Uap mengepul dari gulungan daun pisang saat bungkusnya dibuka. Nasi uduk yang hangat, orek tempe yang masih berminyak, sambal kacang yang kental dan pedas manis. Jam enam pagi, dan lapak di pinggir jalan itu sudah ramai.
Itu rutinitasku setiap pagi. Tiga tahun sudah, tidak pernah absen kecuali sakit atau dinas luar kota. Namaku Yusuf, tiga puluh satu tahun, karyawan di sebuah perusahaan logistik. Sebelum berangkat kerja, aku selalu mampir ke lapak Mbak Tuti.
Mbak Tuti. Tiga puluh tiga tahun, cantik dengan cara yang hangat. Rambutnya selalu dikuncir, tangannya cekatan membungkus nasi, mulutnya tidak berhenti menyapa pelanggan. Warungnya sederhana, cuma gerobak dan dua meja plastik, tapi tidak pernah sepi.
"Mas Yusuf, seperti biasa?" sapanya tiap kali aku datang.
"Iya, Mbak. Telurnya yang dadar ya."
"Hafal di luar kepala," katanya sambil tertawa.
Suaminya, Pak Darto, sopir truk antar kota. Sebulan paling pulang tiga empat hari. Sisanya di jalan, dari Jakarta ke Surabaya, ke Semarang, ke mana-mana. Mbak Tuti cerita soal itu sekali waktu, dengan nada biasa, seperti sudah menerima.
"Udah nasib, Mas," katanya. "Daripada nganggur, mending dia di jalan terus. Aku di sini jualan, anak-anak di rumah."
Anaknya dua, umur sepuluh dan tujuh tahun. Pagi-pagi mereka sudah diantar ke sekolah oleh tetangga, jadi aku jarang melihat mereka. Lapak itu dunianya Mbak Tuti seorang.
Sebenarnya aku sudah lama memperhatikannya. Bukan cuma karena nasi uduknya enak. Tapi karena caranya melayani orang. Ia hafal semua pelanggan. Pak Haji yang selalu minta kerupuk dua, Mbak Rosi yang tidak suka bawang goreng, anak kos sebelah yang bayarnya selalu kurang lima ratus tapi ia ikhlaskan.
"Ala, lima ratus doang," katanya waktu aku tanya. "Rezeki nggak ke mana."
Dan ia selalu memperlakukanku istimewa. Bungkusku paling besar. Telur dadarnya paling tebal. Kadang ada tambahan kering tempe yang tidak ia hitung.
"Mas Yusuf pelanggan setia," katanya kalau aku protes. "Harus dimanjain."
Aku tidak pernah berpikir macam-macam. Ia istri orang, ibu dua anak. Tapi aku juga laki-laki, dan tiga tahun melihat perempuan cantik tiap pagi itu bukan hal yang netral. Senyumnya, tawanya, caranya mengikat rambut waktu kepanasan. Semua terekam tanpa aku sadari.
Suatu pagi di bulan September, hujan turun deras sejak subuh. Aku tetap berangkat, karena perut sudah hafal jadwal. Lapak Mbak Tuti sepi. Hanya ada satu dua pelanggan yang berteduh sambil makan cepat-cepat lalu pergi.
Mbak Tuti berdiri di balik gerobak dengan jas hujan tipis. Wajahnya lesu.
"Sepi ya, Mbak?" kataku sambil duduk.
"Banget, Mas. Dari jam lima cuma laku delapan bungkus." Ia menghela napas. "Hujan gini orang males keluar."
Aku memesan dua bungkus seperti biasa, satu untuk makan di tempat, satu untuk dibawa ke kantor. Sambil makan, aku memperhatikannya. Tenda terpalnya bocor di satu sudut, air menetes tepat ke nampan lauk. Ia memindahkan nampan itu dengan kesal.
"Mbak, tendanya bocor tuh."
"Iya. Udah dua minggu. Belum sempat benerin."
"Sini aku bantu. Ada tali?"
Ia menatapku heran, lalu tersenyum. "Mas Yusuf bisa aja."
Aku naik ke kursi plastik dan mengikat sudut terpal yang melorot ke tiang gerobak. Lima menit, beres. Air hujan tidak lagi menetes ke lauk.
"Wah, makasih banyak," katanya. "Kamu nyelametin daganganku."
"Sama-sama."
