CERITA DEWASA

Mbak Kos yang Kesepian

Namaku Bagas, dua puluh enam tahun, karyawan sebuah perusahaan logistik di Yogyakarta.

Dua bulan lalu aku pindah ke kos ini — sebuah rumah dua lantai di daerah Demangan dengan delapan kamar, halaman yang cukup luas, dan sebuah pohon mangga tua di sudutnya.

Pemilik kosnya, Mbak Ayu, usianya sekitar tiga puluh tahun.

Ia mewarisi rumah ini dari orang tuanya dan mengelola kosnya sendiri.

Perempuan yang menarik — tidak tinggi, berkulit bersih, rambut panjang yang selalu disanggul sederhana, dan senyum yang ramah tapi menyimpan lelah.

Suaminya merantau kerja di Kalimantan, pulang hanya dua atau tiga kali setahun, kata salah satu penghuni kos yang sudah lama tinggal di sini.

Sejak hari pertama, Mbak Ayu memperlakukanku dengan baik.

"Mas Bagas butuh apa-apa bilang saja ya. Anggap rumah sendiri," katanya sambil menyerahkan kunci kamar nomor empat di lantai atas.

Kamarnya sederhana tapi bersih — kasur, lemari, meja belajar, dan jendela yang menghadap ke pohon mangga.

Minggu-minggu pertama berlalu biasa saja.

Aku berangkat kerja pagi, pulang sore atau malam.

Kadang berpapasan dengan Mbak Ayu di tangga atau di dapur umum.

Sapaan singkat, senyum singkat.

Sampai suatu malam hujan turun deras dan atap kamarku bocor.

Air menetes tepat di atas meja belajarku, membasahi beberapa dokumen kerja.

Jam sudah hampir sebelas malam. Aku turun dengan ember, berniat menampung tetesan itu sampai pagi.

Tapi Mbak Ayu mendengarku dari kamarnya di lantai bawah.

"Mas Bagas, kenapa?" tanyanya sambil keluar dengan mukena masih menempel di kepala — rupanya ia baru selesai salat Isya.

"Atap bocor, Mbak. Nanti saja diperbaiki besok, ini saya tampung dulu pakai ember."

"Waduh, kasian. Mas tidur di kamar saya saja malam ini? Eh, maksudnya di kamar tamu. Ada kamar kosong di bawah, kasurnya ada kok."

Aku ragu sejenak, tapi tetesan air makin deras.

"Boleh, Mbak. Makasih banyak."

Kamar tamu itu kecil tapi nyaman. Ia membawakanku selimut dan handuk.

"Maaf ya, Mas, atapnya memang sudah lama mau dibetulkan. Besok saya panggil tukang," katanya.

"Nggak apa-apa, Mbak. Santai saja."

Ia tersenyum, lalu kembali ke kamarnya.

Malam itu aku tidur dengan perasaan aneh — hangat, diperhatikan.

Keesokan harinya tukang datang dan atap diperbaiki.

Tapi sejak malam itu, ada yang berubah di antara kami.

Mbak Ayu jadi lebih sering mengajakku mengobrol.

Pagi-pagi, saat aku sarapan mi instan di dapur umum, ia muncul dengan membawa pisang goreng.

"Mas Bagas, ini ada lebihan. Makan gih, jangan mi terus," katanya sambil meletakkan piring di depanku.

"Wah, makasih Mbak. Repot-repot."

"Nggak repot. Saya memang suka masak, tapi nggak ada yang makan. Sendirian terus di rumah gede gini."

Ada nada sepi dalam suaranya.

"Suami Mbak kapan pulang?" tanyaku hati-hati.

Ia menghela napas. "Lebaran kemarin sempat pulang seminggu. Berikutnya ya... nggak tahu. Kerjaannya di sana lagi padat-padatnya."

"Jauh ya, Mbak."

"Iya. Kadang saya mikir, ini rumah tangga apa kos-kosan," katanya sambil tertawa getir. "Bedanya, saya yang jadi mbak kos beneran."

Aku ikut tertawa, tapi dalam hati aku merasa iba.

Hari-hari berikutnya, rutinitas kecil terbentuk.

Setiap pulang kerja, aku hampir selalu menemukan Mbak Ayu di teras atau di ruang TV, dan kami mengobrol — soal kerjaan, soal penghuni kos yang macam-macam kelakuannya, soal harga kebutuhan pokok.

Ia ternyata lucu kalau sudah akrab. Tawanya renyah, dan matanya berbinar saat bercerita.

Suatu Sabtu sore, ia mengetuk pintu kamarku.

"Mas Bagas, tolongin saya sebentar bisa? Lemari di gudang mau dipindah, berat banget."

