Tok. Tok-tok. Tok.
Bunyi kentongan memecah keheningan gang. Jam menunjukkan pukul sebelas malam lewat sedikit, dan udara terasa lembap setelah hujan rintik yang turun sore tadi. Lampu jalan yang remang membuat bayangan pohon mangga di ujung gang tampak bergoyang pelan tertiup angin. Harto mengangkat kentongannya lagi dan memukul tiga kali, tanda semuanya aman pada ronda putaran pertama.
Pos siskamling di pertigaan gang tampak sepi malam itu. Biasanya ada empat atau lima orang yang berjaga, sambil main kartu atau sekadar ngobrol ngalor ngidul. Tapi malam ini, entah kenapa, satu per satu berhalangan. Pak Darto mendadak harus lembur di pabrik. Mas Yudi anaknya demam. Pakde Karso katanya kecapekan habis hajatan di rumah saudaranya. Yang tersisa hanya Harto, dan Bu Sulis yang datang membawa termos berisi kopi dan sepiring pisang goreng.
Harto sendiri sebenarnya bukan orang yang rajin ikut siskamling. Usianya tiga puluh empat tahun, karyawan di sebuah perusahaan distributor alat listrik, dan seharian bekerja membuatnya lebih suka rebahan di rumah. Tapi sejak tiga bulan lalu pindah ke kontrakan di RT ini, ia merasa perlu berbaur. Lagipula, Bu Sulis selalu punya cara untuk membuat orang susah menolak.
Bu Sulis, istri Pak Haryono ketua RT, adalah perempuan berusia tiga puluh enam tahun yang seolah tidak pernah kehabisan energi. Badannya proporsional, kulitnya bersih, dan senyumnya ramah kepada siapa saja. Sejak Harto pindah, Bu Sulis yang paling sering menyapanya. Kalau ada kerja bakti, Bu Sulis yang mengingatkan lewat grup WhatsApp. Kalau ada arisan RT, Bu Sulis yang memastikan Harto tahu jadwalnya meski ia bujangan dan tidak ikut arisan ibu-ibu.
Awalnya Harto mengira Bu Sulis hanya menjalankan tugasnya sebagai istri ketua RT yang baik hati. Tapi lama kelamaan, ia sadar Bu Sulis memperlakukannya sedikit istimewa. Kalau sound system untuk acara tujuh belasan rusak, yang dipanggil Harto. Kalau tenda arisan perlu dipasang, yang dicari Harto. Kalau lampu pos siskamling mati, lagi-lagi Harto yang diminta membetulkan, dengan alasan ia kerja di perusahaan alat listrik jadi pasti paham.
Harto tidak keberatan. Justru ia senang bisa berguna, dan senang bisa dekat dengan Bu Sulis. Ada sesuatu pada perempuan itu yang membuatnya betah berlama-lama. Cara bicaranya hangat, tawanya renyah, dan matanya seolah selalu menyimpan rahasia kecil yang hanya ia bagikan kepada Harto.
Malam itu, setelah putaran ronda pertama, Harto duduk di bangku bambu di pos siskamling. Bu Sulis menuangkan kopi ke dua gelas plastik.
"Sepi ya, Mas Harto, malam ini," kata Bu Sulis sambil duduk di bangku sebelahnya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Harto mencium wangi parfum melati dari tubuhnya.
"Iya, Bu. Biasanya rame. Mungkin karena habis hujan, males keluar," jawab Harto sambil menyeruput kopinya. Kopi tubruk buatan Bu Sulis memang enak, pekat dan manisnya pas.
Bu Sulis tertawa kecil. "Ya sudah, kita berdua saja yang jaga kampung malam ini. Kayak satpam beneran."
Mereka mengobrol ringan. Tentang kerjaan Harto, tentang rencana lomba kebersihan antar RT bulan depan, tentang anak Bu Sulis yang kuliah di luar kota dan jarang pulang. Harto baru tahu malam itu bahwa Bu Sulis punya seorang anak laki-laki berusia dua puluh tahun yang kuliah di Bandung. Pantas saja rumahnya sering sepi.
"Pak Haryono ke mana, Bu? Kok nggak ikut ronda?" tanya Harto.
