CERITA DEWASA

Rumah Kosong Sebelah

Lampu itu menyala.

Sudah hampir dua tahun rumah di sebelah kiri rumahku gelap setiap malam. Cat dindingnya mulai kusam, rumput di halamannya tumbuh liar setinggi betis, dan papan bertuliskan DIJUAL yang dipasang di pagar sudah miring dimakan angin dan hujan. Tapi malam ini, saat aku mematikan mesin motor di depan pagar rumahku sendiri, jendela ruang tamu rumah itu memancarkan cahaya kuning yang hangat dan jelas.

Aku berdiri cukup lama di pinggir jalan. Tas kerja masih menggantung di bahuku, helm masih bertengger di kepala. Mungkin pemiliknya pulang, pikirku. Atau mungkin ada maling yang nekat.

Namaku Cakra. Umurku tiga puluh tahun, karyawan distributor alat elektronik yang setiap hari pulang jam delapan malam dengan badan lengket oleh keringat dan debu jalanan. Rumah yang kutinggali ini rumah kontrakan petak dua kamar yang kuhuni sendirian sejak tiga tahun lalu. Dan rumah kosong di sebelah itu sudah menjadi pemandangan mati yang biasa kulewati, sampai malam ini.

Keesokan paginya aku bertanya pada Pakde Karso, tetangga depan rumah yang hobinya duduk di teras sambil menyeruput kopi.

"Pakde lihat nggak, lampu rumah sebelah nyala semalam?"

Pakde Karso mengangguk sambil terkekeh. "Lihat. Katanya yang punya rumah pulang dari luar negeri. Atau saudaranya, aku kurang jelas. Yang jelas ada orangnya sekarang."

Jantungku berdebar sedikit tanpa alasan yang jelas. Penasaran, tentu saja. Dua tahun sepi, tiba-tiba berpenghuni.

Malam harinya lampu itu menyala lagi. Kali ini bukan cuma ruang tamu, tapi juga teras depan. Dan di teras itu, di bawah cahaya lampu yang kekuningan, ada seorang perempuan sedang menyapu lantai. Rambutnya diikat ke belakang, kausnya sederhana, tapi gerakannya luwes dan penuh tenaga.

Aku mematikan motor agak jauh dan berjalan kaki mendekat. Jantungku berdegup lebih kencang dari seharusnya untuk urusan sekadar menyapa tetangga baru.

"Permisi, Mbak," sapaku dari balik pagar yang pendek.

Perempuan itu menoleh. Wajahnya bersih, matanya besar, dan senyumnya langsung merekah ramah. "Iya, Mas? Cari siapa?"

"Bukan cari siapa-siapa. Saya Cakra, tetangga sebelah. Cuma mau kenalan. Rumah ini kan sudah lama kosong."

Dia tertawa kecil, meletakkan sapunya, lalu berjalan mendekat ke pagar. "Oh, Mas Cakra. Saya Elok. Umur saya dua puluh sembilan tahun. Ini rumah kakak saya, Mas Bimo. Dia kerja di Singapura, sudah empat tahun. Saya diminta menjaga rumah ini sekitar tiga bulan ke depan sambil menunggu dia pulang cuti."

"Oh, pantesan lampunya nyala. Saya kira ada maling semalam," kataku, dan kami tertawa bersama.

"Maaf bikin kaget. Saya baru datang kemarin sore. Rumahnya kotor sekali, seharian ini saya bersih-bersih."

Kami mengobrol di balik pagar hampir setengah jam malam itu. Elok ternyata ramah dan terbuka. Dia bercerita bahwa kakaknya membeli rumah itu sebelum berangkat ke Singapura, berniat ditempati setelah menikah, tapi rencana itu tertunda terus. Elok sendiri tinggal di kota lain dan cuti dari pekerjaannya sebagai staf administrasi untuk menjaga rumah ini.

"Sendirian di rumah sebesar ini pasti sepi ya, Mbak," kataku.

Dia menghela napas sambil tersenyum tipis. "Sepi sekali, Mas. Malam pertama kemarin saya sampai tidak berani tidur di kamar belakang. Akhirnya tidur di sofa ruang tamu dengan semua lampu menyala."

Ada sesuatu dalam suaranya yang membuatku iba. Bukan ketakutan yang dibuat-buat, tapi kesepian yang jujur.

