Sirene ambulans meraung di kejauhan, makin lama makin dekat. Aku berdiri di depan pintu kaca UGD, tangan berlumuran darah, kaosku robek di bahu. Di belakangku, Dedi, sahabatku sejak kecil, terbaring di brankar dengan kaki kanan yang bengkok ke arah yang salah. Ia mengerang setiap kali tandu berguncang.
"Pasien kecelakaan motor, laki-laki, luka terbuka di kaki!" teriak petugas ambulans.
Pintu kaca terbuka. Perawat-perawat berhamburan. Seorang perempuan berkemeja putih berlari paling depan. Rambutnya diikat ketat, masker menutupi separuh wajahnya, tapi matanya tajam dan fokus.
"Tekanan darah?" tanyanya cepat.
"90/60, Dok," jawab perawat.
"Bawa ke ruang tindakan dua. Siapkan infus dan morfin. Kamu," ia menunjukku, "keluarga?"
"Sahabatnya, Dok."
"Tunggu di luar garis kuning."
Aku mundur. Tangan Dedi meraih lenganku. "Rian, jangan pergi."
"Aku di sini. Di luar aja."
Pintu ruang tindakan tertutup. Aku terduduk di kursi tunggu yang dingin. Jam dinding menunjukkan pukul satu lewat sepuluh dini hari. Tangan dan bajuku masih penuh darah Dedi. Bau antiseptik menusuk hidung.
Kecelakaannya terjadi sejam lalu. Kami pulang dari acara reuni kecil di rumah teman. Hujan rintik. Motor Dedi selip di tikungan, menghantam pembatas jalan. Aku yang bonceng di belakangnya terpental ke trotoar, cuma lecet. Dedi tidak seberuntung itu.
Seorang perawat menghampiriku. "Mas, bajunya ganti dulu. Ada darah. Kamar mandi di ujung lorong."
Ia memberiku kaos rumah sakit yang kebesaran. Aku membersihkan tangan dan mengganti kaos di kamar mandi. Waktu kembali, pintu ruang tindakan masih tertutup. Aku duduk lagi, menatap lantai yang mengkilap.
Hampir satu jam kemudian pintu terbuka. Dokter perempuan itu keluar, melepas sarung tangan. Matanya terlihat lelah, tapi senyumnya menenangkan.
"Sahabatnya Mas siapa?" tanyanya.
"Dedi, Dok."
"Kondisinya stabil. Tulang keringnya patah, tapi tidak kena pembuluh besar. Sudah kami pasang bidai sementara. Besok pagi dioperasi sama dokter ortopedi." Ia menatapku. "Mas sendiri luka?"
"Cuma lecet, Dok."
"Duduk sini." Ia memeriksa siku dan lututku yang lecet, membersihkannya dengan kapas alkohol. "Perih dikit ya."
Aku mengangguk. Baru kali ini aku memperhatikannya dari dekat. Umurnya mungkin awal tiga puluhan. Alisnya tegas, matanya jernih. Name tag di dadanya bertuliskan dr. Anisa.
"Dokter Anisa," kataku. "Makasih banyak."
"Sudah tugas saya." Ia tersenyum. "Dedi dipindah ke ruang observasi. Mas bisa nunggu di sana. Tapi jam besuk sudah lewat, jadi cuma boleh satu penunggu."
"Saya yang nunggu."
Ia mengangguk, lalu pergi dipanggil perawat lain. Aku mengikutinya dari jauh sampai ke ruang observasi, tempat Dedi terbaring dengan infus di tangan. Ia sudah tidur karena obat penenang.
Aku duduk di kursi beside ranjangnya. Malam itu aku tidak tidur. Setiap suara monitor membuatku terjaga. Setiap perawat yang lewat membuatku menengok, berharap itu dr. Anisa.
Menjelang subuh ia lewat lagi, kali ini tanpa tergesa. Ia berhenti di depan pintu ruang observasi.
"Belum tidur?" tanyanya.
"Nggak bisa, Dok."
"Wajar. Adrenalin." Ia masuk dan memeriksa infus Dedi, mencatat sesuatu di clipboard. "Mas kerja apa?"
"Karyawan swasta, Dok. Staff finance."
"Umur?"
"Tiga puluh tiga."
Ia mengangguk. "Saya tiga puluh dua. Tua juga ternyata."
Aku tertawa kecil. "Dokter masih muda."
"Muda tapi shift malam terus, jadi berasa tua." Ia menatap Dedi yang tidur. "Sahabat Mas beruntung punya teman kayak Mas. Jam satu pagi masih nungguin."
"Dedi itu kayak saudara sendiri, Dok."
Ia tersenyum, lalu pamit. "Saya keliling dulu. Kalau ada apa-apa, panggil perawat."
Hari pertama berlalu. Dedi dioperasi pagi harinya, berjalan lancar. Siang itu ia sudah sadar dan bisa bercanda. Aku pulang sebentar untuk mandi dan ganti baju, lalu kembali sore harinya dengan bawaan makanan.
