CERITA DEWASA

Janda Sebelah Rumah

Sudah tiga bulan aku tinggal di kontrakan petak ini, dan selama itu pula aku penasaran dengan perempuan yang tinggal di petak sebelah.

Namanya Mbak Rina. Usianya mungkin awal tiga puluhan. Suaminya meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan, kata Bu RT. Sejak itu ia tinggal sendiri, bekerja sebagai kasir di sebuah minimarket tidak jauh dari sini.

Perawakannya tidak terlalu tinggi, kulitnya sawo matang, rambutnya selalu diikat ke belakang. Yang paling menarik perhatianku adalah senyumnya — ramah, tapi ada sesuatu yang sepi di matanya.

Awalnya hubungan kami biasa saja. Berpapasan di gang, saling sapa, kadang berbasa-basi soal cuaca atau harga cabai yang naik lagi.

Sampai suatu sore hujan turun deras dan listrik padam.

Aku sedang duduk di teras sambil menyeruput kopi ketika mendengar suara ketukan di pintu pagar. Mbak Rina berdiri di sana dengan payung, mukanya cemas.

"Mas, boleh pinjam lilin nggak? Di rumah saya mati semua, gelap banget," katanya.

"Tentu, Mbak. Masuk dulu, hujannya gede."

Ia masuk dan duduk di kursi teras. Aku mengambilkan lilin dan korek dari dalam. Ketika kembali, ia sedang mengeringkan rambutnya yang basah dengan tangan. Daster yang ia kenakan — daster rumahan biasa berwarna biru — menempel di beberapa bagian tubuhnya karena tempias hujan.

Aku berusaha tidak melirik, tapi mataku bandel.

"Sendirian terus ya, Mbak?" tanyaku basa-basi sambil menyerahkan lilin.

"Iya, Mas. Sudah biasa sih. Kadang sepi juga, tapi ya dijalani saja."

Ada jeda. Suara hujan mengisi kekosongan.

"Mas sendiri? Belum nikah?"

"Belum, Mbak. Masih betah sendiri," jawabku sambil tertawa kecil.

"Enak ya kalau masih bisa milih," katanya pelan, lebih seperti gumaman untuk dirinya sendiri.

Malam itu ia pulang setelah hujan reda. Tapi sejak itu, ada yang berubah. Sapaan kami jadi lebih lama. Kadang ia mampir sekadar mengantar pisang goreng atau teh manis. Kadang aku yang mampir membantu membetulkan keran yang bocor atau lampu yang mati.

Suatu malam Jumat, aku pulang lembur sekitar jam sepuluh. Lampu teras Mbak Rina masih menyala. Ia duduk di sana sendirian, menatap jalan yang sepi.

"Belum tidur, Mbak?" sapaku.

"Belum ngantuk, Mas. Duduk sini, temenin sebentar."

Aku duduk di kursi sebelahnya. Ia menuangkan teh dari termos ke dua gelas.

"Mas tahu nggak, yang paling berat dari jadi janda itu apa?" katanya tiba-tiba.

Aku menggeleng.

"Bukan soal uang. Bukan soal kerja. Tapi soal malam. Malam itu panjang banget kalau sendirian terus."

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tangannya yang memegang gelas terlihat gemetar sedikit.

"Maaf ya, Mas, saya ngelantur," katanya sambil tertawa hambar.

"Nggak apa-apa, Mbak."

Ia menoleh padaku. Dalam cahaya lampu teras yang temaram, matanya berkaca-kaca. Bukan menangis, tapi seperti menahan sesuatu yang sudah lama dipendam.

Tanpa kusadari, tanganku terulur dan menggenggam tangannya yang dingin.

Ia tidak menarik tangannya. Malah menggenggam balik, erat.

Kami duduk diam cukup lama. Hanya suara jangkrik dan sesekali motor lewat di jalan depan.

"Mas," bisiknya akhirnya, "boleh saya jujur?"

"Boleh."

"Saya kesepian, Mas. Kesepian yang nggak bisa diobati sama kerja atau arisan atau apa pun."

Jantungku berdegup kencang. Aku menatapnya. Ia menatapku balik, dan di matanya tidak ada lagi kesepian — yang ada adalah keberanian yang lahir dari keputusasaan.

Aku mengangguk pelan. Ia berdiri, masih menggenggam tanganku, dan menuntunku masuk ke rumahnya.

Pintu ditutupnya pelan. Lampu ruang tamu dimatikannya, hanya menyisakan lampu kecil di sudut ruangan.

Kami berdiri berhadapan dalam temaram. Napasnya terdengar jelas. Aku bisa mencium aroma sabun mandi dari rambutnya.

"Yakin, Mbak?" tanyaku pelan.

Ia mengangguk, lalu memejamkan mata.

Aku mendekat dan mencium bibirnya dengan lembut. Awalnya ragu, tapi kemudian ia membalas dengan lapar — seperti orang yang kehausan menemukan air.

Tanganku melingkar di pinggangnya, menariknya merapat. Tubuhnya hangat dan gemetar. Daster tipisnya bukan penghalang apa-apa; aku bisa merasakan setiap lekuknya menempel padaku.

Ciuman kami makin dalam. Lidahnya bermain dengan lidahku. Tangannya meremas kaosku, lalu menyusup ke dalamnya, menyentuh punggungku dengan jari-jari yang dingin tapi bersemangat.

"Ke kamar," bisiknya di sela ciuman.

Aku mengangkatnya — ternyata ringan — dan membawanya ke kamar yang pintunya terbuka. Kamar yang sederhana tapi rapi. Bau melati samar-samar.

Aku membaringkannya di ranjang. Ia menatapku dari bawah, rambutnya tergerai di bantal, dasternya sudah tersingkap sampai paha.

Aku berlutut di tepi ranjang dan menciumi kakinya, naik perlahan ke betis, ke paha. Ia menggeliat dan mendesah pelan.

"Mas..."

Tanganku menyingkap dasternya sepenuhnya. Ia tidak memakai apa-apa di dalamnya.

Pemandangan itu membuat napasku tercekat. Tubuh perempuan dewasa yang sudah lama tidak disentuh — dan sekarang menyerahkan dirinya padaku dengan penuh.

Aku menanggalkan pakaianku sendiri dengan cepat, lalu naik ke atasnya. Kulit bertemu kulit. Hangat.

Kami bercinta malam itu dengan lambat dan dalam. Tidak terburu-buru. Seolah kami punya seluruh waktu di dunia. Setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap desahan terasa seperti penebusan atas tahun-tahun kesepian.

Ia memelukku erat saat mencapai puncaknya, kukunya menancap di punggungku, dan ia membisikkan namaku berulang-ulang seperti doa.

Setelahnya kami berbaring berdampingan, berkeringat dan terengah-engah, menatap langit-langit kamar yang gelap.

"Terima kasih, Mas," bisiknya.

"Untuk apa?"

"Karena malam ini saya nggak sendirian."

Aku mengecup keningnya. Ia tersenyum — senyum yang kali ini tidak ada sepinya.

Sejak malam itu, hubungan kami berubah. Bukan pacaran — kami tidak pernah membahas status. Tapi hampir setiap malam, salah satu dari kami mengetuk pintu yang lain.

Dan setiap malam, kesepian itu pergi — setidaknya sampai pagi tiba.

bagikan