menggema di antara pepohonan.

Tiba-tiba, bunyi gemuruh terdengar dari kejauhan. Guntur. Lalu titik-titik air mulai jatuh, satu dua, lalu semakin rapat. Hujan datang lebih cepat dari perkiraanku.

"Itu warung!" seru Rania sambil menunjuk ke bawah. Di kaki bukit, sekitar seratus meter dari posisi kami, terlihat cahaya lampu temaram dari sebuah warung kecil. "Ayo lari!"

Kami berlari menuruni sisa jalur. Hujan semakin deras, membasahi kaos dan celanaku dalam hitungan detik. Rania menjerit kecil, setengah tertawa setengah panik, rambutnya yang tadi rapi kini menempel basah di wajahnya. Tanganku masih menggenggam tangannya, dan kami berlari seperti dua anak kecil yang kabur dari hujan.

Kami tiba di warung itu dengan napas terengah dan tubuh kuyup. Atap seng warung berderak keras diterpa hujan. Di dalamnya hanya ada seorang bapak tua penjaga warung yang duduk santai seolah hujan badai adalah hal biasa.

"Duduk, duduk," kata bapak itu ramah. "Hujannya deras. Teh hangat?"

Kami mengangguk serempak, lalu tertawa melihat keadaan masing-masing. Bajuku menempel di badan, rambut Rania berantakan total, tapi matanya berbinar. Ada kegembiraan aneh dalam kekacauan sore itu.

Teh hangat itu mengepul di depan kami. Warungnya sederhana, hanya empat meja kayu dan bangku panjang, tapi terasa seperti surga setelah berlari kehujanan. Bapak tua itu kembali ke kursinya di sudut, menyalakan radio kecil yang memutar lagu keroncong dengan suara kresek-kresek.

Rania memeluk gelas tehnya dengan kedua tangan, menyeruput pelan. Uap panas mengepul ke wajahnya. "Gila," katanya. "Sudah lama aku tidak merasa sebebas ini."

"Sebebas apa?"

"Sebebas orang yang tidak punya tenggat. Tidak punya klien yang menelepon jam sebelas malam. Tidak punya tagihan yang menumpuk." Ia tersenyum miris. "Kamu tahu rasanya kerja lepas? Semua orang mengira enak karena bisa kerja dari mana saja. Padahal artinya kerja dari mana saja, kapan saja, tanpa henti."

Aku mengangguk. "Aku karyawan tetap dan tetap saja rasanya tidak berhenti. Bedanya, aku dibayar untuk lembur. Kamu lembur gratis."

"Tepat sekali." Ia tertawa, lalu menatapku lekat-lekat. "Kamu sering ke bukit ini sendirian?"

"Hampir tiap Sabtu. Istriku... eh, maksudku, aku belum menikah. Jadi tidak ada yang protes kalau aku hilang seharian."

Rania mengangkat alis. "Belum menikah di umur tiga puluh empat? Di kampungku itu sudah disebut perjaka tua."

"Di kantorku juga," kataku pasrah, dan kami tertawa bersama.

Hujan di luar semakin deras. Petir menyambar sesekali, membuat lampu warung berkedip. Bapak tua itu sepertinya tertidur di kursinya, kepalanya terkulai, radio masih menyala pelan. Kami berdua praktis sendirian di meja itu, dikelilingi bunyi hujan yang menghantam atap seng.

Rania menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Tidak kentara, tapi aku menyadarinya. Lututnya kini hampir menyentuh lututku di bawah meja kayu yang sempit itu.

"Kamu tahu," katanya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh bunyi hujan, "sudah lama aku tidak ngobrol santai begini dengan seseorang. Tanpa agenda. Tanpa basa-basi klien."

"Aku juga," kataku jujur. "Teman-teman kantorku kalau ngobrol topiknya cuma tiga. Kerjaan, bola, atau cicilan."

Ia tersenyum, lalu menatap tanganku yang bertumpu di meja. Perlahan, jemarinya menyentuh punggung tanganku. Sentuhan ringan, nyaris ragu, tapi cukup untuk membuat jantungku berdegup lebih kencang.

"Aku boleh jujur?" bisiknya.

"Boleh."

"Aku tidak ingin sore ini berakhir."

Aku menatap matanya. Di sana tidak ada keraguan, hanya keberanian yang tenang dan sedikit rasa takut yang manusiawi. Aku membalik tanganku, menggenggam jemarinya.

"Aku juga tidak ingin," kataku.

Hujan masih deras di luar. Bapak tua itu masih tertidur. Di belakang warung ada sebuah ruangan kecil, kulihat pintunya sedikit terbuka. Sepertinya ruang istirahat penjaga warung, dengan sebuah dipan bambu dan lampu redup. Rania mengikuti arah pandanganku, lalu menatapku lagi dengan senyum tipis yang penuh arti.

"Tanya bapaknya," bisiknya. "Bilang kita mau berteduh lebih lama. Bayar seikhlasnya."