Bu Sulis menghela napas. "Rapat di kelurahan. Katanya ada sosialisasi program baru. Pulangnya bisa jam satu, bisa juga nginap di rumah Pak Lurah kalau kemalaman. Sudah biasa begitu."
Ada nada getir dalam suaranya yang tidak bisa disembunyikan. Harto melirik Bu Sulis. Perempuan itu menatap kosong ke arah jalanan yang basah, jemarinya memutar-mutar gelas kopi plastiknya.
"Mas Harto tahu nggak," kata Bu Sulis pelan, "jadi istri ketua RT itu capeknya bukan main. Semua urusan warga numpuk di saya. Arisan, posyandu, pengajian, tujuh belasan. Pak Haryono sih enak, tinggal tanda tangan dan rapat. Yang kerja di lapangan saya semua."
Harto mengangguk simpati. "Tapi warga di sini beruntung punya Bu Sulis. Semua acara jalan rapi."
Bu Sulis tersenyum, tapi senyumnya kali ini berbeda. Ada lelah di sana. "Rapi di luar, Mas. Di dalam?" Ia tertawa hambar. "Sudah tiga tahun ini saya merasa seperti janda yang bersuami. Pak Haryono pulang cuma buat tidur. Bangun pagi langsung pergi lagi. Ngobrol pun seperlunya."
Harto tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya diam, memberi ruang bagi Bu Sulis untuk melanjutkan.
"Maaf ya, Mas, saya malah curhat," kata Bu Sulis sambil menepuk lutut Harto pelan. Sentuhan itu singkat, tapi cukup membuat jantung Harto berdebar. "Mungkin karena malam ini sepi, jadi kepikiran yang aneh-aneh."
"Nggak apa-apa, Bu. Saya senang Bu Sulis percaya sama saya," kata Harto tulus.
Bu Sulis menatapnya. Dalam remang lampu pos, mata perempuan itu tampak berkaca-kaca, tapi juga menyala dengan sesuatu yang sulit dijelaskan. "Mas Harto itu orang baik. Beda sama bapak-bapak di sini yang cuma bisa nyuruh-nyuruh. Mas Harto selalu datang kalau saya minta tolong, nggak pernah pasang muka masam."
"Itu sudah kewajiban saya sebagai warga, Bu," kata Harto, agak salah tingkah.
"Bukan cuma itu," bisik Bu Sulis. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat. "Saya perhatikan, Mas Harto selalu memperlakukan saya dengan hormat. Tidak seperti..." Ia menggantung kalimatnya.
Hening sejenak. Hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali motor lewat di jalan raya yang agak jauh. Harto merasakan lututnya bersentuhan dengan lutut Bu Sulis. Tidak ada yang menarik diri.
"Bu," kata Harto pelan, "kalau ada apa-apa, Bu Sulis bisa cerita ke saya. Kapan saja."
Bu Sulis menoleh. Wajah mereka kini hanya berjarak sejengkal. Harto bisa melihat jelas bulu mata Bu Sulis yang lentik, bibirnya yang sedikit terbuka, dan napasnya yang mulai tidak beraturan.
"Mas Harto nggak takut ketahuan Pak Haryono?" tanya Bu Sulis dengan suara bergetar.
"Pak Haryono rapat sampai jam satu," jawab Harto, dan ia sendiri terkejut dengan keberaniannya.
Bu Sulis terdiam beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Lalu, perlahan, ia meletakkan tangannya di atas tangan Harto yang bertumpu di bangku bambu. Hangat. Gemetar sedikit, tapi tidak menarik diri.
"Di rumah saya saja," bisik Bu Sulis akhirnya. "Pos ini terlalu terbuka. Nanti kalau ada warga lewat..."
Jantung Harto berdegup kencang. Ia mengangguk. Mereka berdua bangkit, mematikan lampu pos, dan berjalan cepat menyusuri gang yang sepi menuju rumah Pak Haryono yang hanya berjarak lima rumah dari pos. Rumah itu gelap, hanya lampu teras yang menyala. Bu Sulis membuka pintu dengan kunci yang selalu ia bawa, lalu menarik Harto masuk dan mengunci pintu dari dalam.
