CERITA DEWASA

Teman Sekantor yang Janda

Lampu lantai tiga masih menyala padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Bunyi keyboard beradu dengan derai hujan yang memukul kaca jendela, menciptakan orkestra aneh yang sudah seminggu ini menjadi teman setia Teguh. Di ujung meja panjang, Winda menunduk di depan laptopnya, rambutnya yang panjang diikat seadanya, secangkir kopi di sampingnya sudah dingin untuk ketiga kalinya hari ini.

"Angka neraca Desember masih selisih dua ratus ribu," kata Winda tanpa mengangkat kepala. "Aku hampir mau nangis."

Teguh tertawa kecil. "Jangan dulu. Nangisnya nanti kalau audit sudah pergi."

Winda adalah staf akuntansi di divisi yang sama dengan Teguh, pria 35 tahun yang sudah lima tahun bekerja sebagai staf keuangan di perusahaan distribusi itu. Winda sendiri berusia 33 tahun, perempuan cerdas dan cekatan yang dua tahun lalu kehilangan suaminya karena kecelakaan. Sejak itu ia menjalani hidup sebagai janda muda, mandiri dan tidak pernah mengeluh, setidaknya tidak di depan orang lain.

Proyek tutup buku akhir tahun membuat mereka berdua ditugaskan lembur seminggu penuh. Kantor yang biasanya ramai berubah menjadi tempat sunyi setelah jam tujuh malam, hanya mereka berdua, tumpukan dokumen, dan mesin fotokopi yang sesekali batuk.

"Kamu bawa bekal lagi?" tanya Teguh, melihat kotak makanan di samping tas Winda.

"Ayam kecap. Ibuku yang masak, kebanyakan." Winda mendorong kotak itu ke tengah meja. "Makan bareng, biar nggak masuk angin kita berdua."

Teguh sudah hafal kebiasaan Winda seminggu ini. Perempuan itu selalu membawa bekal lebih, selalu memastikan Teguh makan, selalu menanyakan apakah ia sudah minum obat maagnya. Perhatian kecil yang membuat lembur terasa tidak terlalu menyiksa.

Malam itu hujan turun semakin deras. Petir sesekali menyambar, membuat lampu kantor berkedip. Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat ketika Teguh akhirnya menutup laptopnya.

"Besok lanjut lagi. Aku nggak sanggup lihat angka lagi hari ini," katanya sambil meregangkan badan.

Winda mengangguk, tapi matanya menerawang ke jendela. "Hujan begini aku nggak berani pulang naik motor. Tunggu reda dulu deh."

"Ya sudah, temani aku ngopi dulu. Kopi sachet di pantry masih banyak."

Mereka pindah ke pantry kecil di sudut lantai. Teguh menyeduh dua cangkir kopi sementara Winda duduk di kursi plastik, memeluk lututnya. Untuk pertama kalinya seminggu ini, Teguh melihat wajah lelah yang tidak ditutupi senyum profesional.

"Capek?" tanya Teguh.

"Capek," akunya. "Tapi bukan cuma karena kerjaan."

Teguh duduk di hadapannya, menunggu. Hujan masih menderu di luar.

"Dua tahun," kata Winda pelan. "Dua tahun aku pulang ke rumah yang sepi. Dua tahun makan malam sendirian. Kadang aku ngobrol sama kucing biar nggak gila."

Teguh tidak tahu harus berkata apa. Ia mengenal Winda sebagai perempuan kuat, tapi malam itu pertahanan itu runtuh sedikit demi sedikit.

"Aku iri sama kamu, Teguh. Kamu punya istri yang nunggu di rumah, yang nelpon nanya jam berapa pulang."

Teguh mengangguk pelan. Ia memang sudah menikah, istrinya Ratna, perempuan baik yang selalu memaklumi lemburnya akhir-akhir ini. Tapi ada sesuatu dalam suara Winda malam itu yang membuatnya tidak bisa sekadar mengangguk dan pergi.

"Kamu nggak kesepian?" tanya Winda tiba-tiba, menatapnya.

Teguh terdiam. Pertanyaan itu sederhana tapi menusuk. Ia punya istri, tapi seminggu ini ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Winda daripada dengan Ratna. Ia pulang ketika Ratna sudah tidur, berangkat ketika Ratna belum bangun.

"Kadang," jawabnya jujur. "Kesepian itu nggak selalu soal sendirian."

