Namaku Eko, tiga puluh dua tahun, karyawan di sebuah perusahaan logistik. Aku ngekos di daerah Kalibata, kos khusus karyawan yang katanya tenang dan nyaman. Katanya.
Kenyataannya, tiga minggu pertama aku tinggal di sana berjalan damai. Sampai kamar sebelahku, nomor tujuh, kedatangan penghuni baru.
Awalnya cuma suara musik. Kencang. Dangdut koplo dengan bass yang bikin dinding bergetar. Jam sembilan malam, waktu aku lagi coba tidur karena besok harus bangun jam lima.
Aku gedor dinding. Musiknya mengecil sebentar, lalu kencang lagi.
Besoknya gantian suara telepon. Bukan telepon biasa, tapi video call dengan speaker kencang. Terdengar suara perempuan tertawa-tawa, ngobrol ngalor-ngidul soal paket, resi, dan komplain pembeli. Berjam-jam. Sampai tengah malam.
Hari ketiga aku sudah tidak tahan. Aku gedor pintu kamar tujuh.
Pintu dibuka. Perempuan muda berdiri di sana. Umurnya mungkin akhir dua puluhan. Rambutnya panjang diikat ke atas, pakai kaos oblong dan celana pendek. Wajahnya cantik tapi judes.
"Ya?" katanya ketus.
"Mbak, bisa kecilin suaranya nggak? Saya mau istirahat."
Ia melipat tangan di dada. "Saya juga kerja, Mas. Kerja saya ya begini, live jualan."
"Live-nya pakai headset bisa kan?"
"Headset saya rusak."
"Ya beli."
Ia mendengus. "Gampang banget ngomong. Mas yang bayarin?"
Aku menatapnya tidak percaya. "Mbak, ini kos. Bukan kontrakan bebas."
"Terus? Mas mau lapor ibu kos? Silakan."
Pintu ditutup di depan mukaku. Brak.
Malam itu aku tidur dengan bantal menutupi telinga.
Namanya Vina. Umurnya dua puluh delapan. Itu aku tahu dari ibu kos, Bu Ratna, waktu aku komplain keesokan harinya.
"Vina itu penjual online, Nak Eko," kata Bu Ratna sambil menyuguhkan teh. "Jualan baju di marketplace. Live tiap malam. Sabar ya, nanti ibu omongin."
"Ibu tolong beneran diomongin ya. Saya kerja pakai shift, butuh tidur."
"Iya, iya."
Bu Ratna memang ngomong. Hasilnya nihil. Vina tetap berisik. Malah makin menjadi. Seolah komplainku jadi tantangan.
Seminggu kemudian aku mengubah strategi. Kalau tidak bisa mengalahkan mereka, bergabunglah. Bukan bergabung jualan, tapi bergabung mengobrol. Aku memutuskan untuk kenal dia baik-baik, siapa tahu dengan kenal, ia jadi sungkan.
Suatu sore aku pulang kerja lebih awal. Vina sedang duduk di teras kos sambil packing paket. Kardus-kardus kecil bertumpuk di sekelilingnya. Ia memakai kaos tanpa lengan dan celana pendek, rambutnya diikat asal.
Aku duduk di kursi sebelahnya. Ia melirikku curiga.
"Ngapain?" tanyanya.
"Ngobrol. Boleh?"
"Terserah."
Aku diam sebentar, lalu mulai. "Jualan apa sih?"
"Baju. Dress, atasan, kadang hijab."
"Rame?"
"Lumayan. Sehari bisa lima puluh paket." Ia menempelkan lakban ke kardus dengan cekatan. "Makanya aku berisik. Live itu butuh energi. Kalau lemes, nggak ada yang nonton."
Aku mengangguk. Masuk akal juga.
"Mas kerja apa?"
"Logistik. Ngatur pengiriman barang."
"Wah, seprofesi dong. Aku ngirim paket, Mas ngatur pengiriman." Ia tertawa. Tawanya renyah, beda jauh dari nada judesnya waktu pertama ketemu.
Kami ngobrol hampir satu jam sore itu. Soal kerjaan, soal kos, soal Bu Ratna yang pelit air. Vina ternyata asyik. Ceplas-ceplos, lucu, dan pekerja keras. Ia cerita, ia merantau dari Cirebon empat tahun lalu, sempat jadi SPG, lalu coba jualan online dan ternyata cocok.
"Orang tua di kampung?" tanyaku.
