Deretan mobil mengilap berbaris rapi di bawah kanopi showroom. Sore itu matahari condong ke barat, cahayanya memantul di kaca-kaca mobil dan membuat seluruh halaman tampak berkilauan. Sigit memarkir Avanza putih sewaan di slot kosong paling ujung, mematikan mesin, lalu turun sambil menenteng kunci. Bunyi kunci yang diayun di jarinya terdengar nyaring di antara kesibukan sore showroom rental "Gunawan Jaya".
"Pak Sigit, sudah pulang dinasnya?" sapa seorang perempuan dari meja administrasi di sudut showroom. Bu Anita, istri Pak Gunawan, pemilik rental itu. Usianya sekitar tiga puluh lima tahun, rambutnya disanggul rapi, dan senyumnya selalu ramah setiap kali Sigit datang. Hari ini ia mengenakan blus krem dan rok hitam selutut, tampak cekatan seperti biasa di balik tumpukan berkas sewa.
"Baru saja, Bu. Ini kuncinya, mobil aman, bensin saya isi penuh," kata Sigit sambil menyerahkan kunci dan mengisi formulir pengembalian. Sigit sendiri berusia tiga puluh dua tahun, bekerja sebagai sales alat berat, dan hampir setiap bulan menyewa mobil di tempat ini untuk perjalanan dinas ke luar kota.
"Wah, pelanggan teladan," Bu Anita tertawa kecil sambil memeriksa formulir. ""Bapak ke mana saja? Tidak ada baret ya?" Ia tersenyum sambil mencatat, dan Sigit menyadari betapa senyum itu membuat wajahnya yang lelah tampak kembali bersinar."
"Surabaya dan Malang, Bu. Mobilnya enak, tidak rewel sama sekali."
Bu Anita memanggil seorang karyawan muda untuk memeriksa kondisi mobil. Sementara itu ia menuang teh dari termos ke dua gelas plastik. "Duduk dulu, Pak. Supir yang biasa antar ke rumah Bapak masih di jalan, macet di perempatan. Temani saya minum teh dulu."
Sigit duduk di kursi plastik di depan meja administrasi. Showroom perlahan sepi. Satu per satu karyawan pamit pulang. Lampu-lampu showroom dinyalakan, dan deretan mobil di luar tampak seperti siluet mengilap dalam cahaya kuning.
"Bapak Gunawan ke mana, Bu? Tumben tidak kelihatan," tanya Sigit.
"Ke Jakarta, Pak. Ada urusan tambah armada. Sudah tiga hari. Katanya pulang lusa, tapi ya siapa tahu," jawab Bu Anita sambil menghela napas pelan. Ada nada lelah dalam suaranya yang tidak biasa.
Sigit menyeruput tehnya. Manis dan hangat. "Usaha makin maju ya, Bu. Armada tambah terus."
"Maju sih maju, Pak. Tapi ya begitu, saya yang di sini sendirian terus. Pagi buka, malam tutup, semua saya yang urus. Kadang sampai lupa rasanya ngobrol santai seperti ini," kata Bu Anita sambil tersenyum tipis.
"Anak-anak di mana, Bu?"
"Di rumah, sama pembantu. Yang besar sudah SMA kelas dua, yang kecil masih SD. Mereka juga sudah sibuk sendiri-sendiri." Bu Anita menatap keluar, ke arah deretan mobil. "Kadang saya iri lihat mereka. Punya dunia sendiri. Saya? Dunia saya ya mobil-mobil ini."
Sigit tertawa kecil. "Tapi Ibu hebat, bisa urus semuanya."
"Hebat apanya, Pak. Capek iya." Bu Anita menatap Sigit, matanya berkaca sedikit, lalu ia cepat-cepat tersenyum lagi. "Ah, maaf, malah curhat. Bapak jangan kapok sewa di sini ya."
"Justru saya senang, Bu. Di rumah juga sepi, istri saya kerja shift malam di rumah sakit, jadi saya sering pulang ke rumah kosong." Sigit tidak berbohong. Istrinya perawat, dan jadwal mereka memang jarang bertemu.
"Wah, senasib kita," kata Bu Anita. Mereka tertawa bersama, dan suasana terasa lebih akrab.
