Aroma rendang memenuhi udara. Pekat, gurih, menggugah selera sampai ke tulang. Aku berdiri di ambang dapur besar seluas rumahku, memandangi kuali-kuali raksasa yang mengepul. Seorang perempuan membungkuk di atas kuali terdekat, mengaduk dengan sendok kayu sepanjang lenganku.
"Coba," katanya sambil menyodorkan sendok itu. "Tes rasa."
Aku meniupnya pelan, lalu mencicipi. Dagingnya empuk, bumbunya meresap sampai ke serat. Pedasnya pas, santannya kental. Aku menutup mata sesaat.
"Gila. Ini rendang terenak yang pernah aku makan," kataku jujur.
Perempuan itu tertawa. "Kamu belum coba gulai tunjangnya."
Begitulah pertama kali aku bertemu Lia. Tiga puluh tujuh tahun, istri Pak Hendro pemilik katering "Sari Rasa", dan orang yang sebenarnya menjalankan seluruh operasional dapur. Suaminya sibuk ekspansi, buka cabang di tiga kota, jarang kelihatan. Lia yang mengurus semuanya. Dari belanja ke pasar jam empat subuh sampai memastikan 500 box snack rapi.
Aku, Fandi, tiga puluh tiga tahun, staf HRD di sebuah perusahaan logistik. Tugasku bulan ini: cari katering untuk acara ulang tahun perusahaan. Lima ratus tamu. Anggaran besar, ekspektasi lebih besar. Bosku cuma bilang satu kalimat.
"Jangan sampai malu-maluin."
Katering Sari Rasa direkomendasikan teman sekantorku. Katanya pernah pakai untuk hajatan, tamunya sampai nambah tiga kali. Jadi Senin pagi itu aku datang survei.
Lia menyambutku sendiri. Rambutnya disanggul rapi, dasternya dilapisi celemek, tapi wajahnya cantik natural tanpa makeup tebal. Kulitnya bersih, senyumnya hangat. Badannya berisi, khas perempuan yang akrab dengan dapur dan tidak takut makan.
"Kantornya di mana, Mas?" tanyanya sambil mengajakku keliling dapur.
"Di kawasan industri Cikarang. Acaranya di ballroom hotel, tapi kateringnya mau yang prasmanan."
"Bisa. Lima ratus pax gampang buat kami. Bulan lalu kami handle seribu dua ratus untuk nikahan di gedung."
Ia menunjukkan semuanya. Dapur utama, dapur pastry, gudang bahan, ruang packing. Semuanya bersih dan tertata. Karyawannya belasan orang, semua sibuk tapi tidak kacau. Terlihat profesional.
"Test food kapan enaknya?" tanyaku.
"Kamis sore. Aku siapkan lima menu utama, kamu bawa dua tiga orang kantor buat nilai."
"Deal."
Kamis sore aku datang dengan dua rekan HRD. Meja tasting sudah disiapkan di ruang kecil sebelah dapur. Ada rendang, ayam pop, gulai tunjang, udang balado, dan aneka kue. Semuanya enak. Tidak ada yang gagal. Rekanku sampai nambah dua kali, padahal katanya sedang diet.
"Keputusan?" tanya Lia sambil menuang teh.
"Kami ambil. Tapi aku mau ada sesi tasting kedua minggu depan, sama bosku langsung. Dia yang paling rewel soal makanan."
Lia tertawa. "Boleh. Bos-bos memang biasanya paling susah."
Sejak itu aku jadi sering bolak-balik ke Sari Rasa. Koordinasi menu, susunan prasmanan, jadwal pengiriman, dekorasi meja. Lia selalu yang menemuiku. Pak Hendro, suaminya, tidak pernah ada. Sekali aku bertanya, Lia cuma tersenyum tipis.
"Dia di Surabaya. Buka cabang baru. Pulangnya nggak jelas."
"Kasihan Mbak sendirian ngurus semua."
"Sudah biasa." Ia mengangkat bahu. "Dari awal nikah juga gitu. Dia yang cari proyek, aku yang jaga dapur."
Ada nada lelah di suaranya yang ia tutupi dengan senyum. Aku tidak mengejarnya. Bukan urusanku.
Tapi makin sering aku datang, makin aku memperhatikan. Cara Lia mencicipi masakan dengan serius. Cara ia menegur karyawan dengan tegas tapi tidak kasar. Cara ia tertawa lepas waktu aku cerita soal bosku yang rewel. Dan cara matanya kadang menerawang kosong waktu mengira tidak ada yang melihat.
