Lampu kota berpendar di kaca jendela yang setengah berembun. Angkot tua itu melaju pelan menyusuri jalan protokol yang mulai sepi, mesinnya meraung setiap kali supir menginjak gas. Aku duduk di bangku tengah, tas kerja masih menempel di pangkuan, dan selain aku hanya ada satu penumpang lain: seorang perempuan yang duduk di bangku belakang, menatap keluar jendela dengan dagu bertopang tangan.
Jam di ponselku menunjukkan pukul sepuluh lewat lima. Ini angkot terakhir yang lewat rute ini. Kalau aku melewatkannya, aku harus jalan kaki dua kilometer atau membayar ojek online yang tarifnya sedang melonjak karena hujan rintik-rintik mulai turun.
"Mas, masih jauh ke terminal?" suara perempuan itu tiba-tiba memecah dengung mesin.
Aku menoleh. Wajahnya cantik dengan cara yang sederhana, rambut panjang diikat ekor kuda, kemeja kerja yang sedikit kusut setelah seharian dipakai. Ada kantuk di matanya, tapi senyumnya ramah.
"Terminal Cicaheum? Masih sekitar dua puluh menit, Mbak," jawabku. "Kalau jalannya lancar."
Ia menghela napas. "Duh. Bus terakhir ke rumahku jam setengah sepuluh. Ketinggalan."
"Memangnya Mbak tinggal di mana?"
"Di daerah Ujungberung. Bus yang ke sana cuma sampai jam setengah sepuluh malam. Sekarang aku nggak tahu harus gimana."
Supir yang duduk di depan hanya latar dari percakapan kami. Lelaki paruh baya itu fokus pada jalan, sesekali bersiul pelan mengikuti lagu dangdut dari radio tua di dasbor. Ia tidak peduli pada dua penumpangnya yang mulai mengobrol.
"Namanya siapa, Mbak? Aku Krisna," kataku, memperkenalkan diri lebih dulu. Umurku dua puluh sembilan tahun, karyawan di sebuah perusahaan distribusi, dan malam ini aku pulang telat karena laporan bulanan yang baru selesai jam sembilan.
"Kenanga," jawabnya. "Umurku dua puluh sembilan juga. Kerja di bagian administrasi sebuah klinik."
Kami tertawa kecil mendengar kebetulan itu. Umur yang sama, sama-sama pulang telat, sama-sama terjebak di angkot terakhir malam itu. Rasanya seperti semesta sedang bercanda.
"Jadi gimana rencanamu? Turun di terminal terus naik apa?" tanyaku.
Kenanga mengangkat bahu. "Mungkin pesan ojek online dari terminal. Tapi tarifnya pasti mahal banget jam segini. Atau... aku ikut angkot ini sampai ujung rutenya, terus lihat nanti."
"Kok nekat banget?"
"Daripada bengong di terminal sendirian jam sebelas malam. Mending ikut jalan dulu, siapa tahu ada ide."
Angkot berbelok ke jalan yang lebih kecil. Lampu-lampu jalan mulai jarang, digantikan kegelapan kebun dan rumah-rumah yang sudah tidur. Supir memutar rute memutar yang sepi, mungkin untuk mengejar setoran terakhir atau sekadar menghindari macet yang sudah tidak ada. Aku tidak protes. Malah, aku menikmati obrolan yang mengalir begitu saja.
"Kamu tiap hari pulang jam segini?" tanya Kenanga, kini ia pindah duduk ke bangku tengah, tepat di seberangku. Jarak kami tinggal satu lorong sempit.
"Nggak. Cuma akhir bulan. Laporan, kamu tahu sendiri. Kamu?"
"Sama. Klinik tempatku kerja lagi audit. Semua staf administrasi disuruh lembur."
Percakapan kami melompat dari topik ke topik: atasan yang menyebalkan, mie instan terenak, film yang baru ditonton, sampai mimpi-mimpi yang belum kesampaian. Kenanga ternyata lucu. Ia bercerita dengan ekspresi wajah yang hidup, tangannya bergerak-gerak, dan sesekali ia menepuk pahaku sendiri saking serunya bercerita. Setiap kali tangannya tanpa sengaja menyentuh lututku saat angkot berguncang, ada sensasi hangat yang menjalar.
