Namaku Fajar, tiga puluh empat tahun, pegawai bank yang hidupnya lurus-lurus saja. Istriku Putri, tiga puluh dua tahun, guru TK yang ceria. Kami menikah tujuh tahun, belum dikaruniai anak, tapi hidup kami tenang dan bahagia.
Putri punya sahabat sejak kuliah bernama Tania. Umurnya tiga puluh, setahun lebih muda dari Putri. Tania itu janda. Cerai dua tahun lalu karena suaminya selingkuh. Sejak itu ia tinggal sendiri di apartemen tidak jauh dari rumah kami.
Tania sering main ke rumah. Hampir tiap minggu. Ia dekat dengan Putri, dan karena itu dekat juga denganku. Tapi ada satu hal soal Tania yang selalu bikin aku salah tingkah. Ia genit. Bukan genit murahan, tapi genit yang natural. Suka colek, suka godain, suka tertawa sambil menyentuh lengan lawan bicaranya.
"Aduh, Mas Fajar makin ganteng aja," katanya suatu kali sambil mencubit pipiku. Putri yang waktu itu ada di sebelahku cuma tertawa.
"Tania, jangan genit sama suami orang," tegur Putri santai.
"Biarin. Aku kan cuma ngagumin."
Aku tahu Tania tidak bermaksud jahat. Itu memang pembawaannya. Tapi aku laki-laki normal, dan digodain perempuan cantik terus-terusan itu ujian.
Tania memang cantik. Rambutnya panjang bergelombang, badannya tinggi semampai, kulitnya putih. Ia kerja sebagai SPG event, jadi penampilannya selalu menarik. Rok pendek, blus ketat, parfum menyengat. Beda jauh dengan Putri yang sederhana dan kalem.
Dua minggu sebelum kejadian itu, kami makan malam bertiga di rumah. Putri masak ayam goreng, Tania bawa es buah. Di tengah makan, Tania bercerita soal event terakhirnya, soal klien yang genit.
"Ada bapak-bapak ngajak kenalan, minta nomor HP," katanya sambil tertawa. "Aku kasih nomornya Putri."
"Heh!" protes Putri.
"Biarin. Siapa tahu jodoh." Tania menoleh padaku. "Mas Fajar, kalau aku dideketin bapak-bapak, kamu cemburu nggak?"
Aku tersedak. "Lho, kok aku?"
"Ya kan kamu yang paling ganteng di meja ini." Ia mengedipkan mata.
Putri tertawa. "Tania, suamiku jangan digodain."
"Tapi godainnya seru." Tania menyenggol bahuku dengan bahunya. "Mas Fajarnya juga nggak protes kan?"
Aku cuma bisa nyengir. Di bawah meja, lutut Tania menyentuh lututku. Aku tidak yakin itu disengaja atau tidak. Tapi ia tidak menjauh.
Malam itu aku kepikiran terus. Sentuhan lutut itu. Godaannya. Senyumnya. Aku marah sama diriku sendiri karena kepikiran. Tapi makin aku coba lupakan, makin nempel di kepala.
Suatu Jumat malam, Putri pamit pulang kampung ke Bandung. Ibunya sakit, ia harus nengok tiga hari. Aku tidak bisa ikut karena kerjaan numpuk.
"Sendirian nggak apa-apa?" tanya Putri sambil packing.
"Ya ampun, aku bukan anak kecil."
"Jangan lupa makan. Jangan begadang."
"Iya, Bu Guru."
Putri berangkat Sabtu pagi. Rumah mendadak sepi. Aku yang biasa dibangunkan suara Putri masak di dapur, pagi itu bangun karena alarm HP.
Sabtu siang aku malas-malasan di sofa sambil nonton bola. Tiba-tiba bel berbunyi. Aku mengintip dari jendela. Tania. Pakai tank top dan celana pendek, rambut diikat asal, bawa kantong plastik.
Aku membukakan pintu.
"Tania? Ngapain?"
"Putri nitip," katanya sambil mengangkat kantong plastik. "Sambal terasi buatan ibunya. Katanya kamu suka."
"Oh. Makasih. Masuk."
Ia masuk dan langsung duduk di sofa, santai seperti di rumah sendiri. Memang sudah biasa ia seperti itu.
"Putri udah sampai?" tanyanya.
"Udah. Lagi di rumah sakit."