Di luar, langit mulai gelap. Rintik hujan turun, mula-mula pelan, lalu semakin deras. Bunyi hujan di atap kanopi showroom terdengar berisik. Bu Anita berdiri dan menutup sebagian rolling door.
"Hujannya deras, Pak. Supirnya pasti makin lama," katanya sambil kembali duduk. Kini jarak mereka lebih dekat, hanya dipisahkan meja kecil.
"Gawat, saya tidak bawa payung," kata Sigit.
"Di sini ada payung, nanti bisa pinjam. Atau tunggu hujan reda sekalian."
Mereka melanjutkan obrolan. Bu Anita bercerita tentang awal mula usaha rental itu, bagaimana ia dan suaminya merintis dari dua mobil tua hingga kini punya dua puluh armada. Sigit bercerita tentang pekerjaannya, tentang kota-kota yang ia datangi, tentang kesepian di kamar hotel.
"Bapak enak, bisa jalan-jalan. Saya ini Jangankan ke luar kota, ke mal saja susah," keluh Bu Anita.
"Tapi Ibu punya segalanya, Bu."
"Segalanya kecuali waktu," jawabnya lirih. "Suami saya itu hidupnya untuk usaha. Saya? Saya cuma... ya begini."
Hujan makin deras. Petir menyambar jauh. Lampu showroom sempat berkedip. Bu Anita merapatkan duduknya, tampak sedikit takut.
"Bapak tidak takut petir?" tanyanya.
"Takut sih, tapi ya pasrah saja," jawab Sigit sambil tersenyum.
Bu Anita tertawa, dan tawanya terdengar renyah di tengah deru hujan. Entah sejak kapan, obrolan mereka berubah menjadi lebih personal. Bu Anita bercerita bahwa ia menikah muda, umur dua puluh dua tahun, dan sejak itu hidupnya hanya untuk keluarga dan usaha. Ia tidak pernah benar-benar merasa diperhatikan sebagai perempuan.
"Dulu waktu pacaran, Bapak Gunawan itu romantis, Pak. Sekarang? Jangankan bunga, telepon saja kalau tidak soal usaha tidak pernah," katanya. Tangannya menggenggam gelas teh yang sudah dingin.
Sigit merasakan sesuatu yang hangat sekaligus sedih mendengarnya. Ia menggeser kursinya sedikit mendekat. "Ibu masih cantik, Bu. Seharusnya Bapak Gunawan bersyukur."
Bu Anita menatapnya. Lama. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat jantung Sigit berdebar. "Sudah lama tidak ada yang bilang begitu," bisiknya.
Hening sejenak. Hanya bunyi hujan yang terdengar. Lalu Bu Anita berdiri. "Saya buatkan teh lagi ya, yang tadi sudah dingin."
Ia berjalan ke dapur kecil di belakang ruang administrasi. Sigit mengikutinya dengan pandangan, lalu tanpa sadar ikut berdiri dan menghampirinya. Di dapur sempit itu, Bu Anita sedang menuang air panas. Ia menoleh dan terkejut melihat Sigit sudah di belakangnya.
"Pak Sigit..."
"Maaf, Bu. Saya cuma..." Sigit tidak menyelesaikan kalimatnya. Jarak mereka sangat dekat. Aroma parfum lembut Bu Anita tercium jelas.
Bu Anita tidak mundur. Ia menatap Sigit, napasnya sedikit memburu. "Pak, ini tidak seharusnya..."
"Saya tahu," kata Sigit pelan. "Tapi saya juga tahu Ibu kesepian. Saya juga kesepian."
Tangannya terangkat, ragu-ragu, lalu menyentuh pipi Bu Anita dengan lembut. Perempuan itu memejamkan mata sesaat, lalu membukanya kembali. Tidak ada penolakan dalam tatapannya. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya, dan bibir mereka bertemu dalam ciuman yang awalnya ragu, lalu semakin dalam.
Teh yang tadi dituang terlupakan. Cerek diletakkan kembali. Bu Anita membalas ciuman Sigit dengan penuh kerinduan, seolah melepaskan dahaga bertahun-tahun. Tangannya mencengkeram kemeja Sigit.
