Kabut menggantung rendah di atas permukaan danau, putih dan tebal seperti asap yang tidak mau pergi. Dari teras villa, aku tidak bisa melihat ujung danau, hanya siluet perahu kayu yang bergoyang pelan dan suara air yang berdesir setiap kali angin bergerak. Udara dingin menusuk kulit, dan aroma pinus bercampur tanah basah memenuhi hidung.
Pagi itu aku sengaja bangun lebih awal. Setelah berminggu-minggu terjebak di antara tumpukan laporan dan rapat yang tidak ada habisnya, aku memutuskan untuk kabur ke sini: sebuah villa kecil di tepi danau, disewa untuk tiga hari dua malam, sendirian. Tidak ada teman yang ikut, tidak ada agenda. Hanya aku, danau, dan ketenangan yang sudah lama tidak kurasakan.
Aku menyeduh kopi dari dapur villa. Dapurnya sederhana tapi lengkap, seperti dapur rumah sendiri. Pemiliknya pasti merawat tempat ini dengan baik. Kemarin sore, saat aku tiba, seorang perempuan menyambutku di gerbang. Anjani, katanya, penjaga villa. Usianya sekitar 33 tahun, kulitnya cerah, rambutnya diikat ke belakang, senyumnya ramah. Ia menunjukkan kamar, menjelaskan cara menyalakan pemanas air, dan memberiku nomor teleponnya kalau ada yang dibutuhkan. Suaranya lembut, tidak terburu-buru, seperti orang yang sudah terbiasa hidup pelan di tempat seperti ini.
Aku duduk di kursi teras, menyeruput kopi panas, menatap kabut yang perlahan mulai menipis. Burung-burung mulai berkicau dari pepohonan di sekitar villa. Indra, umur 30 tahun, karyawan sebuah perusahaan logistik di kota, untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan merasa benar-benar santai. Tidak ada telepon berdering, tidak ada atasan yang menagih laporan. Hanya suara alam.
Siang harinya aku berjalan menyusuri tepi danau. Jalannya setapak, bebatuan kecil, dikelilingi pohon pinus yang tinggi. Air danau jernih, dan aku bisa melihat ikan-ikan kecil berenang di dekat tepi. Sesekali perahu nelayan lewat di kejauhan. Aku duduk di sebuah batu besar, melepas sepatu, mencelupkan kaki ke air yang dingin. Rasanya menyegarkan, seperti mencuci semua penat yang menumpuk.
Menjelang sore, kabut mulai turun lagi. Langit berubah kelabu, dan angin bertiup lebih kencang. Aku kembali ke villa, menyalakan lampu-lampu, dan mulai memasak mie instan untuk makan malam. Sederhana, tapi di tempat seperti ini, mie instan pun terasa istimewa.
Tiba-tiba, tepat saat aku selesai makan, lampu padam. Seluruh villa gelap gulita. Aku meraba-raba mencari ponsel untuk senter, lalu keluar ke teras. Dari kejauhan, aku melihat cahaya kecil bergerak mendekat. Seseorang membawa lilin atau senter.
"Pak Indra?" Suara Anjani terdengar dari kegelapan. "Listriknya padam, gardunya kena angin. Sudah biasa kalau musim seperti ini."
Ia muncul dengan sebuah lilin besar di tangan, wajahnya diterangi cahaya kuning yang hangat. Ia tersenyum, seolah kejadian ini hal yang lumrah.
"Masuk dulu, Mbak Anjani. Dingin di luar," kataku.
Ia mengangguk dan duduk di kursi teras bersamaku. Lilin ia letakkan di meja kecil di antara kami. Cahayanya bergoyang tertiup angin, menciptakan bayangan yang menari di dinding villa.
"Sering padam begini?" tanyaku.
"Lumayan sering kalau angin kencang. Biasanya sejam dua jam juga nyala lagi. Bapak tenang saja, saya temani sampai nyala." Ia tertawa kecil. "Lagian saya juga tidak ada kerjaan di rumah. Suami saya merantau, kerja di proyek luar pulau. Pulangnya tiga bulan sekali."
Ada nada sepi dalam suaranya saat mengatakan itu. Aku tidak langsung menanggapi, hanya menuangkan teh hangat dari termos ke dua gelas dan menyodorkan satu padanya.
"Berapa lama sudah merantau?" tanyaku hati-hati.
"Sudah empat tahun. Awalnya cuma setahun, katanya. Terus diperpanjang terus." Anjani menatap api lilin. "Ya mau bagaimana lagi, Pak. Di sini kerjaan susah. Jadi penjaga villa ini lumayan, bisa untuk makan sehari-hari."
Kami terdiam sejenak. Hanya suara jangkrik dan desir air danau yang terdengar. Lilin terus bergoyang, dan dalam cahaya itu, aku melihat wajah Anjani lebih jelas. Ia cantik, dengan cara yang alami. Tidak ada riasan, hanya wajah lelah seorang perempuan yang terlalu lama sendirian.