Malam kedua aku kembali menunggu. Dedi sudah pindah ke ruang rawat inap biasa, sekamar dengan dua pasien lain. Aku tidur di kursi lipat di samping ranjangnya.
Jam sebelas malam, waktu aku keluar beli kopi di mesin penjual otomatis di lorong, aku bertemu dr. Anisa lagi. Ia sedang duduk di bangku lorong, menyeruput kopi sachet, menatap jendela yang gelap.
"Dokter belum pulang?" sapaku.
"Shift saya sampai pagi." Ia menepuk bangku di sebelahnya. "Duduk."
Aku duduk. Lorong itu sepi. Hanya suara AC dan sesekali batuk pasien dari kamar.
"Dedi gimana?" tanyanya.
"Baik. Udah bisa ketawa-ketawa."
"Bagus." Ia menyeruput kopinya. "Mas Rian tiap malam nungguin terus?"
"Iya. Kasian kalau sendirian."
"Keluarganya?"
"Orang tuanya di kampung. Sudah saya telepon, besok baru sampai."
Ia mengangguk pelan. "Mas baik ya."
"Nggak juga. Cuma nggak tega."
Kami diam sesaat. Lalu ia berkata, pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri. "Kadang saya iri sama pasien yang ditungguin."
Aku menoleh. "Maksudnya?"
"Ya itu. Ada yang nungguin. Ada yang khawatir." Ia tersenyum tipis. "Saya jaga malam terus, pulang pagi, tidur siang, bangun sore. Pacar aja nggak punya. Terakhir pacaran empat tahun lalu, putus karena saya nggak pernah ada waktu."
"Dokter cantik, masa nggak laku."
Ia tertawa. "Gombal."
"Serius."
Ia menatapku. Dalam cahaya lorong yang temaram, wajahnya terlihat lelah tapi cantik. Ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya. Rambutnya yang tadi diikat ketat sekarang agak berantakan, beberapa helai jatuh ke pipi.
"Mas Rian," katanya pelan. "Jangan ngomong gitu di rumah sakit. Nanti saya salah fokus."
"Maaf."
"Tapi makasih." Ia berdiri. "Saya keliling dulu."
Malam itu aku tidak bisa tidur. Bukan karena kursi lipat yang keras. Tapi karena kalimatnya terus terngiang. "Kadang saya iri sama pasien yang ditungguin."
Malam ketiga. Orang tua Dedi sudah datang dari kampung siang harinya. Seharusnya aku bisa pulang dan tidur di kos. Tapi entah kenapa, aku tetap tinggal. Alasanku ke diri sendiri: Dedi masih butuh teman. Alasan sebenarnya: aku ingin bertemu dr. Anisa lagi.
Jam setengah dua belas malam, aku ke lorong dengan dua gelas kopi. Satu untukku, satu untuknya. Ia duduk di bangku yang sama seperti kemarin.
"Kopi lagi?" tawarku sambil menyodorkan satu gelas.
Ia menerima dengan senyum lebar. "Mas Rian baik banget. Besok saya tagih terus nih."
"Boleh. Tiap malam saya sediain."
Kami tertawa. Lalu mengobrol. Lama. Soal kerjaanku yang numpuk karena tiga hari izin. Soal kuliah kedokterannya yang enam tahun plus koas. Soal ibunya yang tiap telepon selalu nanya kapan nikah.
"Ibu saya tiap minggu kirim foto calon," katanya sambil tertawa. "Anaknya temen arisan, anaknya tetangga, macem-macem."
"Terus?"
"Ya saya tolak semua. Gimana mau nikah, ketemu aja susah." Ia menatap gelas kopinya. "Kadang saya mikir, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau pulang ke kosan yang sepi."
"Kos?"
"Iya. Belum beli rumah. Gaji dokter muda mana cukup." Ia menghela napas. "Hidup saya itu-itu aja, Mas. Rumah sakit, kosan, rumah sakit, kosan."
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku melakukan hal yang paling natural. Aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya.
Ia menatap tanganku, lalu menatapku. Ia tidak menarik tangannya.
"Mas Rian," bisiknya.
"Aku di sini," kataku pelan.
Lorong itu sepi. CCTV ada di ujung, tapi bangku ini di area buta. Kami berdua tahu itu, meski tidak ada yang mengatakannya.
Ia bersandar pelan ke bahuku. Aku bisa mencium wangi rambutnya, bercampur bau antiseptik yang samar. Tubuhnya hangat.
"Aku capek, Rian," bisiknya. Pertama kalinya ia memanggil namaku tanpa embel-embel Mas.
"Aku tahu."
"Bukan capek kerja. Capek sendirian."
Aku menoleh. Wajah kami berdekatan. Napasnya hangat di pipiku. Matanya menatapku dengan campuran ragu dan berani.
