CERITA DEWASA

Janda Kaya Perumahan Elit

Gerbang besi setinggi tiga meter itu bergeser perlahan dengan bunyi mendesing halus. Andi menurunkan kaca jendela mobil baknya dan melongok keluar, mencocokkan nomor di kertas orderan dengan nomor di pilar gerbang. Blok C nomor 7. Benar.

Di depan pintu utama yang menjulang, berdiri seorang perempuan. Bathrobe sutra warna krem melilit tubuhnya dari leher sampai lutut, rambutnya masih basah dan tergerai. Jam sembilan pagi, dan ia tampak seperti baru selesai mandi. Atau baru bangun.

"Mas Andi? Dari servis AC?" sapa perempuan itu sambil tersenyum.

Andi turun dari mobil, menenteng tas perkakas yang berat. "Iya, Bu. Saya dari Berkah Jaya Teknik."

"Masuk aja, Mas. Nggak dikunci."

Langkah Andi terhenti sejenak waktu melewati ambang pintu. Lobi rumah itu luas dengan lampu gantung kristal, lantai marmer mengkilap yang memantulkan bayangan, dan tangga melingkar menuju lantai dua. Andi sudah lima tahun bekerja sebagai teknisi AC, umurnya tiga puluh dua tahun, dan rumah semewah ini bisa dihitung jari pernah ia masuki.

"AC yang rusak yang mana, Bu?"

"Yang di kamar utama. Semalam mati total. Panasnya bukan main, saya sampai nggak bisa tidur." Perempuan itu berjalan mendahului menuju tangga. Bathrobe-nya berayun lembut mengikuti langkah kakinya yang jenjang. "Saya Sandra, by the way."

"Bu Sandra," Andi mengangguk sopan.

Kamar utama di lantai dua luasnya mungkin empat kali kamar kos Andi. Ranjang king size dengan seprai putih, jendela kaca besar menghadap taman belakang yang rimbun. Unit indoor AC menempel di dinding, diam tak bergerak, lampunya mati.

Andi meletakkan tas perkakas dan mulai memeriksa. Bu Sandra duduk di tepi ranjang, memperhatikan. Bathrobe-nya sedikit tersingkap di bagian paha waktu ia menyilangkan kaki. Andi memaksa matanya tetap pada unit AC.

"Udah berapa lama nggak dingin, Bu?"

"Baru semalam. Kemarin masih normal." Ia mengibaskan tangannya seperti kipas. "Tadi malam saya kepanasan sampai jam dua."

Andi membuka penutup unit, memeriksa filter, lalu turun untuk mengecek unit outdoor di balkon. Kompresor tidak menyala. Ia mengukur tekanan freon. Kosong. Ada kebocoran di pipa.

"Freonnya habis, Bu. Ada yang bocor. Saya tambal dulu, terus isi ulang."

"Berapa lama?"

"Sejam kira-kira."

"Ya udah, santai aja, Mas." Bu Sandra bangkit. "Saya bikinin minum dulu."

Selama Andi bekerja, Bu Sandra beberapa kali muncul. Membawakan es teh manis. Menanyakan ini itu. Obrolannya ringan tapi hangat. Ia bertanya Andi tinggal di mana, sudah berapa lama jadi teknisi, sudah nikah atau belum.

"Belum, Bu. Masih sendiri."

"Wah, sayang. Umur tiga puluh dua, mapan, kok belum nikah?"

Andi tertawa. "Belum ketemu yang cocok aja."

"Kalau saya," kata Bu Sandra tiba-tiba, menatap jendela, "umur tiga puluh delapan, janda dua tahun, tinggal di rumah segede ini sendirian. Lucu ya."

Andi berhenti mengencangkan baut. "Suami Ibu..."

"Meninggal. Serangan jantung, dua tahun lalu." Suaranya datar, seperti sudah sering menceritakan. "Sejak itu saya sendirian di sini. Anak saya satu, umur dua puluh dua, kerja di Singapura, pulang cuma lebaran."

Andi tidak tahu harus berkata apa. "Turut berduka, Bu."

"Sudah lama. Sudah ikhlas." Ia tersenyum tipis. "Cuma ya gitu. Rumah gede, sepi. Kadang saya ngomong sendiri biar rame."

Andi menyelesaikan tambalan, mengisi freon, menyalakan unit. Hembusan dingin mulai keluar. Lampu indikator menyala hijau.