"Kasian. Semoga ibunya cepet sembuh."
Kami ngobrol sambil nonton bola. Tania ternyata ngerti bola, ia fans klub yang sama denganku. Kami debat soal wasit, soal transfer pemain, sambil tertawa.
"Mas Fajar," katanya tiba-tiba di tengah babak kedua. "Aku boleh jujur?"
"Jujur apa?"
"Aku iri sama Putri."
"Iri kenapa?"
"Dia punya suami kayak kamu. Setia, kerja bener, nggak neko-neko." Ia menatapku. "Mantan suamiku dulu... ya gitu. Selingkuh sama sekretarisnya."
Aku tidak tahu harus menjawab apa. "Maaf ya."
"Nggak apa-apa. Udah lewat." Ia tersenyum, tapi ada sedih di matanya. "Cuma kadang aku mikir, apa aku kurang? Kurang cantik? Kurang perhatian? Sampai suami sendiri cari yang lain."
"Tania, kamu cantik. Mantan suamimu yang bego."
Ia tertawa. "Makasih. Kamu manis."
"Serius. Putri aja kalah cantik sama kamu." Begitu kalimat itu keluar, aku langsung menyesal. Itu kalimat yang tidak seharusnya keluar dari mulut suami orang.
Tania menatapku. Lama. Senyumnya perlahan berubah. Bukan senyum bercanda seperti biasa. Tapi senyum yang lain.
"Mas Fajar," bisiknya. "Kamu nggak boleh ngomong gitu."
"Aku... maaf."
"Tapi aku suka dengernya."
Jantungku berdegup kencang. Suasana di ruangan itu berubah. Bola di TV tidak lagi penting. Yang penting adalah perempuan cantik di sebelahku yang menatapku dengan cara yang tidak pernah ia pakai sebelumnya.
Tania bergeser duduk, lebih dekat. Kakinya yang jenjang bersentuhan dengan kakiku. Ia tidak menjauh.
"Aku udah lama nahan," bisiknya. "Tiap main ke sini, tiap liat kamu sama Putri mesra, aku... aku pengen juga."
"Tania, kamu sahabat Putri."
"Aku tahu." Matanya berkaca-kaca. "Dan aku benci diriku sendiri karena mikir gini. Tapi aku capek, Mas. Dua tahun sendirian. Dua tahun nggak ada yang nyentuh, nggak ada yang meluk."
Tangannya terulur dan menyentuh pipiku. Lembut. Aku seharusnya mundur. Aku seharusnya mengingatkannya soal Putri, soal pernikahanku, soal semua yang benar.
Tapi aku tidak mundur.
Aku malah memejamkan mata dan menikmati sentuhannya.
"Putri nggak akan tahu," bisik Tania. "Ini cuma sekali. Cuma malam ini."
Itu kalimat yang salah, dan kami berdua tahu. Tapi malam itu, yang salah terasa begitu benar.
Aku menoleh dan menciumnya. Ia langsung membalas dengan ganas. Tidak ada ragu, tidak ada malu-malu. Seperti ia sudah menunggu ini lama.
Bibinya manis, ada rasa lipstik strawberry. Lidahnya lincah. Tangannya langsung meremas kaosku, menarikku lebih dekat.
Kami berciuman di sofa ruang tamu, di rumah yang seharusnya sepi karena istriku pulang kampung. Rasa bersalah dan gairah bercampur jadi satu, membuat setiap sentuhan terasa berlipat ganda.
Tanganku naik ke pahanya yang mulus. Celana pendeknya tipis, tidak menghalangi apa-apa. Ia mendesah di mulutku dan membuka kakinya sedikit, memberi akses.
"Mas," desahnya. "Kamar. Jangan di sini."
Aku menggendongnya. Ia ringan. Kami masuk ke kamar tamu, bukan kamar tidurku dan Putri. Setidaknya aku masih punya batas itu. Kamar tamu terasa lebih netral, lebih tidak bersalah. Sedikit.
Aku membaringkannya di ranjang. Ia menatapku dari bawah dengan mata berkilat. Tank topnya ketat, mencetak dadanya yang penuh dengan jelas.
Aku naik ke atasnya dan menciumnya lagi. Kali ini lebih lambat, lebih dalam. Tanganku menyusup ke balik tank topnya. Kulitnya halus dan hangat.