Sejak malam itu, aku mulai sering mampir. Awalnya hanya basa-basi sepulang kerja, menanyakan kabar atau apakah butuh bantuan. Elok ternyata tidak sungkan meminta tolong. Lampu teras yang mati kubetulkan. Rumput liar di halaman kucabuti bersama dia di akhir pekan. Keran wastafel yang bocor kuperbaiki dengan kunci inggris pinjaman Pakde Karso.

Sebagai gantinya, Elok sering memasak lebih dan mengajakku makan malam bersama di teras rumahnya. Masakannya enak, sederhana tapi penuh perhatian. Nasi hangat, sayur lodeh, ayam goreng, dan sambal terasi yang pedasnya pas.

"Mas Cakra ini penyelamat saya," katanya suatu malam sambil menuang teh manis ke gelasku. "Kalau tidak ada Mas, saya sudah kabur pulang minggu pertama."

"Lebay," godaku. "Padahal Mbak Elok mandiri sekali."

Dia tertawa, tapi matanya menerawang sebentar. "Mandiri itu capek juga, Mas. Kadang saya iri lihat orang pulang kerja disambut keluarganya. Saya pulang ke rumah besar ini, yang menyambut cuma cicak di dinding."

Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku hanya mengangguk pelan. Di bawah cahaya lampu teras, wajahnya tampak lembut dan sedikit rapuh. Malam itu aku pulang dengan perasaan aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Minggu ketiga sejak kedatangan Elok, hujan turun deras pada suatu Sabtu malam. Aku baru saja selesai makan malam sendirian ketika ponselku bergetar. Pesan dari Elok.

"Mas, hujan deras sekali. Atap dapur bocor. Bisa bantu lihat?"

Lima menit kemudian aku sudah berdiri di teras rumahnya dengan payung basah kuyup. Elok membukakan pintu dengan wajah panik, daster rumahan yang dikenakannya sedikit basah di bagian bawah.

"Di dapur, Mas. Airnya netes terus dari plafon."

Aku memeriksa dan menemukan talang air yang tersumbat daun kering. Dengan tangga lipat dari gudang, aku naik dan membersihkan sumbatan itu di tengah hujan yang belum reda. Elok memegangi tangga dari bawah sambil meneriakkan petunjuk yang tidak jelas arahnya, dan kami tertawa di tengah kekacauan itu.

Setelah selesai, kami berdua basah kuyup dan kedinginan. Elok memberiku handuk dan kaus milik kakaknya yang kebesaran di badanku.

"Duduk dulu, Mas. Saya buatkan jahe hangat," katanya.

Kami duduk di ruang tamu yang hangat, menyeruput wedang jahe sambil mendengarkan hujan di luar. TV menyala tanpa suara, menayangkan film lama yang tidak kami perhatikan. Lampu ruang tamu diredupkan Elok karena katanya matanya lelah.

"Mas Cakra," kata Elok tiba-tiba, suaranya pelan. "Boleh saya jujur?"

"Boleh."

"Sejak saya di sini, Mas orang yang paling sering saya ajak bicara. Kadang saya menunggu jam delapan malam, jam Mas pulang kerja, karena saya tahu sebentar lagi akan ada yang menyapa saya."

Jantungku berdegup kencang. Aku menatapnya, dan dia menatapku balik tanpa mengalihkan pandangan. Di matanya ada sesuatu yang tidak bisa kusalahartikan.

"Elok," kataku pelan. "Aku juga. Setiap pulang kerja, yang pertama kulihat sekarang lampu rumah ini. Bukan rumahku sendiri."

Dia tersenyum, lalu menggeser duduknya mendekat. "Kalau begitu kita sama-sama kesepian yang saling menemukan."

Aku meraih tangannya perlahan, memberinya kesempatan untuk menarik diri. Dia tidak menarik diri. Sebaliknya, jemarinya menggenggam jemariku dengan erat.

"Mas yakin?" bisiknya.

"Aku yakin kalau kamu juga yakin," jawabku jujur.

Sebagai jawaban, Elok mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku dengan lembut. Ciuman itu awalnya ragu, seperti dua orang yang takut merusak sesuatu yang indah. Tapi kemudian menjadi lebih dalam, lebih berani, dipenuhi kerinduan yang selama ini kami pendam diam-diam.