"Tentu, Mbak."

Gudang di lantai bawah penuh barang — kardus-kardus, koper tua, dan sebuah lemari kayu jati yang memang berat.

Kami mendorongnya berdua, berkeringat dan terengah-engah.

"Mas kuat juga ya," katanya sambil mengusap keringat di dahinya. Kaosnya yang tipis menempel di punggung karena keringat.

Aku buru-buru memalingkan muka, tapi jantungku berdebar.

Setelah selesai, ia membawakanku es teh manis.

Kami duduk di tangga gudang, minum dalam diam yang nyaman.

"Mas Bagas," katanya tiba-tiba, "kamu nggak kesepian tinggal jauh dari keluarga?"

"Kadang, Mbak. Tapi sudah biasa. Teman-teman kerja juga banyak."

"Enak ya masih muda, gampang cari teman," katanya. "Saya ini... teman-teman saya pada sibuk sama keluarga masing-masing. Jadinya ya begini, ngobrol sama anak kos."

Ia tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke matanya.

"Mbak nggak kesepian, kan ada saya," kataku setengah bercanda.

Ia menatapku lama. "Iya ya. Untung ada Mas Bagas."

Ada sesuatu dalam tatapannya sore itu yang membuatku tidak bisa tidur malamnya.

Minggu-minggu berlalu. Kedekatan kami makin dalam.

Ia mulai memintaku menemaninya ke pasar — "biar ada yang bawain belanjaan."

Ia mulai mengetuk kamarku malam-malam hanya untuk mengantar kolak atau wedang ronde — "kebanyakan bikinnya."

Penghuni kos lain mulai menggoda.

"Wah, Mas Bagas jadi anak emas nih," kata Doni, penghuni kamar sebelahku, sambil menyeringai.

Aku hanya tertawa, tapi dalam hati aku tahu ada yang tumbuh — dan aku tidak berusaha menghentikannya.

Puncaknya terjadi pada suatu malam Jumat.

Aku pulang lembur jam setengah sebelas. Rumah kos sepi — sebagian penghuni pulang kampung karena long weekend.

Lampu ruang TV masih menyala. Mbak Ayu duduk sendirian di sofa, menatap layar yang menayangkan sinetron tanpa benar-benar menonton.

"Belum tidur, Mbak?" sapaku sambil duduk di sofa sebelahnya.

"Belum ngantuk," jawabnya. Di meja ada dua gelas teh yang sudah dingin dan sepiring pisang goreng yang tinggal dua.

"Mas temenin ya."

Kami menonton dalam diam beberapa saat.

Lalu ia berkata, pelan sekali, "Mas Bagas, boleh aku cerita sesuatu?"

"Boleh banget, Mbak."

Ia menarik napas panjang.

"Tadi siang suamiku telepon. Katanya kontraknya diperpanjang dua tahun lagi. Artinya... dua tahun lagi aku begini terus."

"Begini gimana, Mbak?"

"Sendirian. Nunggu. Jadi istri yang cuma dikirimi uang tiap bulan tapi nggak pernah ditemani."

Suaranya bergetar. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya.

"Mas tahu rasanya nggak? Punya suami tapi seperti janda. Tidur sendirian tiap malam di ranjang yang kegedean. Bangun pagi nggak ada yang diajak ngobrol. Masak enak nggak ada yang makan."

Air matanya jatuh. Ia buru-buru menghapusnya.

"Maaf, Mas. Aku ngelantur."

Aku bergeser mendekat dan merangkul bahunya.

"Nggak apa-apa, Mbak. Nangis saja kalau mau."

Ia bersandar di bahuku dan menangis pelan.

Aku mengusap punggungnya, merasakan tubuhnya yang gemetar.

Setelah beberapa menit, tangisnya reda. Tapi ia tidak menjauh dari bahuku.

Malah, ia mendongak dan menatapku.

Wajahnya basah oleh air mata, tapi matanya jernih dan berani.

"Mas Bagas," bisiknya, "kamu... pernah nggak merasa pengen meluk seseorang saking sepinya?"

Jantungku berdegup kencang.

"Pernah, Mbak," jawabku jujur.

"Tadi aku juga," katanya. "Makanya aku nangis. Bukan cuma sedih. Tapi juga... malu. Malu karena yang aku pengen itu kamu."

Dunia seakan berhenti.

"Mbak..."

"Aku tahu ini salah," potongnya cepat. "Kamu anak kosku. Aku istri orang. Tapi Mas, aku sudah tiga tahun begini. Tiga tahun tidur sendirian. Aku... aku masih perempuan, Mas. Aku masih butuh disentuh, dipeluk, dianggap ada."

