CERITA DEWASA

Tetangga yang Baru Cerai

Malam itu jam setengah sepuluh, lampu teras rumah kosong sebelah sudah menyala. Kardus-kardus bertumpuk di teras, sebagian terbuka, isinya mengintip keluar. Seorang perempuan duduk di anak tangga teras, lutut didekap, menatap kosong ke jalanan gang yang sepi.

Aku, Dika, tiga puluh empat tahun, karyawan bank yang tinggal sendirian di rumah sebelah, baru pulang lembur. Aku berhenti di pagar, ragu mau menyapa atau tidak. Rumah itu sudah kosong hampir setahun, sejak Pak Harun dan Bu Lastri pindah ke rumah anaknya di Bekasi.

"Kardus?" kataku akhirnya, bodoh. Itu kata pertama yang keluar.

Perempuan itu menoleh. Wajahnya cantik, tapi matanya sembap. Rambutnya panjang, diikat asal. Ia tersenyum tipis, senyum yang dipaksakan.

"Iya. Baru pindahan," katanya.

"Aku Dika. Rumah sebelah."

"Anya," katanya. "Anaknya Pak Harun."

Oh. Anya. Aku ingat samar-samar. Anak bungsu Pak Harun yang menikah lima tahun lalu dan pindah ke Surabaya. Umurnya tiga puluh dua sekarang, kalau ingatanku benar.

"Baru pulang kampung?" tanyaku.

Ia mengangguk, lalu menunduk. "Cerai," katanya pelan, seperti menjawab pertanyaan yang tidak kutanyakan. "Jadi pulang."

Aku tidak tahu harus bilang apa. "Turut prihatin" terdengar kaku. "Sabar ya" terdengar sok bijak. Akhirnya aku cuma bilang, "Butuh bantuan angkat-angkat?"

Ia menatapku, lalu mengangguk pelan. "Boleh. Makasih."

Malam itu aku membantu memindahkan kardus-kardus ke dalam rumah. Rumah itu berdebu, perabotnya ditutup kain putih. Anya bilang ia akan tinggal di sini sendirian. Orang tuanya sudah nyaman di Bekasi dan tidak mau balik.

"Sendirian nggak takut?" tanyaku sambil menurunkan kardus terakhir.

"Takut sih. Tapi mau gimana lagi."

Kami duduk di teras setelah selesai. Aku membelikan teh botol di warung ujung gang. Ia meminumnya pelan-pelan.

"Kenapa cerai, kalau boleh tahu?" tanyaku. Lalu langsung menyesal. "Eh, maaf. Nggak usah dijawab."

"Nggak apa-apa," katanya. "Selingkuh. Ketahuan. Udah gitu aja."

Sederhana. Menyakitkan.

"Aku yang gugat," lanjutnya. "Mantan suamiku malah nggak nyesel. Katanya aku terlalu sibuk kerja, nggak perhatian."

"Kamu kerja apa?"

"Desainer interior. Freelance. Makanya bisa pindah-pindah." Ia menatap kardus-kardusnya. "Dulu aku yang desain apartemen kami di Surabaya. Sekarang aku yang bongkar semuanya."

Ada getir yang dalam di suaranya. Aku tidak menimpali. Kadang orang cuma butuh didengar.

Malam itu aku pulang jam sebelas. Sebelum masuk rumah, ia bilang, "Makasih ya, Dika. Kamu tetangga pertama yang ngajak ngobrol."

"Sama-sama. Kalau butuh apa-apa, ketuk aja."

Hari-hari berikutnya aku sering melihatnya. Pagi-pagi ia menyapu teras. Siang ia beres-beres dalam rumah. Sore ia duduk di teras sambil main HP. Ia selalu sendirian. Tidak ada teman yang datang. Tidak ada keluarga yang nengok.

Aku mulai terbiasa mampir. Kadang bawakan gorengan. Kadang cuma ngobrol sepuluh menit sebelum aku masuk rumah. Ia pendiam, tapi kalau sudah cerita, ia bisa lama.

Suatu sore aku pulang kerja dan melihatnya duduk di teras, menangis diam-diam. Bahunya berguncang pelan. Ia tidak bersuara, air matanya jatuh begitu saja.

Aku duduk di sebelahnya tanpa bicara. Aku tidak bertanya kenapa. Aku cuma duduk.

Lama kemudian ia menghapus air matanya. "Maaf," katanya.

"Nggak usah minta maaf."

"Aku nggak tahu kenapa nangis. Tadi lagi beres-beres, nemu foto nikahku. Terus ya gitu."

Aku mengangguk. Aku mengerti, meski tidak pernah cerai. Kehilangan itu kehilangan.