Dua minggu sebelum acara, Selasa sore, aku datang untuk finalisasi susunan menu. Hanya aku dan Lia di ruang kantor kecil di belakang dapur. Karyawan sudah pulang sebagian. Di luar hujan rintik-rintik.
"Ini daftar finalnya," kataku menyerahkan map. "Bosku minta tambah satu stall live cooking. Mie tek-tek."
"Bisa. Aku siapkan tukangnya." Lia membaca daftar itu dengan teliti. "Oh ya, soal pembayaran DP, sudah masuk kemarin. Makasih."
"Sama-sama."
Ia menutup map, lalu menyandarkan punggung ke kursi. "Capek juga ya ngurusin lima ratus orang makan."
"Apalagi yang ngurusin lima ratus orang makan sambil ngurusin dapur tiap hari."
Ia tertawa kecil. "Kamu ngerti aja."
"Suami Mbak kapan pulang?"
"Katanya Jumat. Tapi minggu lalu juga bilangnya Jumat." Ia memainkan pulpen di tangannya. "Aku udah nggak ngitung lagi."
Hening sesaat. Hanya suara hujan di atap seng dan dengung kulkas.
"Mbak Lia," kataku pelan. "Boleh nanya? Nggak apa-apa kan kerja kayak gini terus?"
Ia menatapku. Lama. "Maksudnya?"
"Ya... suami jarang pulang, kerjaan numpuk, sendirian terus. Nggak capek?"
Ia tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. "Capek, Fandi. Capek banget. Tapi mau gimana? Ini hidupku."
Itu pertama kalinya ia memanggil namaku tanpa embel-embel Mas. Terdengar intim. Terdengar jujur.
"Aku salut sama Mbak," kataku. "Serius. Nggak banyak perempuan sekuat ini."
"Jangan muji-muji. Nanti aku nangis."
"Kamu boleh nangis."
Ia tertawa sambil mengusap matanya. "Dua puluh tahun nikah, baru kali ini ada yang nanya aku capek atau enggak. Suamiku sendiri nggak pernah nanya."
Dadaku sesak mendengarnya. Aku mengulurkan tangan melewati meja dan menggenggam tangannya. Ia tidak menariknya. Malah menggenggam balik, erat.
Kami duduk diam. Hujan makin deras di luar. Ruangan kecil itu terasa makin sempit, makin hangat.
"Lia," bisikku.
Ia menoleh. Aku berdiri, mengelilingi meja, dan berdiri di hadapannya. Ia mendongak menatapku. Di matanya ada ragu, ada takut, tapi ada juga sesuatu yang sudah lama menunggu.
Aku membungkuk dan menciumnya. Pelan. Memberi ruang untuk mundur.
Ia tidak mundur. Tangannya naik ke tengkukku, menarikku lebih dekat. Bibirnya hangat, ada rasa teh manis. Ciuman itu makin dalam, makin lapar. Seperti bendungan yang jebol setelah dua puluh tahun ditahan.
Tanganku menyusuri punggungnya. Tubuhnya yang berisi terasa pas dalam pelukanku. Wangi masakan masih menempel di pakaiannya, bercampur parfum melati yang lembut.
Kami pindah ke sofa di sudut ruangan. Sofa tua tempat ia biasa istirahat siang. Ia duduk di pangkuanku, menghadapku, dan kami berciuman lagi. Kali ini lebih berani. Tangannya menyusup ke balik kemejaku, menyentuh dadaku dengan jari-jari yang gemetar.
"Yakin?" tanyaku di sela ciuman, memberinya kesempatan terakhir.
Ia mengangguk. "Jangan berhenti."
Daster yang ia kenakan berkancing depan. Aku membukanya satu per satu dengan jari yang juga gemetar. Di bawahnya ia memakai tank top dan celana pendek rumahan. Sederhana, tapi di tubuhnya yang berisi terlihat memikat.
Aku melepas tank topnya. Dadanya yang penuh dan ranum menyambutku. Kulitnya hangat dan lembut. Aku menciuminya dengan rakus, dan ia mendesah panjang sambil menjambak rambutku.
"Fandi," desahnya. "Aku udah lama... lama banget nggak disentuh."
Kalimat itu menusukku. Dua puluh tahun nikah, suami sibuk ekspansi, dan perempuan secantik ini dibiarkan layu sendirian.
