CERITA DEWASA

Istri Montir Langganan

Kling. Kunci pas jatuh ke lantai semen dan berguling sampai ke bawah bangku warung. Bau oli menyengat bercampur asap rokok kretek, dan kipas angin tua di sudut warung berputar malas sambil berderit setiap tiga detik. Aku duduk di bangku plastik biru, menyeruput kopi tubruk yang ampasnya masih berputar di dasar gelas, sambil menatap motor bebekku yang teronggok dengan kap mesin terbuka di tengah bengkel.

"Gilang, motormu ini karburatornya kotor lagi. Tiap bulan begini terus, kapan mau ganti sekalian?" suara Pak Darto terdengar dari kolong motor, tangannya sibuk memutar baut.

Aku tertawa. "Uangnya belum ada, Pak. Lagian kalau diganti sekalian, saya jadi nggak punya alasan mampir ke sini."

Pak Darto yang usianya 47 tahun itu keluar dari kolong, mengelap tangan penuh oli ke kain lap kumal yang tergantung di bahunya. Ia menatapku dengan senyum masam. "Alasan? Alasan apaan?"

"Alasan minum kopi Bu Sri yang paling enak se-kecamatan," kataku sambil mengangkat gelas ke arah warung.

Dari balik meja warung kecil di sisi bengkel, Bu Sri, istri Pak Darto yang berusia 34 tahun, terkekeh. Ia cantik dengan cara yang sederhana: rambut disanggul seadanya, daster bunga-bunga yang bersih, dan senyum yang membuat warung sempit itu terasa lebih terang. Ia menuang air panas ke gelas lain.

"Pak Darto itu bisanya cuma motor, motor, motor. Kopi saya nggak pernah dipuji di rumah," katanya, melirik suaminya dengan pura-pura sebal.

Pak Darto mendengus. "Lha wong bener. Kamu itu kalau bikin kopi buat saya selalu keasinan."

"Keasinan itu karena saya masukin garam cinta, Pak," sahut Bu Sri, dan aku tertawa sampai hampir tersedak.

Begitulah rutinitasku setiap bulan. Aku, Gilang, karyawan swasta berusia 33 tahun yang motornya memang langganan rewel, selalu servis di bengkel Pak Darto di ujung gang. Bengkelnya tidak besar, hanya garasi rumah yang disulap, dengan tiga motor antre dan satu warung kopi kecil di sudut yang dikelola Bu Sri. Warung itu sebenarnya hanya untuk pelanggan yang menunggu, tapi lama-lama jadi tempat nongkrong bapak-bapak sekitar.

Hari itu Pak Darto harus pergi ke toko sparepart karena seal klep motorku ternyata harus diganti dan stoknya kosong. "Gilang, tunggu ya, sejam. Bu, temenin Gilang ngobrol, jangan diracun kopinya," katanya sambil menyalakan motor tuanya dan pergi meninggalkan debu.

Aku mengangguk. Sejam menunggu bukan masalah. Bu Sri duduk di bangku seberangku sambil mengupas bawang untuk gorengan sore. Kipas angin terus berderit.

"Kamu kok betah banget servis di sini, Lang? Bengkel resmi kan lebih cepat," tanya Bu Sri sambil tangannya cekatan.

Aku mengangkat bahu. "Bengkel resmi mahal, Bu. Terus mekaniknya ganti-ganti, nggak kenal. Di sini Pak Darto udah hafal penyakit motor saya. Lagian..." aku melirik gelas kopiku, "kopinya enak."

Bu Sri tersenyum, tapi senyumnya kali ini agak sendu. "Pak Darto itu orangnya baik, Lang. Rajin. Cuma ya itu, cintanya kebagi dua. Separuh buat saya, separuh buat motor-motor itu."

Aku tidak langsung menjawab. Dari caranya bicara, aku tahu ini bukan sekadar candaan seperti tadi. Ada lelah di matanya.

"Dulu waktu baru nikah, tiap malam minggu pasti ngajak jalan. Sekarang?" Bu Sri menghela napas. "Sekarang malam minggu aja masih benerin motor tetangga yang mogok. Saya tidur duluan terus. Bangun-bangun dia udah tidur di sofa bau oli."

"Kasihan juga Ibu," kataku pelan.

"Kasihan? Udah dua belas tahun, Lang. Saya udah nggak kasihan, udah pasrah." Ia tertawa kecil, tapi tawanya hampa. "Anak-anak udah gede dan udah kerja semua, jadi rumah ini sepi. Kadang saya ngomong, dia jawabnya sambil ngoprek. Kadang saya nangis, dia kira saya masuk angin."