Winda tersenyum tipis, senyum yang menyimpan seribu cerita. "Kamu pinter ngomong ya."

Mereka tertawa kecil, dan ketegangan mencair sedikit. Tapi ada sesuatu yang berubah di udara pantry sempit itu. Tatapan mereka bertemu lebih lama dari biasanya. Teguh menyadari betapa dekatnya mereka duduk, betapa ia bisa mencium aroma sampo dari rambut Winda yang tergerai.

"Winda," katanya pelan.

"Aku tahu," potong Winda. "Aku tahu ini nggak seharusnya. Kamu suami orang, aku..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tangannya yang memegang cangkir sedikit bergetar.

Teguh seharusnya berdiri dan berkata mereka harus kembali kerja, atau pulang, atau apa pun yang benar. Tapi ia tidak bergerak. Seminggu lembur berdua telah membangun sesuatu yang tidak bisa ia namakan, sesuatu yang tumbuh di antara tumpukan laporan dan kotak bekal ayam kecap.

"Aku kesepian, Teguh," bisik Winda. "Aku cuma... pengen ngerasain diperhatikan lagi. Sekali ini aja."

Hujan masih turun di luar, menutupi suara dunia. Kantor kosong. Tidak ada yang akan tahu.

Teguh mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Winda dengan lembut. Perempuan itu memejamkan mata, air mata menetes di sudut matanya, tapi ia tersenyum.

"Jangan nangis," bisik Teguh.

"Aku nggak nangis. Aku lega."

Winda meraih tangan Teguh dan menggenggamnya erat. Mereka duduk begitu beberapa saat, hanya berpegangan tangan, membiarkan keheningan berbicara. Lalu Winda berdiri, menarik Teguh ikut berdiri, dan memeluknya.

Pelukan itu awalnya canggung, penuh keraguan. Tapi kemudian Winda menyandarkan kepalanya di dada Teguh, dan Teguh bisa merasakan detak jantungnya yang cepat, sama cepatnya dengan detak jantungnya sendiri.

"Maafin aku," bisik Winda.

"Nggak ada yang perlu dimaafkan."

Teguh mengangkat dagu Winda dan menatap matanya. Tidak ada paksaan di sana, hanya dua orang dewasa yang sama-sama lelah, sama-sama kesepian, sama-sama membutuhkan kehangatan di malam hujan. Winda mengangguk kecil, memberi izin, dan Teguh menciumnya.

Ciuman itu lembut pada awalnya, ragu-ragu, seperti dua orang yang tahu mereka melangkah ke wilayah terlarang tapi tidak bisa berhenti. Lalu menjadi lebih dalam, lebih mendesak, seolah dua tahun kesepian Winda tumpah ruah dalam satu ciuman.

Tangan Teguh merambat ke pinggang Winda, menariknya lebih dekat. Winda membalas dengan mengalungkan lengannya di leher Teguh, jemarinya meremas rambutnya. Mereka terhuyung mundur hingga punggung Winda menyentuh dinding pantry.

"Yakin?" tanya Teguh, menahan diri di detik terakhir.

Winda menatapnya dengan mata berkaca-kaca tapi tegas. "Aku sudah dewasa, Teguh. Aku tahu apa yang aku mau. Malam ini aku mau kamu."

Mereka kembali ke ruang kerja yang sepi, mematikan lampu utama hingga hanya lampu meja yang menyala temaram. Hujan di kaca jendela menjadi tirai yang memisahkan mereka dari dunia luar.

Winda duduk di tepi mejanya, menarik Teguh mendekat. Jemari lentiknya mulai membuka kancing kemeja Teguh satu per satu, sementara Teguh melepaskan ikat rambut Winda, membiarkan rambut panjangnya tergerai menutupi bahu.

"Kamu cantik," bisik Teguh.

"Sudah lama nggak ada yang bilang begitu," jawab Winda dengan suara bergetar.

Teguh menciumi leher Winda, merasakan kulitnya yang hangat dan harum. Winda mendesah pelan, tangannya meremas bahu Teguh. Setiap sentuhan seperti membuka pintu yang sudah lama terkunci, dan Winda menyambutnya dengan seluruh tubuhnya.

Blus Winda terlepas, lalu roknya. Dalam cahaya lampu meja yang temaram, tubuh Winda tampak seperti patung yang hidup, indah dan nyata. Teguh menatapnya dengan kagum, dan Winda tersenyum malu-malu, menutupi tubuhnya dengan tangan.