Lalu aku menciumnya. Pelan. Memberi kesempatan untuk mundur.
Ia tidak mundur. Malah tangannya meraih tengkukku dan menarikku lebih dekat. Ciuman itu berubah jadi dalam dan lapar. Seperti dua orang yang sudah lama haus.
Kami berciuman di bangku lorong rumah sakit yang sepi, jam setengah satu dini hari. Gila. Berbahaya. Tapi tidak ada yang bisa menghentikan kami malam itu.
"Ruang istirahat dokter," bisiknya di sela ciuman. "Kosong. Dokter jaga cuma aku."
Ia menarikku berdiri. Kami berjalan cepat menyusuri lorong, tangannya menggenggam tanganku erat. Ruang istirahat itu kecil. Ada sofa, loker, dispenser, dan pintu yang bisa dikunci.
Klik. Pintu terkunci.
Begitu pintu tertutup, ia langsung memelukku. Ciuman kami makin ganas. Tangannya membuka kancing kemejaku. Tanganku membuka jas dokternya.
Di bawah jas putih itu ia memakai blus biru muda dan rok span hitam. Badannya ramping tapi berisi. Aku sudah menduga ia cantik, tapi melihatnya seperti ini membuat napasku tercekat.
"Kamu cantik banget," bisikku.
"Diam," katanya sambil tersenyum. "Buka terus."
Blusnya kulepas. Ia memakai bra putih polos. Sederhana, tapi di tubuhnya terlihat memikat. Dadanya tidak besar tapi kencang dan indah.
Aku mencium lehernya, turun ke bahunya. Ia mendesah dan menyandarkan kepalanya ke bahuku. Tangannya sibuk membuka sabukku.
Roknya kulepas. Kakinya jenjang dan mulus. Kami saling menanggalkan sisa pakaian dalam diam, hanya napas yang makin memburu.
Lalu aku membaringkannya di sofa yang sempit. Ia menatapku dari bawah, rambutnya tergerai, pipinya memerah. Dalam cahaya lampu ruangan yang redup, ia terlihat begitu cantik sampai dadaku sesak.
Aku menciumi seluruh tubuhnya. Leher, dada, perut. Setiap ciuman disambut desahan. Tangannya menjambak rambutku.
Waktu aku masuk, ia melenguh panjang dan memelukku erat. Hangat, sempit, sempurna. Kami berdua terdiam sesaat, saling merasakan.
Lalu kami bergerak. Pelan dulu, hati-hati karena sofa yang sempit. Tapi lama-lama ritme kami bertambah cepat. Ia menggigit bibirnya untuk menahan suara. Kukunya mencakar punggungku.
"Jangan berhenti," bisiknya. "Jangan berhenti."
Aku tidak berhenti. Aku terus bergerak sampai tubuhnya menegang dan bergetar hebat. Ia membenamkan wajahnya di bahuku untuk meredam jeritannya. Aku menyusul beberapa detik kemudian dengan desahan panjang.
Kami terbaring di sofa yang sempit itu, berkeringat dan terengah-engah, dalam pelukan satu sama lain. Seragam dokternya tergeletak di lantai. Jas putihku kusut di sandaran sofa.
"Gila," bisiknya akhirnya.
"Gila yang enak."
Ia tertawa kecil, lalu mencium pipiku. "Ini rahasia kita."
"Rahasia kita."
Kami berpakaian kembali dengan cepat. Ia merapikan rambutnya, memakai jasnya lagi. Dalam lima menit ia kembali menjadi dr. Anisa yang tegas dan profesional. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi waktu ia keluar pintu, ia menoleh dan mengedipkan mata padaku.
"Makasih kopinya."
Dedi pulang tiga hari kemudian. Kakinya masih digips, tapi ia sudah bisa tertawa lepas. Orang tuanya membawanya pulang ke kampung untuk pemulihan.
Aku kembali ke rutinitas. Kerja, kos, kerja, kos. Tapi ada yang berubah. Setiap malam aku mengecek HP, berharap ada pesan darinya.
Seminggu kemudian, jam sebelas malam, HP-ku bergetar. Nomor tidak dikenal.
"Rian? Ini Anisa."
Jantungku berdegup kencang. "Dok, kok tahu nomor saya?"
"Dari data pasien. Jangan marah ya." Ia tertawa kecil. "Aku shift malam ini. Kopi masih berlaku?"
Aku tersenyum lebar. "Berlaku selamanya."
Malam itu aku ke rumah sakit lagi. Bukan sebagai penunggu pasien. Tapi sebagai seseorang yang ditunggu.
Dan di bangku lorong yang sepi itu, dengan dua gelas kopi di tangan, aku sadar satu hal. Kadang hal terburuk yang terjadi dalam hidup, seperti kecelakaan sahabatmu jam satu dini hari, bisa membawamu ke hal terbaik yang tidak pernah kamu rencanakan.
