Fajar baru saja menyingsing ketika musik dangdut koplo menggelegar dari speaker tua di pinggir lapangan. Embun masih menempel di ujung-ujung rumput, dan udara pagi yang dingin menusuk kaos tipis yang kukenakan. Di depanku, belasan ibu-ibu sudah berbaris rapi mengikuti gerakan.
"Ayooo, semangat pagi!" seru suara perempuan dari depan barisan, lantang dan penuh energi. "Tangan ke atas! Satu, dua, tiga, empat!"
Itulah rutinitasku setiap Minggu pagi selama dua bulan terakhir. Senam pagi di lapangan komplek. Gratis, meriah, dan satu-satunya olahraga yang sanggup kulakukan.
Namaku Wahyu, tiga puluh tiga tahun, karyawan bagian gudang di sebuah perusahaan logistik. Perutku buncit, hasil dari sepuluh tahun duduk, makan mie instan tengah malam, dan tidak pernah olahraga. Dokter bilang kolesterolku tinggi. Istriku... tidak ada. Aku masih lajang, dan sepertinya perut buncit ini salah satu alasannya.
Instruktur senamnya bernama Mega. Umurnya tiga puluh, belum menikah. Cantik, energik, dan badannya bagus sekali. Hasil senam bertahun-tahun, katanya. Rambutnya dikuncir kuda, selalu pakai legging dan tank top sport yang mencetak lekuk tubuhnya dengan jelas.
Aku peserta pria satu-satunya yang rutin datang. Awalnya malu setengah mati, dikelilingi ibu-ibu. Tapi lama-lama terbiasa. Malah ibu-ibu itu baik, sering membawakanku pisang rebus atau teh manis setelah senam.
"Mas Wahyu, perutnya udah kempes dikit lho," kata Bu RT suatu kali.
"Alhamdulillah," jawabku bangga, padahal timbangan di rumah bilang cuma turun setengah kilo.
Mega memperhatikanku lebih dari peserta lain. Mungkin karena aku satu-satunya pria, atau mungkin karena gerakanku paling kaku. Ia sering turun dari panggung kecilnya untuk mengoreksi gerakanku.
"Mas, tangannya lurus," katanya suatu pagi sambil menyentuh lenganku, meluruskannya. Sentuhannya singkat, profesional. Tapi cukup membuatku salah fokus sampai lupa hitungan.
"Punggung tegak, Mas." Tangannya menepuk punggungku pelan.
"Pinggul goyang, jangan kaku." Tangannya menyentuh pinggulku sekilas untuk mencontohkan gerakan.
Setiap sentuhan itu profesional. Aku tahu. Tapi aku laki-laki normal berusia tiga puluhan yang sudah lama tidak disentuh perempuan, dan setiap sentuhan Mega meninggalkan bekas di kepalaku sampai berhari-hari.
Suatu Sabtu malam, grup WhatsApp senam ramai. BMKG memprediksi hujan Minggu pagi. Satu per satu ibu-ibu pamit tidak ikut.
"Maaf ya, kayaknya hujan. Saya skip dulu."
"Saya juga. Takut masuk angin."
Aku menatap HP sambil rebahan. Hujan atau tidak, aku tetap berangkat. Sudah janji sama diri sendiri, tidak boleh bolong.
Minggu pagi aku bangun jam setengah enam. Di luar memang gerimis. Rintik-rintik halus, bukan hujan deras. Aku tetap berangkat dengan jaket dan payung.
Lapangan sepi. Speaker sudah dipasang, tapi tidak ada siapa-siapa. Aku menunggu di bawah pohon, menatap langit yang mendung.
Lima menit kemudian sebuah motor matic masuk lapangan. Mega. Pakai jas hujan tipis, rambut dikuncir seperti biasa.
"Mas Wahyu!" serunya kaget. "Datang juga?"
"Mbak Mega juga."
Ia tertawa sambil melepas jas hujannya. Di baliknya, seperti biasa, legging hitam dan tank top sport abu-abu. Gerimis membuat rambutnya sedikit basah, menempel di lehernya.
"Peserta lain pada batal," katanya sambil menyiapkan speaker. "Grup sepi."
"Berarti cuma kita berdua?"
"Kayaknya." Ia menoleh padaku sambil tersenyum. "Mau tetap senam? Atau pulang?"
"Senam aja. Udah jauh-jauh datang."
"Oke! Privat nih jadinya." Ia tertawa renyah.
Musik dinyalakan. Dangdut koplo menggelegar di lapangan yang sepi. Gerimis masih turun rintik-rintik, membasahi rumput dan pakaian kami.