"Ibu masih ada. Bapak udah meninggal waktu aku SMA." Ia menatap kardus-kardusnya. "Makanya aku harus berhasil. Biar bisa bawa ibu ke sini."
Aku terdiam. Tiba-tiba rasa kesalku padanya mencair. Di balik keberisikannya, ada perempuan yang berjuang sendirian di kota besar.
Sejak sore itu, hubungan kami membaik. Ia mulai pakai headset waktu live, headset murah yang ia beli di toko sebelah. Aku mulai terbiasa dengan suara tawanya yang kadang masih bocor lewat dinding. Malah kadang aku ketawa sendiri dengerin gaya jualannya yang heboh.
"Ayoooo kakak-kakak, dress ini cuma lima puluh ribu! Bahannya adem, nggak nerawang, cocok buat kondangan, buat jalan, buat tidur juga bisa!"
Kami jadi sering ngobrol di teras. Kadang aku bantuin dia angkat karung paket ke jasa ekspedisi. Kadang ia traktir aku gorengan.
Suatu malam Jumat, listrik kos mati. Gangguan gardu, kata Bu Ratna, PLN lagi benerin. Seluruh kos gelap gulita. Penghuni lain pada keluar, cari angin atau cari makan di luar.
Aku duduk di teras dengan lilin kecil. Tidak lama, Vina keluar dari kamarnya bawa lilin juga.
"Mati lampu," katanya sambil duduk di sebelahku. "HP-ku lowbat. Powerbank ketinggalan di kamar, males masuk gelap-gelapan."
"Duduk sini aja. Temenin."
Malam itu angin sepoi-sepoi. Langit cerah, bintang kelihatan jelas. Suasana yang anehnya romantis untuk teras kos yang sempit.
"Mas Eko," kata Vina tiba-tiba. "Maaf ya soal awal-awal. Aku judes."
"Nggak apa-apa. Aku juga kaku."
"Aku tuh kalau ketemu orang baru suka defensif. Takut diremehin. Cewek sendirian di kos, jualan online, dikira apalah."
"Aku nggak mikir aneh-aneh kok."
"Bener?" Ia menatapku. Dalam cahaya lilin, wajahnya terlihat lembut. Beda jauh dari Vina yang heboh waktu live.
"Bener."
Kami diam. Hanya suara jangkrik dan sesekali motor lewat.
"Mas nggak punya pacar?" tanyanya tiba-tiba.
Aku tertawa. "Nanya gitu amat."
"Ya kan ngobrol. Jawab aja."
"Baru putus empat bulan lalu. LDR, dia di Surabaya, aku di sini. Lama-lama capek."
"Oh." Vina memainkan lilinnya. "Aku juga baru putus. Tiga bulan lalu."
"Kenapa?"
"Dia nggak suka aku live. Katanya norak. Katanya cari kerjaan yang bener." Suaranya mengeras. "Padahal dari jualan ini aku bisa kirim duit ke ibu tiap bulan. Dia aja yang nggak bisa terima ceweknya lebih sukses."
Aku mengangguk. "Dia yang rugi."
Vina tersenyum. "Makasih."
Lilin kami mulai pendek. Tapi tidak ada yang beranjak. Obrolan mengalir terus. Soal mantan, soal mimpi, soal takut. Vina cerita, ia pengen punya toko offline suatu hari. Aku cerita, aku pengen punya rumah kecil di pinggiran.
Jam menunjukkan setengah dua belas malam. Listrik belum nyala juga.
"Ngantuk?" tanyaku.
"Belum. Kamu?"
"Belum juga."
Vina bergeser duduk, lebih dekat. Bahunya menyentuh bahuku. Aku bisa mencium parfumnya, wangi fruity yang manis.
"Mas," bisiknya. "Aku boleh jujur?"
"Boleh."
"Aku seneng kenal kamu. Awalnya aku sebel banget. Tapi lama-lama..." Ia tidak melanjutkan.
"Lama-lama gimana?"
Ia menoleh. Wajah kami berdekatan. Aku bisa merasakan napasnya.
"Lama-lama aku nungguin suara kamu gedor dinding."
Aku tertawa kecil. "Sekarang aku nggak gedor lagi."
"Justru itu masalahnya."
Jantungku berdegup kencang. Aku tahu ke mana arah ini. Dan aku tidak ingin menghentikannya.
Aku mendekat dan menciumnya. Pelan. Lilin di tangannya hampir jatuh, ia buru-buru menaruhnya di lantai.
