Minyak panas berdesis keras saat lele dicelupkan ke dalamnya. Aroma gurih bercampur pedas sambal yang baru diulek memenuhi udara malam. Di bawah tenda warung pecel lele pinggir jalan itu, lampu pijar kuning menggantung rendah, menerangi asap tipis yang mengepul dari wajan besar. Jam sudah hampir sebelas malam, tapi warung Mbak Ika belum tutup. Memang warungnya buka sampai larut, khusus melayani para pekerja shift malam yang pulang kelaparan.
Pandu memarkir motornya di sisi tenda, melepaskan helm, lalu duduk di bangku plastik seperti biasa. Bajunya masih seragam kerja, kemeja abu-abu dengan logo perusahaan logistik di dada kirinya. Tubuhnya pegal setelah delapan jam mengangkat dan mencatat barang di gudang. Perutnya keroncongan. Bau sambal terasi dari warung ini selalu berhasil membuat air liurnya keluar, bahkan dari jarak seratus meter.
"Biasa, Mas Pandu?" sapa Mbak Ika dari balik gerobak, sambil mengaduk sambal di cobek batu.
"Biasa, Mbak. Lele dua, nasinya satu. Sambalnya yang galak," jawab Pandu sambil tersenyum.
Mbak Ika tertawa kecil. Perempuan berusia tiga puluh dua tahun itu memang ramah pada semua pelanggan, tapi pada Pandu ia selalu sedikit lebih hangat. Mungkin karena Pandu pelanggan paling setia di jam paling sepi. Hampir setiap malam, selama hampir setahun, Pandu mampir. Kadang ia satu-satunya pembeli di jam sebelas malam.
Ika membalik lele di wajan dengan capitan bambu. Kulitnya sudah keemasan dan renyah. Sambil menunggu, ia menuang teh manis hangat ke gelas plastik untuk Pandu. "Shift malam terus, Mas? Nggak capek?"
"Udah biasa, Mbak. Malah enaknya jalanan sepi, nggak macet." Pandu menyeruput tehnya. "Mbak sendiri nggak capek? Tutup jam segini tiap hari."
Ika mengangkat bahu. "Namanya juga cari makan, Mas. Suami saya kan kerja di luar kota, jadi saya yang pegang warung. Kalau nggak buka sampai malam, sayang. Anak buah shift malam kayak Mas Pandu ini kan butuh makan juga."
Pandu sudah tahu itu. Suami Mbak Ika bekerja sebagai teknisi di sebuah proyek di Kalimantan, pulang ke Jawa hanya dua atau tiga bulan sekali. Ika mengelola warung sendirian dibantu seorang remaja putri tetangganya yang pulang jam sembilan. Setelah itu, Ika sendirian sampai tutup.
Lele matang. Ika menatanya di atas piring seng bersama nasi hangat, lalapan, dan sambal merah menyala. Pandu langsung melahapnya. Lele goreng Mbak Ika memang juara. Gurih, renyah di luar, lembut di dalam, dan sambalnya punya rasa yang bikin nagih. Pandu pernah bilang, kalau warung ini tutup, ia tidak tahu harus makan di mana sepulang shift.
Malam itu warung benar-benar sepi. Tidak ada pembeli lain. Hujan rintik mulai turun, membuat jalanan aspal mengilap di bawah cahaya lampu jalan. Ika duduk di bangku seberang Pandu sambil mengelap meja yang sebenarnya sudah bersih. Ia tampak lelah, tapi ada sesuatu di matanya malam itu. Seperti ingin bicara.
"Mas Pandu udah nikah?" tanya Ika tiba-tiba.
Pandu yang berusia dua puluh sembilan tahun itu menggeleng. "Belum, Mbak. Masih jomblo. Kenapa? Mau ngenalin?"
Ika tertawa, tapi tawanya terdengar hambar. "Enak ya, masih bebas. Saya kadang iri sama orang yang belum nikah. Nikah itu... ya gitu."
Pandu berhenti mengunyah. "Mbak kenapa? Berantem sama suami?"
"Bukan berantem," kata Ika pelan, menatap rintik hujan di luar tenda. "Justru itu masalahnya. Kami nggak pernah berantem. Kami juga nggak pernah ngobrol. Terakhir teleponan seminggu yang lalu, cuma tiga menit. Bahas transfer uang, terus udah. Kayak ngobrol sama orang asing."
Pandu tidak tahu harus menjawab apa. Ia menuang teh lagi untuk Ika, mendorong gelas itu ke depannya.
"Dulu waktu baru nikah, dia romantis, Mas. Tiap minggu pulang, bawa oleh-oleh, peluk saya lama. Sekarang..." Ika menghela napas. "Sekarang saya ngerasa kayak janda, padahal suami masih ada. Tidur sendirian, makan sendirian, ngurus warung sendirian. Kadang saya lupa rasanya dipeluk."