Aku membaringkannya di sofa. Sofa itu sempit untuk berdua, tapi kami tidak peduli. Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya, ke perutnya yang sedikit buncit. Setiap ciuman disambut desahan. Tangannya tidak berhenti menyentuhku, seolah takut aku menghilang.
Celana pendeknya kulepas. Celanaku dilepasnya. Kami telanjang di ruang kantor kecil itu, dengan suara hujan sebagai musik latar.
Tubuhnya indah. Berisi di semua tempat yang tepat. Kulitnya mulus dan hangat. Aku menatapnya sejenak, mengagumi, sebelum akhirnya naik ke atasnya.
Waktu aku masuk, ia melenguh panjang dan memelukku erat. Hangat, basah, sempurna. Kami berdua terdiam sesaat, saling merasakan, saling menghafal rasa yang sudah lama hilang dari hidupnya.
Lalu kami bergerak. Pelan dulu, dalam, ritmis. Tangannya mengelus wajahku. Matanya menatapku tanpa berkedip, seolah ingin mengingat setiap detik.
"Aku kangen ini," bisiknya. "Kangen banget."
Aku mencium keningnya sambil terus bergerak. Keringat mulai membasahi tubuh kami. Bau masakan dari dapur samar-samar masuk lewat ventilasi, bercampur bau tubuh kami yang memanas.
Pelan-pelan ritme kami bertambah cepat. Ia mulai mengerang, pinggulnya bergerak mengimbangi. Kukunya mencakar punggungku. Sofa tua itu berderit mengikuti gerakan kami.
"Jangan berhenti," pintanya terputus-putus. "Jangan pernah berhenti."
Aku tidak berhenti. Aku terus bergerak sampai tubuhnya menegang dan bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku, giginya menggigit kulitku pelan. Aku menyusul beberapa detik kemudian, meledak bersamanya dengan erangan panjang.
Kami terbaring diam di sofa yang sempit itu, berkeringat dan terengah-engah. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya yang mulai lepas dari sanggul.
"Maaf," bisiknya tiba-tiba.
"Untuk apa?"
"Aku istri orang. Kamu... kamu baik sama aku, dan aku malah begini."
"Jangan ngomong gitu," potongku. "Kita berdua yang mau."
Ia mengangguk pelan. "Aku nggak nyesel. Cuma takut."
"Rahasia kita."
Hujan mulai reda. Kami berpakaian kembali dengan cepat. Ia merapikan daster dan menyanggul ulang rambutnya. Aku merapikan kemejaku. Tidak ada yang bicara, tapi ada senyum kecil di bibirnya yang tidak ada tadi.
Sebelum aku pulang, ia membungkuskan sesuatu. Rendang, gulai tunjang, dan kue lapis. "Buat di kos," katanya.
"Makasih, Lia."
Ia mengantarku sampai pintu dapur. Sebelum aku pergi, ia mencium pipiku sekilas. Cepat, tapi hangat.
Acara ulang tahun perusahaan berjalan sukses dua minggu kemudian. Lima ratus tamu, semua puas. Stall mie tek-tek antre panjang. Bosku sampai menepuk bahuku.
"Bagus, Fandi. Kateringnya juara."
Aku tersenyum. Yang juara bukan cuma kateringnya.
Sejak hari itu, aku jadi pelanggan tetap Sari Rasa. Bukan untuk acara kantor, tapi untuk diriku sendiri. Setiap Jumat sore aku mampir, pesan makan untuk seminggu, dan selalu ada bungkusan ekstra yang ia selipkan diam-diam.
Pak Hendro tidak pernah tahu. Karyawan tidak pernah tahu. Para tamu acara kantorku tidak pernah tahu.
Yang mereka tahu, katering Sari Rasa rasanya juara, dan Bu Lia selalu tersenyum ramah.
Mereka tidak tahu, senyum itu sekarang ada yang menjaga.
Dan setiap kali aku mencicipi rendangnya, aku teringat sore yang hujan itu. Sendok kayu, teh manis, dan perempuan yang akhirnya berani jujur pada dirinya sendiri.
Rasa yang tidak akan pernah aku lupakan.
Dan setiap Jumat sore, waktu aku parkir di depan dapur Sari Rasa, Lia selalu keluar menyambut dengan celemeknya dan senyum yang sama. Senyum untukku seorang.