Aku memperhatikan detail-detail kecil: cara ia menggigit bibir bawah saat berpikir, aroma parfum vanilla yang samar dari rambutnya, dan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya yang membuatnya semakin manis.
Angkot berhenti di sebuah persimpangan sepi. Tidak ada yang naik, tidak ada yang turun. Supir mematikan mesin sebentar untuk mengecek sesuatu di kolong, lalu menyalakannya lagi. Di kejauhan, lampu sebuah warung kecil masih menyala, satu-satunya titik terang di jalan gelap itu.
"Kenanga," kataku, "gimana kalau kita turun di sini aja? Ada warung tuh. Kita minum kopi dulu, terus aku bantu kamu cari ojek online. Lebih aman daripada bengong di terminal."
Ia menatap warung itu, lalu menatapku. Ada jeda beberapa detik yang terasa panjang. "Kamu nggak buru-buru pulang?"
"Aku kos sendirian. Nggak ada yang nungguin."
"Oke," katanya akhirnya, tersenyum. "Turun di sini, Pak!"
Supir menghentikan angkot di depan warung. Kami turun, dan udara malam yang dingin langsung menyergap. Hujan rintik sudah berhenti, menyisakan aroma tanah basah yang segar. Angkot tua itu melaju pergi, lampunya menghilang di tikungan, meninggalkan kami berdua di depan warung kecil dengan spanduk "WARUNG KOPI BU NANI" yang warnanya sudah pudar.
Warung itu sederhana: tiga meja plastik, bangku-bangku kecil, dan etalase kaca berisi gorengan yang tinggal sedikit. Seorang ibu paruh baya, Bu Nani, menyambut kami dengan ramah meski jam sudah hampir sebelas malam.
"Kopi dua, Bu. Yang satu manis, yang satu pahit," kataku. "Kamu yang mana?" tanyaku pada Kenanga.
"Manis. Hidupku udah cukup pahit," jawabnya sambil tertawa.
Kami duduk di meja paling ujung, agak jauh dari lampu utama sehingga suasananya lebih temaram dan privat. Bu Nani menghilang ke dapur kecil di belakang, meninggalkan kami berdua dengan suara jangkrik dan sesekali motor lewat.
"Jadi, ceritakan tentangmu," kata Kenanga, menopang dagu dengan kedua tangan. "Yang beneran. Bukan versi CV."
Aku tertawa. "Versi benerannya? Aku anak rantau dari Jawa Tengah. Merantau ke Bandung lima tahun lalu. Kos di daerah Dago. Belum menikah, belum punya pacar, dan ibuku tiap telepon selalu nanya kapan nikah."
"Wah, sama! Ibuku juga gitu. Bedanya aku asli Bandung, tapi tetap aja tiap minggu ditanya kapan bawa calon menantu."
"Terus kenapa belum nikah? Kamu cantik, pasti banyak yang mau."
Kenanga tersenyum tipis, ada sedih yang melintas cepat di matanya. "Pernah punya pacar lima tahun. Udah mau nikah, eh dia selingkuh sama rekan kerjanya. Sejak itu aku trauma. Udah dua tahun sendiri."
"Aku juga pernah," kataku jujur. "Pacaran tiga tahun, putus karena beda kota dan dia nggak mau LDR. Katanya aku terlalu sibuk kerja."
"Yah, begitulah. Orang dewasa sibuk kerja, lupa pacaran, terus heran kenapa masih sendiri."
Kopi datang, mengepul. Kami menyeruput dalam diam yang nyaman. Di luar, angin malam bertiup pelan, menggoyang spanduk warung.
"Krisna," kata Kenanga pelan, "makasih ya udah nemenin aku. Kalau nggak ketemu kamu, mungkin aku udah nangis di terminal sekarang."
"Nangis kenapa?"
"Karena capek. Capek kerja, capek sendiri, capek pura-pura kuat terus. Kadang aku pengen ada yang nemenin, walaupun cuma ngobrol nggak jelas kayak gini."