"Anak?" tanyaku.
Ia menggeleng. "Belum dikasih. Mungkin juga karena jarang ketemu suami." Ia tersenyum getir. "Bapak sendiri? Liburan sendirian?"
"Aku butuh sepi," jawabku jujur. "Kerjaan numpuk terus, rasanya kepala mau pecah. Teman-teman pada sibuk, ya sudah berangkat sendiri."
"Berani juga sendirian ke tempat segini sepinya," katanya sambil tertawa.
"Ternyata tidak seseepi itu. Ada yang nemenin." Aku mengangkat gelas tehku.
Ia tertawa lagi, kali ini lebih lepas. Suara tawanya enak didengar, hangat seperti cahaya lilin di antara kami.
Obrolan mengalir begitu saja. Anjani bercerita tentang danau ini: tentang musim hujan yang membuat air naik sampai ke teras, tentang wisatawan aneh yang pernah menginap, tentang masa kecilnya yang dihabiskan berenang di danau. Aku bercerita tentang kota, tentang macet, tentang atasan yang hobinya rapat jam lima sore. Kami tertawa bersama, dan untuk sesaat, aku lupa bahwa aku adalah tamu dan ia adalah penjaga villa.
Angin bertiup lebih kencang, membuat api lilin hampir padam. Anjani refleks menangkupkan tangannya melindungi api, dan tangannya menyentuh tanganku yang juga bergerak melakukan hal yang sama. Kami berdua terdiam. Sentuhan itu singkat, tapi cukup untuk membuat suasana berubah.
Anjani menarik tangannya perlahan, tapi ia tidak mengalihkan pandangan. Matanya menatapku dalam cahaya lilin yang redup.
"Maaf," katanya pelan, tapi tidak ada nada menyesal dalam suaranya.
"Tidak apa-apa," jawabku, suaraku juga merendah.
Hening. Jangkrik terus berbunyi. Air danau berdesir. Lilin bergoyang.
"Aku sudah lama tidak ngobrol seenak ini dengan siapa pun," kata Anjani akhirnya, suaranya hampir berbisik. "Di sini sepi, Pak. Tetangga jauh-jauh. Suami jauh. Kadang aku ngomong sendiri saking sepinya."
Ada kejujuran yang telanjang dalam kata-katanya. Aku merasakan sesuatu bergerak di dadaku, campuran iba dan ketertarikan yang tidak bisa kupungkiri.
"Aku juga," kataku. "Di kota ramai, tapi sepi juga rasanya. Aneh ya?"
Ia mengangguk pelan. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia menggeser kursinya lebih dekat. Bahunya hampir menyentuh bahuku. Aku bisa mencium aroma sabun dari rambutnya, bercampur aroma kayu bakar dari lilin.
"Anjani," aku memanggil namanya, dan ia menoleh.
Wajah kami hanya berjarak beberapa senti. Napasnya hangat. Aku bisa melihat pantulan api lilin di matanya. Tidak ada paksaan, tidak ada keterburu-buruan. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama kesepian, yang menemukan kehangatan di malam yang dingin dan gelap.
Ia yang pertama mendekat. Bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut, ragu-ragu, seperti bertanya apakah ini boleh. Aku menjawab dengan merangkulnya, menariknya lebih dekat. Ciuman itu perlahan berubah menjadi lebih dalam, lebih berani. Tanganku menyusuri punggungnya, merasakan tubuhnya yang hangat di balik kaus tipis yang ia kenakan.
Lilin di meja bergoyang hebat tertiup angin, lalu padam. Kegelapan menyelimuti teras, hanya cahaya bulan yang samar menembus awan. Tapi kegelapan itu justru membuat kami lebih berani.
Anjani berdiri, menggenggam tanganku, dan menuntunku masuk ke dalam villa. Kami berjalan dalam gelap menuju kamar, hanya dipandu cahaya bulan dari jendela. Di kamar, ia berhenti dan menatapku.
"Kamu yakin?" bisikku.
Ia mengangguk, lalu mulai membuka kancing bajunya satu per satu. Dalam cahaya bulan yang redup, tubuhnya terlihat indah. Kulitnya mulus, dan aku bisa melihat ia menahan napas, campuran gugup dan berani.
Aku mendekat, membantunya melepaskan pakaian, lalu mencium lehernya dengan lembut. Ia mendesah pelan, tangannya meremas bahuku. Kami rebah ke tempat tidur, tubuh kami bertemu dalam kehangatan yang sudah lama kami rindukan masing-masing.
Malam itu, di villa tepi danau yang gelap karena listrik padam, kami menemukan apa yang selama ini hilang dari hidup kami: sentuhan manusiawi, kehangatan, dan rasa diinginkan. Anjani yang selama empat tahun menahan sepi, dan aku yang tenggelam dalam rutinitas kota, untuk beberapa jam melupakan segalanya.
