CERITA DEWASA

Suara dari Kamar Sebelah

Suara itu datang lagi malam ini, tepat jam sepuluh lewat sepuluh menit. Dinding kamar kos ini memang tipis sekali, hanya papan triplek yang dicat putih, jadi aku bisa mendengar hampir setiap kata yang ia ucapkan di telepon. Suaranya renyah, sesekali tertawa kecil yang membuatku ikut tersenyum di atas kasur. Aku bahkan belum tahu namanya, tapi tawa itu sudah tiga malam menemaniku tidur sejak aku pindah ke kos ini.

Aku menggeser bantal, menatap langit langit kamar yang rendah. Nama kosnya Wisma Melati, sebuah rumah tua dua lantai di ujung gang yang disulap jadi dua belas kamar kos. Kamar nomor tujuh, kamarku, bersebelahan dengan kamar nomor delapan. Menurut ibu kos, penghuni kamar delapan itu seorang perempuan yang sudah tinggal di sini hampir setahun. "Orangnya baik, ramah," kata Bu Marni waktu aku membayar uang muka. Tapi sampai malam ketiga ini aku belum pernah melihat wajahnya.

Telepon itu berakhir sekitar jam sebelas. Suasana kembali sunyi, hanya bunyi kipas angin tua di pojok kamar. Aku memejamkan mata dan membayangkan seperti apa perempuan itu. Malam ini ia bercerita soal atasannya yang menyebalkan, dan aku mendengarnya mengumpat pelan. Aku tertawa sendiri dalam gelap.

Besok paginya aku terbangun lebih awal dari biasanya. Alarmku belum berbunyi, tapi suara langkah kaki di koridor membuatku terjaga. Aku melirik jam, setengah enam pagi. Melalui celah pintu aku melihat cahaya dapur umum sudah menyala. Bau kopi menyebar sampai ke kamarku. Aku memutuskan untuk bangun dan membuat teh sebelum mandi. Siapa tahu aku bisa melihat penghuni kamar sebelah itu.

Aku membuka pintu kamar dan melangkah ke koridor sempit. Di ujung koridor, dapur umum yang kecil itu sudah ditempati seseorang. Seorang perempuan berdiri membelakangiku, menuang air panas dari teko ke dalam gelas. Rambutnya panjang, diikat asal, dan ia mengenakan kaus longgar dengan celana pendek. Ia menoleh saat mendengar langkahku, dan untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya.

Ia cantik, itu kesan pertamaku. Matanya besar dengan sorot yang hangat, pipinya sedikit tembam, dan senyumnya langsung merekah begitu melihatku. "Eh, kamu yang baru pindah kemarin, ya? Kamar tujuh?" katanya dengan suara yang langsung kukenali. Itu suara yang sama dengan suara di balik dinding. "Iya, aku Nara," jawabku, sedikit gugup. "Niken," katanya sambil mengulurkan tangan. "Kamar delapan. Tetanggaan kita."

Kami berjabat tangan, dan tangannya hangat. "Kamu kerja di mana, Ra?" tanyanya sambil menyeduh kopinya. "Di perusahaan logistik, bagian administrasi. Di daerah Sunter. Kamu?" "Aku di butik, jadi admin juga. Butiknya di Kelapa Gading." Ia tertawa kecil. "Sama sama admin, nasib kita." Aku tertawa. Obrolan mengalir begitu saja, ringan dan menyenangkan. Ternyata Niken berusia tiga puluh satu tahun, dua tahun lebih tua dariku. Ia sudah tinggal di kos ini sejak pindah kerja dari Surabaya setahun yang lalu.

"Kamu dengar aku teleponan tiap malam, ya?" katanya tiba tiba, dan wajahku langsung panas. Ia tertawa melihat ekspresiku. "Dindingnya tipis banget, aku tahu. Maaf ya kalau berisik." "Enggak apa apa," kataku cepat. "Malah... suaramu enak didengar." Begitu kalimat itu keluar dari mulutku, aku langsung menyesal. Terdengar seperti gombalan murahan. Tapi Niken justru tertawa lepas. "Halah, kamu bisa aja. Itu aku lagi teleponan sama adikku di Surabaya. Tiap malam curhat soal kerjaan."