"Udah beres, Bu. Dingin lagi."

Bu Sandra mendekat dan merasakan hembusan angin dari bawah unit. "Wah, iya. Makasih banyak, Mas Andi."

Ia mengambil dompet dari meja rias dan membayar sesuai tarif, plus tip yang lumayan besar. Andi menolak tipnya, tapi Bu Sandra memaksa.

"Buat jajan," katanya sambil tertawa.

Andi membereskan perkakas. Waktu ia hendak pamit, Bu Sandra menahannya.

"Mas, boleh minta tolong satu lagi? AC di ruang kerja saya juga kayaknya kurang dingin. Bisa dicek sekalian?"

"Boleh, Bu. Di mana ruangnya?"

"Di bawah. Ikut saya."

Ruang kerja itu lebih kecil dari kamar utama, penuh rak buku dan sebuah meja kerja besar. AC-nya menyala, tapi memang hembusannya lemah. Andi memeriksa filter. Kotor sekali, penuh debu.

"Filternya kotor, Bu. Saya cuci aja, lima belas menit."

"Santai, Mas."

Bu Sandra duduk di kursi kerjanya sambil memperhatikan Andi bekerja. Ruangan itu kecil, dan setiap kali Andi bergerak, ia bisa mencium parfum perempuan itu. Wangi mahal, lembut, memabukkan.

"Mas Andi," kata Bu Sandra pelan waktu Andi sedang mencuci filter di kamar mandi dalam. "Kamu nggak takut sendirian terus?"

Andi menoleh. Bu Sandra berdiri di ambang pintu kamar mandi, bersandar di kusen. Bathrobe-nya kini terikat lebih longgar. Lehernya yang jenjang terlihat, juga sebagian dadanya yang penuh.

"Ya takut sih kadang, Bu. Tapi udah biasa."

"Saya juga." Ia melangkah masuk ke kamar mandi yang sempit itu. Jarak mereka tinggal sejengkal. "Tapi saya nggak mau biasa."

Jantung Andi berdegup kencang. Ia bisa melihat tetesan air di leher Bu Sandra, sisa mandi paginya yang belum kering sempurna.

"Bu..."

"Sandra. Panggil Sandra aja." Tangannya terulur, menyentuh pipi Andi yang sedikit berkeringat karena kerja. "Kamu keringetan. Capek ya."

Andi tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab. Perempuan cantik berusia tiga puluh delapan tahun itu menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena sesuatu yang sudah lama ditahan.

"Aku kesepian, Andi," bisiknya. "Dua tahun. Dua tahun tidur sendirian di ranjang segede itu."

Tangannya turun dari pipi Andi ke dadanya, merasakan jantung yang berdegup liar di balik kaos oblongnya.

"Aku tahu kamu cuma tukang servis yang dipanggil benerin AC. Tapi tolong... jangan pergi dulu."

Andi menatapnya. Di matanya tidak ada paksaan, hanya permohonan. Dan gairah yang tidak disembunyikan lagi.

Ia mendekat dan menciumnya. Pelan, memberi ruang untuk mundur. Bu Sandra tidak mundur. Ia malah melingkarkan tangannya di leher Andi dan menariknya lebih dekat.

Ciuman itu berubah panas dalam hitungan detik. Bibirnya lembut, ada rasa teh manis. Lidahnya berpengalaman, pandai, membuat lutut Andi lemas. Tangan Andi yang semula ragu, kini melingkar di pinggang ramping perempuan itu.

Bathrobe sutra itu licin di tangannya. Ikatan di pinggangnya longgar. Andi bisa merasakan lekuk tubuh Bu Sandra yang terawat, penuh di bagian yang tepat, ramping di bagian yang tepat.

"Ke atas," bisik Sandra di sela ciuman. "Ke kamar."

Andi menggendongnya. Ia ringan, wangi, hangat. Mereka naik tangga melingkar itu dengan ciuman yang tidak terputus. Di kamar utama, AC yang baru diperbaiki menghembuskan udara dingin yang menyegarkan. Kontras yang sempurna dengan panas tubuh mereka.

Andi membaringkannya di ranjang king size yang empuk. Sandra menatapnya dari bawah, rambut basahnya tergerai di bantal putih. Bathrobe-nya sudah terbuka, menyisakan ia dalam balutan lingerie hitam berenda yang mewah.

