CERITA DEWASA

Janda Muda Penjual Jamu

Namaku Yoga, tiga puluh satu tahun, sopir taksi online yang ngekos di daerah Rawamangun. Setiap pagi sebelum narik, aku punya ritual kecil. Beli jamu.

Penjualnya Mbak Ratna. Umurnya dua puluh sembilan, janda muda. Suaminya meninggal tiga tahun lalu karena sakit. Sejak itu ia jualan jamu gendong keliling komplek, menggendong bakul bambu berisi botol-botol jamu racikannya sendiri. Beras kencur, kunyit asam, temulawak, pahitan. Semua ia buat sendiri jam empat subuh.

Anaknya satu, umur enam tahun, dititipkan ke ibunya di kampung. Jadi Mbak Ratna tinggal sendirian di kontrakan petak tidak jauh dari kosku.

"Jamu, Mas Yoga," sapanya setiap pagi jam setengah tujuh, persis waktu aku keluar kos sambil bawa helm.

"Beras kencur, Mbak. Yang anget."

Ia tertawa. "Jamu kok anget. Ya udah, nih."

Aku sudah langganan hampir setahun. Jamunya enak, tidak terlalu pahit, manisnya pas. Tapi sejujurnya, bukan cuma jamunya yang bikin aku nunggu tiap pagi.

Mbak Ratna itu cantik. Kulitnya sawo matang bersih, wajahnya manis dengan tahi lalat kecil di dagu. Rambutnya panjang, selalu dikonde rapi. Badannya ramping tapi berisi di bagian yang tepat. Kalau ia berjalan dengan bakul di punggung, kain jariknya berayun, dan aku harus berusaha keras tidak memperhatikan.

Kami sering ngobrol. Awalnya soal jamu, soal macet, soal orderan. Lama-lama soal hidup. Ia cerita soal anaknya yang pinter ngaji, soal ibunya yang sakit-sakitan, soal sepi. Aku cerita soal sepinya jadi perantau, soal bapak ibuku di kampung yang sudah tua.

Suatu pagi di bulan Agustus, Mbak Ratna tidak lewat. Aku menunggu sampai jam tujuh, tetap tidak ada. Besoknya juga tidak ada. Hari ketiga aku mulai khawatir.

Sore itu sepulang narik, aku mampir ke kontrakannya. Pintunya tertutup, tapi lampu dalam menyala. Aku mengetuk.

"Mbak Ratna?"

Terdengar suara langkah terseok, lalu pintu dibuka. Mbak Ratna berdiri dengan kaki kanan diperban seadanya. Wajahnya pucat.

"Mas Yoga," katanya kaget.

"Kakinya kenapa, Mbak?"

"Keseleo. Tiga hari lalu kepleset di tangga. Bakul jamuku sampai tumpah semua." Ia tersenyum kecut. "Makanya nggak jualan."

"Ya ampun. Udah ke dokter?"

"Udah diurut sama Bu RT. Katanya istirahat aja seminggu."

Aku masuk. Kontrakannya kecil tapi rapi. Bau jamu samar-samar, wangi kunyit dan jahe.

"Mbak makan udah?"

"Belum. Mager."

Aku memesan nasi padang lewat aplikasi. Kami makan berdua di ruang tamu yang sempit. Ia cerita, selama tiga hari tidak jualan, tabungannya menipis. Bakulnya retak, beberapa botol pecah. Modal untuk bikin jamu lagi pas-pasan.

"Aku pinjemin dulu kalau kurang," kataku spontan.

Ia menatapku. "Nggak usah, Mas. Nggak enak."

"Anggap aja aku bayar jamu setahun ke depan."

Ia tertawa, lalu matanya berkaca-kaca. "Makasih, Mas Yoga. Kamu baik banget."

Sejak hari itu aku jadi sering mampir. Pagi sebelum narik, aku mengantar sarapan. Sore sepulang narik, aku mampir bawakan makan malam. Kadang aku bantu memijat kakinya yang masih bengkak dengan minyak urut.

Lima hari kemudian kakinya sudah mendingan. Ia mulai bikin jamu lagi, tapi belum kuat gendong bakul keliling. Jadi ia jualan dari depan kontrakan saja, gelar tikar dan taruh botol-botol di nampan.