Ada keheningan. Hanya bunyi hujan dan desis minyak dari wajan yang sudah dimatikan. Pandu menatap perempuan di depannya. Di bawah cahaya lampu kuning, wajah Ika tampak letih tapi tetap cantik. Rambutnya diikat asal, beberapa helai menempel di pelipis karena keringat dapur. Ada kerentanan di sana yang membuat dada Pandu sesak.
"Mbak Ika perempuan kuat," kata Pandu akhirnya. "Nggak semua orang sanggup kayak Mbak."
Ika menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Makasih, Mas. Mas Pandu ini orang pertama yang bilang gitu setelah sekian lama."
Malam itu Ika memutuskan tutup lebih awal. Jam setengah dua belas, ia menurunkan terpal tenda, mematikan lampu, dan membereskan gerobak dengan bantuan Pandu. Sebagai terima kasih, ia mengajak Pandu makan bersama dari sisa dagangan. Nasi hangat, lele goreng terakhir, dan sambal. Mereka makan di bawah tenda yang setengah tertutup, ditemani bunyi hujan yang makin deras.
"Makannya pelan-pelan, Mas. Nggak ada yang ngejar," kata Ika sambil menambahkan lele ke piring Pandu.
"Mbak juga makan. Dari tadi cuma ngeliatin saya makan."
Mereka tertawa. Suasananya hangat, akrab, seperti dua sahabat lama. Ika bercerita tentang masa mudanya di kampung, tentang bagaimana ia belajar masak dari ibunya, tentang mimpinya punya rumah makan sungguhan suatu hari nanti. Pandu bercerita tentang pekerjaannya, tentang ibunya di kampung yang selalu menelepon menanyakan kapan ia menikah, tentang motor tuanya yang sering mogok.
Hujan makin deras. Air menetes dari sela terpal. Ika bergeser duduk lebih dekat ke Pandu agar tidak kehujanan. Bahu mereka bersentuhan. Pandu bisa mencium aroma samar dari tubuh Ika, campuran keringat dapur, minyak goreng, dan sabun mandi. Aroma yang anehnya menenangkan.
"Mbak dingin?" tanya Pandu, melihat Ika menggosok lengannya.
"Dikit," jawab Ika.
Pandu melepaskan jaket kerjanya dan menyampirkannya ke bahu Ika. Tangan mereka bersentuhan sekilas. Ika menatapnya. Ada sesuatu yang berubah di udara malam itu. Bukan lagi sekadar obrolan penjual dan pelanggan. Tatapan Ika melembut, dan Pandu merasakan jantungnya berdegup lebih kencang.
"Mbak..." Pandu tidak menyelesaikan kalimatnya.
Ika meletakkan tangannya di atas tangan Pandu yang ada di meja. Sentuhannya hangat. "Saya tahu ini aneh, Mas. Tapi malam ini... saya nggak pengen sendirian."
Pandu menatap mata Ika lama. Ia bisa melihat kesepian yang dalam di sana, kesepian yang ia kenali karena ia pun merasakannya setiap malam sepulang kerja, masuk ke kos yang sepi, makan sendirian, tidur sendirian. Dua orang kesepian di tengah hujan malam.
"Kalau Mbak nggak keberatan... saya juga nggak pengen Mbak sendirian," kata Pandu pelan.
Ika tersenyum, dan untuk pertama kalinya malam itu senyumnya sampai ke matanya. Ia berdiri, mengajak Pandu masuk ke bagian belakang tenda yang tertutup rapat, tempat ia biasa beristirahat. Ada dipan kecil dan tikar di sana. Lampu sudah dimatikan, hanya cahaya samar dari jalan yang masuk lewat celah terpal.
Yang terjadi setelah itu adalah kehendak dua orang dewasa yang sama-sama menginginkannya. Tidak ada paksaan, tidak ada tipu daya. Hanya dua tubuh yang mencari kehangatan di malam yang dingin dan basah. Ika memeluk Pandu erat, seolah takut ia akan pergi. Pandu membalas pelukan itu dengan lembut, membiarkan Ika memimpin tempo, karena ia tahu perempuan di depannya sudah lama tidak disentuh dengan kasih sayang.
Setelahnya, mereka berbaring berdampingan di dipan sempit, mendengarkan hujan yang mulai reda. Ika menyandarkan kepalanya di dada Pandu, jari-jarinya menggambar pola acak di lengan Pandu.
"Maaf ya, Mas," bisik Ika. "Saya nggak bermaksud..."
"Nggak usah minta maaf, Mbak," potong Pandu lembut. "Malam ini kita cuma dua orang yang butuh ditemani. Nggak ada yang salah."
Ika mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Makasih udah dengerin saya. Udah lama nggak ada yang dengerin."
Mereka berbaring cukup lama sampai hujan benar-benar berhenti. Pandu membantu Ika membereskan sisa gerobak, lalu berpamitan. Di depan motornya, Ika menggenggam tangan Pandu sebentar.
"Besok mampir lagi ya, Mas. Sambalnya saya bikin lebih galak khusus buat Mas Pandu."
Pandu tertawa. "Siap, Mbak. Saya nggak bakal pindah warung."