Sejak pagi itu, hubungan kami berubah. Kami jadi sering papasan, dan setiap pertemuan selalu diiringi obrolan. Niken ternyata suka memasak. Hampir tiap sore ia memasak di dapur umum, dan porsinya selalu kebanyakan. "Ra, makan sini aja. Aku masak sayur lodeh kebanyakan," katanya suatu sore sambil menyodorkan piring. Aku yang biasanya makan di warteg depan gang tentu saja tidak menolak. Masakannya enak, jauh lebih enak dari warteg langgananku.

Malam malam berikutnya, suara teleponnya masih terdengar dari balik dinding, tapi sekarang aku tahu siapa pemilik suara itu. Kadang aku mengetuk dinding pelan sebagai candaan, dan ia membalas dengan ketukan juga sambil tertawa. Kami jadi punya ritual kecil yang hanya kami berdua yang tahu. Aku mulai menantikan jam sepuluh malam, bukan karena aku ingin menguping, tapi karena suara itu kini terasa seperti teman.

Suatu malam, sekitar jam sembilan, aku mendengar suara gaduh dari kamar sebelah. Bukan suara telepon, tapi suara barang jatuh dan umpatan pelan. Aku mengetuk dinding. "Ken, kenapa?" Tidak ada jawaban, tapi aku mendengar langkah kakinya mendekat ke dinding. "Raaa, keran wastafelku bocor! Airnya muncrat ke mana mana!" teriaknya. Aku langsung bangkit dan keluar kamar. Pintu kamar delapan terbuka sedikit, dan aku mendorongnya masuk.

Pemandangannya kacau. Air menyembur dari sambungan keran wastafel kecil di sudut kamar, membasahi lantai dan sebagian kasurnya yang kebetulan dekat. Niken berdiri di tengah genangan dengan handuk di tangan, kausnya basah kuyup dan menempel di tubuhnya. Ia menatapku dengan wajah panik. "Tolongin, Ra! Aku enggak ngerti harus ngapain!"

Aku yang pernah jadi anak teknik sebelum banting setir ke administrasi langsung bertindak. "Ada kunci inggris atau tang?" tanyaku. "Di laci meja!" Ia menunjuk meja kecil di sudut. Aku mengambil tang dan berlutut di depan wastafel, mencari katup penutup air di bawahnya. Tanganku bergerak cepat memutar katup sampai semburan air berhenti. "Nah, beres sementara. Besok aku beliin seal keran yang baru," kataku sambil berdiri. Bajuku juga basah oleh cipratan air.

Niken menghela napas lega. "Ya ampun, makasih banget, Ra. Kalau enggak ada kamu, kamarku bisa banjir." Ia mengambil handuk kering dan menyodorkannya padaku. "Nih, lap dulu. Bajumu basah." Aku mengelap wajah dan leherku. Kami berdua berdiri di tengah kamar yang berantakan, basah kuyup, dan tiba tiba kami tertawa bersamaan. Suasana yang tadinya panik berubah jadi hangat.

"Kamu dingin enggak?" tanyanya sambil melirik kausku yang menempel. "Dingin sih," aku mengaku. Ia masuk ke lemari dan melemparkan sebuah kaus pria yang kebesaran padaku. "Pake ini dulu. Itu kaus adikku yang ketinggalan waktu main ke sini." Aku berganti kaus di kamar mandi kecilnya, dan saat keluar, Niken sudah duduk di tepi kasur dengan dua gelas teh hangat. "Duduk sini," katanya sambil menepuk kasur di sebelahnya.

Kami duduk bersebelahan, menyeruput teh hangat di tengah kamar yang masih berantakan. Rambut Niken basah dan menempel di pipinya. Tanpa sadar aku mengulurkan tangan dan menyibakkan rambut itu dari wajahnya. Ia diam, menatapku. Jarak antara kami tinggal beberapa senti. Aku bisa mencium aroma sampo dan teh melati yang bercampur. Jantungku berdegup kencang.