Andi menahan napas. Tubuh perempuan tiga puluh delapan tahun itu luar biasa. Terawat, kencang, indah. Seperti patung hidup.

"Kamu cantik banget," bisik Andi.

"Jangan cuma diliatin," kata Sandra sambil tersenyum menggoda.

Andi melepas kaosnya, lalu naik ke atas ranjang. Ia menciumi leher Sandra, turun ke bahunya, ke dadanya yang penuh. Sandra mendesah dan melengkungkan punggungnya. Tangannya menjambak rambut Andi.

Lingerie itu dilepas perlahan. Setiap bagian tubuh yang tersingkap membuat Andi makin bergairah. Ia menciumi seluruh tubuh perempuan itu dengan penuh penghayatan, seolah ingin menghafal setiap jengkalnya.

Sandra tidak diam. Tangannya menjelajah tubuh Andi yang atletis karena kerja fisik. Ia membalikkan keadaan, mendorong Andi hingga terlentang, lalu menciuminya dari dada turun ke bawah. Andi mengerang, mencengkeram seprai.

"Giliran aku yang servis," bisik Sandra nakal.

Mereka tertawa kecil, lalu tenggelam lagi dalam gairah. Waktu Andi akhirnya masuk, Sandra menjerit kecil dan memeluknya erat. Hangat, basah, sempurna.

Mereka bercinta di ranjang besar itu dengan lambat dan dalam. Tidak terburu-buru. AC mendinginkan keringat di tubuh mereka. Setiap gerakan disambut desahan. Setiap desahan dibalas ciuman.

"Jangan berhenti," bisik Sandra. "Aku udah lama nggak ngerasain ini."

Andi tidak berhenti. Ia terus bergerak, makin cepat, makin dalam. Sandra mengimbangi dengan pinggulnya yang lincah. Kukunya mencakar punggung Andi.

Mereka mencapai puncak bersamaan. Tubuh Sandra bergetar hebat di pelukannya. Andi meledak dengan erangan panjang yang tertahan di bahu perempuan itu.

Mereka terbaring diam cukup lama, berkeringat dan terengah-engah, dalam hembusan AC yang dingin. Kepala Sandra di dada Andi. Tangan Andi mengelus rambutnya yang mulai kering.

"Maaf," bisik Sandra tiba-tiba.

"Buat apa?"

"Aku manfaatin kamu. Kamu datang buat kerja."

Andi tertawa kecil. "AC-nya kan udah bener. Bonusnya ini."

Sandra tertawa, lalu mencium dada Andi. "Kamu nakal ya."

"Baru kali ini."

Mereka mandi bersama setelah itu. Di bawah shower air hangat, mereka bercanda seperti pasangan yang sudah lama kenal. Sandra menggosok punggung Andi. Andi mengeringkan rambut Sandra dengan handuk.

Sebelum Andi pulang, Sandra menuliskan nomor HP-nya di kertas nota servis.

"AC di kamar tamu kayaknya juga bermasalah," katanya sambil mengedipkan mata. "Besok kamu cek ya?"

Andi tertawa. "Kamar tamu? Tadi katanya cuma dua."

"Ya besok nambah satu. Rumah gede, AC banyak." Ia mencium pipi Andi. "Jangan lama-lama."

Sejak hari itu, Andi jadi langganan tetap Cluster Emerald Blok C nomor 7. Setiap minggu ada saja AC yang "bermasalah". Kadang kamar tamu, kadang ruang makan, kadang gudang yang bahkan tidak ada AC-nya.

Bosnya di Berkah Jaya Teknik sampai heran kenapa satu alamat itu servisnya tidak pernah selesai.

Andi cuma tersenyum. Ia tidak bisa menjelaskan bahwa di mansion itu, yang diperbaiki bukan cuma AC. Tapi juga kesepian seorang perempuan yang sudah dua tahun tidur sendirian di ranjang sebesar itu.

Dan setiap kali gerbang besi setinggi tiga meter itu terbuka untuknya, Andi tahu persis apa yang menunggunya di balik pintu utama. Bathrobe sutra warna krem. Senyum hangat. Dan rumah besar yang akhirnya tidak sepi lagi.

Kadang Andi berpikir, dari semua orderan servis yang pernah ia terima selama lima tahun bekerja, orderan di Blok C nomor 7 itu yang paling tidak ingin ia selesaikan. Karena setiap AC yang diperbaiki, selalu ada alasan untuk kembali.

bagikan