Aku menatap perempuan di depanku. Di usia 34 tahun, Bu Sri masih terlihat segar, tapi ada garis lelah di sudut matanya yang tidak bisa disembunyikan daster bersih atau sanggul rapi. Ia perempuan yang merawat diri, tapi tidak ada yang memperhatikan.

"Bu Sri masih cantik lho, harusnya Pak Darto bersyukur," kataku, setengah bercanda setengah serius.

Ia menatapku, dan untuk sesaat kami saling pandang lebih lama dari seharusnya. Lalu ia buru-buru menunduk mengupas bawang lagi, tapi aku melihat pipinya memerah.

"Ah, kamu bisa aja, Lang. Udah sana, kopinya mau dingin."

Sejak hari itu, ada yang berubah. Bukan perubahan besar, hanya hal-hal kecil. Bu Sri mulai menanyakan kabarku lebih dulu saat aku datang servis. Ia hafal kopiku: tubruk, gula sedikit, tanpa susu. Kadang ia menyelipkan pisang goreng gratis di piring kecil. "Buat ganjel perut," katanya.

Pak Darto tidak menyadari apa-apa. Baginya, aku pelanggan setia dan istrinya ramah pada pelanggan. Ia bahkan pernah bilang, "Gilang, kamu pelanggan paling sabar. Yang lain nunggu sejam udah ngomel-ngomel."

Aku tidak sabar menunggu, aku menikmati menunggu.

Suatu sore di bulan ketiga setelah obrolan bawang itu, aku datang untuk ganti oli dan setel rantai. Bengkel sepi, hanya motorku. Pak Darto menerima telepon dari pemasok sparepart dan harus pergi ke kota, dua jam perjalanan pulang pergi.

"Ditemenin Bu Sri ya, Lang. Jangan macem-macem," canda Pak Darto sambil memakai helm.

"Siap, Pak," jawabku.

Begitu suara motor Pak Darto menghilang di ujung gang, keheningan turun di bengkel. Hanya bunyi kipas angin berderit dan sesekali motor lewat di jalan besar. Bu Sri sedang menutup warung lebih awal karena stok kopi habis. Ia melipat taplak meja dengan gerakan pelan.

"Lang, temenin saya ngobrol di dalam aja yuk. Di sini panas," katanya tiba-tiba.

Aku mengikutinya masuk ke ruang tengah rumah mereka yang menyatu dengan bengkel. Ruangannya sederhana tapi rapi: sofa lusuh, televisi tabung, dan foto keluarga di dinding. Bu Sri duduk di sofa, aku di kursi kayu seberangnya. Ia menyalakan kipas angin berdiri yang lebih kencang.

"Kamu udah punya pacar, Lang?" tanyanya tiba-tiba.

Aku terkejut dengan pertanyaan langsung itu. "Belum, Bu. Kerja terus, nggak sempat cari."

"Umur 33 belum nikah, sayang banget. Padahal kamu mapan, baik." Ia menatapku lekat. "Perempuan mana yang nggak mau."

Jantungku berdebar. Suasana ruangan yang sepi, sore yang mulai gelap, dan tatapan Bu Sri membuat udara terasa tebal. Aku tahu aku harus hati-hati. Ini istri orang, istri Pak Darto yang baik padaku.

"Bu, saya pulang aja ya, kayaknya..." aku berdiri, tapi Bu Sri ikut berdiri dan tangannya menahan lenganku.

"Jangan," bisiknya. "Jangan pergi dulu."

Tangannya hangat di lenganku. Aku menatapnya, dan ia menatapku balik dengan mata berkaca-kaca. Bukan tangis sedih, tapi tangis perempuan yang sudah terlalu lama menahan sepi.

"Lang, saya capek jadi nggak terlihat," bisiknya. "Dua belas tahun saya jadi bayangan di rumah ini. Saya masak, saya nyuci, saya jaga warung, tapi Pak Darto pulang cuma nanya motor pelanggan. Saya... saya masih perempuan, Lang. Saya masih pengen dipandang."

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya mengangguk pelan, dan ia mengerti. Ia melangkah mendekat, dan aku bisa mencium aroma bawang yang samar bercampur sabun mandi dari rambutnya. Tangannya yang tadi menahan lenganku kini meremas jemariku.

"Kalau kamu nggak mau, bilang sekarang," katanya, suaranya bergetar.

