Namaku Dimas, tiga puluh dua tahun, staf marketing di sebuah perusahaan distributor alat berat di Jakarta.
Pekerjaanku menuntutku sering ke luar kota, dan biasanya aku pergi sendirian atau dengan sesama staf pria.
Tapi perjalanan dinas kali ini berbeda.
"Dim, kamu berangkat ke Surabaya bareng Mbak Sinta ya. Presentasi ke klien hari Kamis, survei gudang hari Jumat," kata Pak Hendra, atasan langsungku, Senin pagi itu.
Mbak Sinta. Tiga puluh tahun, manajer area, sudah lima tahun di perusahaan ini.
Aku mengenalnya sebatas rekan kerja — perempuan yang tegas di rapat, rapi, dan selalu wangi parfum yang khas setiap kali lewat di lorong kantor.
Jujur saja, banyak staf pria di kantor yang diam-diam mengaguminya.
Tubuhnya proporsional, cara berpakaiannya selalu pas — blazer yang menegaskan lekuk bahunya, rok selutut yang sopan tapi tetap membuat mata susah berpaling.
Tapi ia juga dikenal dingin dan profesional. Tidak pernah terlihat dekat dengan siapa pun di kantor.
Rabu pagi kami berangkat dengan mobil kantor. Sopirnya Pak Joko, tapi ia hanya mengantar sampai rest area Cikampek karena ada keperluan keluarga — setelah itu aku yang menyetir.
"Kamu nggak keberatan nyetir jauh, Dim?" tanya Mbak Sinta sambil memasang sabuk pengaman.
"Nggak, Mbak. Santai saja."
Itulah awal dari delapan jam perjalanan yang mengubah segalanya.
Satu jam pertama kami hanya bicara soal pekerjaan — materi presentasi, profil klien, strategi negosiasi.
Mbak Sinta ternyata menyenangkan diajak diskusi. Tajam, tapi tidak menggurui.
Memasuki jam kedua, topik mulai melebar.
"Dim, kamu asli mana?" tanyanya sambil menyeruput kopi dari tumbler.
"Semarang, Mbak. Merantau ke Jakarta sudah delapan tahun."
"Wah, jauh juga. Saya asli Bandung, tapi sudah lama di Jakarta juga."
"Suami ikut ke Jakarta, Mbak?" tanyaku — dan langsung menyesal. Terlalu pribadi.
Tapi ia hanya tersenyum tipis.
"Sudah setahun ini saya sendiri, Dim."
Aku meliriknya sekilas. Wajahnya datar, tapi ada getar kecil di suaranya.
"Maaf, Mbak, saya nggak bermaksud—"
"Nggak apa-apa," potongnya. "Sudah lewat kok. Lagian, kadang justru lebih tenang sendiri."
Hening sejenak. Hanya suara mesin dan deru tol.
"Kalau kamu? Pacar? Istri?" tanyanya balik.
"Belum ada yang serius, Mbak. Kerja terus."
Ia tertawa kecil. "Alasan klasik anak marketing."
Sejak itu obrolan mengalir lebih cair. Ia bercerita soal hobinya mendaki gunung, soal kucingnya yang gemuk di apartemen, soal betapa ia benci macet Jakarta tapi tidak bisa pindah.
Aku bercerita soal masa kuliahku, soal warung kopi langganan di Semarang, soal ibuku yang tiap telepon selalu menanyakan kapan aku menikah.
Sesekali ia tertawa lepas — tawa yang belum pernah kudengar di kantor.
Dan sesekali, tanpa sadar, tangannya menyentuh lenganku saat ia tertawa. Sentuhan singkat yang membuat jantungku berdebar tidak karuan.
Menjelang sore kami berhenti di sebuah rest area di Jawa Tengah untuk salat, makan, dan istirahat.
Kami duduk berhadapan di sebuah warung. Ia memesan soto ayam, aku memesan rawon.
"Dim," katanya sambil mengaduk sotonya, "boleh aku jujur? Aku sebenarnya deg-degan soal presentasi besok. Kliennya terkenal keras."
Aku terkejut. Mbak Sinta yang selalu tampak percaya diri ternyata bisa gugup juga.
"Tenang, Mbak. Materinya sudah matang. Lagian, aku yang handle bagian teknis, Mbak tinggal closing."
Ia menatapku lama, lalu tersenyum. "Makasih ya. Senang ada yang bisa diandalkan."
Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku salah tingkah. Aku menunduk, pura-pura fokus ke rawonku.
Perjalanan dilanjutkan. Langit mulai gelap. Lampu-lampu tol menyala berderet.
Mbak Sinta mulai terlihat lelah. Ia menyandarkan kepala ke jendela, memejamkan mata.
Aku mengecilkan volume radio dan menyetir dengan tenang.
Sekitar satu jam kemudian, ia terbangun. "Sudah sampai mana?"