Ada kejujuran yang telanjang dalam kata-katanya. Aku merasakan sesuatu bergeser di dadaku, bukan sekadar ketertarikan fisik pada perempuan cantik di depanku, tapi sesuatu yang lebih dalam. Pengertian. Rasa senasib.
"Aku juga," kataku. "Aku juga capek."
Ia menatapku lama. Lalu tangannya terulur di atas meja, menyentuh punggung tanganku. Sentuhan itu ringan, tapi terasa seperti sengatan listrik kecil.
Kenanga tidak menarik tangannya. Jari-jarinya kini bertautan dengan jariku di atas meja plastik yang lengket. Jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya.
"Kamu tahu nggak," bisiknya, "kosku sebenarnya nggak jauh dari sini. Cuma sepuluh menit jalan kaki. Aku tadi bohong soal Ujungberung."
Aku mengangkat alis. "Bohong kenapa?"
"Karena aku malu. Malu ketinggalan bus terakhir kayak anak kecil yang nggak bisa atur waktu. Ujungberung itu rumah orang tuaku. Aku ngekos di sini biar dekat klinik."
"Terus kenapa sekarang jujur?"
"Karena kamu nggak menghakimi. Kamu malah ngajak turun dan minum kopi."
Aku menggenggam tangannya lebih erat. "Jadi sekarang rencananya gimana? Jalan kaki ke kosmu?"
Kenanga menggigit bibir bawahnya, kebiasaan yang tadi kuperhatikan dan kini terasa jauh lebih menggoda dalam temaram lampu warung. "Warung ini tutup jam sebelas. Sekarang udah jam sebelas kurang sepuluh."
"Terus?"
"Terus... kosku sepi. Teman sekosku lagi pulang kampung. Kalau kamu mau... kita bisa lanjut ngobrol di sana. Bikin teh. Lebih hangat."
Tawaran itu menggantung di udara di antara kami, penuh makna yang tak terucapkan. Aku bukan anak kemarin sore. Aku tahu apa arti ajakan itu. Dan dari cara Kenanga menatapku, dengan mata yang berani tapi juga sedikit gugup, aku tahu ia pun sadar.
"Kamu yakin?" tanyaku pelan. Aku ingin memastikan, tidak ingin ada yang terpaksa atau menyesal.
Ia mengangguk, mantap. "Yakin. Aku udah dua tahun nggak ngerasain... deket sama orang. Malam ini aku nggak mau sendiri."
Kami membayar kopi, mengucapkan terima kasih pada Bu Nani yang tersenyum maklum seperti sudah sering melihat adegan serupa. Hujan rintik mulai turun lagi saat kami berjalan beriringan menyusuri jalan sepi menuju kos Kenanga.
Kos Kenanga adalah bangunan dua lantai yang sepi. Kamarnya di lantai atas, kecil tapi rapi dan wangi. Ada rak buku penuh novel, foto keluarganya di dinding, dan boneka beruang besar di sudut kasur. Sangat perempuan, sangat personal, dan aku merasa terhormat diizinkan masuk ke ruang seprivat ini.
"Tunggu, aku bikin teh dulu," katanya, menghilang ke dapur kecil di ujung lorong.
Aku duduk di tepi kasurnya yang empuk, memperhatikan sekeliling. Hidup Kenanga terasa nyata di sini: notes tempel di cermin, jadwal piket klinik, dan kalender dengan lingkaran merah di sebuah tanggal dua bulan lagi. Mungkin ulang tahunnya.
Ia kembali dengan dua cangkir teh hangat. "Nih. Teh manis, kayak kopinya tadi."
Kami duduk bersebelahan di tepi kasur, menyeruput teh dalam diam. Di luar jendela, hujan semakin deras, menabuh atap seng dengan ritme yang menenangkan. Lampu kamar yang kuning temaram membuat segalanya terasa seperti mimpi.
"Krisna," kata Kenanga pelan, meletakkan cangkirnya di nakas. "Boleh aku jujur?"
"Boleh."
"Aku nggak ngajak kamu ke sini cuma buat ngobrol. Aku... aku pengen disentuh. Pengen ngerasain lagi jadi perempuan yang diinginkan. Tapi kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa. Kita bisa cuma ngobrol sampai pagi."