Ciumannya manis. Ada rasa teh yang ia minum tadi. Tangannya meraih tengkukku. Tubuhnya yang ramping merapat padaku.
Kami berciuman di teras kos yang gelap, ditemani cahaya lilin yang makin kecil dan suara jangkrik. Rasanya seperti adegan film, tapi ini nyata. Dan Vina nyata. Hangat dan lembut dalam pelukanku.
"Kamar," bisiknya di sela ciuman. "Kamarku."
Kami masuk ke kamar tujuh. Kamar yang selama ini cuma aku dengar suaranya dari balik dinding, sekarang aku ada di dalamnya. Kecil tapi rapi. Ada ring light di sudut, rak baju dagangan, dan kasur lipat.
Vina menutup pintu. Lalu ia berbalik dan langsung memelukku. Ciuman kami berlanjut, makin dalam, makin lapar.
Tanganku turun ke pinggangnya. Kaosnya tipis. Aku bisa merasakan tubuhnya dengan jelas. Ia mendesah di mulutku.
Kami bergerak ke kasur lipat. Aku membaringkannya pelan. Kasur itu berderit. Ia tertawa kecil.
"Berisik ya kasurnya," bisiknya. "Sekarang gantian aku yang berisik."
Aku tertawa, lalu menciumnya lagi untuk membungkam tawanya.
Kaosnya kulepas. Ia memakai bra biru muda. Dadanya tidak besar tapi indah, kencang dan proporsional dengan tubuhnya yang ramping.
"Kamu cantik," bisikku.
"Baru tahu?"
Aku membuka branya. Ia mendesah waktu tanganku menyentuh dadanya. Putingnya mengeras seketika.
Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya. Ia melengkungkan punggungnya, tangannya menjambak rambutku.
Celana pendeknya kulepas. Celanaku dilepasnya. Kami telanjang di kamar yang gelap, hanya diterangi cahaya lilin dari teras yang masuk lewat ventilasi.
Tubuhnya ramping dan mulus. Kulitnya hangat. Aku menciumi perutnya, turun lebih bawah. Ia menggeliat dan mendesah keras.
"Mas..."
Aku tidak berhenti sampai tubuhnya bergetar dan ia mencengkeram seprai dengan kedua tangan.
Lalu aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya untukku, menatapku dengan mata berkilat.
"Masuk," bisiknya.
Waktu aku masuk, ia melenguh panjang dan memelukku erat. Hangat, sempit, basah. Kami berdua terdiam sesaat, menikmati.
Lalu kami bergerak. Pelan dulu, lalu makin cepat. Kasur lipat berderit mengikuti ritme kami. Vina mendesah tanpa malu-malu, persis seperti waktu ia live jualan. Berisik, heboh, jujur.
"Terus," desahnya. "Jangan berhenti."
Aku mempercepat gerakanku. Keringat membasahi tubuh kami. Napas kami memburu. Di luar, kos masih gelap. Di dalam kamar tujuh, dunia milik kami berdua.
Ia mencapai puncaknya dengan jeritan tertahan. Tubuhnya bergetar hebat di bawahku. Melihatnya seperti itu membuatku tak tahan, dan beberapa detik kemudian aku menyusul dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam, berkeringat dan terengah-engah. Vina tertawa kecil.
"Kasurnya berisik banget ya," bisiknya.
"Untung listrik mati. Nggak ada yang denger."
"Besok Bu Ratna protes."
"Biarin."
Listrik menyala jam dua pagi. Lampu kamar tujuh menyala terang, membuat kami silau. Kami tertawa sambil buru-buru meraih pakaian.
Sebelum aku kembali ke kamarku, Vina mencium pipiku.
"Makasih, Mas. Untuk malam ini."
"Besok live-nya pakai headset ya."
"Iya, iya. Cerewet."
Sejak malam itu, kamar tujuh tidak pernah sepi lagi. Tapi sekarang, keberisikannya ada dua macam. Yang satu buat jualan. Yang satu lagi, khusus buat aku.
Dan aku tidak pernah protes lagi.
Kadang Bu Ratna heran kenapa aku tidak pernah komplain lagi soal kamar tujuh. Aku cuma senyum.
"Udah akur, Bu," kataku.
Bu Ratna mengangguk-angguk. "Bagus. Tetangga itu harus akur."
Ia tidak tahu, akur kami sudah lewat batas tetangga biasa. Tapi itu rahasia kami. Rahasia kamar enam dan kamar tujuh.