Kamis malam aku mampir lebih lama dari biasanya. Orderan sepi, jadi aku pulang jam delapan. Aku membawakan sate ayam sepuluh tusuk.

"Wah, sate," katanya senang.

Kami makan di teras sambil ngobrol. Ia cerita soal resep jamunya yang ia dapat dari almarhumah neneknya. Katanya dulu ia sempat malu jualan jamu gendong, takut dibilang kampungan. Tapi lama-lama ia sadar, yang penting halal dan anaknya bisa sekolah.

"Aku salut sama kamu, Ratna," kataku. Waktu itu pertama kalinya aku memanggil namanya tanpa embel-embel, dan ia tidak protes.

Ia menatapku lama. "Kamu orang pertama yang bilang gitu. Orang-orang cuma nanya kapan aku nikah lagi."

"Terus kamu jawab apa?"

"Belum mikir. Anak masih kecil, ibu masih sakit. Mana sempat mikir laki-laki." Ia tertawa kecil, tapi ada getir di sana. "Padahal kadang... ya pengen juga. Namanya juga manusia."

Malam itu aku pulang dengan pikiran campur aduk. Ada yang tumbuh di dadaku setiap kali melihatnya, dan aku tidak yakin itu cuma kasihan.

Sabtu pagi itu aku tidak narik. Aku mampir jam delapan, membawakan bubur ayam dua porsi.

"Wah, sarapan," sambutnya ceria. Kakinya sudah hampir sembuh, tinggal pincang dikit.

Kami makan bubur di teras kontrakannya. Pagi itu cerah, angin sepoi-sepoi. Anak-anak kecil main bola di gang.

"Mas Yoga nggak narik?" tanyanya.

"Libur. Capek."

"Enak ya bisa libur kapan aja."

"Enaknya cuma itu. Selebihnya nggak jelas." Aku menyeruput es teh. "Mbak kapan mulai keliling lagi?"

"Senin kayaknya. Kaki udah oke. Bakul juga udah aku benerin pakai tali."

Ia masuk ke dalam, lalu keluar membawa bakul bambu yang sudah diperbaiki. Retakannya diikat tali rafia dengan rapi.

"Hasil karyaku," katanya bangga.

Aku tertawa. "Kreatif."

Tiba-tiba anak yang main bola menendang terlalu keras. Bolanya melayang ke arah kami dan menyenggol nampan jamu di tikar. Dua botol jatuh, untung tidak pecah, tapi isinya tumpah ke tikar.

"Ya ampun!" seru Mbak Ratna.

Anak itu kabur. Aku membantu Mbak Ratna membereskan. Tikar dicuci, nampan dilap. Waktu aku membantu mengangkat nampan yang berat, tanganku bersentuhan dengan tangannya. Kami berdua diam sesaat.

"Maaf," kataku.

"Nggak apa-apa," katanya pelan. Tapi ia tidak melepaskan tangannya dari tanganku.

Kami jongkok berhadapan di teras, tangan masih bersentuhan, nampan diabaikan. Jantungku berdegup kencang.

"Mbak..."

"Mas Yoga," potongnya. "Aku boleh jujur?"

Aku mengangguk.

"Seminggu ini, waktu kamu tiap hari mampir, aku... aku ngerasa kayak punya suami lagi." Suaranya bergetar. "Ada yang nanyain udah makan belum. Ada yang mijitin kaki. Udah tiga tahun aku nggak ngerasain itu."

Dadaku sesak. Aku menggenggam tangannya erat.

"Aku juga seneng mampir, Mbak."

"Ratna. Panggil Ratna aja."

"Ratna..."

Ia berdiri, masih menggenggam tanganku, dan menuntunku masuk ke kontrakan. Pintu ditutupnya. Gang di luar masih ramai anak main bola, tapi di dalam sini sunyi.

Kami berdiri berhadapan di ruang tamu yang sempit. Aku bisa mencium wangi jamu dari tubuhnya, bercampur wangi sabun mandi. Daster batik yang ia kenakan sederhana, tapi di tubuhnya terlihat memikat.

"Aku tahu ini salah," bisiknya. "Kamu baik sama aku, dan aku malah..."

"Jangan ngomong gitu," potongku. "Aku mampir bukan karena kasihan."

"Terus karena apa?"

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku mendekat dan menciumnya. Pelan dulu.

