Ting. Sendok kecil berdenting pelan di bibir gelas plastik. Uap kopi hitam mengepul, menari-nari di udara dingin yang menusuk. Jam dua pagi. Lampu jalan berwarna oranye berderet sepanjang trotoar, dan di bawah salah satunya, sebuah gerobak kopi dengan sepeda motor modifikasi terparkir dengan gagahnya.
"Biasa, Mas?" tanya perempuan di balik gerobak itu tanpa menoleh. Ia sedang menuang air panas dari termos besar.
"Biasa, Nia. Pahit, gula dikit."
Nia tertawa. "Dari setahun lalu pesennya nggak pernah ganti."
Aku Eka, tiga puluh tahun, buruh pabrik sparepart motor di kawasan industri. Sudah empat tahun aku kerja shift malam, dan sudah setahun lebih jam dua pagi adalah jam kopiku. Bukan di kantin pabrik, tapi di gerobak Nia yang mangkal di tikungan jalan dekat gerbang pabrik.
Nia, dua puluh sembilan tahun. Cantik dengan cara yang tidak dibuat-buat. Rambutnya selalu dikuncir tinggi, wajahnya bersih tanpa riasan tebal, tangannya cekatan meracik kopi. Gerobaknya modifikasi sendiri dari motor bebek tua, lengkap dengan kompor portable, termos, dan toples-toples kopi bubuk. Di spanduk kecilnya tertulis "KOPI NIA, MELEK SAMPE PAGI".
"Sepi malam ini?" tanyaku sambil duduk di bangku plastik yang ia sediakan.
"Lumayan. Tadi ada tiga supir truk, dua satpam komplek sebelah." Ia menyerahkan gelasku. "Kamu lembur lagi?"
"Target. Mesin yang satu rusak, jadi yang lain dipaksa jalan terus."
Kami mengobrol seperti biasa. Soal pabrik, soal harga kopi yang naik, soal hujan yang tidak kunjung turun padahal sudah musimnya. Nia asyik diajak ngobrol. Ia tidak cuma jualan, ia merawat pelanggannya. Ia hafal pesanan semua pelanggan tetapnya. Supir truk yang satu maunya kopi susu. Satpam komplek maunya teh manis anget. Aku maunya kopi pahit gula dikit.
Malam itu udara lebih dingin dari biasanya. Angin bertiup dari arah sawah di seberang jalan. Aku merapatkan jaket.
"Dingin ya malam ini," kataku.
"Makanya laris," jawab Nia sambil tertawa. "Kopi panas paling enak diminum pas dingin."
Jam menunjukkan setengah tiga waktu aku selesai. Aku membayar, seperti biasa melebihkan sedikit.
"Nih, kembaliannya ambil aja."
"Mas Eka, tiap hari gini terus. Aku jadi nggak enak."
"Anggap aja tips buat baristanya."
Ia tertawa renyah. Tawa itu salah satu alasan aku betah berlama-lama di gerobaknya.
Aku kembali ke pabrik. Shift berakhir jam enam pagi. Seperti biasa, aku pulang dengan mata berat dan badan remuk.
Tiga malam kemudian, sesuatu yang tidak biasa terjadi.
Aku keluar gerbang pabrik jam dua pagi seperti biasa. Tapi di tikungan jalan, gerobak Nia tidak ada. Yang ada cuma lampu jalan oranye yang menyala sendirian.
Aku celingak-celinguk. Tidak ada. Aneh. Nia tidak pernah libur. Bahkan waktu demam pun ia tetap jualan, katanya sayang sama pelanggan.
Aku berjalan menyusuri trotoar, siapa tahu ia pindah tempat. Sekitar dua ratus meter dari tikungan, aku melihatnya. Gerobak motornya terparkir miring di bahu jalan, dan Nia jongkok di sampingnya dengan senter HP di mulut, tangannya belepotan oli.
"Nia!" Aku berlari menghampiri. "Kenapa?"
Ia menoleh, wajahnya kusut. "Mogok, Mas. Tiba-tiba mati di tengah jalan. Aku dorong sampai sini, berat banget."
"Ya ampun. Udah dari kapan?"
"Setengah jam. Aku coba benerin sendiri, tapi nggak ngerti mesin."
Aku jongkok dan memeriksa. Busi kotor, itu saja. Aku membersihkannya dengan kain, memasang kembali, lalu menyalakan. Motor menyala dengan suara batuk-batuk, lalu stabil.