Malam-malam berikutnya berjalan seperti biasa, tapi dengan rasa yang berbeda. Pandu datang, makan, mengobrol, lalu pulang. Namun kini obrolan mereka lebih dalam, lebih personal. Ika mulai bercerita tentang hal-hal yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Tentang rasa bersalahnya pada suaminya, tentang takutnya menjadi perempuan yang tidak setia, tentang bingungnya membedakan antara kesepian dan cinta.
"Saya jahat ya, Mas?" tanya Ika suatu malam, suaranya kecil.
Pandu menggeleng tegas. "Mbak nggak jahat. Mbak manusia. Manusia butuh ditemani, butuh didengar. Itu bukan kejahatan."
"Suami saya nggak akan ngerti kalau saya bilang gitu."
"Ya makanya Mbak bilang ke saya aja," kata Pandu sambil tersenyum. "Saya pendengar yang baik. Buktinya betah dengerin Mbak tiap malam."
Ika tertawa, lalu menatap Pandu lama. "Mas Pandu baik banget. Calon istri Mas nanti beruntung."
"Calonnya aja belum ada, Mbak. Gimana mau beruntung."
Mereka tertawa bersama, dan tawa itu terasa seperti obat. Di warung tenda sederhana itu, di antara bau minyak goreng dan sambal, dua orang dewasa menemukan sesuatu yang tidak mereka cari. Bukan sekadar pelampiasan, tapi kehadiran. Seseorang yang benar-benar hadir, mendengarkan, dan peduli.
Suatu malam, motor Pandu mogok tepat di depan warung. Busi mati. Pandu mendorong motornya dengan wajah kesal, sementara Ika tertawa melihatnya.
"Udah, Mas. Motornya tinggal di sini aja. Besok pagi saya panggilin tukang bengkel langganan. Malam ini Mas istirahat di sini aja," kata Ika.
"Ngerepotin, Mbak."
"Ngerepotin apa. Dipan saya cukup buat berdua, kan udah pernah dicoba," goda Ika, lalu wajahnya memerah sendiri karena sadar apa yang baru ia katakan.
Pandu tertawa. "Ya udah. Saya nginep. Tapi saya yang jaga warung sampai tutup."
Malam itu menjadi malam terpanjang dan terhangat yang pernah mereka lalui. Setelah warung tutup dan gerobak dibereskan, mereka duduk di bawah tenda yang sudah sepi, berbagi teh manis terakhir dari termos. Ika bersandar di bahu Pandu tanpa ragu lagi. Tidak ada kecanggungan seperti malam pertama. Yang ada hanya kenyamanan dua orang yang sudah saling mengenal luar dalam.
"Mas pernah kepikiran nggak," bisik Ika, "kalau keadaan kita beda, mungkin kita bisa..."
"Jangan dipikirin, Mbak," kata Pandu lembut. "Yang ada sekarang aja udah cukup buat saya."
Ika mengangguk, menggenggam tangan Pandu erat. Malam itu mereka tidur berpelukan di dipan sempit, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Ika tidur tanpa terbangun tengah malam karena sepi.
Pagi harinya, Pandu bangun lebih dulu. Ia melihat Ika tidur pulas dengan wajah damai, rambutnya berantakan, dan ia merasa dadanya hangat. Ia tidak membangunkan Ika. Ia justru membantu menyiapkan gerobak untuk jualan pagi, memanaskan minyak, menata lalapan. Saat Ika bangun dan melihat semua sudah siap, matanya berkaca-kaca.
"Mas ngapain?"
"Balas budi udah dikasih nginep gratis," kata Pandu santai.
Ika memeluknya dari belakang, lama. "Makasih, Mas. Serius. Makasih udah ada."
Sejak malam itu, ada yang berubah di antara mereka. Pandu tetap pelanggan setia warung pecel lele itu, tapi kini ada kehangatan yang berbeda setiap kali ia mampir. Ika lebih sering tersenyum, lebih ceria. Kadang, di malam-malam sepi saat hujan turun, Ika menutup warung lebih awal. Dan Pandu selalu ada untuk menemaninya, mendengarkannya, memeluknya.
Pandu tahu hubungan mereka tidak sederhana. Ika masih berstatus istri orang, dan Pandu tidak pernah menuntut lebih dari apa yang Ika mau berikan. Yang ia tahu, setiap malam ia pulang kerja bukan lagi sekadar untuk mengisi perut, tapi untuk menemui seseorang yang menunggunya. Seseorang yang tersenyum tulus saat melihat motornya berhenti di sisi tenda.
Dan bagi Ika, kehadiran Pandu adalah pengingat bahwa ia masih perempuan, masih diinginkan, masih layak dipeluk. Di tengah malam-malam panjang menjaga warung sendirian, ada satu hal yang kini ia nantikan. Bunyi motor tua yang berhenti, helm dilepas, dan suara yang akrab menyapa.
"Biasa, Mbak. Lele dua, nasinya satu. Sambalnya yang galak."