"Mau makan?" tanyaku. "Aku pesen dua porsi."

Ia tertawa kecil, pertama kalinya aku lihat ia tertawa lepas. "Ya udah. Aku bayar setengah."

"Nggak usah. Anggap aja syukuran tetangga baru."

Kami makan nasi padang di terasnya malam itu. Ia cerita soal Surabaya, soal apartemennya yang dulu, soal anjing peliharaannya yang ikut mantan suaminya. Aku cerita soal kerjaanku yang membosankan, soal ibuku yang tiap minggu telepon nanyain kapan nikah.

"Kamu belum nikah?" tanyanya.

"Belum. Belum nemu yang pas. Atau yang pas belum nemu aku."

Ia tersenyum. "Nanti juga ada."

Malam itu terasa hangat. Untuk pertama kalinya sejak pindah, Anya terlihat sedikit lega.

Dua minggu berlalu. Anya mulai terlihat lebih baik. Ia sudah mulai ambil proyek desain lagi, kerja dari rumah. Kadang aku dengar ia video call dengan klien sampai malam.

Suatu malam Jumat, jam setengah dua belas, pintu rumahku diketuk. Keras, panik.

Aku membuka pintu. Anya berdiri di sana, pucat, cuma pakai daster dan jaket tipis. Rambutnya berantakan.

"Dika," katanya dengan suara gemetar. "Ada bunyi di rumahku. Kayak orang jalan di atap."

Aku mengambil senter dan tongkat baseball yang kusimpan di dekat pintu. Kami masuk ke rumahnya. Sepi. Aku memeriksa seluruh ruangan, naik ke loteng, keluar ke belakang. Tidak ada apa-apa. Mungkin kucing, atau tikus besar.

"Nggak ada apa-apa," kataku. "Mungkin hewan."

Ia mengangguk, tapi wajahnya masih tegang. "Aku takut sendirian," bisiknya. "Boleh aku di rumahmu aja malam ini? Sampai pagi."

"Tentu. Masuk."

Ia duduk di sofa ruang tamuku, masih gemetar. Aku membuatkan teh hangat. Kami duduk berhadapan, jam sudah lewat tengah malam.

"Maaf ngerepotin," katanya.

"Nggak ngerepotin. Aku juga belum ngantuk."

Kami ngobrol. Awalnya soal bunyi misterius itu, lalu melebar ke mana-mana. Soal masa kecilnya di rumah itu. Soal Pak Harun yang galak tapi penyayang. Soal pernikahannya yang retak pelan-pelan sebelum akhirnya hancur.

"Tahu nggak yang paling sakit?" katanya. "Bukan pas ketahuan selingkuh. Tapi pas sadar kalau aku udah lama nggak bahagia, dan aku pura-pura nggak tahu."

Aku menatapnya. Di bawah cahaya lampu ruang tamu yang temaram, ia terlihat rapuh dan cantik dalam waktu bersamaan. Daster tipisnya tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya. Aku mengalihkan pandangan, merasa bersalah karena memperhatikan.

"Dika," katanya pelan. "Kamu baik banget sama aku. Kenapa?"

"Karena kamu tetanggaku," jawabku. "Dan karena kamu sendirian."

Ia bergeser duduk, lebih dekat denganku. Aku bisa mencium aroma sampo dari rambutnya.

"Aku udah lama nggak disentuh dengan baik," bisiknya. "Mantan suamiku, setahun terakhir, dia bahkan nggak mau pegang tanganku."

Jantungku berdegup kencang. Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini. Aku juga tahu aku seharusnya menghentikannya. Ia rapuh, ia baru cerai, ia takut. Ini bukan waktu yang tepat.

Tapi ia menatapku dengan mata yang memohon. Bukan memohon kasihan. Memohon untuk merasa diinginkan lagi.

"Anya..."

"Jangan ngomong," bisiknya. "Aku tahu kamu mau bilang ini nggak tepat. Tapi aku capek jadi perempuan yang selalu tepat."

Ia mendekat dan menciumku. Pelan. Bibirnya dingin karena teh, tapi kemudian menghangat. Tangannya meraih wajahku, menahanku agar tidak mundur.

Aku membalas ciumannya. Tidak bisa tidak. Ada sesuatu yang putus asa dan jujur dalam caranya mencium, seperti orang yang akhirnya menemukan apa yang ia cari.

Ciuman itu makin dalam. Lidahnya bertemu lidahku. Tanganku, yang tadinya kaku di pangkuan, perlahan naik ke pinggangnya. Tubuhnya hangat di balik daster tipis.

Kami berciuman di sofa ruang tamuku sampai napas kami memburu. Tangannya menyusup ke balik kaosku, menyentuh dadaku. Aku menggigil.