Nia melongo. "Kok bisa?"
"Busi kotor. Sering kejadian di motor tua." Aku berdiri dan mengelap tangan ke celana. "Udah, aman."
Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca. Bukan nangis, tapi lega yang meluap.
"Makasih, Mas Eka. Serius. Aku tadi udah panik. Kalau gerobak nggak jalan, aku nggak bisa jualan. Kalau nggak jualan, nggak ada duit."
"Santai. Udah biasa benerin motor di pabrik."
Ia memelukku sekilas. Cepat, tapi hangat. Aroma kopi menempel di bajunya, bercampur wangi sabun.
"Eh, maaf," katanya sambil melepas pelukan, pipinya memerah.
"Nggak apa-apa."
Nia mendorong gerobaknya kembali ke tikungan, aku membantu mendorong dari belakang. Sesampainya di tempat biasa, ia langsung menyalakan kompor dan membuatkan kopi untukku.
"Gratis malam ini," katanya tegas waktu aku mau bayar.
"Nia..."
"Nggak bisa ditawar."
Aku tertawa dan duduk. Malam itu kami ngobrol lebih lama dari biasanya. Mungkin karena kejadian mogok tadi, ada kehangatan baru di antara kami. Seperti teman lama yang baru sadar sudah saling peduli.
"Kamu sendirian terus jualan gini nggak takut?" tanyaku.
"Takut sih. Tapi mau gimana lagi. Aku harus makan." Ia menatap api kompor yang biru. "Dulu aku kerja di konveksi. Gajinya kecil, bosnya rese. Terus aku mikir, mending jualan sendiri. Modal awal dari jual kalung emas pemberian almarhum ibuku."
"Kamu berani ya."
"Berani karena kepepet, Mas." Ia tersenyum tipis. "Aku kan sendirian. Nggak ada suami, nggak ada yang biayain. Kalau aku nggak kerja, siapa yang kerja?"
"Kamu belum nikah?"
"Belum. Pernah pacaran, tapi putus. Dia nggak suka aku jualan malam-malam. Katanya nggak pantes perempuan keluyuran jam segini." Nada suaranya pahit. "Ya udah, mending sendiri daripada diatur."
Aku mengangguk pelan. Ada sesuatu di ceritanya yang menyentuhku. Mungkin karena aku juga sendirian. Merantau, ngekos, kerja shift malam. Hidupku juga sepi, cuma sepiku beda bentuk.
"Kita sama," kataku.
"Apanya?"
"Sama-sama sendirian."
Ia menatapku, lalu tertawa kecil. "Iya juga ya."
Jam tiga lewat. Jalanan makin sepi. Hanya sesekali motor lewat. Nia membuatkan kopi kedua untukku, juga untuk dirinya sendiri. Kami duduk berdampingan di bangku plastik, menatap jalanan kosong yang disinari lampu oranye.
"Nia," kataku pelan.
"Hm?"
"Makasih ya, udah jadi alasan aku betah shift malam."
Ia menoleh. "Maksudnya?"
"Kalau nggak ada kopi kamu, aku mungkin udah resign."
Ia tertawa, lalu diam. Menatapku lama. Ada sesuatu di tatapannya yang berbeda malam ini. Lebih lembut. Lebih berani.
"Mas Eka," bisiknya. "Aku boleh jujur?"
"Boleh."
"Aku nungguin jam dua pagi."
"Hah?"
"Tiap malam aku nungguin jam dua. Karena jam segitu kamu datang." Pipinya memerah. "Pelanggan lain cuma beli kopi. Kamu... kamu ngobrol. Kamu nanya aku capek apa enggak. Nggak ada yang nanya gitu ke aku."
Dadaku sesak. Aku menggenggam tangannya yang ada di atas meja lipat. Tangannya hangat, sedikit kasar karena kerja.
Ia tidak menarik tangannya. Malah menggenggam balik, erat.
Kami duduk diam. Uap kopi mengepul di antara kami. Lampu oranye membuat bayangan kami panjang di trotoar.
"Nia," bisikku.
"Jangan ngomong," katanya. "Aku tahu ini aneh. Kita baru kenal setahun, tapi cuma ketemu jam dua pagi. Tapi aku nggak mau pura-pura lagi."
Ia berdiri, lalu menarik tanganku. Di belakang gerobaknya ada sebuah tenda kecil tempat ia menyimpan persediaan dan beristirahat kalau sepi. Ia membukakan tendanya.
"Masuk," bisiknya.