"Baru masuk Jawa Timur, Mbak. Sekitar dua jam lagi."
Ia mengusap wajahnya, lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Dalam cahaya dashboard yang temaram, ia terlihat berbeda — lebih lembut, lebih manusiawi, jauh dari sosok manajer dingin di kantor.
"Dim," katanya pelan, "makasih ya sudah mau nyetir sejauh ini."
"Sama-sama, Mbak."
Ia mengulurkan tangan dan mengelus lenganku sekilas. "Kamu baik."
Tangannya hangat. Sentuhannya tinggal lebih lama dari yang seharusnya.
Aku menelan ludah dan fokus ke jalan, tapi seluruh tubuhku terasa panas.
Kami tiba di Surabaya hampir jam sepuluh malam. Hotel sudah dipesankan kantor — dua kamar single yang bersebelahan di lantai delapan.
"Besok sarapan jam tujuh ya, presentasi jam sembilan," katanya di depan pintu kamarnya.
"Siap, Mbak. Selamat istirahat."
"Makasih, Dim. Kamu juga."
Aku masuk ke kamarku, mandi air hangat, dan merebahkan diri di ranjang sambil menatap langit-langit.
Pikiranku tidak bisa lepas dari Mbak Sinta — tawanya di mobil, sentuhan tangannya, tatapannya.
Aku menggelengkan kepala. Jangan konyol, Dim. Dia atasanmu.
Baru saja aku memejamkan mata, terdengar ketukan di pintu.
Aku membuka. Mbak Sinta berdiri di sana, masih dengan pakaian kerja tapi blazernya sudah dilepas, hanya kemeja putih dan rok.
"Maaf ganggu, Dim. AC kamarku mati, panas banget. Resepsionis bilang teknisinya baru bisa datang besok pagi. Boleh aku numpang di kamarmu malam ini? Ranjangnya kan double, aku tidur di sisi satunya saja."
Jantungku serasa berhenti. "Euh... boleh, Mbak. Masuk saja."
Ia masuk dengan tas kecilnya. "Aku mandi dulu ya."
Aku duduk di tepi ranjang, berusaha terlihat santai, padahal dadaku bergemuruh.
Terdengar suara shower dari kamar mandi. Aku menatap televisi tanpa benar-benar melihat.
Lima belas menit kemudian ia keluar dengan handuk melilit tubuhnya, rambut basah tergerai.
Pemandangan itu membuatku menahan napas.
"Maaf ya, aku nggak bawa baju ganti. Pakaian kerjaku bau keringat," katanya sambil tersenyum malu-malu.
"Nggak apa-apa, Mbak."
Ia mengambil kaos dan celana training dari tasku? Tidak — ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah kaos oblong tipis.
"Pinjam kamar mandinya sebentar lagi ya."
Ia berganti di kamar mandi dan keluar dengan kaos tipis tanpa lengan dan celana pendek.
Kaos itu menerawang samar. Aku bisa melihat lekuk tubuhnya dengan jelas.
Ia naik ke ranjang dan berbaring di sisi satunya, menjaga jarak.
"Makasih banyak, Dim," katanya pelan sambil menatap langit-langit.
"Sama-sama, Mbak."
Hening. Hanya suara AC yang berdengung.
Lalu ia berkata, suaranya hampir berbisik, "Dim, boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa, Mbak?"
"Menurut kamu... aku masih menarik nggak?"
Aku menoleh. Ia menatapku dengan mata yang jujur dan rapuh.
"Mbak Sinta," kataku pelan, "Mbak itu perempuan paling menarik yang pernah aku kenal."
Ia tersenyum, tapi ada air di pelupuk matanya.
"Setahun ini... tidak ada yang menyentuhku, Dim. Tidak ada yang memelukku. Aku sampai lupa rasanya."
Tanganku terulur sendiri dan menghapus air mata di pipinya.
Ia memejamkan mata dan menyandarkan pipinya ke telapak tanganku.
"Peluk aku, Dim," bisiknya.
Aku bergeser mendekat dan memeluknya. Tubuhnya gemetar kecil di pelukanku.
Awalnya hanya pelukan — hangat, menenangkan.
Tapi kemudian ia mendongak dan menciumku.
Bibirnya lembut dan sedikit asin oleh air mata. Ciuman itu awalnya ragu, tapi ketika aku membalasnya, ia menyerah sepenuhnya.
Tangannya melingkar di leherku, menarikku lebih dekat.
Kaos tipisnya bukan penghalang. Aku bisa merasakan dadanya yang penuh menekan dadaku.
Tanganku merayap di punggungnya, merasakan kulitnya yang halus dan hangat.
"Dim," desahnya di sela ciuman, "aku mau... aku mau kamu."
Aku melepaskan kaosnya perlahan. Ia mengangkat tangannya membantuku.
Di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, tubuhnya terlihat menakjubkan — matang, proporsional, dengan lekuk yang membuatku kehilangan akal.