"Jangan ditutupin," kata Teguh lembut, menyingkirkan tangan Winda. "Kamu sempurna."

Winda tertawa kecil, air matanya sudah kering, digantikan oleh sesuatu yang lain, hasrat yang sudah lama ia kubur dalam-dalam. Ia menarik Teguh hingga tubuh mereka bertemu, kulit bertemu kulit, hangat dan berdebar.

Mereka bercinta di atas meja kerja yang biasanya dipenuhi laporan keuangan, di antara tumpukan dokumen yang besok pagi harus selesai. Ironis, pikir Teguh sekilas, tapi pikiran itu segera hilang ditelan sensasi.

Winda mendesah dan mengerang pelan, tangannya mencengkeram tepi meja. Teguh bergerak dengan lembut pada awalnya, memperhatikan setiap reaksi Winda, memastikan perempuan itu nyaman dan menikmati. Tapi Winda menariknya lebih dalam, memintanya lebih, dan Teguh menurut.

"Kangen," bisik Winda di sela napasnya yang memburu. "Aku kangen banget rasanya kayak gini."

Teguh mencium keningnya yang berkeringat, lalu bibirnya, lalu lehernya. Ia ingin Winda merasa diinginkan, merasa hidup kembali, walau hanya untuk malam ini.

Gerakan mereka semakin cepat, semakin mendesak. Suara hujan di luar seolah menjadi musik pengiring. Winda melengkungkan punggungnya, kukunya menancap di punggung Teguh, dan ia mencapai puncaknya dengan erangan tertahan, tubuhnya bergetar hebat.

Teguh menyusul tidak lama kemudian, membenamkan wajahnya di lekuk leher Winda, merasakan detak jantung perempuan itu yang berpacu.

Mereka terbaring diam beberapa saat, napas masih memburu, tubuh masih menyatu. Winda mengelus rambut Teguh dengan lembut, dan Teguh bisa merasakan air mata jatuh di bahunya.

"Kenapa nangis lagi?" tanyanya lembut.

"Bahagia," jawab Winda. "Aku nggak ingat kapan terakhir kali aku ngerasa sebahagia ini."

Mereka membersihkan diri di toilet kantor, berpakaian kembali dengan canggung tapi mesra. Winda merapikan rambutnya di depan cermin kecil, Teguh membantunya memasang kembali ikat rambutnya.

Hujan sudah reda ketika mereka akhirnya keluar dari gedung kantor jam sebelas lewat. Parkiran basah memantulkan cahaya lampu. Winda menatap motornya, lalu menatap Teguh.

"Makasih," katanya. "Untuk malam ini. Untuk semuanya."

Teguh mengangguk, tenggorokannya tercekat. Ia tahu apa yang terjadi malam ini tidak bisa diulang, tidak seharusnya diulang. Ia punya istri di rumah, dan Winda pantas mendapatkan lebih dari sekadar malam rahasia.

"Jaga diri baik-baik, Winda," katanya.

"Kamu juga."

Winda menyalakan motornya dan melaju pergi, lampu belakangnya menghilang di tikungan. Teguh berdiri lama di parkiran yang sepi, merasakan campuran rasa bersalah dan kelegaan yang aneh.

Di rumah, Ratna sudah tidur. Teguh mandi lama, membiarkan air hangat menghapus jejak malam itu dari tubuhnya, tapi tidak dari ingatannya. Ia berbaring di samping istrinya, menatap langit-langit kamar yang gelap.

Senin pagi, proyek tutup buku selesai. Teguh dan Winda kembali menjadi sekadar rekan kerja. Mereka bertukar senyum profesional di lorong, membahas angka-angka dengan nada biasa. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di pantry lantai tiga malam itu.

Tapi setiap kali hujan turun deras di malam hari, Teguh akan teringat pada Winda, pada pantry sempit, pada perempuan 33 tahun yang hanya ingin merasa diperhatikan sekali lagi. Dan ia berharap, dengan tulus, bahwa Winda akan menemukan kebahagiaan yang lebih utuh, kebahagiaan yang tidak harus disembunyikan.

Karena malam itu, di kantor yang sepi, mereka berdua hanyalah dua manusia dewasa yang kesepian, yang saling memberi kehangatan sebelum kembali ke kehidupan masing-masing.

bagikan