Hujan turun seperti ditumpahkan dari langit. Bara memacu motornya menyusuri jalan yang sudah berubah menjadi sungai kecil, jas hujan tipis yang ia kenakan tidak ada gunanya lagi. Air merembes dari sela kerah, membasahi kaus di dalamnya. Lampu jalan berpendar buram di balik tirai hujan. Di kejauhan, petir menyambar dan beberapa detik kemudian guntur menggelegar begitu keras sampai dada Bara ikut bergetar.
Ia melihat deretan ruko di sisi kiri jalan. Satu di antaranya, sebuah toko kelontong, tampak sudah tutup. Rolling door-nya tertutup separuh, tapi teras depannya cukup lebar dengan atap kanopi yang menjorok ke trotoar. Tanpa pikir panjang Bara membelokkan motornya ke sana, memarkirnya mepet ke dinding, lalu melompat turun dan berlari ke bawah kanopi.
Napasnya terengah. Ia melepas helm, mengibaskan air dari rambutnya. Dari ujung teras, sebuah suara perempuan terdengar.
"Basah kuyup juga, ya?"
Bara menoleh. Di sudut teras yang paling kering, seorang perempuan berdiri sambil memeluk tasnya. Rambut panjangnya basah di ujung-ujungnya, blus krem yang ia kenakan menempel di beberapa bagian karena tampias hujan. Ia tersenyum tipis, senyum orang yang pasrah pada keadaan.
"Iya, Mbak. Parah banget hujannya," jawab Bara sambil mendekat, menjaga jarak yang sopan. "Dari tadi nggak reda-reda."
"Namanya juga musim hujan. Saya sudah di sini hampir setengah jam," kata perempuan itu. Ia menggeser sedikit, memberi ruang. "Silakan, di sini lebih kering."
Bara duduk di undakan teras, meletakkan helm di sampingnya. Perempuan itu duduk di kursi plastik kecil yang tampaknya memang ditaruh pemilik toko untuk pembeli. Mereka berdua menatap jalanan yang kosong. Sesekali sebuah mobil melintas pelan dengan lampu hazard menyala, menyibakkan genangan air ke trotoar.
"Bara," kata Bara memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan yang masih dingin.
"Sekar," sahut perempuan itu, menjabat tangannya. Tangannya halus dan dingin.
Hujan tidak menunjukkan tanda akan berhenti. Malahan semakin deras. Angin bertiup kencang, membawa tampias sampai ke tempat mereka duduk. Sekar merapatkan duduknya, memeluk tasnya lebih erat. Bara melihat bahunya sedikit gemetar.
"Dingin?" tanya Bara.
"Sedikit," aku Sekar. "Tadi keluar cuma bawa jaket tipis. Nggak nyangka bakal sederas ini."
Bara melepas jaket jeans yang ia kenakan di balik jas hujan. Jaket itu memang agak basah di bagian luar, tapi bagian dalamnya masih kering dan hangat. Ia menyodorkannya.
"Pakai ini dulu. Saya masih pakai kaus dobel, aman."
Sekar menatap jaket itu ragu-ragu. "Nggak usah, Mas. Nanti Masnya yang kedinginan."
"Pakai saja. Saya orangnya gampang panas," kata Bara sambil tersenyum. "Lagian masa membiarkan perempuan kedinginan."
Sekar akhirnya menerima jaket itu. Ia mengenakannya, dan Bara melihat bahunya yang tadinya tegang perlahan rileks. Ada aroma samar parfum perempuan yang tertinggal di udara setiap kali Sekar bergerak.
"Makasih banyak, Mas Bara," kata Sekar tulus. "Saya Sekar, umur tiga puluh dua. Kerja sebagai desainer di sebuah studio."
"Saya tiga puluh tiga, karyawan biasa di perusahaan distribusi," balas Bara. "Malam minggu malah kehujanan. Rencana mau nongkrong sama teman, batal total."
"Saya juga. Tadi habis dari acara ulang tahun teman. Pulangnya naik ojek online, eh, di tengah jalan hujannya jadi gila. Abangnya berhenti di sini, bilang nggak berani lanjut," cerita Sekar. Ia tertawa kecil, tapi tawanya terdengar lelah.
Mereka terdiam sejenak, hanya ditemani suara hujan yang menghantam kanopi. Ritmis, menenangkan, sekaligus membuat dunia di luar teras terasa jauh.
"Mas Bara sudah menikah?" tanya Sekar tiba-tiba, lalu ia terkekeh. "Maaf, pertanyaan aneh. Hujan bikin orang jadi kepo."
Bara tertawa. "Belum. Masih jomblo akut. Mbak Sekar?"
Wajah Sekar berubah seketika. Senyumnya pudar, digantikan ekspresi yang sulit dibaca. Ia menatap genangan air di jalanan.
"Hampir," katanya pelan. "Tiga bulan lalu harusnya saya menikah."
Bara tidak langsung menanggapi. Ia memberi ruang, membiarkan Sekar melanjutkan kalau mau.