Ruang tamu rumah itu rapi dan wangi. Foto keluarga besar terpajang di dinding. Harto sempat merasa bersalah melihat foto Pak Haryono yang tersenyum lebar di sana, tapi perasaan itu lenyap ketika Bu Sulis berbalik dan menatapnya dengan mata yang penuh kerinduan.
"Sudah lama sekali saya tidak merasa diinginkan," kata Bu Sulis lirih. "Maafkan saya, Mas."
Harto tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah mendekat dan dengan lembut menyentuh pipi Bu Sulis. Perempuan itu memejamkan mata, menikmati sentuhan itu seolah sudah bertahun-tahun tidak disentuh dengan kelembutan.
Ciuman pertama mereka terjadi di ruang tamu yang temaram, hanya diterangi lampu teras yang merembes dari celah gorden. Awalnya ragu-ragu, lalu semakin dalam dan berani. Tangan Harto merambat ke pinggang Bu Sulis, menarik tubuh perempuan itu merapat. Bu Sulis mendesah pelan di sela ciuman mereka, tangannya mencengkeram kemeja Harto.
Mereka pindah ke kamar tidur utama. Bu Sulis menyalakan lampu tidur yang redup, menciptakan suasana hangat keemasan. Di atas ranjang yang rapi, mereka saling melepaskan pakaian dengan gerakan yang tidak terburu-buru, seolah ingin menikmati setiap detiknya. Bu Sulis memang secantik yang Harto bayangkan. Tubuh perempuan tiga puluh enam tahun itu terawat, kulitnya halus, dan setiap lekuknya memancarkan kematangan yang memabukkan.
Harto memperlakukannya dengan penuh kelembutan. Ia menciumi leher Bu Sulis, turun ke bahunya, sementara tangannya menjelajahi setiap inci tubuh perempuan itu. Bu Sulis menggeliat dan mendesah, jemarinya meremas sprei.
"Mas," desah Bu Sulis, "jangan berhenti."
Malam itu menjadi malam yang tidak akan pernah dilupakan Harto. Mereka bercinta dua kali, diselingi obrolan mesra dan tawa kecil. Bu Sulis ternyata perempuan yang penuh gairah, jauh berbeda dari citra ibu RT yang anggun dan terkendali di depan warga. Ia berani, ia jujur pada keinginannya, dan ia membuat Harto merasa menjadi laki-laki yang paling dibutuhkan di dunia.
Setelah semuanya selesai, mereka berbaring berdampingan, berkeringat dan terengah-engah. Bu Sulis menyandarkan kepalanya di dada Harto, menggambar pola tidak jelas dengan jarinya.
"Terima kasih, Mas," bisiknya. "Saya merasa hidup lagi."
Harto mengecup keningnya. "Saya juga, Bu. Saya juga."
Mereka tidak banyak bicara setelah itu. Bu Sulis melirik jam dinding. Pukul setengah satu dini hari. Pak Haryono bisa pulang kapan saja.
"Mas Harto harus kembali ke pos," kata Bu Sulis sambil bangkit dan mengenakan dasternya. "Biar tidak mencurigakan kalau ada yang lewat."
Harto mengangguk dan berpakaian cepat. Sebelum keluar, Bu Sulis menahannya di depan pintu dan menciumnya sekali lagi, lama dan dalam.
"Rahasia kita," bisiknya sambil tersenyum nakal yang belum pernah Harto lihat sebelumnya.
Harto berjalan kembali ke pos siskamling dengan langkah ringan, seolah melayang. Ia menyalakan kembali lampu pos, menuang sisa kopi yang sudah dingin, dan duduk menunggu. Tidak lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara motor Pak Haryono pulang. Harto pura-pura sibuk memeriksa kentongan.
Sejak malam itu, hubungan mereka berubah. Di depan warga, Bu Sulis tetaplah istri ketua RT yang anggun dan Harto tetaplah warga baru yang sopan. Tapi di antara mereka ada rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu. Tatapan mata yang sedikit lebih lama saat berpapasan. Senyuman yang menyimpan arti. Dan sesekali, ketika Pak Haryono rapat sampai larut atau dinas luar kota, ada pesan singkat yang masuk ke ponsel Harto.
"Mas, ke rumah sebentar. Lampu dapur mati."
Harto selalu datang. Dan lampu dapur bukan satu-satunya yang ia perbaiki malam-malam itu.