Ia membalas dengan lembut. Bibirnya manis, ada rasa jamu beras kencur yang khas. Tangannya melingkar di leherku. Tubuhnya yang ramping merapat padaku.

Ciuman itu makin dalam. Napasnya memburu. Tanganku turun ke pinggangnya, merasakan lekuk tubuhnya di balik daster tipis.

"Ke dalam," bisiknya.

Kamarnya kecil, hanya ada kasur lipat, lemari plastik, dan foto anaknya di dinding. Aku sempat ragu waktu melihat foto itu, tapi Ratna menutup mataku dengan tangannya.

"Jangan lihat sana. Lihat aku aja."

Aku menatapnya. Di matanya ada ragu dan ada berani, bercampur jadi satu.

Ia melepas dasternya sendiri. Perlahan. Di bawahnya ia memakai tank top dan celana pendek rumahan. Tubuhnya ramping, kulitnya mulus. Dadanya tidak besar tapi kencang dan indah.

Aku melepas kaosku. Ia menatap dadaku, lalu tersenyum malu-malu.

"Kamu bagus," bisiknya.

"Kamu juga."

Aku membaringkannya di kasur lipat. Kasur itu berderit pelan. Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya. Ia mendesah. Tangannya menyusup ke rambutku.

Tank topnya kulepas. Dadanya yang mungil tapi ranum menyambutku. Aku menciuminya dengan lembut, dan ia melengkungkan punggungnya.

"Mas," desahnya.

Celana pendeknya kulepas. Celanaku dilepasnya. Kami telanjang berhadapan di kamar yang sempit dan sederhana itu, dan untuk sesaat kami hanya saling menatap. Tidak ada yang sempurna di sini. Tidak ada yang mewah. Tapi ada yang jujur.

Aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya untukku. Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, lembut, dalam.

Kami bergerak pelan. Sangat pelan. Seperti tidak mau momen ini berakhir. Setiap gerakan disambut desahan kecil darinya. Tangannya mengelus wajahku, menatapku dalam-dalam.

"Aku kangen ini," bisiknya. "Kangen banget."

Aku mencium keningnya, lalu bibirnya, sambil terus bergerak. Keringat mulai membasahi tubuh kami. Bau jamu dan bau tubuh bercampur jadi aroma yang aneh tapi memabukkan.

Pelan-pelan ritme kami bertambah cepat. Ia mulai mengerang, pinggulnya bergerak liar. Kukunya mencakar punggungku.

"Jangan berhenti, Mas. Jangan berhenti."

Aku tidak berhenti. Aku terus bergerak sampai tubuhnya menegang dan bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku. Aku menyusul beberapa detik kemudian, meledak di dalamnya dengan desahan panjang.

Kami terbaring diam cukup lama. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya yang tergerai.

"Maaf," bisiknya tiba-tiba.

"Buat apa?"

"Aku janda. Kamu bujangan. Orang bakal ngomong."

"Biarin orang ngomong." Aku mengecup ubun-ubunnya. "Yang penting kita."

Ia mengangguk pelan. "Kamu nggak jijik sama aku? Janda anak satu, jualan jamu."

"Justru aku kagum. Kamu kuat."

Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca, lalu tersenyum. Senyum yang paling manis yang pernah kulihat darinya.

Sejak hari itu, ritual pagiku berubah. Bukan cuma beli jamu jam setengah tujuh. Tapi juga mampir sore, bawakan makan malam, pijitin kaki kalau capek. Dan kadang, kalau gang sudah sepi dan pintu kontrakan sudah dikunci, ada ritual lain yang cuma kami berdua yang tahu.

Anaknya tetap di kampung sama ibunya. Suaminya sudah tenang di sana. Tidak ada yang tersakiti.

Yang ada cuma tukang jamu dan sopir taksi online, yang tiap pagi saling sapa seperti biasa.

"Jamu, Mas Yoga."

"Beras kencur, Mbak. Yang anget."

Tidak ada yang berubah di permukaan. Tapi setiap kali ia menyerahkan botol jamu itu, jarinya menyentuh jariku sedikit lebih lama dari seharusnya.

Dan kami berdua tahu artinya.

Kadang hidup tidak memberi kita apa yang kita rencanakan. Tapi kadang, di jam setengah tujuh pagi, dengan segelas jamu beras kencur yang anget, hidup memberi kita sesuatu yang lebih baik dari rencana.

bagikan