"Niken," bisikku. Ia tidak menjawab, tapi ia tidak menjauh. Sebaliknya, ia meletakkan gelasnya dan menatap mataku lekat lekat. "Aku tahu ini aneh," katanya pelan. "Kita baru kenal dua minggu. Tapi aku nyaman sama kamu, Ra." Aku mengangguk. "Aku juga." Lalu ia tersenyum, senyum yang sama seperti pagi pertama kami bertemu di dapur, dan ia mendekatkan wajahnya.

Ciuman itu terjadi begitu saja, natural seperti kelanjutan dari semua obrolan dan tawa kami selama dua minggu terakhir. Bibirnya hangat dan lembut. Tanganku yang semula ragu akhirnya berani merangkul pinggangnya, dan ia membalas dengan melingkarkan tangannya di leherku. Kami sama sama dewasa, sama sama tahu apa yang kami inginkan, dan tidak ada paksaan sama sekali. Yang ada hanya dua orang yang saling tertarik dan memilih untuk jujur pada perasaan masing masing.

Malam itu menjadi malam yang tidak akan pernah kulupakan. Niken ternyata sosok yang apa adanya, tidak dibuat buat, dan sangat perhatian. Ia tertawa di sela sela ciuman kami, membuat suasana jadi ringan dan menyenangkan, bukan canggung. Setelah semuanya, kami berbaring berdampingan di kasurnya yang separuh basah, dan ia menyandarkan kepalanya di dadaku. "Dindingnya tipis, Ra," bisiknya sambil terkikik. "Besok satu kos bakal tahu." Aku tertawa. "Biarin. Paling mereka cuma iri."

Sejak malam itu, hubungan kami semakin dekat. Kami tidak merahasiakannya, tapi juga tidak mengumbar. Bu Marni hanya tersenyum maklum saat melihat kami sarapan berdua di dapur umum. Penghuni kos lain menggoda kami dengan sebutan pasangan kamar tujuh delapan. Kami menanggapinya dengan santai. Yang penting, kami nyaman satu sama lain.

Niken bercerita bahwa ia sempat ragu untuk dekat dengan siapa pun setelah hubungan terakhirnya kandas dua tahun lalu. Mantan pacarnya di Surabaya berselingkuh, dan sejak itu ia menutup diri. "Tapi kamu beda," katanya suatu malam sambil bersandar di bahuku. "Kamu dengerin aku, bahkan sebelum kita kenal. Tiap malam kamu dengerin aku teleponan." Aku tertawa. "Itu namanya menguping, Ken." "Menguping yang manis," katanya sambil mencubit lenganku.

Aku pun bercerita soal hidupku. Aku merantau dari Semarang lima tahun lalu, sempat pindah kos tiga kali karena tidak betah. Pekerjaanku sebagai staf administrasi di perusahaan logistik memang tidak glamor, tapi cukup untuk hidup. Aku bercerita soal mimpiku suatu hari punya usaha sendiri, dan Niken mendengarkan dengan serius. "Kamu pasti bisa," katanya. "Kamu orangnya telaten. Lihat aja keranku, sekali pegang langsung beres."

Hari hari kami berjalan dengan pola yang menyenangkan. Pagi hari kami berangkat kerja masing masing, kadang berboncengan motor sampai pertigaan sebelum berpisah arah. Sore hari Niken memasak dan aku membantu memotong sayur atau mencuci piring. Malam hari kami mengobrol, kadang di kamarku, kadang di kamarnya, dengan dinding tipis yang kini terasa seperti penghubung, bukan pemisah.

Suatu malam, sekitar sebulan setelah malam keran bocor itu, Niken mengetuk dinding kamarku tiga kali. Itu kode kami. Aku mengetuk balik dua kali, lalu keluar dan masuk ke kamarnya. Ia duduk di kasur dengan laptop di pangkuannya. "Ra, lihat ini," katanya sambil menunjukkan layar. Itu foto sebuah ruko kecil disewakan di dekat butik tempatnya kerja. "Pemilik butik mau buka cabang dan butuh orang yang bisa dipercaya buat megang operasional. Gajinya lumayan naik. Gimana menurutmu?"