Tangannya yang gemetar menyentuh pipiku.

"Kalau kamu nggak mau, aku ngerti. Lupakan saja omonganku malam ini."

Aku menatapnya — perempuan tiga puluh tahun yang kesepian, yang setiap hari tersenyum ramah sambil menahan sepi yang menggerogoti.

Aku menggeleng pelan.

"Aku mau, Mbak," kataku. "Dari kemarin-kemarin juga aku mau."

Ia terisak — tapi kali ini lega — lalu menciumku.

Bibirnya asin oleh air mata, tapi hangat dan penuh.

Ciuman itu awalnya lembut, seperti takut pecah.

Tapi kemudian tangannya melingkar di leherku dan menarikku lebih dalam, dan kelembutan itu berubah menjadi lapar.

Aku membalasnya dengan segenap yang kupunya.

Tanganku menyusup ke balik kaosnya, merasakan kulit punggungnya yang halus dan panas.

Ia mendesah di sela ciuman kami.

"Ke kamarku," bisiknya. "Penghuni lain pada pulang kampung. Aman."

Kami naik ke lantai atas dengan tangan bergandengan seperti sepasang kekasih yang takut ketahuan — padahal tidak ada siapa-siapa.

Di kamarnya, ia mengunci pintu.

Kamarnya wangi melati. Ranjangnya besar — ranjang yang selama ini ia tiduri sendirian.

Ia berdiri di depanku dan perlahan melepaskan kaosnya.

Aku menahan napas.

Tubuhnya — tubuh perempuan dewasa tiga puluh tahun yang terawat — terlihat menakjubkan dalam cahaya lampu tidur yang temaram.

Ia melepaskan sisanya dengan gerakan pelan, tidak malu-malu, menatapku terus seolah menantangku untuk berpaling.

Aku tidak berpaling.

Aku mendekat dan memeluknya. Kulitnya hangat dan sedikit berkeringat.

Kami berciuman sambil aku menuntunnya mundur ke ranjang.

Ia berbaring dan menarikku ke atasnya.

Malam itu kami bercinta dengan perlahan.

Tidak ada ketergesaan. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama kesepian dan akhirnya menemukan tempat berlabuh.

Aku menciumi setiap jengkal tubuhnya — lehernya yang jenjang, bahunya, dadanya yang penuh dan hangat.

Ia melengkungkan punggungnya dan mendesah panjang, jari-jarinya mencengkeram seprai.

"Mas... jangan berhenti," bisiknya.

"Aku nggak akan ke mana-mana, Mbak," jawabku sambil menatap matanya.

Dan aku sungguh-sungguh.

Kami bergerak dalam irama yang lambat dan dalam, saling menatap, saling merasakan.

Keringat membasahi tubuh kami. Napas kami memburu bersamaan.

Saat ia mencapai puncaknya, ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan agar tidak berteriak — lalu tertawa kecil sambil menangis bahagia.

"Aku... aku lupa rasanya," bisiknya terengah-engah.

Aku mencium air matanya. "Sekarang ingat lagi kan?"

Ia mengangguk dan memelukku erat.

Kami melanjutkannya sampai larut — dua kali, tiga kali, sampai tubuh kami berdua menyerah dan kami tertidur dalam pelukan, berkeringat dan puas.

Pagi harinya aku terbangun lebih dulu.

Mbak Ayu masih tidur di lenganku, wajahnya damai — damai yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Aku mengecup keningnya pelan. Ia menggeliat dan membuka mata.

"Selamat pagi," bisiknya sambil tersenyum malu-malu.

"Selamat pagi, Mbak."

Ia menyembunyikan wajahnya di dadaku. "Jangan panggil Mbak terus. Panggil Ayu saja kalau cuma berdua."

"Baik... Ayu."

Ia tertawa kecil. "Nah, gitu dong."

Sejak malam itu, hubungan kami berubah — tapi tidak dengan cara yang merusak.

Di depan penghuni lain, kami tetap seperti biasa: pemilik kos dan anak kos yang akrab.

Tapi setiap ada kesempatan — saat kos sepi, saat malam tiba — aku mengetuk pintu kamarnya, atau ia mengetuk pintu kamarku.

Tidak ada janji. Tidak ada rencana masa depan yang dibicarakan.

Hanya dua orang dewasa yang sepakat untuk tidak kesepian lagi — setidaknya untuk malam ini, dan malam-malam berikutnya.

Dan setiap pagi, saat aku berangkat kerja dan ia tersenyum melambaikan tangan dari teras dengan senyum yang kini sampai ke matanya, aku tahu:

kos ini bukan lagi sekadar tempat tinggal.

Ini rumah.

bagikan