Jantungku berdegup kencang saat aku menghampiri bapak tua itu dan membangunkannya pelan. Ia menguap, mendengarkan permintaanku, lalu mengangguk santai sambil menunjuk ruangan belakang. "Pakai saja. Hujan begini biasanya sampai malam. Nanti kalau mau pulang, ketuk saja."

Aku kembali ke meja dan mengangguk pada Rania. Wajahnya merona, tapi ia berdiri dengan mantap dan mengikutiku ke ruangan belakang.

Ruangan itu kecil dan sederhana. Dipan bambu di sudut, sebuah meja kecil, dan lampu gantung redup yang bergoyang pelan tertiup angin dari celah dinding. Bunyi hujan terdengar lebih jelas di sini, menghantam atap seng tepat di atas kami seperti musik yang tidak beraturan.

Rania menutup pintu pelan. Ia bersandar di pintu itu, menatapku. Rambutnya masih basah, kaosnya menempel di tubuhnya, dan ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat napasku tercekat. Bukan sekadar keinginan, tapi juga kelegaan, seolah ia akhirnya berhenti berlari dari sesuatu.

"Aku tidak mau menyesal," katanya pelan. "Sore ini terlalu indah untuk disia-siakan."

Aku menghampirinya perlahan, memberinya ruang untuk berubah pikiran. Tapi ia justru melangkah maju, jemarinya menyentuh pipiku yang basah. Lalu bibir kami bertemu. Ciuman pertama itu lembut, ragu, seperti pertanyaan. Lalu menjadi lebih dalam, lebih pasti, seperti jawaban.

Tanganku merambat ke pinggangnya, menariknya lebih dekat. Tubuhnya hangat meski bajunya basah kuyup. Ia melingkarkan lengannya di leherku, jemarinya meremas rambutku yang basah. Kami bergerak mundur perlahan sampai punggungnya menyentuh dinding bambu, dan ciuman kami semakin membara.

"Aku dingin," bisiknya di sela napasnya yang memburu.

Aku melepaskan kaosku yang basah, lalu membantunya melepaskan kaosnya juga. Kulitnya terasa dingin disentuh, merinding di bawah jemariku. Aku menggosok lengannya perlahan untuk menghangatkannya, dan ia mendesah pelan, menyandarkan kepalanya di bahuku.

Kami berbaring di dipan bambu yang berderit pelan. Di luar, hujan masih mengguyur tanpa ampun, petir sesekali menyambar jauh. Tapi di ruangan kecil itu, hanya ada kami berdua dan kehangatan yang perlahan tumbuh. Setiap sentuhan terasa seperti penemuan, setiap desahan seperti pengakuan. Tidak ada terburu-buru, tidak ada kepura-puraan. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama lelah dengan hidupnya, menemukan pelarian satu sama lain.

Ketika semuanya mencapai puncaknya, Rania menggenggam tanganku erat-erat, kukunya menancap pelan di kulitku. Ia membenamkan wajahnya di lekuk leherku, napasnya panas dan memburu. Aku memeluknya erat, merasakan detak jantungnya yang berpacu seirama dengan jantungku. Untuk beberapa saat yang terasa abadi, dunia di luar ruangan itu tidak ada.

Lama kami berbaring diam, hanya mendengarkan hujan dan napas masing-masing. Rania menggambar pola-pola tak beraturan di dadaku dengan ujung jarinya.

"Terima kasih," bisiknya tiba-tiba.

"Untuk apa?"

"Untuk tidak bertanya macam-macam. Untuk tidak membuat ini jadi rumit."

Aku tersenyum dan mengecup keningnya. "Sore ini memang tidak perlu rumit."

Sekitar satu jam kemudian hujan mulai reda, tinggal rintik-rintik malu. Kami berpakaian kembali, merapikan diri sebisanya, lalu keluar. Bapak tua itu sudah bangun dan tersenyum penuh pengertian saat kami membayar teh dan menitipkan uang tambahan untuk ruangannya. Ia hanya mengangguk-angguk tanpa banyak tanya.

Di luar, udara segar setelah hujan. Bau tanah basah memenuhi paru-paruku. Langit sudah bersih, bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu. Rania berjalan di sampingku menuju area parkir di bawah, tempat motorku terparkir.

"Elang," katanya sebelum kami berpisah. Ia mengeluarkan ponselnya. "Nomormu."

Kami bertukar nomor. Ia menatapku dengan senyum yang berbeda dari senyumnya di puncak tadi. Lebih lembut, lebih dalam.

"Sabtu depan," katanya, "sunset lagi?"

"Sunset lagi," jawabku mantap.

Ia naik ojek online yang dipesannya, melambaikan tangan sampai kendaraannya menghilang di tikungan. Aku menyalakan motorku dan pulang dengan perasaan yang sudah lama tidak kurasakan. Ringan. Seolah beban seminggu penuh terangkat begitu saja di sebuah bukit, di bawah langit oranye, bersama seorang perempuan yang baru kukenal tapi terasa begitu dekat.

Sejak sore itu, Sabtu tidak pernah sama lagi.

bagikan