"Tunangan saya membatalkan semuanya dua minggu sebelum hari H," lanjut Sekar, suaranya bergetar sedikit. "Alasannya klise banget. Dia bilang belum siap. Padahal gedung sudah dibayar, undangan sudah disebar. Saya harus menelepon satu per satu keluarga buat bilang acaranya batal. Malu banget rasanya."
"Astaga," gumam Bara. "Yang sabar ya, Mbak."
"Sekarang kalau ditanya orang kapan nikah, rasanya pengin nangis sekaligus ketawa," kata Sekar. Ia mengusap matanya yang mulai berkaca, buru-buru tertawa untuk menutupi. "Maaf, jadi curhat ke orang asing."
"Nggak apa-apa. Kadang justru lebih gampang cerita ke orang asing," kata Bara lembut. "Nggak ada yang menghakimi."
Sekar menatapnya lama. Ada sesuatu di tatapan itu, campuran antara terima kasih dan kesepian yang dalam. Lalu ia tersenyum, kali ini lebih hangat.
"Mas Bara ini orangnya enak diajak ngomong ya."
"Teman-teman saya bilang saya pendengar yang baik. Mungkin karena saya jarang ngomong," canda Bara, dan Sekar tertawa. Tawa yang sebenarnya kali ini.
Waktu berjalan. Hujan masih deras. Sudah hampir satu jam mereka berteduh. Bara mengecek ponselnya, tidak ada pesan penting. Ia mematikan layarnya lagi.
"Sepertinya hujannya betah," kata Bara.
"Atau kitanya yang betah," sahut Sekar, lalu ia tersipu sendiri mendengar ucapannya. Bara ikut tersenyum, jantungnya berdebar sedikit lebih cepat.
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam toko. Rolling door yang tertutup separuh itu berderit naik sedikit, dan muncul wajah seorang bapak tua berkopiah.
"Lho, ada yang berteduh toh," kata bapak itu ramah. "Masuk saja, Nak. Di dalam lebih hangat. Bapak baru selesai salat."
Bara dan Sekar saling pandang, lalu mengangguk berterima kasih. Mereka masuk ke dalam toko kelontong yang kecil dan remang. Rak-rak berisi mi instan, sabun, dan kebutuhan harian berjejer rapi. Di sudut ada sebuah meja kecil dengan dua kursi plastik dan sebuah termos.
"Duduk, duduk. Bapak buatkan teh hangat," kata bapak pemilik toko yang memperkenalkan diri sebagai Pak Haji. Ia menyalakan kompor kecil di belakang.
Beberapa menit kemudian dua gelas teh manis panas tersaji di meja. Uapnya mengepul, menghangatkan wajah Bara dan Sekar yang duduk berhadapan.
"Minum, biar hangat badannya," kata Pak Haji. "Bapak ke belakang dulu ya, mau istirahat. Kalau hujannya reda silakan pulang. Pintu tidak dikunci dari dalam."
Setelah Pak Haji menghilang ke ruang belakang, tinggallah Bara dan Sekar di toko kecil itu. Suasana menjadi lebih intim. Lampu neon yang redup, suara hujan yang kini terdengar lebih jauh, dan aroma teh manis yang menenangkan.
Sekar menyeruput tehnya perlahan. Bara memperhatikan jemarinya yang melingkari gelas, bibirnya yang menyentuh bibir gelas. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, merasa bersalah karena memperhatikan terlalu lama.
"Mas Bara," kata Sekar pelan.
"Iya?"
"Terima kasih ya, sudah mau dengerin cerita saya. Sudah lama saya nggak bisa cerita soal itu tanpa nangis."
Bara menatap mata Sekar. Ada ketulusan di sana, dan ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat udara di antara mereka terasa lebih hangat dari teh di tangan mereka.
"Saya yang terima kasih, sudah mau cerita," kata Bara.
Sekar bangkit dari kursinya, berjalan mengelilingi meja kecil itu, lalu duduk di samping Bara. Dekat. Sangat dekat sampai Bara bisa mencium aroma parfumnya bercampur aroma hujan.
"Mas," bisik Sekar. "Boleh saya jujur?"
Bara mengangguk, tenggorokannya tiba-tiba kering.
"Sudah lama saya nggak merasa diperhatikan seperti ini. Tiga bulan terakhir saya cuma jadi bahan kasihan orang-orang," kata Sekar. Tangannya terulur, menyentuh punggung tangan Bara dengan ragu. "Malam ini, untuk pertama kalinya setelah lama, saya merasa... hidup lagi."
Bara membalik tangannya, menggenggam jemari Sekar yang dingin. "Saya juga merasa begitu, Sek. Rasanya seperti hujan ini sengaja menurunkan kita di tempat yang sama."
Sekar tersenyum, lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya. Bara bisa merasakan napasnya yang hangat. Ia tidak mundur. Bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang awalnya ragu, lalu semakin dalam. Tangan Sekar merambat ke leher Bara, menariknya lebih dekat. Bara memeluk pinggang Sekar, merasakan tubuhnya yang hangat di balik jaket jeans pinjamannya.
