CERITA DEWASA

Istri Dokter yang Kesepian

Suara bor meraung memecah pagi yang tenang. Debu putih beterbangan di ruang tamu yang lantainya sudah dikupas. Aku mengusap keringat di kening dengan punggung tangan, lalu menoleh waktu mendengar langkah kaki mendekat.

Seorang perempuan muncul dari arah dapur, membawa nampan berisi dua gelas teh manis dan sepiring pisang goreng. Daster sutranya berwarna marun, rambutnya disanggul rapi, wajahnya cantik tanpa riasan berlebihan. Di tengah kekacauan renovasi ini, ia terlihat seperti potret yang salah tempel.

"Istirahat dulu, Mas," katanya sambil tersenyum. "Nanti dehidrasi."

Aku meletakkan bor dan menerima tehnya. "Makasih, Bu."

"Panggil Kirana aja. Bu-buan berasa tua."

Aku tertawa. "Siap, Mbak Kirana."

Itu hari ketiga aku mengerjakan renovasi rumah ini. Rumah dua lantai di perumahan menengah atas, milik dr. Wijaya, dokter bedah di rumah sakit besar kota ini. Proyeknya renovasi total ruang tamu dan dapur, diperkirakan dua minggu.

Damar, tiga puluh empat tahun, kontraktor renovasi. Itu aku. Sudah sepuluh tahun aku kerja begini, dari kuli bangunan sampai punya tim kecil sendiri. Tiga orang anak buahku, Yono, Bejo, dan Slamet, sedang sibuk di dapur membongkar keramik lama.

Kirana, tiga puluh enam tahun, istri dr. Wijaya. Cantik, elegan, dan hampir selalu sendirian di rumah sebesar ini. Suaminya berangkat jam enam pagi, pulang jam sembilan malam, kadang tidak pulang sama sekali kalau ada operasi mendadak.

"Suami Mbak kerja terus ya?" tanyaku sambil menyeruput teh. Pisang gorengnya enak, renyah di luar lembut di dalam.

"Namanya juga dokter bedah, Mas. Jadwalnya bukan milik dia." Kirana duduk di kursi plastik yang kami sediakan untuk istirahat. "Aku udah hafal. Senin sampai Sabtu begitu. Minggu kadang masih dipanggil."

"Nggak bosen sendirian di rumah?"

Ia tersenyum tipis. "Awalnya bosen. Lama-lama jadi biasa. Lagian ada Mbak Tun, pembantu. Tapi dia pulang jam lima."

"Anak?"

"Belum dikasih." Ada jeda singkat. "Mungkin karena kami jarang ketemu."

Aku tidak menanggapi. Bukan urusanku. Tapi aku mencatat nada getir di suaranya.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Pagi aku dan tim datang jam delapan. Kirana menyambut dengan teh atau kopi. Siang ia membuatkan makan siang untuk kami berempat, selalu lebih. Nasi, lauk dua macam, sayur, buah. Enak semua. Anak buahku sampai bilang, proyek ini yang paling enak urusan perutnya.

"Mas Damar," kata Kirana suatu siang, waktu anak buahku sedang istirahat di luar. "Boleh tanya?"

"Boleh."

"Kamu nikah?"

"Belum. Masih bujangan."

"Kok belum? Umur tiga puluh empat kan?"

"Belum nemu yang cocok. Lagian kerjaanku nggak jelas jamnya. Cewek mana mau."

Kirana tertawa. "Aku mau."

Aku tersedak. "Hah?"

"Bercanda, Mas." Ia mengedipkan mata. "Jangan tegang gitu."

Tapi jantungku berdegup aneh. Candaan itu, entah kenapa, tidak terasa seperti candaan biasa.

Minggu pertama berlalu. Ruang tamu sudah mulai berbentuk. Lantai granit baru terpasang setengah, dinding sudah diplamir ulang. Kirana makin sering mengajakku ngobrol. Bukan soal renovasi, tapi soal hidup. Film yang ia tonton, buku yang ia baca, teman-temannya yang sibuk dengan anak masing-masing.

"Kamu tahu nggak, Mas," katanya suatu sore, waktu aku sedang mengukur kusen jendela. "Kadang aku iri sama Mbak Tun."

"Iri kenapa?"

"Dia pulang ke rumah, ada suami dan anak yang nungguin. Rumahnya kecil, tapi rame. Lah aku? Rumah gede, sepi."