Tank topnya kulepas. Ia memakai bra sport hitam. Dadanya yang selama ini cuma bisa kulihat dari jauh, sekarang ada di depanku. Penuh, kencang, ranum.
"Jangan diliatin terus," katanya malu-malu. "Aku malu."
"Masa malu. Kamu cantik banget."
Aku membuka branya. Ia mendesah lega, seperti sudah lama ingin lepas dari kekangan. Aku menciumi dadanya dengan rakus. Ia menjambak rambutku dan melengkungkan punggungnya.
Celana pendeknya kulepas. Celana dalamku dilepasnya. Kami telanjang di kamar tamu yang temaram, dan dunia luar tidak ada lagi.
Tubuhnya indah sekali. Tinggi, semampai, kulit putih mulus. Beda jauh dengan Putri yang mungil. Ini pengalaman yang sama sekali baru bagiku.
Aku menciumi seluruh tubuhnya. Leher, dada, perut, paha. Ia menggeliat dan mendesah di bawahku. Tangannya tidak diam, menjelajah tubuhku, membuatku makin bergairah.
Waktu aku akhirnya masuk, ia menjerit kecil dan mencakarku. Hangat, sempit, basah. Sempurna.
Kami bercinta dengan liar. Tidak ada kelembutan. Hanya nafsu murni dari dua orang yang sudah lama menahan diri. Ranjang berderit keras. Napas kami memburu.
"Lebih kencang," pintanya. "Jangan kasihanin aku."
Aku menurut. Aku menghujamnya dengan sekuat tenaga. Ia menjerit dan menggigit bahuku untuk meredam suaranya. Kukunya menancap di punggungku, pasti membekas.
Ia mencapai puncaknya dengan tubuh bergetar hebat. Beberapa detik kemudian aku menyusul, meledak dengan erangan panjang yang kutahan di bantal.
Kami terbaring diam, berkeringat, terengah-engah. Tidak ada yang bicara. Hanya suara AC dan detak jantung yang mulai melambat.
"Maaf," bisikku akhirnya.
"Untuk apa?" tanyanya.
"Putri."
Tania menghela napas. "Aku yang mulai. Aku yang salah."
"Kita berdua."
Ia berbalik menghadapku. "Mas, ini cuma sekali. Besok kita lupa. Aku janji nggak akan ganggu rumah tangga kalian."
Aku mengangguk. Tapi di dalam hati, aku tahu janji itu akan sulit ditepati.
Malam itu Tania pulang jam sebelas. Aku mengantarnya sampai pagar. Sebelum masuk taksi online, ia mencium pipiku.
"Makasih, Mas. Untuk malam ini."
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap taksi itu pergi, dengan rasa bersalah yang menumpuk di dada.
Putri pulang Senin sore. Ibunya sudah mendingan. Ia bercerita soal Bandung, soal ibunya, soal macet di tol. Aku mendengarkan sambil tersenyum, sambil menahan rasa bersalah yang menusuk.
"Tania nitip sambal terasi kemarin," kataku. "Katanya dari ibumu."
"Oh iya. Aku yang nitip." Putri menatapku. "Kok kamu aneh?"
"Aneh gimana?"
"Kayak ada yang disembunyiin."
Jantungku berhenti sesaat. "Nggak ada apa-apa. Capek aja."
Putri mengangguk, tapi matanya menyelidik. Perempuan selalu tahu. Selalu.
Minggu depannya Tania main lagi seperti biasa. Ceria, genit, colek sana colek sini. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa Sabtu malam itu.
Tapi setiap kali tangannya menyentuh lenganku, aku merasakan sengatan listrik. Dan setiap kali mata kami bertemu, ada rahasia di sana yang hanya kami berdua yang tahu.
Putri tidak tahu. Dan aku berdoa ia tidak akan pernah tahu.
Tapi aku juga tahu, sekali rahasia tercipta, ia tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu. Menunggu waktu yang tepat untuk meledak.
Dan aku takut menunggu itu.
Setiap malam aku berbaring di sebelah Putri yang tidur pulas, menatap langit-langit kamar yang gelap, dan bertanya pada diriku sendiri. Apakah sekali itu sepadan? Apakah aku masih suami yang baik?
Aku tidak punya jawabannya. Mungkin tidak akan pernah punya.