Aku duduk di sebelahnya dan membaca detailnya dengan saksama. "Bagus ini, Ken. Lokasinya strategis. Tapi kamu yakin mau tanggung jawab lebih besar?" Ia mengangguk mantap. "Aku udah tiga puluh satu, Ra. Masa mau jadi admin terus. Aku mau naik." Aku tersenyum bangga. "Kalau gitu ambil. Aku dukung." Ia memelukku erat. "Makasih ya. Kamu selalu jadi orang pertama yang aku ajak diskusi."

Malam itu kami merayakan kabar baik itu dengan cara kami sendiri. Niken memasak mie goreng spesial dengan telur mata sapi ganda, dan kami makan di kamarnya sambil menonton film di laptop. Di tengah film, ia menyandarkan kepalanya di bahuku seperti biasa. Aku mencium keningnya, dan ia menengadah. Ciuman kami malam itu terasa berbeda, lebih dalam, penuh rasa syukur dan kebahagiaan.

Hubungan kami terus berjalan dengan dewasa dan saling menghargai. Kami pernah bertengkar sekali, soal hal sepele, aku lupa menutup keran air di dapur umum sampai Bu Marni menegur. Niken marah karena malu, aku marah karena merasa disalahkan. Kami diam semalaman, dan itu terasa aneh karena biasanya suara dari kamar sebelah selalu ada. Besok paginya aku mengetuk pintunya sambil membawa martabak manis kesukaannya. Ia membuka pintu dengan wajah cemberut, tapi langsung luluh melihat martabak itu. "Maaf," kataku. "Maaf juga," jawabnya. Kami berpelukan, dan semuanya kembali normal.

Tiga bulan setelah aku pindah ke kos ini, Bu Marni menaikkan uang kos. Semua penghuni protes, termasuk kami. Tapi Bu Marni berdalih biaya perawatan naik. Niken mengajakku patungan pindah ke kontrakan kecil saja. "Ada kontrakan petak dua kamar di gang sebelah, harganya kalau patungan jatuhnya sama kayak kos. Kita bisa masak bebas, enggak rebutan dapur." Aku sempat ragu, karena itu langkah yang cukup serius. Tapi melihat kesungguhannya, aku mengangguk. "Ayo."

Kami pindah ke kontrakan itu awal bulan berikutnya. Kontrakannya sederhana, tapi kami menatanya bersama. Niken memilih gorden, aku memasang rak. Dinding kontrakan itu lebih tebal dari dinding kos, jadi aku tidak bisa lagi mendengar suara Niken dari kamar sebelah. Tapi itu tidak masalah, karena sekarang tidak ada lagi dinding di antara kami.

Setiap malam, sebelum tidur, Niken masih menelepon adiknya di Surabaya. Bedanya, sekarang aku berbaring di sebelahnya, mendengarkan langsung tanpa perantara dinding tipis. Kadang adiknya bertanya siapa laki laki yang tertawa di latar belakang, dan Niken menjawab dengan bangga, "Itu Nara, calon kakak iparmu." Aku selalu tersipu mendengarnya, tapi dalam hati aku bahagia.

Kadang aku berpikir, lucu juga bagaimana semuanya bermula. Hanya karena dinding kos yang tipis dan suara tawa seorang perempuan yang kudengar tiga malam berturut turut. Kalau saja aku pindah ke kamar lain, atau kalau saja aku tidak terbangun pagi itu dan pergi ke dapur, mungkin aku tidak akan pernah mengenal Niken. Tapi hidup memang begitu, penuh kebetulan kecil yang ternyata mengubah segalanya.

Kini, setiap kali aku mendengar suara Niken, aku tidak lagi hanya mendengar suara dari kamar sebelah. Aku mendengar suara rumah, suara seseorang yang memilih untuk berjalan bersamaku. Dan aku bersyukur pada dinding tipis di Wisma Melati yang mempertemukan kami dengan cara yang paling tidak terduga.

bagikan