Kejujurannya membuat dadaku sesak. Aku meletakkan cangkirku juga, lalu berbalik menghadapnya. "Kenanga, kamu cantik banget malam ini. Dari pertama kamu naik angkot tadi, aku udah nggak bisa berhenti merhatiin kamu. Jadi jawabannya: aku mau. Asal kamu juga mau, beneran mau."
Sebagai jawaban, ia mendekat dan menciumku. Bibirnya lembut dan hangat, beraroma teh manis. Ciuman itu awalnya ragu, seperti mengetes air, lalu semakin dalam saat aku membalas dengan jemariku yang menyusuri rahangnya. Tangannya melingkar di leherku, menarikku lebih dekat hingga tidak ada jarak tersisa di antara kami.
Kami berbaring di kasur sempit itu, masih berciuman, tangan kami mulai menjelajah dengan izin yang tak terucapkan tapi saling dipahami. Aku membuka kancing kemejanya satu per satu, memberinya waktu untuk menghentikanku kapan pun. Ia tidak menghentikanku. Malah, ia membantuku melepas kemeja kerjaku yang kusut, jemarinya yang dingin menyentuh kulit punggungku yang hangat.
"Kamu yakin?" bisikku sekali lagi, menatap matanya dalam-dalam.
"Jangan tanya lagi," bisiknya balik, tersenyum. "Lakukan aja."
Malam itu, di kamar kos kecil dengan suara hujan sebagai musik latar, kami menemukan satu sama lain. Tidak ada yang terburu-buru. Kami saling mempelajari tubuh masing-masing seperti membaca buku yang menarik: setiap lekuk, setiap desah, setiap respons. Kenanga ternyata bergairah dan berani, jauh dari kesan pemalu di angkot tadi. Ia tahu apa yang ia mau dan tidak ragu memintanya, dan itu membuatku semakin menginginkannya.
Kami bercinta dua kali malam itu, diselingi obrolan pelan dan tawa kecil di antara jeda. Setelah yang kedua, kami berbaring telanjang di bawah selimut tipis, tubuhnya meringkuk di dadaku, mendengarkan detak jantung masing-masing yang perlahan melambat.
Kami tertidur begitu saja, masih berpelukan, dengan hujan yang sudah mereda di luar.
Aku terbangun karena cahaya matahari pagi menyelinap lewat celah gorden. Kenanga masih tidur di dadaku, rambutnya berantakan menutupi wajah, napasnya teratur. Aku berbaring diam, tidak ingin merusak momen itu. Ponselku menunjukkan pukul enam pagi. Aku harus kerja jam delapan, tapi kosku jauh. Mungkin aku akan telat. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tidak peduli telat kerja.
Kenanga menggeliat bangun, mengucek matanya. "Pagi," katanya dengan suara serak yang menggemaskan.
"Pagi."
Ia tersenyum malu, menarik selimut menutupi dadanya. "Semalam beneran terjadi ya? Bukan mimpi?"
"Beneran. Dan aku nggak mau ini cuma jadi cerita satu malam."
"Terus maunya jadi apa?"
"Jadi awal. Aku mau kenal kamu lebih jauh. Mau jadi orang yang kamu telepon pas ketinggalan bus lagi."
Kami mandi bergantian, sarapan roti dan teh sisa semalam, lalu berpisah di depan kos dengan janji bertemu lagi Sabtu malam. Aku naik ojek online ke kosku dengan senyum yang tidak hilang-hilang, dan sepanjang hari di kantor aku tidak bisa berhenti memikirkan perempuan bernama Kenanga yang kutemui di angkot terakhir.
Malam itu mengajarkanku sesuatu: kadang hal terbaik dalam hidup datang dari hal yang paling tidak terduga. Ketinggalan bus, angkot terakhir, warung kopi di jalan sepi, dan seorang perempuan cantik bernama Kenanga yang berani jujur tentang apa yang ia mau.
Dan aku? Aku beruntung menjadi orang yang ada di sana malam itu, di bangku angkot yang berderit, saat lampu kota berpendar di kaca jendela yang berembun.