Aku menciumi lehernya, turun ke bahunya, ke dadanya.
Ia melengkungkan punggungnya dan mendesah panjang.
Tangannya menarik kaosku ke atas. Aku melepaskannya, lalu menanggalkan sisa pakaianku.
Kami saling menatap sejenak — dua orang dewasa yang sama-sama menginginkan ini.
Lalu tidak ada lagi keraguan.
Malam itu kami bercinta dengan perlahan dan intens.
Ia bukan perempuan dingin dari kantor — ia bergairah, berani, dan jujur dengan apa yang ia mau.
Tangannya mencengkeram seprai, kakinya melingkar di pinggangku, dan desahannya memenuhi kamar.
"Aku... aku sudah lama nggak begini," bisiknya di telingaku di antara desahan.
"Aku di sini, Mbak," jawabku sambil mencium keningnya yang berkeringat.
Kami mencapai puncak hampir bersamaan. Ia memelukku erat, tubuhnya menegang lalu lemas dalam pelukanku.
Setelahnya kami berbaring berdampingan, napas masih memburu.
Ia menyandarkan kepalanya di dadaku dan menggambar pola acak dengan jarinya.
"Dim," katanya pelan, "ini cuma malam ini saja ya? Besok kita profesional lagi."
Aku terdiam, lalu mengangguk. "Aku ngerti, Mbak."
"Tapi..." ia mendongak dan tersenyum nakal, "malam ini masih panjang."
Ia naik ke atasku dan menciumku lagi.
Dan malam itu kami mengulanginya dua kali lagi — sekali dengan lambat dan mesra, sekali dengan liar dan tanpa rem, sampai kami berdua kehabisan tenaga dan tertidur dalam pelukan.
Di antara jeda itu, kami berbaring telanjang dalam temaram lampu kamar, berbagi cerita yang tidak pernah kami ceritakan ke siapa pun.
Ia bercerita tentang pernikahannya yang hambar — suami yang sibuk, yang pulang hanya untuk tidur, yang perlahan membuatnya merasa tidak terlihat sebagai perempuan.
"Aku sampai sempat berpikir ada yang salah denganku, Dim," bisiknya sambil memainkan jari-jariku. "Ternyata aku cuma butuh disentuh dengan benar."
Aku bercerita tentang kesepianku di Jakarta — kos sempit, lembur tanpa akhir, dan hubungan-hubungan singkat yang tidak pernah ke mana-mana.
"Berarti kita sama-sama orang kesepian yang pura-pura sibuk," katanya sambil tertawa kecil.
"Tapi malam ini nggak," jawabku sambil mencium pundaknya.
Ia berbalik menghadapku. "Nggak. Malam ini nggak."
Putaran kedua dimulai dengan ciuman yang lambat dan dalam.
Kali ini ia yang memimpin — duduk di atasku, rambutnya yang setengah kering tergerai menutupi wajahku, gerakannya pelan tapi pasti.
Aku memegang pinggangnya, merasakan otot-ototnya menegang dan lemas bergantian.
"Lihat aku," bisiknya. Aku menatap matanya yang berkilat dalam temaram. "Jangan merem."
Aku menurut. Dan melihat wajahnya saat mencapai puncak untuk kedua kalinya — campuran antara lega, bahagia, dan lapar — adalah pemandangan yang tidak akan pernah kulupakan.
Putaran ketiga, menjelang subuh, berlangsung lebih liar.
Tidak ada lagi kelembutan yang ditahan-tahan. Hanya dua tubuh dewasa yang menuntut dan memberi dengan rakus, sampai ranjang berderit dan kami berdua tertawa di sela desahan karena suara itu.
"Kamar sebelah pasti dengar," bisiknya sambil menutup mulutku dengan tangannya, matanya berbinar nakal.
"Biarin," jawabku sambil menggigit jarinya pelan, membuatnya mendesah tertahan.
Pagi harinya kami bangun lebih awal. Ia mandi dulu, lalu kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian kerja.
Jam tujuh kami sarapan bersama di restoran hotel — rapi, profesional, seolah tidak terjadi apa-apa.
Presentasi jam sembilan berjalan sempurna. Mbak Sinta tampil memukau, closing dengan mulus, klien menandatangani kesepakatan awal.
Di perjalanan pulang ke Jakarta, kami lebih banyak diam — tapi diam yang nyaman.
Sesekali ia melirikku dan tersenyum kecil. Sesekali tangannya "tidak sengaja" menyentuh tanganku di tuas persneling.
"Kapan-kapan dinas bareng lagi ya, Dim," katanya saat kami hampir sampai kantor.
"Siap, Mbak. Kapan pun."
Ia tertawa, dan tawa itu — tawa yang sama seperti di mobil kemarin — membuatku yakin perjalanan dinas berikutnya akan sama panasnya.