"Ke kamar," bisiknya.

Aku menuntunnya ke kamarku. Sepanjang jalan kami tidak lepas. Di kamar, ia berdiri di depanku dengan napas tersengal. Jaket tipisnya ia lepas. Daster itu melorot dari bahunya, jatuh ke lantai.

Ia berdiri hanya dalam balutan pakaian dalam. Tubuhnya indah. Kulitnya putih mulus. Dadanya penuh, perutnya rata, kakinya jenjang. Ia menatapku tanpa malu, menantangku untuk mundur.

Aku tidak mundur.

Aku mendekat dan memeluknya. Kulitnya halus dan hangat. Aku menciumi lehernya, dan ia mendesah panjang. Tangannya menjambak rambutku.

Aku membaringkannya di ranjangku. Sprei biru kusut di bawah tubuhnya yang putih. Ia terlihat seperti lukisan.

Aku menciumi seluruh tubuhnya dengan perlahan. Dahi, pipi, leher, bahu. Setiap ciuman disambut desahan kecil. Waktu aku mencapai dadanya, ia melengkungkan punggungnya.

Pakaian dalamnya kulepas satu per satu. Ia membiarkanku, menatapku dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena sedih. Karena lega. Karena akhirnya ada yang menginginkannya lagi.

Aku melepaskan pakaianku sendiri. Lalu aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya untukku, mengundangku masuk.

Waktu aku masuk, ia memejamkan mata dan mendesah dalam. Hangat, lembut, dalam. Kami diam sesaat, saling merasakan.

Lalu kami bergerak. Pelan dulu. Ritmis. Tangannya mengelus wajahku, menatapku lekat-lekat.

"Lihat aku," bisiknya. "Aku mau kamu lihat aku."

Aku menatap matanya sambil terus bergerak. Ada air mata di sudut matanya, tapi ia tersenyum. Senyum yang tulus, yang pertama.

Pelan-pelan ritme kami bertambah cepat. Ia mulai mengerang. Kukunya mencakar punggungku. Pinggulnya bergerak mengikuti iramaku.

"Jangan berhenti," desahnya. "Tolong, jangan berhenti."

Aku tidak berhenti. Aku terus bergerak sampai tubuhnya menegang dan bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku. Aku menyusul beberapa detik kemudian, meledak dengan erangan panjang.

Kami terbaring diam, berkeringat dan terengah-engah. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya yang basah oleh keringat.

"Maaf," bisiknya.

"Untuk apa?"

"Aku baru cerai sebulan. Terus langsung gini."

"Jangan minta maaf," kataku. "Kita berdua yang mau."

Ia mengangguk pelan. "Aku nggak nyesel. Aku cuma... takut besok aku nyesel."

"Besok urusan besok."

Ia tertawa kecil. "Kamu selalu ngomong gitu ya."

Malam itu ia tidur di kamarku. Pagi harinya aku bangun dan ia sudah tidak ada. Ada catatan di meja.

"Makasih untuk malam ini. Jangan khawatir, aku baik-baik aja. Anya."

Aku sempat panik. Tapi sorenya ia mengetuk pintu rumahku, membawa dua bungkus nasi goreng.

"Traktir balik," katanya sambil tersenyum. Senyum yang berbeda. Lebih ringan.

Sejak malam itu, hubungan kami berubah. Tidak ada status, tidak ada janji. Tapi hampir tiap malam, salah satu dari kami mengetuk pintu yang lain.

Kadang kami bercinta sampai larut. Kadang kami cuma nonton film sambil berpelukan. Kadang kami cuma ngobrol di teras sampai jam dua pagi.

Anya pelan-pelan sembuh. Tawanya makin sering. Matanya tidak lagi sembap tiap pagi. Ia mulai keluar rumah, mulai ketemu teman-teman lamanya.

Suatu malam, setelah semuanya selesai dan kami berbaring berdampingan, ia bilang, "Dika, aku nggak mau kamu ngerasa jadi pelampiasan."

"Kamu bukan pelampiasan buatku juga," kataku jujur. "Aku suka sama kamu. Beneran."

Ia menatapku lama. "Aku juga. Tapi aku belum siap pacaran. Belum siap apa-apa yang serius."

"Aku nggak minta apa-apa. Kita jalanin aja."

Ia mengangguk, lalu menciumku pelan. "Makasih udah ngertiin."

Sampai sekarang, rumah sebelah tidak lagi kosong. Lampu terasnya menyala tiap malam. Kadang aku dengar ia tertawa sendiri waktu video call dengan kliennya.

Dan kadang, di malam-malam yang sepi, ada ketukan pelan di pintu rumahku.

Aku selalu membukakan.

bagikan