Hujan makin deras. Petir menyambar jauh. Pelanggan terakhir pergi, dan tinggallah kami berdua di lapak yang sepi itu.
"Duduk sini, Mas. Temenin aku sarapan. Aku juga belum makan."
Ia membungkuskan satu porsi untuk dirinya sendiri, lalu duduk di hadapanku. Kami makan berdua di bawah terpal yang bocor tadi, ditemani suara hujan.
"Kamu tahu nggak, Mas," katanya sambil mengaduk nasinya. "Dulu waktu baru nikah, aku sempat ikut Pak Darto di truk. Sebulan penuh. Tidur di kabin, mandi di pom bensin, makan di warung pinggir jalan."
"Seru dong?"
"Seru seminggu. Sisanya capek." Ia tertawa kecil. "Terus aku hamil anak pertama, udah nggak bisa ikut. Sejak itu ya begini. Dia di jalan, aku di sini."
"Berat ya."
"Beratnya sih udah biasa. Yang berat itu..." Ia berhenti, menatap nasinya. "Yang berat itu tiap malam tidur sendirian. Tiap pagi bangun sendirian. Anak-anak sih ada, tapi mereka butuh ibunya, bukan butuh temen."
Aku menatapnya. Ada kejujuran yang telanjang di kata-katanya.
"Mas Yusuf udah nikah?" tanyanya tiba-tiba.
"Belum, Mbak. Masih sendiri."
"Enak ya. Bebas."
Aku tertawa. "Mbak ngomong gitu kayak nggak bahagia aja."
Ia menatap hujan. "Bahagia sih bahagia. Cuma kadang... ya gitu."
"Gitu gimana?"
"Pak Darto itu kayak tamu di rumah sendiri, Mas." Suaranya pelan. "Pulang tiga hari, tidur, makan, berangkat lagi. Ngobrol aja jarang. Kadang aku ngerasa kayak janda padahal masih punya suami."
Aku tidak menjawab. Ada kejujuran di kata-katanya yang membuatku tidak enak menimpali dengan basa-basi. Aku hanya menatapnya, dan ia menatap balik, dan di antara kami ada pengertian yang tidak perlu diucapkan.
"Tiga tahun kamu langganan di sini," lanjutnya. "Kamu tahu nggak, yang paling aku tunggu tiap pagi itu bukan dagangan laku. Tapi ngobrol sama kamu. Lima menit aja cukup bikin hariku enak."
Dadaku sesak. Aku menatapnya. Di matanya ada lelah, ada sepi, dan ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang berani.
"Mbak..."
"Panggil Tuti aja. Udah tiga tahun kenal, masa Mbak terus."
"Tuti..."
Hujan masih deras. Jalanan sepi. Dunia seakan menyusut tinggal lapak kecil ini.
Tangannya terulur di atas meja dan menggenggam tanganku. Hangat, sedikit berminyak karena habis membungkus nasi. Aku tidak menarik tanganku.
"Aku tahu ini aneh," bisiknya. "Kamu pelangganku. Aku istri orang. Tapi aku capek, Mas. Capek pura-pura kuat."
Aku menggenggam tangannya balik. "Aku juga seneng ngobrol sama kamu. Tiap pagi."
Ia berdiri, masih menggenggam tanganku, dan menuntunku ke belakang gerobak. Di sana ada rumah petaknya, pintunya terbuka. Anak-anaknya sudah berangkat sekolah diantar tetangga, katanya. Rumah kosong.
Kami masuk. Ruang tamunya sempit tapi rapi. Bau nasi uduk masih menempel di bajunya, bercampur wangi sabun mandi.
Kami berdiri berhadapan. Aku bisa mendengar napasnya. Aku bisa melihat dadanya naik turun.
"Yakin?" tanyaku pelan.
Ia mengangguk. "Jangan tanya dua kali."
Aku mendekat dan menciumnya. Bibirnya manis, ada rasa sambal kacang yang pedas. Ia membalas dengan lembut dulu, lalu makin berani. Tangannya melingkar di leherku.
Ciuman itu dalam dan lama. Tanganku turun ke pinggangnya. Daster batik yang ia kenakan tipis, dan aku bisa merasakan hangat tubuhnya.
Ia menuntunku ke kamar. Kamar yang sederhana, kasur busa, lemari kayu, foto keluarga di dinding. Aku sempat melirik foto itu, foto ia bersama suami dan anak-anaknya, tapi ia memalingkan wajahku dengan tangannya.