Gerakannya awalnya ragu, tapi perlahan menjadi lebih percaya diri. Ia membisikkan namaku di antara desahan, tangannya menjelajahi tubuhku seperti ingin menghafal setiap lekuknya. Aku membalas dengan kelembutan yang sama, memastikan ia merasakan bahwa malam ini bukan sekadar pelampiasan, tapi sesuatu yang tulus.
Kami bercinta dengan perlahan, menikmati setiap detiknya, seolah waktu berhenti. Tidak ada suara selain napas kami yang memburu dan derit tempat tidur yang pelan. Di luar, angin masih bertiup, danau masih berdesir, tapi di dalam kamar itu, hanya ada kami berdua.
Setelahnya, kami berbaring berdampingan, berkeringat dan terengah. Anjani menyandarkan kepalanya di dadaku, jarinya menggambar pola acak di lenganku.
"Terima kasih," bisiknya.
"Untuk apa?" tanyaku sambil mengelus rambutnya.
"Karena mau mendengarkan. Dan karena malam ini." Ia menatapku. "Sudah lama sekali aku tidak merasa... hidup."
Aku mengangguk, memahami persis apa yang ia maksud.
Tiba-tiba lampu menyala. Listrik kembali. Cahaya terang memenuhi villa, membuat kami berdua tertawa canggung. Anjani buru-buru meraih pakaiannya, wajahnya memerah.
"Ya ampun," katanya sambil tertawa malu.
Aku ikut tertawa, meraih kausku. Suasana canggung itu justru terasa manis.
Anjani berpamitan tidak lama setelah itu. Sebelum pergi, ia berhenti di pintu kamar dan menatapku.
"Besok pagi aku buatkan sarapan. Nasi goreng spesial," katanya dengan senyum yang berbeda dari kemarin. Senyum yang lebih hidup.
"Aku tunggu," jawabku.
Ia pergi, dan aku berbaring kembali di tempat tidur, menatap langit-langit. Di luar jendela, danau sudah tenang, kabut mulai turun lagi. Aku merasa aneh, campuran bahagia dan sedikit bersalah. Tapi aku tahu, apa yang terjadi malam ini terjadi karena kami berdua menginginkannya. Tidak ada yang dipaksa, tidak ada yang dirugikan. Hanya dua orang dewasa yang kesepian yang saling menemukan.
Keesokan paginya, aku terbangun oleh aroma nasi goreng. Anjani sudah ada di dapur, memasak dengan cekatan, menyenandungkan lagu pelan. Ia menoleh saat aku masuk, senyumnya cerah.
"Pagi, Pak Indra. Tidur nyenyak?" godanya.
"Nyenyak sekali," jawabku, dan kami berdua tertawa, berbagi rahasia yang hanya kami yang tahu.
Sarapan itu terasa seperti sarapan paling enak yang pernah kumakan. Bukan karena nasi gorengnya istimewa, tapi karena suasananya. Kami makan di teras, menatap danau yang berkabut tipis, sesekali bertukar pandang dan tersenyum.
Siang itu Anjani harus kembali ke rumahnya untuk mengurus beberapa hal, tapi ia berjanji akan kembali sore hari. Aku menghabiskan siang dengan berenang di danau. Airnya dingin tapi menyegarkan. Aku mengapung telentang, menatap langit biru, merasa hidupku untuk pertama kalinya dalam waktu lama terasa ringan.
Sore harinya Anjani datang lagi, membawa singkong rebus dan kopi. Kami duduk di teras sampai matahari terbenam, mengobrol tentang banyak hal. Tidak ada lagi kecanggungan. Yang ada hanya keakraban yang tumbuh alami.
Malam kedua, listrik tidak padam. Tapi Anjani tetap tinggal sampai larut, dan kami kembali ke kamar. Kali ini lebih santai, lebih akrab, diselingi tawa dan bisikan. Aku belajar bahwa ia suka digelitik di pinggang, ia belajar bahwa aku tidak tahan jika leherku dicium. Malam itu kami tertidur dalam pelukan, dan aku terbangun dengan rambutnya menutupi wajahku.
Hari terakhir, saat aku berkemas untuk pulang, Anjani berdiri di gerbang, melambaikan tangan. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tersenyum.
"Hati-hati di jalan, Pak Indra. Jangan kapok ke sini," katanya.
"Aku pasti kembali," janjiku, dan aku bersungguh-sungguh.
Di perjalanan pulang, aku terus memikirkan tiga hari itu. Villa tepi danau, kabut pagi, listrik yang padam, dan seorang perempuan bernama Anjani yang mengajariku bahwa terkadang, yang kita butuhkan bukanlah liburan mewah atau pelarian jauh. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah seseorang yang mau mendengarkan, dan keberanian untuk jujur pada rasa sepi kita sendiri.
Sebulan kemudian, aku kembali ke villa itu. Bukan untuk liburan, tapi untuk menepati janji. Dan dari senyum Anjani saat membukakan gerbang, aku tahu ia sudah menungguku.