Awalnya canggung. Biasanya aku sembunyi di barisan belakang, mengikuti ibu-ibu. Sekarang tidak ada barisan. Hanya aku dan Mega, berhadapan di tengah lapangan yang basah.
Tapi Mega profesional. Ia memimpin seperti biasa, penuh energi.
"Satu, dua, tiga! Lompat!"
Aku mengikuti. Keringat mulai keluar meski udara dingin. Gerimis membasahi kaosku.
Sepuluh menit kemudian Mega menghentikan musik.
"Istirahat dulu, Mas. Minum."
Kami duduk di bangku pinggir lapangan. Ia menyodorkan botol air mineral.
"Mas Wahyu hebat," katanya. "Dua bulan rutin, nggak pernah bolong. Ibu-ibu aja kalah."
"Terpaksa. Kolesterol."
Ia tertawa. "Alasan yang bagus."
Kami mengobrol. Soal kerjaanku di gudang, soal kegiatannya selain senam. Ternyata Mega juga jadi instruktur zumba di sebuah sanggar, dan kadang jadi SPG event.
"Capek nggak, tiap hari gerak terus?" tanyaku.
"Capek sih. Tapi aku suka. Kalau diam malah sakit semua badan." Ia meregangkan tangannya ke atas. Tank topnya terangkat sedikit, memperlihatkan perutnya yang rata dan kencang. Aku cepat-cepat memalingkan muka.
"Mbak Mega kok belum nikah?" tanyaku spontan. Begitu keluar, aku langsung menyesal. Lancang.
Tapi ia tertawa. "Nggak apa-apa. Banyak yang nanya." Ia menatap langit mendung. "Belum ketemu yang cocok aja. Cowok-cowok kebanyakan maunya yang diem di rumah. Aku nggak bisa diem."
"Sayang ya."
"Sayang kenapa?"
"Ya... cantik-cantik sendirian."
Ia menoleh padaku, tersenyum. "Mas Wahyu bisa aja."
"Kok bisa sih belum ada yang berani ngedeketin? Padahal tiap Minggu diliatin belasan pasang mata."
Ia tertawa terbahak. "Diliatin ibu-ibu maksudnya? Ya ampun."
"Bukan cuma ibu-ibu." Aku menatapnya. "Aku juga liatin."
Ia terdiam. Senyumnya perlahan berubah, jadi lebih lembut. "Aku tahu," bisiknya.
Gerimis mulai reda. Mega berdiri.
"Lanjut, Mas. Mumpung udah anget."
Musik dinyalakan lagi. Kali ini sesinya lebih intens. Mega seperti sengaja memberiku latihan privat beneran. Ia berdiri di depanku, mengoreksi setiap gerakanku dengan detail.
"Mas, jongkoknya kurang dalam." Ia jongkok di depanku mencontohkan. Dari posisiku, aku bisa melihat dengan jelas lekuk tubuhnya. Aku menelan ludah.
"Tangannya ke samping, lurus." Ia memegang kedua tanganku, merentangkannya.
Jantungku berdegup kencang. Wajahnya dekat sekali. Aku bisa mencium aroma keringatnya bercampur parfum segar. Matanya menatapku.
"Mas nggak fokus nih," godanya.
"Fokus kok."
"Bohong." Ia tersenyum, tapi tidak melepaskan tanganku.
Kami berdiri berhadapan di tengah lapangan yang sepi. Musik masih berdentum. Gerimis sudah berhenti total, meninggalkan udara yang segar dan basah.
"Mbak..." kataku pelan.
"Jangan panggil Mbak terus. Mega aja."
"Mega..."
Ia tidak melepaskan tanganku. Malah menggenggamnya lebih erat.
"Aku tahu, Mas," bisiknya. "Dari pertama kamu datang, aku tahu."
"Tahu apa?"
"Kamu nggak cuma ikut senam buat langsing."
Dadaku sesak. Wajahku pasti merah.
"Tapi aku juga nggak cuma ngajar kamu buat langsing," lanjutnya pelan.
Aku menatapnya. Di matanya tidak ada main-main. Yang ada keberanian yang tulus.
Aku mendekat dan menciumnya. Pelan, ragu. Ia membalas dengan lembut. Bibirnya manis, ada rasa air mineral. Tangannya naik ke tengkukku.
Ciuman itu makin dalam. Di tengah lapangan yang sepi, di pagi yang basah oleh gerimis, kami berciuman seperti tidak ada dunia lain.