Aku berhenti mengukur dan menatapnya. "Mbak Kirana cantik, kaya, suami dokter. Banyak yang pengen jadi kamu."

"Banyak yang pengen jadi aku, tapi nggak ada yang pengen jadi aku beneran." Ia tersenyum pahit. "Orang lihat enaknya doang."

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku kembali mengukur, tapi pikiranku melayang.

Minggu kedua dimulai. Pekerjaan masuk tahap finishing. Pengecatan, pemasangan lampu, detail-detail kecil. Anak buahku mulai bisa kerja tanpa banyak arahan, jadi aku lebih sering sendirian mengerjakan bagian detail.

Rabu siang itu hujan deras. Anak buahku pulang lebih awal karena material cat belum datang dan tidak ada yang bisa dikerjakan di luar. Aku tinggal sendirian, merapikan sudut-sudut yang belum sempurna.

Kirana muncul dengan payung, padahal cuma dari dapur ke ruang tamu yang atapnya belum full tertutup di satu sisi.

"Yang lain pulang?" tanyanya.

"Iya. Nanggung."

"Mau makan siang? Aku masak soto."

"Boleh."

Kami makan berdua di meja dapur yang belum dibongkar. Soto ayamnya hangat dan gurih, pas dengan cuaca hujan. Di luar, hujan mengguyur atap seng sementara dengan suara berisik.

"Mas Damar," kata Kirana tiba-tiba. "Aku boleh jujur?"

"Boleh."

"Aku seneng ada proyek ini." Ia memainkan sendoknya. "Dua minggu ini rumah rame. Ada suara orang kerja, ada yang diajak ngomong. Aku nggak ngerasa sendirian."

Dadaku sesak mendengarnya.

"Besok proyek selesai," kataku pelan.

"Iya." Ia menatapku. "Makanya aku sedih."

Hening. Hanya suara hujan.

"Kirana," kataku, pertama kalinya memanggil namanya tanpa embel-embel.

Ia menoleh. Aku mendekat, duduk di kursi sebelahnya. Tanganku terulur dan menggenggam tangannya yang ada di meja.

Ia tidak menariknya. Malah menggenggam balik, erat.

"Aku tahu ini salah," bisiknya. "Kamu tahu kan, aku istri orang."

"Aku tahu."

"Terus kenapa masih di sini?"

"Karena aku nggak bisa pergi."

Ia menatapku lama. Di matanya ada pergulatan. Antara benar dan ingin. Antara setia dan sepi. Akhirnya yang menang adalah yang sudah terlalu lama ditahan.

Ia berdiri, masih menggenggam tanganku, dan menuntunku naik ke lantai dua. Kamar tidur utama. Pintu ditutupnya pelan.

Kamar itu besar dan rapi. Ranjang king size dengan sprei putih. Foto pernikahannya dengan dr. Wijaya tergantung di dinding. Aku sempat ragu melihat foto itu, tapi Kirana memalingkan wajahku dengan tangannya.

"Jangan lihat sana," bisiknya. "Lihat aku."

Aku menatapnya. Daster sutra marunnya, rambutnya yang mulai tergerai dari sanggul, wajahnya yang cantik dan penuh keberanian.

Aku menciumnya. Pelan dulu, memberi kesempatan mundur. Ia tidak mundur. Bibirnya yang lembut menyambutku. Tangannya melingkar di leherku.

Ciuman itu makin dalam. Napasnya memburu. Tubuhnya yang ramping merapat padaku. Aku bisa merasakan dadanya yang penuh menekan dadaku.

Tanganku turun ke pinggangnya, merasakan lekuk tubuhnya di balik sutra yang licin. Ia mendesah di mulutku.

Daster itu melorot begitu tali pinggangnya kulepas. Di bawahnya ia memakai lingerie hitam yang elegan. Aku tertegun. Tubuhnya indah. Kulitnya mulus, dadanya penuh, pinggangnya ramping, kakinya jenjang.

"Kamu cantik banget," bisikku.

"Jangan cuma diliatin," katanya dengan senyum menggoda.

Aku melepas kaos kerjaku yang berdebu. Ia menatap tubuhku, lalu tersenyum. "Kamu juga nggak jelek."

Kami tertawa kecil, mencairkan ketegangan. Lalu aku membaringkannya di ranjang. Ranjang yang seharusnya miliknya dan suaminya. Tapi sore ini, ranjang ini milik kami.

Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya. Lingerie hitamnya kubuka perlahan. Dadanya yang ranum menyambutku. Aku menciuminya dengan penuh penghargaan, dan ia melengkungkan punggungnya sambil mendesah.

"Mas," desahnya. "Udah lama banget."

Aku mengerti maksudnya. Suaminya yang selalu sibuk. Pernikahan yang dingin. Aku tidak bertanya lebih jauh. Aku hanya memberinya apa yang ia butuhkan.

Tanganku menjelajah tubuhnya. Setiap sentuhan disambut desahan. Ia basah dan siap waktu tanganku menemukannya. Ia mengangkat pinggulnya, tidak sabar.

Aku melepaskan sisa pakaianku. Lalu aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya lebar untukku, mengundangku masuk.

Waktu aku masuk, ia melenguh panjang dan memelukku erat. Hangat, sempit, sempurna. Kami berdua terdiam sesaat, saling merasakan.

Lalu kami bergerak. Pelan dulu, dalam, ritmis. Tangannya mengelus punggungku yang berkeringat. Kakinya melingkar di pinggangku.

"Jangan pelan-pelan," bisiknya. "Aku pengen ngerasain."

Aku mempercepat gerakanku. Ranjang berderit. Napas kami memburu. Hujan masih turun di luar, menutupi semua suara.

Ia mendesah makin keras. Kukunya mencakar punggungku. Pinggulnya bergerak liar mengimbangi setiap gerakanku.

"Aku mau..." katanya terputus-putus.

"Ya. Lepasin."

Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku. Gelombang itu menjalar ke tubuhku, dan beberapa detik kemudian aku meledak bersamanya dengan erangan panjang.

Kami terbaring diam cukup lama. Hujan mulai reda. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya.

"Maaf," bisiknya.

"Jangan," kataku. "Kita berdua yang mau."

Ia mengangguk pelan. "Aku nggak nyesel. Cuma takut."

"Rahasia kita."

Kami berpakaian kembali. Ia merapikan dasternya, menyanggul ulang rambutnya. Aku turun ke bawah dan kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi setiap kali mata kami bertemu sore itu, ada kilat yang hanya kami berdua yang mengerti.

Kamis dan Jumat berlalu dengan ketegangan yang manis. Anak buahku tidak menyadari apa-apa. Tapi setiap ada kesempatan, aku dan Kirana mencuri waktu. Di gudang belakang. Di kamar mandi tamu yang sudah jadi. Cepat, diam-diam, penuh gairah.

Sabtu, hari terakhir proyek. Serah terima selesai jam empat sore. Kirana membayar lunas, plus bonus untuk anak buahku. Mereka pulang dengan gembira.

Aku tinggal sendirian untuk membereskan perkakas terakhir. Kirana menungguku di teras.

"Udah selesai semua?" tanyanya.

"Udah. Bagus kan?"

"Bagus banget. Makasih, Mas Damar."

Kami berjabat tangan. Formal. Seolah dua minggu ini tidak pernah terjadi apa-apa.

Tapi waktu aku hendak pergi, ia menahan tanganku.

"Mas," bisiknya. "Nomorku. Kalau... kalau ada yang perlu diperbaiki."

Ia menyelipkan kertas kecil ke sakuku. Aku mengangguk, tidak percaya suara.

Aku pulang dengan perasaan campur aduk. Proyek selesai. Bayaran lunas. Tapi ada yang hilang.

Tiga hari kemudian ponselku bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal.

"Shower kamar mandi tamu bocor. Bisa benerin?"

Aku tersenyum sendiri. Lalu membalas.

"Besok pagi aku ke sana."

Sejak itu, aku jadi langganan servis rumah itu. Kadang shower bocor. Kadang lampu mati. Kadang tidak ada yang rusak sama sekali.

dr. Wijaya tidak pernah tahu. Ia terlalu sibuk menyelamatkan nyawa orang lain untuk menyadari istrinya yang kesepian di rumah.

Kadang aku merasa bersalah. Tapi setiap kali aku melihat Kirana tertawa lepas, sesuatu yang tidak pernah kulihat di minggu pertama proyek, rasa bersalah itu kalah oleh sesuatu yang lain. Kebahagiaan. Miliknya, dan sedikit milikku.

Dan aku? Aku cuma tukang renovasi. Tapi setiap kali pintu rumah itu terbuka dan Kirana tersenyum menyambutku dengan nampan teh manis, aku merasa seperti orang paling beruntung di dunia.

bagikan