Mereka berpindah ke ruang kantor kecil di belakang, tempat biasa Bu Anita beristirahat. Pintu dikunci dari dalam. Di luar, hujan masih deras, menutupi segalanya dengan suara gemuruhnya.
Apa yang terjadi setelah itu adalah sesuatu yang tidak pernah direncanakan oleh keduanya, namun diinginkan oleh keduanya. Bu Anita yang selama ini tampil tegar dan cekatan, malam itu menunjukkan sisi rapuhnya sebagai perempuan yang haus perhatian. Sigit memperlakukannya dengan lembut, seolah ia adalah sesuatu yang berharga dan bukan sekadar pelampiasan.
Mereka bercinta dengan perlahan, saling menikmati setiap detiknya. Bu Anita beberapa kali memanggil nama Sigit dengan suara tertahan, dan Sigit membalasnya dengan kecupan di kening, di pipi, di bahu. Tidak ada ketergesaan, hanya dua orang dewasa yang sama-sama kesepian dan akhirnya menemukan kehangatan satu sama lain.
Setelah semuanya usai, mereka berbaring berdampingan di sofa sempit ruang kantor, napas masih tersengal. Bu Anita menyandarkan kepalanya di dada Sigit.
"Maaf," bisiknya.
"Jangan minta maaf," kata Sigit sambil mengelus rambutnya yang sudah terlepas dari sanggul. "Kita sama-sama dewasa, Bu. Dan ini... ini atas kemauan kita berdua."
Bu Anita mengangguk pelan. "Saya tidak menyesal. Aneh ya? Saya seharusnya merasa bersalah, tapi yang saya rasakan malah... lega."
"Karena selama ini Ibu memendam semuanya sendirian," kata Sigit. "Kadang orang cuma butuh didengar, Bu. Didengar sebagai manusia, bukan sebagai pengurus rental atau istri pemilik."
Bu Anita tersenyum, kali ini senyum yang tulus. "Bapak ini pandai bicara ya. Pantas jadi sales."
"Sales alat berat, Bu. Biasa bujuk orang beli ekskavator," canda Sigit, dan mereka tertawa pelan.
Hujan mulai reda. Bunyi rintiknya melembut, berubah menjadi gerimis halus. Bu Anita bangkit dan merapikan pakaiannya, lalu membantu Sigit merapikan kemejanya. Mereka saling tersenyum, canggung namun hangat.
"Tidak ada yang boleh tahu," kata Bu Anita.
"Tentu," jawab Sigit. "Ini rahasia kita."
Tepat saat itu terdengar bunyi klakson dari depan showroom. Supir yang ditunggu akhirnya datang. Bu Anita cepat-cepat keluar menyambut, kembali menjadi sosok cekatan seperti biasa. Sigit mengikutinya dengan jantung masih berdebar.
"Pak Sigit, ini supirnya sudah datang. Hati-hati di jalan ya," kata Bu Anita dengan nada profesional, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun saat berjabat tangan pamit, ia menggenggam tangan Sigit sedikit lebih lama, dan matanya menyampaikan ribuan kata.
Di perjalanan pulang, Sigit menatap hujan yang menetes di kaca jendela mobil. Ia memikirkan Bu Anita, perempuan tiga puluh lima tahun yang mengurus dua puluh mobil sendirian, yang tersenyum pada semua orang namun menangis di dalam hati. Ia memikirkan istrinya yang sedang shift malam di rumah sakit, dan rumah kosong yang menunggunya. Hidup memang penuh ironi, pikirnya. Kadang orang mencari kehangatan justru di tempat yang tidak pernah ia duga.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mungkin ini hanya sekali. Mungkin akan terulang saat ia menyewa mobil lagi bulan depan.
Yang jelas, sore itu di showroom yang sepi, di tengah hujan deras, dua orang dewasa yang kesepian telah saling menemukan. Tanpa paksaan, tanpa janji, hanya kejujuran tentang rasa sepi yang akhirnya menemukan tempat berlabuh.
Sigit tersenyum sendiri. Kadang hidup memang memberikan kejutan di tempat yang paling tidak terduga, seperti di antara deretan mobil mengilap di sebuah showroom rental mobil. Dan kadang, kejutan itu datang dalam wujud perempuan tiga puluh lima tahun yang akhirnya berani jujur pada rasa sepinya sendiri.