Tanganku melingkar di pinggangnya, menariknya lebih dekat. Tubuhnya hangat dan gemetar sedikit. Aku menghentikan ciuman itu sejenak dan menatap matanya.

"Kamu yakin, Elok? Kita bisa berhenti kapan saja."

Dia mengangguk dengan mantap, matanya berkaca-kaca tapi tersenyum. "Aku sudah dewasa, Mas. Aku tahu apa yang aku mau. Dan yang aku mau malam ini adalah kamu."

Tidak ada keraguan lagi setelah itu. Kami berciuman kembali, kali ini tanpa ragu. Elok menuntunku berdiri dan menggandeng tanganku menuju kamar tidur utama yang sudah dibersihkannya sejak minggu pertama. Lampu kamar dibiarkannya menyala temaram.

Di atas ranjang yang beralaskan seprai bersih, kami saling membuka pakaian dengan perlahan, seolah setiap helai kain yang terlepas adalah sebuah kepercayaan yang diberikan. Tubuh Elok indah dalam cahaya temaram, kulitnya halus dan hangat saat kusentuh. Dia mendesah pelan saat bibirku menelusuri lehernya, jemarinya meremas bahuku.

Kami bercinta malam itu dengan perlahan dan penuh perhatian, bukan dengan nafsu yang terburu-buru, tapi dengan kerinduan dua orang kesepian yang akhirnya menemukan tempat berlabuh. Setiap sentuhan adalah percakapan. Setiap desahan adalah pengakuan. Hujan di luar menjadi musik latar yang sempurna untuk malam yang tidak akan pernah kulupakan.

Setelahnya, kami berbaring berdampingan dalam diam yang nyaman. Kepala Elok bersandar di dadaku, jemarinya menggambar pola acak di kulitku.

"Mas tidak menyesal?" tanyanya pelan.

"Tidak sedikit pun," jawabku sambil mengecup keningnya. "Kamu?"

Dia menggeleng sambil tersenyum. "Ini malam paling bahagia saya sejak tiba di sini."

Sejak malam hujan itu, hubungan kami berubah. Tidak ada lagi batas tetangga biasa di antara kami. Elok dan aku menjadi sepasang kekasih yang diam-diam, bertemu setiap malam setelah aku pulang kerja. Kadang kami makan malam bersama di teras, kadang menonton film di ruang tamu, dan sering kali berakhir di kamar tidur utama dengan bercinta yang selalu terasa seperti pertama kali.

Elok menjadi lebih ceria. Rumah besar yang dulu sepi kini dipenuhi tawa dan suara. Dia mulai menanam bunga di halaman depan, mengecat ulang pagar yang kusam, dan membuat rumah itu terasa hidup kembali.

"Kakak saya pasti kaget kalau pulang," katanya suatu sore sambil menyiram bunga. "Rumahnya jadi bagus begini."

"Kamu yang membuatnya bagus," kataku sambil memeluknya dari belakang. Dia bersandar manja di dadaku.

Tiga bulan berlalu lebih cepat dari yang kami duga. Suatu malam, Elok menerima telepon dari kakaknya. Mas Bimo memperpanjang kontrak kerjanya di Singapura dan meminta Elok menjaga rumah itu enam bulan lagi.

Wajah Elok berseri-seri saat menceritakan kabar itu padaku. "Artinya kita punya waktu lebih lama, Mas."

Aku memeluknya erat. "Artinya aku harus mulai menabung."

"Menabung untuk apa?" tanyanya heran.

"Untuk melamar adiknya Mas Bimo," jawabku sambil tersenyum nakal.

Elok memukul bahuku pelan sambil tertawa, tapi pipinya merona merah. "Dasar. Baru tiga bulan kenal sudah berani."

"Tiga bulan yang mengubah hidupku," kataku serius. "Rumah kosong sebelah itu ternyata menyimpan hal paling berharga yang pernah kutemukan."

Malam itu kami duduk di teras seperti biasa, menatap langit yang bertabur bintang. Lampu rumah Elok menyala hangat di belakang kami, tidak lagi menjadi tanda tanya, tapi menjadi mercusuar yang selalu kutuju setiap pulang kerja. Dan aku tahu, selama lampu itu menyala, aku tidak akan pernah merasa sendirian lagi.

bagikan