Ciuman itu pecah sejenak. Mereka saling menatap, napas memburu.
"Kamu yakin?" tanya Bara dengan suara serak, memberi Sekar kesempatan untuk berhenti.
Sekar mengangguk mantap. "Sangat yakin. Malam ini aku mau merasa diinginkan lagi."
Mereka berciuman lagi, kali ini tanpa ragu. Bara berdiri, menuntun Sekar ke sudut toko yang lebih sepi, di balik rak-rak tinggi yang menghalangi pandangan dari pintu. Di sana ada sebuah dipan kecil tempat Pak Haji biasa beristirahat siang, beralaskan tikar pandan.
Dengan lembut Bara membaringkan Sekar di dipan itu. Tangannya gemetar sedikit saat membuka kancing blus krem Sekar satu per satu. Sekar membantunya, lalu menarik kaus Bara ke atas hingga terlepas. Kulit bertemu kulit, hangat melawan dinginnya malam.
Bara menciumi leher Sekar, turun ke bahunya, sementara tangannya menjelajahi lekuk tubuh perempuan itu dengan penuh penghargaan. Sekar mendesah pelan, jemarinya mencengkeram punggung Bara. Setiap sentuhan Bara seolah menghapus berbulan-bulan kesepian yang mengendap di tubuh Sekar.
"Aku kangen disentuh seperti ini," bisik Sekar di telinga Bara. "Jangan berhenti."
Bara tidak berhenti. Ia mencintai tubuh Sekar dengan kesabaran, seolah mereka punya seluruh malam. Dan memang, di luar sana hujan masih turun dengan derasnya, seolah menjaga rahasia mereka. Suara hujan menjadi musik latar bagi desah-desah tertahan dan bisikan-bisikan mesra.
Ketika akhirnya mereka menyatu, Sekar memejamkan mata, air mata menetes di sudut matanya. Bukan air mata sedih, melainkan kelegaan. Bara menghapusnya dengan ibu jarinya, lalu mencium keningnya dengan lembut sebelum melanjutkan gerakan mereka yang semakin dalam dan menyatu.
Tubuh mereka bergerak dalam irama yang sama, dipandu oleh naluri dan kerinduan. Sekar melingkarkan kakinya di pinggang Bara, menariknya semakin dekat, seolah takut Bara akan menghilang. Bara memeluknya erat, membisikkan kata-kata manis yang membuat Sekar tersenyum di tengah desahannya.
Puncaknya datang seperti gelombang, membawa mereka berdua ke tepian yang sama. Sekar membenamkan wajahnya di bahu Bara untuk meredam suaranya, tubuhnya bergetar hebat. Bara memeluknya erat sampai getaran itu mereda, sampai napas mereka kembali normal.
Mereka berbaring berdampingan di dipan sempit itu, berkeringat dan terengah, tapi wajah mereka dipenuhi senyum. Sekar menyandarkan kepalanya di dada Bara, mendengarkan detak jantungnya yang masih berpacu.
"Terima kasih," bisik Sekar.
"Untuk apa?" tanya Bara sambil mengelus rambutnya yang basah.
"Karena malam ini aku ingat lagi rasanya jadi perempuan yang diinginkan."
Bara mengecup puncak kepalanya. "Dan aku ingat rasanya deg-degan seperti anak muda lagi."
Mereka tertawa pelan bersama. Sekar bangkit, merapikan pakaiannya, dan Bara melakukan hal yang sama. Tidak ada kecanggungan, hanya kehangatan yang aneh tapi menyenangkan.
Tepat ketika mereka selesai berpakaian, suara hujan di luar mulai melemah. Rintiknya tidak sederas tadi. Pak Haji muncul dari ruang belakang sambil menguap.
"Wah, hujannya sudah reda," kata Pak Haji sambil tersenyum. "Hati-hati di jalan ya, Nak."
Bara membayar dua gelas teh plus beberapa bungkus mi instan sebagai ucapan terima kasih, meski Pak Haji menolak berkali-kali. Di depan toko, jalanan masih basah tapi hujan tinggal rintik-rintik.
Sekar mengembalikan jaket jeans Bara, tapi Bara menolak.
"Simpan saja. Biar ada alasan buat ketemu lagi," kata Bara sambil tersenyum nakal.
Sekar tertawa, lalu memeluk Bara erat. "Aku simpan baik-baik. Dan nomor teleponku ada di saku jaket itu."
Bara merogoh saku jaketnya dan menemukan selembar kertas kecil bertuliskan nomor telepon. Ia tersenyum lebar.
Malam itu Bara pulang dengan motornya yang basah, tapi hatinya hangat. Di kaca spion ia melihat Sekar melambai sebelum naik ojek online yang akhirnya datang. Hujan deras di malam minggu itu, yang awalnya terasa seperti kesialan, ternyata menjadi awal dari sesuatu yang indah.
Seminggu kemudian, Bara mengajak Sekar makan malam. Dan hujan, seolah setuju, turun rintik-rintik mengiringi langkah mereka.