"Lihat aku aja," bisiknya.
Ia melepas dasternya sendiri. Di bawahnya ia memakai kaos dalam dan celana pendek. Tubuhnya berisi, khas perempuan yang sudah melahirkan dua anak tapi masih terawat. Dadanya penuh, pinggulnya lebar.
Aku melepas kaosku. Ia menatapku, lalu tersenyum malu.
"Udah lama nggak lihat yang begini," bisiknya.
Aku membaringkannya di kasur. Aku menciumi lehernya, turun ke dadanya. Ia mendesah panjang. Tangannya menjambak rambutku.
Kaos dalamnya kulepas. Dadanya yang ranum menyambutku. Aku menciuminya dengan rakus, dan ia melengkungkan punggungnya.
"Mas," desahnya.
Celana pendeknya kulepas. Celanaku dilepasnya. Kami telanjang di kamar yang sempit itu, dan hujan masih turun di luar, seakan menutupi kami dari dunia.
Aku naik ke atasnya. Ia membuka kakinya untukku. Waktu aku masuk, kami berdua mendesah bersamaan. Hangat, dalam, sempurna.
Kami bergerak pelan. Sangat pelan. Seperti tidak mau terburu-buru. Setiap gerakan disambut desahan kecil darinya. Tangannya mengelus wajahku.
"Aku kangen ini," bisiknya. "Kangen banget."
Aku mencium keningnya sambil terus bergerak. Keringat mulai membasahi tubuh kami. Bau tubuh bercampur bau nasi uduk yang samar, aneh tapi memabukkan.
Ritmenya bertambah cepat. Ia mulai mengerang, pinggulnya bergerak liar. Kukunya mencakar punggungku.
"Jangan berhenti," pintanya. "Jangan berhenti."
Aku tidak berhenti. Aku terus bergerak, makin dalam, makin cepat. Napas kami memburu, bercampur. Kasur busa berderit mengikuti irama kami.
Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat. Ia menjerit tertahan, membenamkan wajahnya di bahuku, giginya menggigit kulitku pelan. Gelombang itu menjalar ke tubuhku, dan aku menyusul beberapa detik kemudian, meledak dengan desahan panjang yang kutahan di bantal.
Kami terbaring diam cukup lama. Kepalanya di dadaku. Tanganku mengelus rambutnya yang tergerai. Hujan mulai reda di luar, tinggal rintik-rintik di atap seng.
"Maaf," bisiknya.
"Buat apa?"
"Aku istri orang. Kamu pelangganku."
"Yang terjadi udah terjadi." Aku mengecup ubun-ubunnya. "Kamu nggak nyesel kan?"
Ia menggeleng. "Nggak. Aku bahagia. Udah lama nggak bahagia begini."
Kami berpakaian kembali. Ia merapikan dasternya, aku merapikan kaosku. Sebelum aku keluar, ia membungkuskan dua porsi nasi uduk ekstra.
"Buat di kantor," katanya sambil tersenyum. "Gratis. Anggap bonus."
Sejak pagi itu, ritual pagiku tidak berubah. Jam enam pagi, aku tetap mampir ke lapak Mbak Tuti. Tetap pesan dua bungkus, telur dadar.
"Mas Yusuf, seperti biasa?" sapanya.
"Iya, Mbak. Seperti biasa."
Tidak ada yang berubah di permukaan. Para pelanggan tidak tahu. Anak-anaknya tidak tahu. Pak Darto yang di jalan tidak tahu.
Tapi setiap kali ia menyerahkan bungkus nasi uduk itu, jarinya menyentuh jariku sedikit lebih lama.
Dan setiap kali hujan turun di pagi hari, aku tahu lapak akan sepi. Dan aku tahu, di balik gerobak itu, ada rumah petak yang pintunya terbuka.
Menungguku.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, sampai kapan ini bisa bertahan. Pak Darto bisa pulang kapan saja. Tetangga bisa curiga. Dunia bisa runtuh kapan saja.
Tapi setiap jam enam pagi, waktu uap mengepul dari daun pisang dan Mbak Tuti tersenyum menyambutku dengan "Mas Yusuf, seperti biasa?", semua pertanyaan itu hilang.
Yang ada cuma pagi ini. Dan pagi ini sudah cukup.
Besok jam enam pagi, aku akan datang lagi. Seperti biasa.