Aku menatap perempuan 34 tahun di depanku, yang suaminya lebih mencintai suara mesin daripada suaranya. Aku memikirkan Pak Darto yang baik, yang jujur, yang tidak pernah curang soal harga servis. Rasa bersalah menusukku. Tapi kemudian aku melihat mata Bu Sri, dan aku tahu menolaknya sekarang akan lebih menyakitkan baginya daripada apapun.

Aku menggeleng pelan. "Saya mau, Bu. Tapi Ibu yakin?"

Ia mengangguk, air matanya jatuh satu tetes. "Saya yakin. Sekali ini aja, Lang. Biar saya ingat rasanya jadi perempuan."

Yang terjadi setelahnya adalah sore yang tidak akan pernah kulupakan. Di ruang tengah yang remang karena lampu belum dinyalakan, dengan bunyi kipas angin sebagai satu-satunya saksi, kami saling menemukan. Bu Sri yang awalnya gemetar perlahan menjadi berani, seolah dua belas tahun kesepian meledak sekaligus. Ia membisikkan namaku berulang-ulang seperti doa, dan aku memeluknya erat seolah ingin menebus semua malam ia tidur sendirian.

Tidak ada yang terburu-buru. Kami punya waktu sampai Pak Darto pulang, dan kami menggunakannya dengan perlahan, dengan penuh perhatian, seperti dua orang yang sama-sama haus dan akhirnya menemukan air. Setiap sentuhan adalah permintaan maaf yang tidak terucap, setiap desah adalah pengakuan bahwa kami sama-sama manusia yang butuh disentuh.

Setelahnya, kami berbaring di sofa sempit itu, keringat bercampur, napas masih memburu. Bu Sri menyandarkan kepalanya di dadaku, jarinya menggambar pola tak beraturan di lenganku.

"Terima kasih, Lang," bisiknya. "Saya nggak akan minta lebih. Saya nggak mau merusak rumah tangga saya. Tapi terima kasih udah bikin saya merasa hidup lagi."

Aku mengecup keningnya. "Ibu nggak perlu berterima kasih. Saya yang harusnya minta maaf ke Pak Darto."

"Jangan," katanya cepat. "Jangan bilang apa-apa. Biar ini jadi rahasia kita. Kamu tetap pelanggan, saya tetap istri montir. Tapi sekarang..." ia tersenyum, senyum yang akhirnya sampai ke matanya, "sekarang saya punya alasan buat dandan tiap pagi."

Kami beres-beres sebelum Pak Darto pulang. Tidak ada yang tahu, tidak ada yang curiga. Pak Darto datang dengan seal klep baru dan langsung memasangnya sambil bersiul. Bu Sri membuatkan kopi untuk kami berdua, dan saat menyerahkan gelasku, jarinya menyentuh jariku sekilas di bawah meja.

Sejak hari itu, rutinitas bulanku berlanjut, tapi dengan lapisan rahasia di bawahnya. Aku tetap Gilang si pelanggan sabar. Bu Sri tetap istri montir yang ramah. Pak Darto tetap tidak tahu apa-apa, dan aku berharap ia tidak akan pernah tahu.

Kadang, saat menunggu servis sambil minum kopi, Bu Sri akan duduk di seberangku dan kami mengobrol seperti biasa tentang harga cabai atau motor pelanggan yang aneh-aneh. Tapi di bawah meja, kakinya akan menyentuh kakiku sekilas, dan kami akan saling tersenyum seperti dua orang yang menyimpan dunia kecil mereka sendiri.

Sore itu, saat aku hendak pulang dengan motor yang sudah diservis, Bu Sri mengantarku sampai gerbang bengkel. Pak Darto sedang sibuk di dalam.

"Lang," panggilnya pelan. "Bulan depan jangan lupa servis lagi ya. Karburatormu itu."

Aku tertawa. "Pasti, Bu. Motor saya kan langganan rewel."

Ia tersenyum, senyum rahasia yang hanya aku yang mengerti artinya. "Iya. Dan kopinya juga langganan."

Aku menyalakan motor dan pergi, dengan rasa kopi yang masih tertinggal di lidah dan rahasia yang hangat di dada. Di kaca spion, aku melihat Bu Sri melambaikan tangan, dasternya berkibar tertiup angin sore, kipas angin warung masih berderit di belakangnya.

Aku tahu apa yang kami lakukan salah. Tapi aku juga tahu, di bengkel kecil di ujung gang itu, ada perempuan 34 tahun yang akhirnya kembali merasa terlihat, dan ada aku yang akhirnya mengerti kenapa motorku selalu rewel tepat waktu setiap bulan.

bagikan