Tanganku melingkar di pinggangnya yang ramping dan kencang. Tubuhnya hangat meski udara dingin. Ia merapat padaku, dan aku bisa merasakan setiap lekuknya.
"Ke sana," bisiknya sambil menunjuk ke arah pos satpam kosong di ujung lapangan.
Kami berjalan ke sana dengan tangan bergandengan, seperti remaja pacaran. Pos satpam itu kecil, pintunya tidak dikunci. Di dalamnya ada bangku kayu panjang dan meja.
Mega menutup pintu. Ruangan itu sempit dan remang, hanya cahaya dari jendela kecil.
Kami saling menatap dengan napas memburu.
"Yakin?" tanyaku.
Ia mengangguk, lalu melepas kunciran rambutnya. Rambut panjangnya tergerai, basah sedikit di ujungnya. Cantik sekali.
Aku mendekat dan menciumnya lagi, lebih berani. Tanganku menyusup ke balik tank topnya, merasakan punggungnya yang mulus dan berotot. Ia mendesah di mulutku.
Tank topnya kulepas perlahan. Ia memakai sport bra hitam. Dadanya yang selama ini cuma bisa kulihat dari jauh saat senam, sekarang ada di depanku. Kencang, penuh, indah.
"Mega, kamu cantik banget," bisikku.
"Jangan cuma diliatin," katanya sambil tersenyum menggoda.
Aku membuka sport branya. Ia mendesah lega. Aku menciumi dadanya dengan penuh hasrat. Tangannya menjambak rambutku.
Leggingnya kulepas. Celanaku dilepasnya. Kami telanjang di pos satpam yang sempit itu, dan untuk sesaat kami hanya saling menatap. Mengagumi tubuh satu sama lain.
Tubuhnya luar biasa. Hasil bertahun-tahun olahraga. Perut rata, paha kencang, kulit mulus. Aku yang buncit ini merasa tidak pantas, tapi tatapannya bilang sebaliknya.
"Aku suka badanmu, Mas," bisiknya seolah membaca pikiranku. "Empuk."
Aku tertawa kecil, lalu membaringkannya di bangku kayu. Bangku itu sempit, tapi cukup.
Aku menciumi seluruh tubuhnya. Leher, dada, perut. Ia menggeliat dan mendesah. Tangannya tidak diam, menjelajah tubuhku.
Waktu aku akhirnya masuk, ia melenguh panjang dan memelukku erat. Hangat, sempit, sempurna.
Kami bercinta di pos satpam itu dengan penuh gairah. Bangku kayu berderit. Di luar, lapangan sepi dan basah. Di dalam, hanya kami berdua dan napas yang memburu.
Gerakanku mungkin tidak seindah gerakan senamnya, tapi ia tidak protes. Malah ia mengimbangi dengan pinggulnya yang lentur, hasil latihan bertahun-tahun.
"Mas," desahnya. "Terus."
Aku mempercepat. Keringat bercampur. Tubuhnya yang kencang bergerak di bawahku dengan indah.
Ia mencapai puncaknya dengan tubuh bergetar hebat, mencakarku. Aku menyusul beberapa detik kemudian dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam di bangku yang sempit, berkeringat dan terengah-engah. Kepalanya di dadaku yang buncit.
"Empuk bener," katanya sambil tertawa kecil, menepuk perutku.
Aku tertawa juga. "Makanya nggak kurus-kurus."
Kami berpakaian kembali. Ia menguncir rambutnya lagi. Aku merapikan kaosku yang basah kuyup.
Sebelum pulang, ia mencium pipiku.
"Minggu depan datang lagi ya," katanya. "Jangan bolong."
"Pasti."
Sejak hari itu, Minggu pagi jadi hari favoritku. Bukan cuma karena senam. Tapi karena setelah ibu-ibu pulang dan lapangan sepi, Mega selalu bilang hal yang sama.
"Mas, bantuin beresin speaker ya."
Dan aku selalu membantu. Dengan senang hati.
Perutku masih buncit. Kolesterolku masih tinggi. Tapi ada yang berubah. Setiap Minggu pagi aku bangun dengan semangat yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Kadang olahraga memang menyehatkan. Kadang yang menyehatkan bukan olahraganya.
Dan setiap kali musik dangdut koplo itu menggelegar di pagi hari, aku tersenyum sendiri. Ibu-ibu lain tidak tahu kenapa aku selalu datang paling pagi dan pulang paling akhir.
Hanya aku dan Mega yang tahu.
Rahasia kecil di antara dentum musik koplo dan embun pagi.