Di dalam tenda yang sempit itu, kami duduk berhadapan. Bau kopi sangat kuat di sini, bercampur bau terpal. Lampu jalan merembes lewat celah tenda, memberi cahaya oranye yang temaram.
Kami saling menatap. Napasku memburu. Aku bisa mencium aroma kopi dari napasnya, manis dan pahit bersamaan.
Aku mendekat dan menciumnya. Pelan. Bibirnya lembut, ada rasa kopi manis. Ia membalas dengan lembut juga, tapi tangannya mencengkeram kaosku erat, menunjukkan ia menahan sesuatu yang besar.
Ciuman itu makin dalam. Lidahnya bertemu lidahku. Tanganku naik ke pipinya, lalu turun ke lehernya, ke bahunya. Tubuhnya ramping tapi hangat.
Ia memakai kaos oblong dan jaket tipis. Jaketnya kulepas pelan. Ia tidak menolak. Kaosnya menyusul. Di bawahnya ia memakai bra sport hitam. Dadanya tidak besar, tapi kencang dan indah.
"Nia, kamu cantik," bisikku.
"Jangan bohong," katanya malu-malu.
"Aku nggak bohong."
Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya. Ia mendesah dan menyandarkan kepalanya ke bahuku. Tangannya menyusup ke bawah kaosku, menyentuh punggungku yang berkeringat.
Bra sportnya kulepas. Ia mendesah lega. Aku menciumi dadanya dengan lembut, dan ia melengkungkan punggungnya.
Kami berbaring di atas tikar tipis di dalam tenda. Sempit, tidak nyaman, tapi kami tidak peduli. Celananya kulepas. Celanaku dilepasnya. Kami telanjang di bawah cahaya oranye yang merembes, dikelilingi aroma kopi.
Tubuhnya indah. Ramping, kulit sawo matang yang mulus, kaki jenjang. Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena sesuatu yang sudah lama ditahan akhirnya dilepas.
Aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya untukku. Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, sempit, sempurna.
Kami bergerak pelan. Sangat pelan. Tikar tipis berderit pelan di bawah kami. Di luar tenda, jalanan sepi. Dunia seakan berhenti.
Tangannya mengelus wajahku. "Aku nggak nyangka," bisiknya. "Nggak nyangka bakal gini sama kamu."
"Aku juga."
Pelan-pelan ritme kami bertambah. Ia mulai mendesah lebih keras. Pinggulnya bergerak mengimbangi. Kukunya mencakar punggungku pelan.
"Mas," desahnya. "Terus."
Aku mempercepat gerakanku. Keringat membasahi tubuh kami. Napas kami memburu, bercampur dalam udara sempit tenda yang pengap.
Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di dadaku. Aku menyusul beberapa detik kemudian, meledak dengan erangan panjang yang kutahan.
Kami terbaring diam cukup lama. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya yang tergerai dari kuncirannya.
"Maaf," bisiknya tiba-tiba.
"Buat apa?"
"Ini. Di tenda. Nggak romantis."
Aku tertawa kecil. "Romantis itu relatif. Buatku ini romantis."
Ia mengangkat wajahnya menatapku, lalu tersenyum. Senyum yang paling manis yang pernah kulihat darinya.
Kami berpakaian kembali. Jam sudah menunjukkan setengah lima pagi. Langit mulai memucat di ufuk timur.
Sebelum aku kembali ke pabrik untuk absen pulang, Nia menyerahkan sebungkus kopi bubuk.
"Buat di kos," katanya. "Biar inget."
"Aku nggak akan lupa."
Sejak malam itu, jam dua pagi bukan cuma jam kopi. Kadang, kalau jalanan sepi dan tidak ada pelanggan, tenda kecil di belakang gerobak jadi saksi bisu kami berdua.
Tidak ada yang tahu. Supir-supir truk tidak tahu. Satpam-satpam komplek tidak tahu. Teman-teman shiftku tidak tahu.
Yang mereka tahu, kopi Nia paling enak di kawasan itu. Pahitnya pas, manisnya pas, angetnya pas.
Mereka tidak tahu, ada alasan lain kenapa aku tidak pernah absen jam dua pagi.
Dan setiap kali Nia menyerahkan gelas kopiku, jarinya menyentuh jariku sedikit lebih lama dari seharusnya.
"Ting," bunyi sendok kecil berdenting di bibir gelas. Uap mengepul. Lampu oranye.
Ritual kami. Rahasia kami.
